
"Baru pulang?"
Suara ayah menyambut Linggar yang baru saja masuk.
Di sana, di ruang keluarga itu, ada tiga kepala yang menghadap ke arah televisi. Itu ayah, bunda dan satu pasti adalah istrinya, Rindi.
"Hemm," Jawab Linggar sembari mendaratkan diri di samping tubuh istrinya yang ternyata telah masuk ke dalam alam mimpi.
Kepala RIndi tergeletak di sandaran sofa, dengan mata yang terpejam rapat dan mulut yang sedikit terbuka.
Tadi pagi, saat ia berangkat berkerja, istrinya itu sedang sakit. Dan wanita itu kini tertidur di sini, pasti sedang menunggunya pulang.
"Dia nungguin kamu, udah di suruh balik kamar dari tadi tapi gak mau." Setelah mengatakan itu, bunda mulai beranja dari duduk, "Yuk yah, kita masuk. Penjaganya udah datang!" Sambil menggandeng tangan ayah.
"Mau jadi ayah, harus pandai-pandai atur waktu! Kasihan istrimu kalau harus nungguin sampai malam kayak gini." Ayah sempat berhenti melangkah saat mengatakan itu.
"Kan gak tiap malam juga pulang kayak gini. Aku cuma karyawan biasa, jadi gak bisa semaunya." Linggar yang mulai mengangkat tangan mengarah ke wajah sang istri yang terlelap.
"Rin, " Sambil mengusap lembut pipi chuby nan lembut itu.
Hanya seperti itu saja, tapi mampu membangunkan si putri tidur.
" Kakak sudah makan?"
Hal yang pertama yang Rindi dilakukan saat tersadar dari tidurnya adalah membenamkan wajah dalam dekapan sang suami yang kini Tengah duduk di sampingnya.
"Udah. kamu?" Linggar menyambut turut memberikan ucapan lembut di kepala.
"Udah juga, sama ayah, sama Bunda juga." Melepas pelukan, Mendapatkan senyum dari wajah tampan namun terlihat letih itu.
"Ya udah, naik yuk? Mau digendong?"
Rindi langsung berdiri menarik tangan sang suami. Tahu jika suaminya itu pasti lelahn setelah seharian bekerja, namun tak henti-hentinya menghubungi tadi karena rasa khawatir.
Linggar duduk di tapi ranjang, menyaksikan istrinya yang sibuk mempersiapkan air minum untuk dirinya sebelum tidur.
" Ini apa?" Tangannya terulur, meraih tiga buah stick di atas nakas, berdampingan dengan gelas kosong yang baru saja rindu Letakkan.
Rindi tak menjawab, namun tersenyum dengan lebarnya.
Linggar mengamati ketiga benda yang telah berada di tangannya.
Rasanya tak percaya.
Sedari tadi ia mondar-mandir di sana, kenapa barang ini baru terlihat olehnya?
"Rin, kamu ...,?" Pandangan berpindah dari benda yang berada di tangannya kemudian menatap istrinya, kembali memandangi tangannya lalu berganti pada istrinya lagi. Beberapa kali seperti itu.
__ADS_1
Rindi mengangguk, dan kini senyumnya semakin lebar.
" Ya ampun Rin,..." Linggar baru saja menarik tangan istrinya. Melingkarkan tangan di pinggang, membenamkan wajah di perut sang istri, tempat benihnya bersemayam dan bertumbuh.
Baru saja semalam mereka berbicara tentang ini, saling menguatkan dan saling berjanji untuk tak saling meninggalkan karena hal ini. Namun mendapatkan berita ini membuat cinta yang bertahta dalam hati terasa semakin kuat saja.
"Rin, kamu hamil sayang!" Seru Linggar kembali. Kali ini diiringi dengan isakan kecil yang sedikit samar karena tenggelam di pelukan sang istri.
"Anak kita RIn! Anak kita!" Ucapnya lagi.
Rindi hanya mampu menjawab. ISakan suaminya turut memanggil hati yang turut bahagia untuk menitikan air mata.
Malam itu, rasanya kebahagian kembali di rasakan untuk kesekian kalinya.
\=============
Rindi berlari kecil saat mendengar dari mesin berhenti tepat di depan rumah, Meyakinkan diri bahwa yang baru saja mematikan mesin mobil adalah suaminya, Linggar.
Hari ke dua ia diberi ijin istirahat dimanfaatkannya dengan benar-benar istirahat.
Tidur, dan bangun di saat jam makan. Sebisa mungkin hari esok kondisinya telah pulih hingga bisa di ijinkan masuk kerja oleh sang suami.
Mengulurkan tangan kanan ke arah Linggar, menyalami dan mengacu punggung tangan sang suami.
"Gini ya rasanya pulang kerja di disambut senyum istri." Rindi telah masuk dalam dekapan Linggar, mengayun ke kiri dan ke kanan.
"Udah, baru aja. Aku nggak tahu kalau Kak Linggar pulang jam segini."
" Ya udah kamu temani aku aja." Merangkul pundak istrinya langsung menuju ke ruang makan.
Rindi hanya menjadi penonton Linggar yang sedang makan. Sambil sesekali menjawab pertanyaan suaminya tentang keadaannya hari ini.
"Besok udah bisa masuk kerja kan?" sambil menggenggam tangan kiri suaminya, Rindi melancarkan aksinya membujuk Linggar agar bisa diizinkan untuk kembali bekerja.
"Udah nggak pusing?" Linggar.
Tak bisa dipungkiri, saat mengetahui kehamilan sang istri, hatinya sedikit ada kekhawatiran membiarkan istrinya bekerja.
Rindi tersenyum sambil mengangguk mantap, "Udah baikan kok."
Linggar masih terduduk di di depan meja makan, kali ini berganti Iya yang mengamati sang istri membereskan sisa meja makan, membawanya ke wastafel untuk dicuci.
Rindi memulai dengan mempersiapkan diri terlebih dahulu. meraup seluruh rambutnya untuk digulung dan dicepol ke atas, dengan kedua lengan terbuka lebar. Seolah gerakan itu, bagai isyarat untuk memanggil Linggar guna memeluknya.
Mulai mencuci piring bekas Linggar.
Leher baju yang sedikit luas, memperlihatkan sebagian bahunya.
__ADS_1
Dari belakang, Rindi terlihat lebih ****!.
Seperti sengaja memamerkan diri pada Linggar.
Rini tersentak kaget saat merasakan perutnya telah dililit, Linggar kini memeluknya dari belakang.
"Aku kangen." Linggar berkata dengan Lirih, sambil menyapukan bibir dari leher turun ke sebagian bahu Rindi yang terlihat. Suaranya sudah terdengar berat saja.
Maklum, semalam Iya berpuasa karena Rindi masih sakit.
" Kak jangan di sini." Merasakan diri yang kini telah turut meremang saat mendapatkan serangan dari Linggar. Tak Bisa dipungkiri Bila Ia juga rindu.
Linggar Abay, terus mengeksplor sesukanya.
Leher berisi hingga bahu putih mulus milik Rindi. Begitu menggairahkan dan rasanya semakin sesak hendak berbuat lebih.
Rindu berusaha menepis lingkar dengan lembutnya.
Gila saja jika mereka harus melakukan hal itu di sini, di dapur.
" Kak jangan di sini!" Saat berhasil lepas, langsung saja berjalan meninggalkan Linggar yang masih di depan wastafel.
"Nggak ada orang, udah masuk semua ke kamar." Linggar masih lirih dengan suara beratnya.
"Hah," Rindi tersentak kaget, saat Linggar mampu menggapainya dan menempatkannya duduk di atas meja makan.
"Kak, isshhhh iseng banget sih!" Pinta Rindi kembali, berusaha berucap normal tanpa mengeluarkan suara-suara anehnya.
Lingga tersenyum lalu kembali menunduk.
"Kak,"
Lagi-lagi Linggar abai, tetap dengan kegiatannya yang seperti hendak meraup keindahan dan manisnya madu yang disuguhkan oleh sang kekasih halal di tempat itu juga.
"Ehehem...." Suara delman yang begitu keras dan seperti sengaja untuk membuatku dua pasangan halal tersebut sadar dari kegiatan gila itu.
Nampak bunda di gawang pintu, dan mulai berjalan Acuh masuk ke dapur.
Rindi meringis, lekas menyingkirkan Linggar dari atasnya dan berjongkok masuk ke dalam kolom meja. Semoga bunda tak melihatnya.
Beberapa detik kemudian, Linggar turut berjongkok sambil mengeluarkan tangan ke arah Rindi," Udah pergi," ucapnya sambil terkekeh.
Ngapain sembunyi? Udah dilihat juga? ada-ada aja.
Wajah santai Linggar, ternyata mengesalkan bagi Rindi.
Tanpa meraih tangan Linggar, Rindi memilih keluar dari tempat persembunyiannya dan segera berlalu setelah menepuk telapak tangan suaminya.
__ADS_1
"Eh jangan marah gitu! Bukan aku loh yang salah Bunda yang nggak permisi masuk!" Selorohnya sambil mengejar Rindi yang terus mengabaikannya