
"Rin, mantanmu mau meried?" Linggar yang menggenggam tangan Rindi sambil berjalan kembali ke kantor setelah makan siang.
" Ferry?" Menatap ke arah Linggar yang tersenyum kemudian menggelengkan kepala.
" Siapa?"Rindi bingung sendiri. Pasalnya mantannya Cuma. Selain Linggar, hanya Ferry yang pernah dipacari.
" Erlangga." Linggar masih dengan tersenyum.
"Pc, kan udah dibilangin aku enggak pernah pacaran sama Erlangga."
" Kita bareng yah!" Linggar yang justru mengabaikan kekesalan Rindi.
"Gak deh kak."
Loh kok belum apa-apa Rindy langsung menolak ajakannya.
"Kenapa?" Memajukan tubuh mendekat pada Rindi.
"Pasti yang datang semua temannya kakak."
" Ya Iyalah emang kenapa?"Linggar kembali bertanya.
"Malu, teman-teman kakak pasti kenal sama aku." Rindi dengan menundukkan kepala menatap ke bawah.
"Ya kenal lah. Sekampus juga, cuma beda tingkatan. Bukannya kamu juga kenal sama teman-teman aku kan?
Ya, ya, ya! Mau ya?" Terus memepet Rindi ke samping sambil meneruskan pinta.
"Rindi." Rindi tak menggubris panggilan manjanya.
"Dira." Panggilnya lagi, memainkan alis naik-turun.
"Apa sih?" Rindi melirik kesal pada Linggar yang terus saja mendesaknya. Pc, seperti anak kecil saja.
"Atau aku pergi samaaaaaa,... dia boleh?" Kali ini wajahnya di buat seperti orang yang tengah berpikir.
Nah loh mata Rindi langsung terbuka lebar, siap perang. " Maksudnya?"
"Emmmmm, sama dia."
"Sama siapa? Cewek itu?" Rindi kembali. Nada sedikit naik, menandakan sang pemilik suara tengah emosi or cemburu. "Kak Linggar sayang enggak sih sama aku?"
"Ya Sayang lah. Habis kamunya diajak tapi nggak mau. Alasan malu, malu kenapa sih?"
"Kamu cantik, pintar, berkarier, apa lagi coba!"
Mereka berhenti berjalan, pembicaraan ini sepertinya sangat serius. Padahal hanya perihal pesta pernikahan teman saja.
"Semua temanku udah punya gandengan masing-masing. Kalau aku nggak punya gandengan, yang ada mereka akan mencarikan kan satu cewek untukku. Truk aja gandengan, masa aku gak!" Monyong sedikit, menunjukkan wajah seimut mungkin.
" Awas Kak Linggar macam-macam." Telunjuk telah berada di hadapan Linggar, mata melirik penuh ancaman.
Kan, kan takut sendiri kan!
" Makanya kamu ikut." Pinta Linggar kembali.
__ADS_1
"Pc, Iya Iya bawel banget sih. Makanya jemput."
Horeeee, Linggar menahan sorakan hanya sekedar dalam hati saja. Tetap jaga image meski mereka telah lama bersama.
"Ashiaaap nona manis."
"Just info guys! Aku bawa cewek, jangan di ejekin yah! Dia pemalu, bisa langsung kabur kalau diejekin terus." Pesan yang Linggar dikirim di grup chatting kampusnya.
Sesuai dugaan Rindi, beberapa tamu mengenali dirinya. Bahkan menyapa dan tanpa segan mengulurkan tangan padanya. Hanya dibalas seperlunya saja.
Menggandeng erat tangan Linggar, dengan wajah yang tertunduk menyembunyikan senyumnya.
Jujur, Ia sangat malu dengan keadaan ini. Sesekali Linggar meringis menahan cekatan jari-jari Rindi pada lengannya.
" Selamat ya bro!" Kini mereka telah berada di atas pelaminan, memberikan ucapan selamat kepada sang mempelai.
Mereka, Linggar-Rindi dan juga teman-temannya yang datang hampir bersamaan.
" Yoi thanks. Kapan nyusul?" Erlangga, yang sering Linggar sebut sebagai mantan Rindi, hanya karena pria itu pernah menyimpan rasa pada mantan istrinya.
"Doain yah semoga lancar," Mata melirik ke samping, di mana Rindi yang justru terasa mencubit lengannya. "Jadi bisa nyusul kalian secepatnya." Tambahnya sedikit menahan perih.
Alasan kedua Rindi tak ingin ikut pesta itu bersama Linggar, karena takut diabaikan saat pria itu bertemu dengan kawan- kawan lamanya.
Dan benar saja, Linggar seperti melupakan sosok Rindi, berbicara dengan sekumpulan pria yang merupakan teman-teman sekampus dulu. Rindi kenal, meski hanya tau wajah saja.
" Arman mana?" Tanya salah seorang dari mereka.
Rindi yang mendengarkan pertanyaan itu turut mencari sosok yang baru saja disebut namanya.
Rindi turut mengangguk-ngangguk pelan saat mendengarkan jawaban dari Linggar.
Pantas saja pria itu tak nampak batang hidungnya. Setahu Rindi, Arman dan Erlangga adalah teman-teman Linggar yang dulunya sering mangkal di rumah kekasihnya itu.
Melepaskan genggaman tangan Linggar, Rindi berniat mencari keseruan sendiri. berada di dekat Linggar dan teman-temannya membuatnya seperti menjadi cilok basi.
Linggar hanya menoleh menatap wanita yang perhatiannya tertuju pada meja panjang tempat deretan makanan manis dipamerkan. Tersenyum, mengerti apa yang di inginkan wanitanya itu. Membiarkan Rindi melangkah ke sana sendiri.
Setelah beberapa waktu lamanya, Linggar baru tersadar jika mereka berdua telah terpisah cukup lama.
Menatap keliling seluruh ruang aula. Di sana ia mendapatkan apa yang ia cari. Rindi Tengah memilih makanan pencuci mulut. Tangan gadis itu tengah memegang piring kue dari keramik yang telah terisi dengan sepotong cake.
Hanya selang beberapa waktu, Linggar kembali berbalik mencari sosok Rindi yang kini menikmati sesuatu dari gelas. Tak tahu pasti apa, entah es cendol atau es buah.
"Dasar tukang makan," umpatnya dalam hati, dengan bibir tersenyum. Membiarkan Rindi dengan kegiatannya makannya sendiri.
" Kita pulang?" Ucapan Linggar yang tiba-tiba sedikit mengejutkannya.
Rindi menoleh ke belakang, menganggukkan kepala lalu tersenyum.
"Tunggu ya aku pamit dulu sama teman-teman!"
Lagi Rindi menganggukkan kepala.
Beberapa waktu berikutnya, Linggar belum kembali.
__ADS_1
"Ah, pamitan saja lama." Batin Rindi. Kembali berbalik menatap Linggar yang kembali tenggelam dalam keseruan bersama teman-temannya.
Perlahan melangkahkan kaki keluar area pesta dengan sedikit menunduk, biar ia menunggu di luar saja.
Bersama Linggar saja ia malu, apalagi jalan sendiri.
"Rindi," Suara dari arah depan membuat kakinya berhenti melangkah, mata terbuka seolah tak percaya.
"Kamu?" Ucapnya, mungkin itu adalah sebuah sapaan.
Pria itu menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Kirain tadi salah liat, ternyata beneran kamu." Pria itu mulai berbicara sok akrab padanya. Rindi hanya tersenyum mengangguk kemudian kembali menunduk.
"Gimana kabarnya?" Tanya pria itu.
"Aku,... baik. Kamu?" Rindi mulai mengangkat wajah, memberanikan diri menatap balik pada sang lawan bicara.
"Aku baik."
"Emmmm,.... Aku tetanggaan sama mempelai ceweknya." Ucap pria itu, hanya sekedar info saja tentang keberadaannya di sini.
Rindi mengangguk kembali tersenyum, mungkin menghargai usaha pria itu dalam meneruskan perbincangan yang sedikit kaku itu.
Dari arah belakang, Linggar menghentikan langkah saat melihat Rindi yang tengah tersenyum pada pria lain.
Dan pria lain itu adalah pria yang membuat pernah menjadi alasannya nekat melakukan hal haram pada Rindi.
Iqram, pria yang sempat mengggantikan dirinya saat pergi dulu.
Heh, menghembuskan napas kasar, menetralisir perasaan panas yang baru saja menyambar.
Apakah Rindi kembali tergoda dengan aura pria itu?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kita langut beberapa menit lagi yah
Tapi jangan lupa tempelkan jari di tombol Like, sebentar saja.
Komen juga, disetiap babnya kalo bisa.
Bunga sama kopi juga donggggg!
Biar dinda juga semangat!
Curhat dikit yah.
Kadang aku mikir buat up double, soalnya likenya cuma ngumpul di bab terakhir saja.
Moga yang baca bisa mengerti apa yang kurasa.
Cieeeee-cieeeeee, baper gak jelas kan?
Hehehehe.
__ADS_1