Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
ANUGRAH


__ADS_3

Seminggu lebih tak ada komunikasi antara Rindi dan Linggar, meski hanya sebatas pesan singkat.


Saat secara tak sengaja harus berpapasan, lebih memilih menghindar saja.


Bersembunyi di balik tembok atau masuk ke dalam kamar mandi meskipun tak berhajat.


Jika tak ada tempat untuk menghilangkan diri dari pandangan, lebih memilih untuk tak saling memandang. Pura-pura tak melihat, atau tak mengenal satu sama lain.


Minimnya pertemuan, Semakin sempurna karena mereka tak lagi berada dalam satu tingkat menjadikan


Entah itu akan bertahan sampai kapan, rasanya terlalu lama.


Rindu di hati seolah ingin memberontak.


Pintu terbuka menampilkan Linggar seorang diri di depan pintu lift.


“Waaah, The Accounting Crew,” Ucapnya sambil terus melangkah masuk ikut bergabung dengan para mantan rekan kerjanya.


Sambil melangkah masuk ke dalam lift. Langkahnya ia teruskan ke dalam hingga berada di hadapan gadis yang


memilih berdiri di sudut, “Masih marah?”


Tak ada jawaban, bahkan Rindi memilih memalingkan wajahnya seolah masih enggan menatap Linggar.


“Eh, gak baik tau marah melulu, nanti cepat tua.” Ucapnya mengacuhkan kecemberutan Rindi.


Membalik tubuh Rindi ke belakang dan mulai merapatkan tubuh. Mengabaikan para pengunjung lift yang menatap


mereka disertai gelengan kepala.


Toh semua adalah temannya, dan sedikit banyak tahu tentang mereka.


“Tuh, liat! Disini sudah banyak kerutannya.” Sambil menunjukkan beberapa titik wajah Rindi dengan tanganya. “


Sini, sama sini.” Ucapnya lagi terdengar santai. Telunjuk berada di ujung mata, kemudian beralih ke dahi, lalu ke sudut bibir.


Tangannya justru tak berhenti begitu saja.Setelah sampai ke bibir, pria itu justru mengusap bibir Rindi dengan ibu jarinya.


Lembab dan emmm,... enak mungkin.


Mungkin pria itu telah lupa dengan perang dingin antara mereka.


Pandangan mereka bertemu dipantulan diding lift. Senyum terukir di wajah Linggar, namun tak begitu dengan Rindi. Mengakhiri usapan lembut yang terasa di bibir dengan mengalihkan wajah.


“Umur berapa sih? Udah kayak nenek gini?” Lanjut Linggae, pria itu masih terlihat biasa-biasa saja.


Dengan sebelah tangan telah melingkar di perut Rindi entah sejak kapan. Tubuh Rindi telah tertutupi penuh oleh tubuhnya.


Rindi tak menepis, pasti wanita itupun rindu.


“Makanya jangan suka marah-marah. Kamu lebih cocok jadi kakakku, tinggal tambah tinggi yang buaanyak!” Candaan yang menurut Rindi sangat keterlaluan. Wanita itu kini semakin cemberut.


Menyebutkan semua kekurangannya bahkan saat bersama dengan teman-temannya. Wanita itu sedikit  memberontak demi melepaskan diri dari Linggar.

__ADS_1


Sayangnya tubuh mereka sangat jauh berbeda. Mengingat ruang lift yang kini telah penuh dengan para penonton


yang tengah menikmati pertunjukan dari mereka berdua.


“Pak, mau Rindinya maafin bapak?” Kamil.


“Bagaimana? Ada tips?” memutar kepala tanpa melepas rengkuhannya pada Rindi. Seminggu ini telah berhasil


memupuk rasa rindu yang seolah semakin subur dalam hatinya.


“Traktir makan pak, sekalian sama teman-temannya juga.” Penuh pengharapan, lumayankan kalau memang dituruti, artinya uang makannya hari ini tersimpan.


Senyuman Linggar masih awet di wajahnya sejak masuk ke dalam lift.


Ting. Pintu lift terbuka.


“Tapi awas tipsnya harus manjur. Awas saja kalau dia masih marah.” Entah apa yang ia akan lakukan pada Kamil


jika setelah ini Rindi masih mengacuhkannya, iapun sebenarnya tak ada ide.


Tak apa!


Rasanya telah lama, ia tak berkumpul makan siang bersama.


“Ya sudah, ayo!” Linggar keluar dengan menggandeng tangan Rindi.


Tangan satu terulur menggapai tangan Kamil.


“Kok, pegang saya pak.”


besok aku digebukin. Kalau Ayu, nanti dia salah pengertian juga, baper gimana? Makanya ayo, atau batal nih!”


“Ya sudah ayo, sebelum tiketnya hangus.” Kamil meraih tangan Tia. “Mbak Tia pegangin Ayu, nanti kesasar.”


Ucapnya yang sebenarnya tak mengetahui alasan Linggar menggandeng tangannya.


“Pegangin!” Mata mbak Tia ternyata telah melotot ke arah Ayu yang justru tak ingin menggandeng tangan Mirza.


Sialnya kenapa harus dia yang berdampingan dengan Mirza. Mereka tak terlalu akrab. Bahkan kenal hanya muka,


tak pernah menyapa.


Lagi pula pria itu terlalu tinggi. Baik dari segi tubuh maupun kedudukannya. Minder rasanya jika harus berdekatan, apalagi harus saling berpegangan.


Tapi mendapatkan tatapan dari mbak Tia ia mungkin lebih takut. Bisa-bisa ia mendapatkan ocehan terus-menerus


sepanjang hari hanya karena tidak memegang tangan Mirza.


Sedikit saja, mungkin jari kelingking. Asalkan terpautkan?


Mereka akhirnya berjalan sambil bergandengan tangan satu sama lain.


“Ke mana nih? Ke kiri atau ke kanan?” Linggar yang berada di urutan paling depan menghentikan langkahnya,

__ADS_1


membuat semua yang berada di belakan dengan tangan masih terpaut satu sama lain ikut menghentikan langkah mereka.


Bukan tanpa alasan Linggar berhenti dan bertanya, pasalnya ke arah kiri atau kanan sama-sama tempat yang


mampu membuat perut mereka kenyang.


Di sebelah kiri sebuah resto dengan masakan seafood yang memang cocok untuk santapan di siang hari.


Sementara sisi kiri kantor adalah sebuah cafe dengan berbagai macam makan dan minuman yang juga tak kalah menggiurkan.


“Ke kiri, siang makan nasi pak bos.” Kamil yang berada di urutan ke berapa.


“Iya, nasi aja. lapar banget masalahnya.” Mbak Tia, sementara yang lain hanya memilih diam dan saling


pandang memandang menanti keputusan.


Terserah yang penting anugrah.


Anugrah itu indah bukan? Anu gratis.


Akhrinya kaki melangkah ke arah kiri.


Linggar masih setia menggenggam tangan Rindi saat mereka bahkan telah menemukan meja yang tepat dengan kursi yang sesuai dengan jumlah mereka saat ini.


Linggar mempersilahkan Ayu untuk terlebih dahulu masuk ke dalam, duduk di dekat dinding. Lalu di barisan depan, Mbak Tia yang duduk di depan Ayu, disusul Kamil lalu Pak Mirza.


Dan saat yang lain telah sibuk memilih dan memesan menu makanan mereka, Linggar justru semakin sibuk memainkan jari-jari Rindi.


Membuka lalu menutup satu persatu jari-jari itu, dan kembali membukanya. Sesekali menempatkan tangan mungil itu dalam genggaman kedua tangannya.


Begitu seterusnya.


Tangan ini yang dulu hampir setiap hari ia gengam. Dan jari-jari itu terasa semakin kecil dibandingkan dulu. Daging yang dulunya bertumbuk dan terasa empuk kini telah terkikis.


Ia ingat.


Sangat ingat. Karena ini adalah tempat favoritnya.


Hampir tiap hari berada dalam kuasa tangannya.


Ini seolah menandakan Rindi memang semakin kurus setelah mereka berpisah dulu. Ingin otaknya membenarkan


jika Rindi juga terluka karena perpisahan itu, sama seperti dirinya.


Mereka hanya mencoba menguatkan hati masing-masing dalam menerima perpisahan ini. Meskipun justru berdampak pada tubuh mereka.


setiap kali ia merengkuh jemari itu, rasa itupun masih sama.


Rasa yang mampu membuat jatung seolah berpacu semakin cepat.


Rasa yang selalu membuatnya semakin betah untuk berlama-lama hanya untuk berdekatan dengan sang pemilik tangan.


Jika boleh ia menegaskan, Rindi tak pernah sekalipun lenyap dalam hatinya.

__ADS_1


Bahkan rasanya semakin dalam dengan bertambahnya intesitas pertemuan mereka selama berada dalam satu frekuensi kerja.


__ADS_2