Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Jangan Lagi Ada Rindu!


__ADS_3

“Kakak!,” Teriakan seorang gadis muda dan tanpa permisi masuk ke dalam ruangan.


Terlebih lagi, gadis itu tak hanya berteriak tapi juga melompat masuk ke dalam pelukan Linggar, membuat seisi ruang melongo.


Linggarpun tak terlihat diam dan mencoba membalas pelukan gadis muda itu.


Bukan hanya Citra, ternyata Linggar memiliki pengagum rahasia lainnya. Atau bukan pengagum rahasia karena


mereka terlihat terlalu dekat. Mungkin saja mereka adalah sepasang manusia yang saling mengagumi.


Berbeda kisah dengan Citra.


“Kak, minta uang!” Gadis muda itu berbisik ke telinga Linggar, namun bisa dipastikan masih terdengar oleh seluruh


penghuni ruang.


“Kenapa?” Dengan kerutan di kening memandang wajah sang gadis muda.


Namun tak terlihat ingin menjauh, justru menikmati pelukan gadis muda itu.


“Papa lagi ngambek.” Ucapnya manja, masih dalam pelukan Linggar. Bibir sedikit maju ke depan, kepala digeleng-gelengkan dengan manja.


“Bukan papa yang ngambek, kamu yang jadi pertanyaan, nurut gak?” Linggar sambil menekan telunjuk tepat di dahi  sang gadis.


“Ih apaan. Kak, cepetan!”Ucapnya semakin manja.


Linggar melepaskan lilitan tangannya dari gadis muda itu, merogoh dompet yang berada di saku celana dan


mengambil beberapa lembar uang merah lalu menyerahkannya pada gadis muda itu.


Persis seperti saat dulu Linggar memberi Rindi uang jajan.


Dan gadis itu kini mengantikan posisinya.


Rindi hanya mampu melihat dengan ekor matanya, sesekali lirikan hanya untuk memperjelas penglihatannya.


Mengapa pemandangan ini harus sama seperti kenangan mereka berdua?


Kini dinding rasanya semakin maju ke arahnya, menghimpit diri.


Bagai berada dalam sebuah ruang sempit, bahkan bersembunyipun ia tak mampu.


Hanya mampu menundukkan kepala mengalihkan pemandangan dari tontonan yang seolah mengusik jiwa.


Hingga beberapa kali harus menahan napas hanya untuk menyembunyikan perasaan yang kacau balau.


Lihatlah!


Pria itu telah mendapatkan wanita lain sebagai penggantimu.


Cantik, ceria dan tentu masih muda.


Sementara dirimu hanya seperti butiran debu, dengan sekali tiup maka segera akan terbang melayang dan mendarat entah ke mana.


Pria seperti Linggar yang memiliki sejuta pesona mampu menarik sejuta gadis. Dan jabatan duda tak terlalu berpengaruh padanya. Lalu bagaimana dengan Rindi dengan jabatan hampir sama, janda.


Apakah mampu menyeimbangkan perolehan Linggar?


Menempatkan satu tangan di keningnya berupaya menyembunyikan air yang telah tergenanga di pinggiran


matanya.


Meskipun tontonan telah berakhir dengan sebuah kecupang ringan mendarat di pipi Linggar, tapi entah mengapa


ruangan rasanya belum lapang jua.


Gerakan tangan secepat kilat hanya untuk menghapus lelehan air mata yang terlanjur merembes ke pipi.

__ADS_1


Ya Tuhan, meski telah berpisah selama dua tahun, tapi rasanya masih sesakit ini.


Diliriknya sederet angka disudut bawah layar komputernya, masih menyisakan beberapa jam kerja. Terlalu lama untuknya bertahan dalam keadaan seperti ini.


Ia memilih beranjak menuju ke kamar mandi yang memang terletak diluar ruangan teruntuk mereka yang berada di


lantai itu.


Mungkin di sana sedikit mampu melampiaskan perasaannya kini. Tak lupa membekap mulutnya rapat-rapat dengan


kedua tangannya sendiri agar suara tak terdengar. Air mata kini tak terbendung.


Ia sedikit mampu melampiaskan kesedihannya, meskipun masih harus menahan diri agar isakannya tetap dalam kesunyian.


Lumayan lega ternyata, tapi masih belum mampu untuk melonggarkan rongga dada yang seolah masih terhimpit.


Tak lupa membasuh muka untuk menyamarkan sembab yang tercipta.


“Rin, kenapa?” Mbak Tia saat melihat Rindi masuk dengan wajah tertunduk.


“Ngantuk mbak.”


Semua mata tertuju padanya, bahkan lelaki yang berada di sudut sana. Sebelah bibir terangkat, tersenyum mengejek ke arahnya.


“Mau minum kopi? Aku punya kopi.” Kamil sambil mengeluarkan kopi rencengan dari dalam lacinya.


“Kenapa bawa kopi? Kan di pantry tersedia kopi juga?” Pria di sudut ikut menimpali meskipun tatapannya mengarah


ke Rindi.


Ia tahu jika gadis itu habis menangis, dan iapun dapat menebak alasan wanita itu menangis. Bahkan sangat jelas.


“Pengen aja! Mau bos?”


“Gak makasih. Aku gak ngantuk abis dapat semangat baru.” Ucapnya ringan tapi justru terasa berat untuk Rindi.


“Cie-cie yang punya semangat baru. Btw Citra gimana?” Kamil.


“Pc, duh bos gak peka banget. Gak tau kalau ada penggemar lain.”


“Mataku sudah tertutup untuk melihat hal-hal yang memang tak tampak di depan mata. Aku hanya ingin sesuatu


yang memang pasti dan jelas. Bukan hanya sekedar ilusi atau iming-iming.”


“Beuh, kalimatnya dalam banget. Tapi kok kayak lucu dengarnya.” Mbak Tia dengan senyum mengejek ke arah


Linggar.


Yang di tatap hanya tersenyum.


“Jadi siapa nih yang mau kopi?” Kamil masih menawarkan kopi rencengannya.


“Aku boleh. Ayu?” Mbak Tia.


Gadis yang ditanya mengangguk.


“Ya sudah, ayo bantu aku!” Kamil langsung menarik tangan Rindi meskipun yang ditarik hanya diam membisu dan


mengikuti langkahnya.


Tanpa gairah Rindi melanjutkan harinya yang seolah semakin panjang.


“Ada apa?” Kamil saat mereka berdua berada di pantry.


Pertanyaan tersebut justru berhasil memancing air mata yang tadinya telah susut kembali mengalir.


Ternyata kondisinya mudah terbaca oleh siapa saja hanya melihat parasnya.

__ADS_1


Sudah ketahuan begini mau apa lagi.


Lebih memilih merebahkan kepalanya ke meja pantry dan membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Semoga setelah ini, ia tak lagi menangis.


“Ingat kakak.” Ucapnya di sela-sela tangisnya.


Entah kakak siapa yang ia maksud.


Satu hal yang mungkin belum ia sadari, cemburu melanda jiwa.


Mengapa baru kali ini ia merasakan sakit saat melihat Linggar bersama dengan gadis lain. Dulu bahkan Linggar tak memberinya waktu hanya untuk memikirkan atau bahkan cemburu pada gadis lain. Selalu menjadikan dirinya sebagai prioritas utama dalam kehidupan Linggar.


Di hati Linggar hanya ada Rindi.


Di mata Linggar hanya ada RIndi.


Siang dan malam Linggar hanya Rindi.


Itulah yang ia rasakan dulu.


Kini posisi itu telah tergeser, dan ternyata itu menyakitkan.


Belum lagi jika mengingat Citra yang memberikan perhatian penuh pada Linggar.


Pria itu kembali menjadi pujaan dan idola di manapun ia berada.


Kamil lebih memilih duduk di sampingnya membiarkannya menangis meskipun kekepoan kini menyergap.


“Sudah tenang?” Ucapnya saat Rindi mulai membangkitkan kepalanya.


“Cuci muka dulu!” Ucapnya sambil menunjukkan wastafel dengan matanya, dan menyodorkan tissu ke arah Rindi.


Melihat wajah Rindi yang sembab sangat nampak bahwa wanita ini baru saja menangis. Membuat pria di sudutnya


ingin bersorak merayakan kemenangannya. Ia bisa menebak, jika Rindi menangis karena cemburu namun untuk berharap banyak ia tak lagi berani, meskipun sangat ingin.


Dan sepulang kerja Rindi memilih meluapkan segala sisa-sisa kesedihan yang ada di kamar. Membenamkan wajah di bantal, menangis sekuat mungkin meskipun. Berharap setelah ini ia tak lagi menangis dengan alasan yang sama dan karena orang yang sama pula.


Mungkin ini yang namanya rindu.


Meskipun mereka tiap hari bertemu tapi bukan seperti itu.


Rindu ingin memeluk.


Rindu ingin memiliki kembali. Tapi sayang rindunya tak terbalaskan.


Masih adakah cinta yang tersisa untuknya walau hanya untuk dikenang.


Ia akan melupakan semuanya, berharap setelah ini semua akan berjalan seperti biasa. Membuang sisa-sisa


cinta yang mungkin masih ada. Menganggap pria itu sebagai atasan semata, tanpa ada rasa lebih lagi. Tapi apakah mungkin ia melakukan semuanya?


Jangan lagi ada cinta!


Jangan lagi ada rindu!


Begitu hatinya ingin menyakinkan.


Ah, keadaan ini sangat menyiksa. Menyesakkan.


Mengapa harus seruangan dengan pria itu? Mengapa harus menyaksikan pemandangan yang menyesakkan seperti tadi.


Andaikan saja ia tak terikat kontrak, mungkin lebih baik hengkang dan mencari pekerjaan di luar sana.


Dari pada membuat luka yang dulu semakin dalam dan terbuka lebar.


Namun apa daya, dirinya masih pegawai magang yang terikat banyak peraturan utamanya masa kerja yang harus ia selesaikan.

__ADS_1


Dan dirinya harus bertahan dalam semua keadaan yang pastinya mengiris hati.


Ataukah seandainya hidup ini mempunyai tombol CTRL-Z maka bolehkah ia menekannya?


__ADS_2