
Malam ini, angin malam seolah berhembus kencang.
Kini ia mulai bertanya, kemana arah dan tujuannya.
Linggar mulai melangkah dengan pelan ke arah Rindi. Ia tahu jika Rindi tak tidur seperti malam-malam kemarin.
Wanita itu akan menunggunya dalam keremangan kamar memeluknya dari belakang.
Tak ada jawaban maupun reaksi, meskipun ia tahu jika Rindi memang belum tidur.
Duduk tepat disamping Rindi, dan membuka selimut yang menutup kepala. Memandang wajah Rindi dari samping. Kecantikan sempurna yang terlukiskan sempat ia miliki. Rasa bahagia yang selalu saja datang mengahampiri saat mereka bersama.
“Belum tidur?” Tanyanya sambil membelai pipi chubby yang selalu ia dampakan. Berusaha tersenyum meskipun sakit mendera hati.
Lalu menjatuhkan wajahnya tepat dipipi sang istri. Betapa ia sangat memuja sosok Rindi.
Ia mulai terisak meski mulut kembali tertutup.
Ada apa? Mengapa malam ini terasa mellow?
“Aku sayang kamu. Sayang banget. Kenapa kamu lakukan ini ke aku Rin?”
“Apakah hatimu sekeras batu?”
“Sakiiiiit. Sakit banget?”
Setiap kata terdengar sangat berat, menegaskan betapa terpaksanya ia. Terasa air mata itu turut membasahi pipi mulus Rindi.
Mereka hanya terdiam, namun derai air mata terus mengalir membanjiri. Linggar bangkit hanya untuk membersihkan mata dan hidungnya. Kemudian kembali menunduk memilih leher Rindi dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Mencoba memenuhi rongga penciumannya dengan aroma Rindi.
Mungkin nanti ia akan merindukan aroma ini.
“Aku kalah Rin, aku kalah.”
“Aku tak tahu lagi cara mencairkan hatimu.” Ucapnya semakin lirih dan semakin terasa berat karena isakan tangisnya yang tak kunjung reda.
Setelah mencoba tuk bertahan dalam kisah ini seorang diri, kini akhirnya ia menyerah.
Merasa bodoh, mengharapkan seseorang yang jelas sudah tak pedulikan cintanya. Harusnya tak ia paksakan untuk tetap bersama Rindi, hingga akhirnya itu akan melukai dirinya sendiri.
Kini ia merasakan betapa perih cinta tanpa balas.
Sesaknya dada saat ia dihadapkan dengan sebuah penghianatan dari kekasih sendiri.
Sebesar apapun usahanya namun tak mampu mendapatkan Rindi menjadi seutuhnya. Sakitnya kehilangan orang yang ia cintai.
Linggar kembali menjauhkan wajahnya dari Rindi. Kembali membelai lembut dan membersihkan wajah Rindi dari air matanya. Menatap pilu Rindi.
Lalu menarik napas dalam-dalam, meskipun sulit harus ia ucapkan.
“Rindiandira Ningsih Binti Khaeruddin.” Kembali menarik napas dalam.
Ada apa? Mengapa menyebut nama lengkap Rindi?
“Aku jatuhkan talak pernikahan padamu.”
__ADS_1
“Kamu lepas.”
“Kamu bebas.”
Meskipun selanjutnya airmata kian tak terbendung? Isakan tangis semakin menggema terdengar sangat memilukan.
Dayung yang ia pegang selama ini untuk bisa tetap membuat perahu mereka berlayar telah direbut paksa oleh sang kakak ipar. Membuat perahu terhenti di tengah laut.
Ia tak berdaya, tak memiliki alasan yang mampu menguatkan diri untuk menggiring perahu hingga ketepian.
Ia telah berusaha semampunya meyakinkan Rindi tentang perasaannya. Mengajarkan bahasa perasaan, sekiranya hati gadis itu bisa mencair tak lagi membeku.
Kini ia sadar tak mungkin merengkuh dan memeluknya.
Dalam batas ini, mungkin ia sudah tak sanggup lagi.
Rela melepas Rindi. Bukan rela namun terpaksa.
Akhirnya semua ini telah berakhir, bagai mimpi buruk.
Harapannya untuk hidup dan menua bersama Rindi kini pupus sudah. Hubungan mereka kini benar-benar berada dalam ujung dengan sebuah perpisahan.
Dan Rindi hanya mampu terdiam dalam keter-kejutannya. Mendengar kalimat yang baru saja melumpuhkan jantungnya.
Bukan! Bukan ini yang ia inginkan.
Meskipun ia diam sedari tadi, harusnya tak seperti ini!
Kini tangannya meremas keras selimut yang membungkus tubuhnya. Mencoba menyingkirkan rasa sakit yang tiba-tiba menghantam dadanya hingga menembus jantung hati.
Tak bisakah Linggar bertahan lebih lama?
Ia yang mulai kembali membuka diri, tapi kini Linggar memilih pergi dan melepasnya.
Sakitnya bukan main.
Jiwa raga bagai runtuh hancur berkeping-keping. Seolah merintih memanggil nama Linggar yang kini telah melangkah menjauh keluar dari kamarnya.
Pelukan kasih yang selalu merangkul, membelenggu dan menahan pergerakananya kini terlepas. Namun ini tak seindah yang ia bayangkan.
Linggar keluar dari kamar Rindi langsung menyembar koper besar yang tadi ia tinggalkan di depan pintu yang telah ia siapkan terlebih dahulu. Menuruni setiap anak tangga sambil mengusap wajah mencoba menghilangkan air mata dari sana.
Namun air mata itu tetap membandel dengan terus saja turun meskipun telah dilarang.
“Kak aku pamit.” Ucapnya lirih pada sepasang suami istri yang tengah duduk di depan tv.
“Sampaikan salam buat kak Reno. Aku sudah ceraikan Rindi.”
Kata Cerai yang begitu sulit untuk terucap namun tetap harus, demi memastikan akhir hubungan ini.
“Jika butuh bantuan, bilang saja. Aku akan membantumu sebisa mungkin!” Sang pendukung. Meskipun segala upaya yang mereka lakukan ternyata tak membuahkan hasil, namun ia harus tetap berterima kasih.
Setelah keluar dari rumah itu ditemani Dihyan dan Rima, tanpa sepatah kata langsung memberikan kunci mobilnya pada Pak Bur, sopir dari rumahnya yang datang khusus menjemputnya.
Malam ini terasa berat, hingga ia tak mungkin mengendarai mobilnya seorang diri.
Duduk di kursi belakang, menikmati perjalanan dengan hanya menangis, menangis, dan menangis. Hanya menangis.
__ADS_1
Mengingat tatapan mata Rindi untuk yang terakhir kalinya sebagai istri. Sungguh sangat menyiksa bathinnya yang justru masih sangat mencinta.
Ia lelaki, menangis.
Heh, Pria cengeng.
Maaf, ini terlalu sakit untuk tak menangis.
Biarlah julukan itu ia dapatkan saat ini. Pun tak mampu mencegahnya.
Sementara pak Bur hanya mampu mencuri pandang dari kaca diatasnya, tanpa mampu bertanya dan berkata apapun.
Rindi baru tersadar saat mendengar deru mobil Linggar yang mulai berjalan menjauhi rumah. Ia bangkit dari tidurnya, berharap semoga semua ini hanya mimpi, atau berharap Linggar masih ada di bawah dan mereka akan kembali berbicara dan membahas semuanya.
Lalu semua akan kembali seperti semula. Rindi akan memberikan kesempatan lagi padanya.
Berlari terus dan dengan cepat menuruni anak tangga jangan sampai Linggar pergi.
Ia akan memeluk Linggar dari belakang, tak akan melepasnya lagi. Ia ingin Linggar tetap berada di sisinya.
Tak boleh pergi, jangan sampai.
Bodohnya ia yang terlalu memaksakan diri mengejar Linggar, jelas tadi ia mendengarkan suara mobil Linggar menjauh turut membawa sang pemilik.
“Kak.” Ucapnya saat sampai di bawah melihat sepasang suami istri masih berada di depan pintu.
Namun entah mengapa wajah kak Rima terlihat sendu, apa yang terjadi?
Rima berjalan ke arahnya. Kini ia mampu melihat jelas setitik air jatuh dari sudut mata kak Rima.
Rima memeluknya dan berbisik, “Kadang kita menyadari perasaan sendiri saat orang itu telah pergi.”
Apa maksudnya ini? Apakah benar ini bukan mimpi? Linggar telah pergi dan kata-kata cerai tadi itu sungguhan?
“Kak.” Ia tak lagi mampu menahan diri untuk tidak menangis. Masih terasa tepukan ringan di pundaknya dari suami kak Rima.
Tidak! Ia tak boleh berdiam diri di sini.
Menepis semua tangan yang seolah menahan pergerakannya, lalu berlari ke luar rumah. Entah sadar atau tidak dirinya terus melangkah cepat menjejaki paving blok yang tersusun rapi dengan tanpa menggunakan alas kaki.
Mungkin ia akan terlalu sibuk memikirkan Linggar yang telah jauh di terbawa mobil tanpa memikirkan keadaannya sendiri. Dengan menggunakan piyama tidur terus berlari menembus dinginnya angin malam ini.
Air mata yang terus saja bercucuran tak mau berkompromi seolah menjadikan malam ini begitu dramatis.
Ia terhenti di depan pintu pagar yang baru saja tertutup dengan satpam yang melongo memandanginya dengan binggung.
Dengan memeluk pintu pagar, akhirnya tubuhnya luruh ke bawah. Ia tak lagi mungkin bisa mengejar Linggar.
Suaminya itu telah pergi!
To Be Continued!
Kita lanjut besok lagi yah!
Tapi jangan lupa jempolnya.
Sama sekalian bunga sama kopinya.
__ADS_1
Kopinya di kasi susu sama krimer biar tambah mantap.