
“Cerita aja, sapa tau aku bisa ngasih solusi.”
“Udah gak ada solusi lain.” Mungkin rasa putus asanya terlalu besar.
“Memangnya masalah apa?” Tangan memegang ponsel yang layarnya telah berganti hitam, dengan tatapannya semakin lekat ke arah Linggar.
Mereka terdiam.
Tatapan Arman terdiam di sosok sahabat yang juga terdiam kini memunculkan wajah sendu.
Tahu jika sahabatnya itu butuh satu sandaran dan tempat curhat, namun ragu terhadap dirinya.
“Aku janji gak bakalan ember. Kalau aku ember pasti kamu menjauh. Salah satu teman dan rumahku hilang.” Mengingat dirinya yang menjadikan rumah Linggar sebagai rumah ke dua setelah rumahnya.
Di sana seolah ada kesenangan tersendiri baginya. Dimana ia bisa mendapatkan tempat untuk bermain basket setiap saat, tempatnya berkumpul dengan teman-teman yang lain dan tentu saja makanan enak dari bunda Linggar.
Terlalu nikmat untuk di buang sia-sia.
“Kita udahan.”
Kalimat singkat yang mungkin terdengar seperti sedang bercanda.
“Hahahah, ada pernikahan udahan? Kalau pacaran iya ada, udahan.” Ejek Arman yang seketika diam membisu hanya untuk mencerna kembali kalimatnya.
Bangkit secara mendadak menghampiri Linggar. Dengan menepuk keras paha sahabatnya.
“Kalian cerai? Gak kan?” ucapnya seolah tak ingin percaya dengan kata-katanya sendiri.
“Hemm,” Dengan sedikit anggukan kepala. Lengannya telah menutup wajah. Menyamarkan ekspresi yang ditimbulkan akibat rasa sesak di dada.
Setitik demi setitik kristal bening itu telah meluncur di kedua sudut matanya membasahi pelipis. Lagi.
Pembicaraan ini terasa terlalu berat.
Hingga ia harus menggingit bibir bawahnya, sekali lagi hanya untuk menyamarkan suaranya yang sedang terisak.
Sayang, penyamarannya sama sekali tak membuat Arman percaya. Terlalu jelas!
Menunggu Linggar meluapkan segala rasanya dengan tangis, nyatanya membutuhkan waktu yang tak sedikit bagi Arman.
Ia mengerti rasa itu mungkin terlalu sakit. Mengingat hubungan dan rasa cinta Linggar pada Rindi bukan main dalamnya.
Meskipun saat harus memaksakan takdir, ternyata tetap tak bisa mengendalikan sang takdir itu.
Linggar yang memutuskan membuat skandal hanya untuk mendapatkan Rindi sesutuhnya rupanya hanya bisa bertahan beberapa lama.
Linggar bukannya pria yang mudah mengenal cinta. Dan Rindi, wanita yang dianggapnya beruntung bisa mendapatkan Linggar, nyatanya wanita itu kurang bersukur.
__ADS_1
Heh, sedikit rasa benci dan amarah seolah mengetuk hati Arman. Mendapati sahabatnya telah beberapa kali di sakiti oleh seorang wanita yang ia nilai tak memiliki kelebihan apapun untuk di sandingkan dengan Linggar.
Dasar Rindi, menang cantik doang udah belagu. Sombong sekali, pikirnya.
“Aku pulang, mungkin kamu butuh waktu.” Masih menatap Linggar yang berbaring tenggelam dengan tangisnya.
Sedikit tepukan dari Arman, setidaknya sebagai ucapan semangat untuk sahabatnya.
Suara pintu terdengar tertutup menandakan Arman yang baru saja keluar.
Linggar membalik tubuhnya ke samping. Memeluk guling dengan remasan tangan yang sangat kuat. Menenggelamkan wajahnya dengan tangis yang semakin pecah.
Ternyata pura-pura kuat itu justru membuat sakit yang semakin mendalam. Dibalik senyumannya yang selalu mampu membuat dirinya terlihat tangguh, ada hati yang terluka. Hancur lebur harapan yang sejak dulu ia percaya bahwa mereka akan tetap bersama.
Pertemuannya dengan Rindi siang tadi kembali mengingatkan terhadap semua tentang Rindi.
Tatapan itu ternyata tersimpan rapat di sanubari, menyisakan siksaan bathin yang teramat sangat.
Dimulai saat Rindi yang meraih tangannya terlebih dahulu dengan senyuman seperti sedang memamerkan gigi ginsulnya.
Ia yang menggendong Rindi saat terluka karena dibully tentang hubungan mereka.
Kemarahan Rindi saat pertama kali bibirnya mendarat di pipi empuk itu. Hingga membutuhkan waktu dua setengah tahun untuk mengulang kejadian itu dengan meminta ijin terlebih dahulu.
Hingga sampai merasakan tubuh Rindi untuk pertama kalinya dengan kelicikannya.
Terlalu banyak kenangan. Membuatnya terlalu sakit.
Satu kata yang ingin ia ucapkan di hadapan sang mantan, ialah Rindu.
Mencoba kuat.
Mencoba tuk lupakan bayangan imut Rindi, tapi sayang terlalu sulit baginya.
Ia lemah dan seolah tak berdaya.
Yakinlah kini guling yang ia peluk telah basah karena air matanya.
Semakin terisak dengan bahunya yang terguncang hebat.
Iabterhentak, langsung membalikkan kepala saat merasakan tepukan di pundaknya.
Menatap sosok bunda yang kini menatapnya dengan iba.
Senyuman yang jelas terlihat sangat terpaksa. Mungkin senyuman seperti itu yang ia suguhkan kepada Arman hingga mampu menebak keadaannya.
Entah siapa yang memulai, kepalanya kini telah berada dipangkuan sang bunda. Tempat yang paling nyaman.
__ADS_1
“Aku liat Rindi, dia tertawa bun. Dia bahagia.” Ucapnya yang bercampur dengan isak tangis.
“Dia bahagia setelah kami berpisah.” Mengulang ucapan, sebagai bentuk pembenaran.
“Apakah aku tidak berharga di depan Rindi?”
Dunia serasa mati, hilang semangat hidup.
Jika memang ini takdirnya, bolehkah ia berharap bahwa setelah ini kebahagian menghampirinya.
Meski bukan Rindi, ia rela. Ia hanya ingin bahagia.
"Kamu bukannya tidak berharga. Tuhan tidak pernah menciptakan hal-hal yang tidak berharga." Bunda dengan elusan lembut membelai kepalanya.
“Lalu kenapa dia seolah tak merasakan kesedihan dari perpisahan kita. Dia tidak mencintaiku bunda.”
“Kamu kuat! Kamu lelaki, tak boleh lemah.” Meskipun bunda sadar jika setiap manusia punya hati yang kadang terluka, namun harus tetap memberi semangat agar putra kesayangannya itu tabah menjalani keadaan ini.
"Anggap saja ini bunga kehidupan. Bunda berdoa semoga kamu bisa mendapatkan pendamping hidup yang sangat mencintaimu.”
“Jangan pernah mencintai siapa pun yang memperlakukanmu seperti kamu orang biasa saja. Kau tahu? Ternyata dicintai lebih indah dari pada mencintai tapi tak terbalaskan."
Ia semakin tak bisa menghentikan tangisnya. Dengan memeluk erat pinggang dan wajah
yang terbenam di perut sang bunda.
Tak butuh waktu lama, kini linangan air mata telah terlihat di wajah cantik bunda.
Lihatlah! Ia telah membuat bunda menangis karena ulahnya.
Tidak! Ia tak ingin membuat bunda menangis lagi. Jika memang harus menangis, setidak tangisan kebahagiaan.
Harusnya, ia bisa menyembunyikan kesedihan ini setidaknya dihadapan sang bunda. Sayang bunda masuk ke kamarnya di saat yang tidak tepat.
Di sanabdi waktu yang sama. Lilis berada di kamar Rindi, masih di rumah Rima. Setelah meminta ijin pada yang punya rumah agar bisa mengundang sahabatnya hanya untuk menemaninya.
“Kalian kenapa?” Lilis yang masih dalam usaha awal mengorek informasi.
“Gak papa kok. Aku kesepian, kak Rima masih di RS mungkin besok baru pulang.”
“Trus kak Linggar, mana?” Selama menikah inilah pertama kalinya Rindi memanggil Lilis untuk menemaninya.
Hanya untuk berjaga-jaga agar ia tak kembali mengingat Linggar saat sedang sendiri. Tapi ternyata strateginya itu mungkin salah. Pertanyaan-pertanyaan semakin bertambah di otak Lilis.
Tentang di mana Linggar saat ini? mengapa tak menemani Rindi.
“Lagi ada urusan.” Ucapnya singkat, “ mau nonton apa?” Sambil menyalakan laptopnya berupaya mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Sayangnya Lilis justru semakin penasaran.
“Kalian bertengkar?” Tanya pelan, sedikit takut jika pertanyaannya menyinggung sahabatnya.