Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Memberanikan Diri


__ADS_3

Rindi terbangun karena h@srat ingin ke kamar mandi. Tersentak dengan mata membola saat melihat sesosok manusia tengah terbaring pulas di sampingnya.


Bahkan dalam keremangan kamarnyapun ia masih mengenali sosok sang suami. Sosok yang sejak lama telah terpatrih dalam hatinya. Ia saja yang terlalu bo doh bermain-main hingga semua berakhir seperti sekarang ini.


Kemarahan Linggar yang berujung dengan mereka berada di dalam kamar hotel.


Dan kemarahan kakaknya atas perilaku Linggar yang memilih menghancurkannya hingga kata restu tak mereka dapatkan.


Sejak awal memang dirinyalah yang salah.


Beranjak dari pembaringan guna menuntaskan panggilan alam, lalu kembali berbaring di samping sang suami.


Pria ini salah satu idola kampusnya.


Bahkan seorang gadis yang ia ketahui kakak kelas dari suaminya ini pernah terang-terangan menyatakan cinta pada Linggar.


Namun ditolak dengan alasan ada dirinya selaku kekasih.


Tak bisa berbangga diri, justru itu membuatnya semakin minder dan merasa tak pantas.


Kembali memandang sosok yang terlelap itu.


Pria yang ia yakini sangat mencintainya dengan begitu dalam.


Terlalu munafik untuknya untuk tak mengakui adanya rasa rindu pada sang suami.


Ingin memeluk tapi takut ketahuan.


Bisa saja Linggar sedang berpura-pura untuk tidur.


Biarlah untuk malam ini, ia hanya ingin tidur berdekatan dengan suaminya.


Memilih berbaring menyuguhkan punggunya untuk Linggar dengan sangat pelan.


Ia tak ingin mengambil resiko ketahuan hingga suasana menjadi canggung. Dan Linggar akan memilih pergi meninggalkannya tidur seorang diri lagi.


"Bagaimana?" Tanya sang bos saat mereka bertemu di tangga pagi hari.


Linggar hanya menjawab dengan cengiran dilengkapi dengan menggaruk tengkuknya.


Tak mampu memberikan jawaban yang memuaskan.


Heh, hembusan itu tentu saja dari sang bos.


Kecewa pastinya.


"Kita coba lagi entar malam!"


"Harus berani!" Ucapnya lagi dengan mengepalkan tangan, memberikan semangat pada anak buahnya.


"Atau kamu mau pisah aja?"

__ADS_1


anak muda itu sepertinya harus diberikan sedikit rasa ketakutan terlebih dahulu.


"Jangan om!" Linggar mulai memelas.


"Aku gak mau bantu lagi!"


Lah kok, sang bos memilih berlalu. Ia sedang merajuk hanya karena Linggar salah lagi dalam memanggilnya.


Malam selanjutnya, Linggar kembali masuk dengan mengendap-endap ke kamar Rindi.


Masih dengan pantauan sang bos meskipun dari jauh, berharap aksi mereka tak diketahui oleh istri masing-masing.


Kembali berbaring dengan perlahan di samping istrinya. Mulai memberanikan diri mengangkat tangan mengelus rambut panjang Rindi.


Ia sudah tak tahan untuk tidak memeluk istrinya. Memilih menempatkan tangannya di atas pinggang Rindi, meskipun tubuh mereka cukup berjarak.


Begini saja dulu. Semoga besok ia masih punya kesempatan untuk bisa menyusup kembali ke kamar ini.


Malam-malam selanjutnya, ia kembali menyusup ke kamar Rindi. Bahkan kunci kamar Rindi telah menjadi miliknya.


Kembali menghampiri Rindi yang tidur membelakangi pintu. Berusaha naik ke ranjang sepelan mungkin agar Rindi tak tergangu dengan kehadirannya.


Jika perlu Rindi tak perlu tahu bahwa Linggar mendatanginya saat tengah terpulas. Meskipun dalam hatinya tak terlalu meyakini jika Rindi memang tertidur dengan pulasnya.


Berada dalam satu ruang bahkan dalam satu ranjang dengan seorang wanita, tak mungkin baginya jika tak ada n@fsu yang berbicara. Terlebih lagi jika wanita itu merupakan orang yang ia sayangi.


Dan itu terjadi beberapa kali.


Meskipun kesalahan itu hanya berada di otak Reno yang menginginkannya untuk tidak menyentuh Rindi.


Perlahan mendekatkan diri setelah tangannya bertempat di pinggang Rindi. Begitu dekat hingga saling menempel beberapa waktu lamanya. Tak ada cela bahkan untuk udara sekalipun.


Dan kembali perlahan tangannya telah berjalan kemana-mana membuat sang istri terhentak, mungkin karena merasa kaget atau kegelian. Namun masih menahan diri untuk tidak bersuara. Kini ia yakin 101% bahwa Rindi tak tidur.


Sedikit merem@s perut sang istri. Itu membuatnya kini lebih berambisi untuk mendapatkan kembali sang istri dengan segala sentuhan yang disuguhkan.


Menarik pundak Rindi hingga terlentang, akhirnya pandangan mereka bertemu. Pandangan yang menyiratkan rindu yang tertahan. Hingga membuat rindu ini tak mampu lagi mengendalikan diri.


Senyuman hangat terlukis dibibir sesaat sebelum dirapatkan. Rasa rindu terlukis semakin jelas saat mereka saling membalas satu sama lain.


Abaikan perintah sang kakak, kini RIndipun ingin menyalurkan rasa rindu yang semakin mendesak.


Sementara penjelajahan oleh tangan Linggar kembali terjadi.


Sentuh@n, elus@n, gengam@n bahkan rem@s@n telah dilakukan oleh kedua pemeran. Sungguh ini sangat menggelikan namun serasa tak ingin berhenti. Bahkan saling meminta untuk menjejaki level yang lebih tinggi, meski hanya dengan tatapan mata tanpa sepatah katapun.


Perlahan namun pasti menempatkan diri bertumpuk dan berhadapan, tanpa ada kata.


Kini sangat yakin jika Rindi juga menginginkan dirinya, tergambar dengan keterbukaan diri saat menyambutnya.


Dimulai desak@n yang nyata lalu pergerakan secara berirama. Dan berakhir dengan huruf A dan H yang keluar melalui tenggorokan tanpa bisa di tahan.

__ADS_1


Ya, ia tak mampu menahan diri hingga melupakan tentang rasa getaran di sekujur tubuh yang telah ia dapatkan tanpa menunggu Rindi yang belum merasakan getaran yang sama dengan dirinya.


“Pc, sory Rin. Kita ulang yah, aku masih bisa kok.” Ucapnya sesaat setelah menghembuskan napas beratnya.


Hasrat yang tertahan lama mampu membuatnya mengulang hingga beberapa kali. Namun seperti anjuran pemerintah yang kali ini ingin ia terapkan, “Dua anak cukup.” Kata anak tinggal diganti menjadi, “kali.”


Mengulang kembali desakan yang diberikannya. Kali ini ia ingin fokus pada Rindi, namun pasti ia akan mendapatkan bonus juga kan?


Ia meringis lalu tersenyum saat mendapatkan cengkraman kuat di seluruh tubuh dari Rindi. Merasa berhasil dengan getaran n!ikmat yang terjadi pada istrinya. Selanjutnya gilirannya.


Hingga selesai melakukan semuanya, kini ia telah berbaring di samping Rindi, memeluk dengan ribuan kecupan yang seolah tak ingin terhenti.


Rasa cinta seolah semakin membuncah, terlebih sambutan Rindi yang sama memendam cinta padanya.


Ruangan kembali hening dengan dua orang yang polos dan kelelahan.


Kelelahan namun membawa sesuatu yang indah pada kedua pemeran.


Sebelum matahari mengintip Linggar harus terbangun terlebih dahulu, malam tadi tidurnya terasa sangat nyenyak.


Bahkan saat ini rasa kantuk masih membayangi.


Egghh, rasanya seperti mimpi.


Tersenyum seorang diri. Berniat mengulang lagi malam nanti.


Melangkah masuk ke kamar mandi. Lalu bergegas menggunakan pakaian yang masih tergeletak di lantai tak  karuan.


Ia harus segera keluar dari ruangan itu, jujur ia sedikit bingung kenapa harus terburu-buru. Seperti tak ingin dirinya kedapatan berada di kamar Rindi.


Kakinya mungkin melangkah di waktu yang kurang tepat. Setelah menutup pintu secara perlahan berharap pergerakannya tak diketahui siapapun termasuk sang pemilik kamar.


Badannya berbalik menangkap sosok wanita buncit di puncak tangga sedang menatapnya dengan bibir sebelah terangkat. Seolah melayangkan sebuah ejekan padanya.


Pandangan wanita itu terfokus pada rambutnya yang basah. Bahkan sangat basah, dengan beberapa butiran air yang menetes di bajunya. Rambut yang belum sempat ia keringkan hanya agar bisa keluar lebih cepat.


Wanita itu tak menengurnya, memilih berlalu dengan gelengan dikepala dan senyuman yang semakin merekah.


Keyakinan Rima semakin menguat saat tak menemukan Rindi membantunya di dapur menyiapkan sarapan pagi seperti hari-hari sebelumnya.


Keyakinan jika telah terjadi sesuatu di kamar itu. Kejadian luar biasa yang mampu menyatukan dua orang dalam satu cinta.


\=\=\=\=\=\=


To Be Continued!


Hari ini cukup dua bab yah!


Jangan lupa like n komennya, buat semangat diri.


Kalau ada bunga dong!

__ADS_1


Atau kopi juga boleh, hehehe!


__ADS_2