Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Tiba Saat Berbagi 2


__ADS_3

" Kamu atur aja waktunya dan tempatnya di mana. aku ikut saja adat-istiadat yang berlaku di sini. takut kena kualat nanti, Kalau akunya ngeyel."


"Atur sendiri aja yah!. aku terima beres, aku banyak kerjaan ini." Lanjutnya.


Mengangguk mantap pada pria di hadapannya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Untuk urusan traktir-mentraktir tak terlalu sulit. Sekali-kali tak mengapa. Iapun tak membutuhkan hal-hal genting, kecuali membeli baju kerja.


"Di mall aja ya Sambil jalan- jalan?" Kamil mengedarkan pandangan kepada seluruh penghuni ruangan mencari jawaban atau sanggahan atas usulnya.


lagi-lagi tak ada yang bersuara, seolah semuanya menerima usul Kamil.


" Sabtu ya Sabtu-Sabtu." ucapnya dengan penuh semangat.


"Biar waktu jalan-jalannya lebih lama. sekalian nonton--nonton." pandangan masih saja terus mengitari seluruh ruang.


" Yah nggak ada yang jawab." ucapnya lesu.


Hingga pandangannya berakhir di arah sang atasan. Sejenak Kamil tersentak sendiri saat mengingat sesuatu tentang pria itu.


"Ya ampun, pak Linggar gak bisa ikut Rin,...." Ucapnya penuh sesal.


Kini seluruh pandangan mata tertuju pada pria yang baru saja di sebut namanya, Linggar.


" Pak Linggar nggak bisa Sabtu Minggu dia ada kuliah, Ya kan pak?" Kamil menatap ke arah Linggar yang langsung mengangkat kepala ketika namanya disebut.


Mendengar nama Linggar, Rindipun turut  mengangkat pandangannya kearah pria yang sedang dibahas.


Sejenak pandangan mereka bertemu. saling menatap dalam. mencari arti dari tatapan.


Rindukah? Atau hanya sebatas mencari jawaban dari pernyataan Kamil.


Satu hal yang baru Rindi ketahui adalah Linggar melanjutkan pendidikannya. Hingga membuat pria itu tak memiliki jeda waktu hanya untuk bersantai ria.


Bisa jadi itu salah satu cara Linggar untuk melupakan segala yang pernah terjadi antara mereka. Ahhh,.... Rindi terlalu merasa.


Atau bisa saja itu adalah mimpi dan cita-cita Linggar. Menjadi orang yang lebih sukses.


"Aku bisa abis dhuhur." Ucap Linggar mengakhiri sesi pandang-memandang antara dirinya dengan Rindi.


"Waaah, bisa Rin." Kamil antusias, lalu tertawa.


"Gak mau ngelawatin anugrah dia." Masih tertawa dengan telunjuk mengarah ke Linggar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Cit, Citra,..." suara Kamil kembali menggelegar mengisi lorong kantor.


Gadis yang dipanggil segera membalikkan badan menatap segerombolan mantan teman satu divisinya. Tersenyum menghentikan langkah, menunggu yang lain menggapainya.


"Cit, kita mau jalan bareng sabtu nanti." Kamil yang telah berbicara meskipun jarak masih lumayan jauh. Suara harus sedikit lebih tinggi agar bisa didengar jelas oleh Citra.

__ADS_1


"Rindi mau traktir kita-kita." Lanjutnya masih dengan nada suara tingginya.


"Biasalah, anak baru, gaji pertama." Ucapnya dengan wajah yang begitu bercahaya.


"Beneran?" Citra yang juga menunjukkan wajag yang bercahaya. Namun kembali redup, "Yaaah, aku gak masuk dalam daftra list dong." Dengan lesu.


"Aku boleh ikut ya! yah Rin." Merengek. Memeluk lengan Rindi sambil digoyang-goyangkan.


"Nggak papa deh aku bayar sendiri."


"Please ya Rin, aku pengen banget makan di luar sama Pak Linggar." Masih memohon.


"Aku gak pernah liat Pak Linggar pakai baju santai, pasti keren deh." Kali ini wajah ditampilkan dengan mode sumringah.


Apa yang ada di pikiran gadis ini hanya Linggar?


"Eh, Pak Linggar ikutan gak yah?" Lanjutnya menatap Rindi yang masih ia peluk lengannya.


"Pak Linggar ikut Cit." Kamil yang berada di sisi sebelahnya.


"Katanya abis dhuhur dia bisa. Makanya kita atur jadwalnya dijam segitu. Biar semuanya bisa ikut." Lanjutnya.


"Beneran?"Citra yang semakin sumringah hanya dengan mendengarkan nama Linggar.


"Rin, aku boleh ikut yah-yah?"Citra kembali menggoyang-goyangkan lengan Rindi.


"Iya-iya." Rindi berusaha tersenyum meskipun rasanya kecut di dalam hati.


Entah itu apa?


Dan wanita disampingnya ini justru selalu saja bersemangat tiap kali memyebut nama itu.


Jika suatu saat ia harus melihat gadis itu bersama dengan Linggar. Entahlah, apakah ia mampu atau tidak. Yang jelas saat ini ia merasa risih untuk selalu berdekatan dengan Citra yang notebenenya penggemar fanatik Linggar.


 


Hingga hari yang telah ditentukan telah tiba. Sebagai pemeran utama hari ini, ia harus datang tepat waktu.


Jangan sampai membuat yang lain menunggu dan menimbulkan pikiran negatif tentang dirinya.


Kamil dan Citra pun tiba secara bersamaan. Mungkin janjian terlebih dahulu. Dengan semangat 45 dan juga senyum yang tak pernah pudar. Menunjukkan betapa semangatnya mereka hari ini.


"Gimana-gimana? Penampilan aku hari ini? Cantikkan?" Bergaya di hadapan Rindi, menunjukkan pakaian dan makeupnya. Ingin tampil sempurna di hadapan Linggar pastinya.


"Cantik." Satu kata sederhana yang mampu membuatnya terbang melayang.


"Pc, dari tadi tanyain itu-itu melulu Rin."


"Bilang, kurang apa yah? Tambahin apa yah? Kayak orang mau ngedate aja."


"Emang mau ngedate." Balasnya masih dengan senyum yang sempurna.

__ADS_1


"Eh bentar kau duduk di samping Pak Linggar yah. Awas kalau ada yang nyalip." Meskipun mengancam namun gadis itu masih memperlihatkan senyuman manisnya.


"Aku mau pulang sama Pak Linggar yah."


Kamil melambaikan tangan saat sosok Ayu terlihat dari jauh.


"Bentar, kamu bilang sama Pak Linggar kalau aku gak ada teman pulang." Citra yang tertuju pada Kamil.


"Minta tolong sama Pak Linggar buat anterin aku, yah!"


Tak menghiraukan Ayu yang baru saja bergabung dengan mereka.


"Aneh!" Kamil yang mencibir.


Rindi hanya mampu menggelengkan kepala lalu menunduk. Sementara Ayu hanya mempersembahkan senyumnya.


Linggar tiba paling akhir. Dengan menggunakan kemeja, lengan digulung hingga sikut. Celana jeans membalut kaki jenjangnya. Sepatu sneaker menambah kesan santai berkelasnya.


Tak lupa tas ransel di pundak.


Pemandangan itu sontak membuat Rindi menatapnya dengan begitu dalam hingga hampir tak berkedip.


Pemandangan yang sering ia nikmati saat dulu. Saat pria itu masih menjadi miliknya seorang.


"Sory telat. Kelamaan yah?" Ucapnya saat mulai mendekat pada rombongan. Senyuman itu terlihat semakin memikat.


"Ih cakep bangeeet." Puji Citra dengan lirih tepat di samping Rindi.


Tak ada timpalan dari Rindi.


Wanita itu sibuk menata hatinya yang sedang berantakan porak-poranda seketika.


Linggar mulai mendekat, tak peduli dengan tatapan sendu dari sang mantan.


"Udah ngumpul semua?" Pandangan beredar pada satu per satu anggotanya, seperti sedang mengabsen.


"Jadi kita makan di mana nih. Aku udah lapar banget, tadi sengaja gak makan di kampus buat ini." Berdiri tepat di hadapan Rindi yang harus mendongakkan kepala untuk menatapnya.


Wangi itu.


Entah mengapa seperti jarum yang menusuk masuk ke jantungnya.


Ia pernah menghirup wangi itu hingga puas.


Memilih untuk menundukkan wajah piasnya. Pria di hadapannya ini mungkin saja sedang menguji perasaannya.


TBC.


Jangan lupa oleh-olehnya yah!


Emmuahhh.

__ADS_1


__ADS_2