
Rindi segera berlari masuk ke dalam rumah tujuannya kali ini adalah kamar mandi. Gejolak dalam perut seolah semakin memberontak dan tak terbendung lagi.
Meskipun begitu, otaknya masih berpikir jernih. Linggar masih mengikutinya di belakang, tak mungkin ia masuk ke dalam kamar tidurnya. lebih memilih kamar mandi belakang, lebih aman.
"Hoeeeek." Mengeluarkan isi perutnya.
"Rin, sampai segitunya?" Linggar dengan kerutan di kening. Padahal tadi sudah lebih baik. Apa mungkin karena guncangan mobil lagi.
"Dirrr, ka--kamu hamil?" Ucapan ibu seketika menahan langkah kaki Linggar untuk mendekat pada Rindi.
Pun dengan Rindi, yang sontak menghentikan aksinya mengosongkan perut di kamar mandi.
Kedua Insan itu melongok mendengarkan pernyataan ibu.
Ibu tengah terduduk di di kursi meja makan dengan terisak dengan kedua tangan menutup wajah. Tak siap jika harus menerima kabar kurang baik dari Sang Putri.
"Loh kok?" Linggar bingung.
Sementara Rindi memutar bola matanya, "Drama banget, ck."
Mulai mendorong punggung Linggar menuju ke depan padahal kepala masih pusing, pandangannya masih sedikit berputar-putar.
" Kak Linggar pulang deh!"
" Nggak pa-pa kali Rin kamu disangka hamil biar pernikahan kita semakin dipercepat." Masih menahan langkahnya. Dalam hati berniat untuk membuat ibu semakin yakin tentang prasangka tersebut.
" Biar cepet nikah Rin! Cepat malam pertama juga!"
Rindi kembali mencibikan bibir, permintaan Linggar itu-itu saja. Seperti tak ada hal yang penting lagi selain pernikahan.
" Bu, tadi itu kak Linggar ngajakin jalan sambil makan angin." Rindi kembali menghampiri ibu yang masih duduk di kursi meja makan setelah mengantarkan Linggar hingga ke teras.
" AAAAA." Ucapnya membuka mulut lebar-lebar tanpa canggung. Toh Linggar sudah tak ada di sana, masih membawa mobil miliknya.
"Trus ini kemasukan angin banyak sampai sini." Kali ini tangan mininya mengelus pelan perut. Memberikan pengertian pada ibu dengan pelan.
"Ibu mau aku sembuh, tinggal dikerokin doang kok, hehehe!" Terkekeh sendiri saat menyadari apa yang menjadi pemikiran ibunya.
Ibu hanya diam membisu, menatap ponsel di tangan yang baru saja mati saat Rindi masuk.
Kembali menatap RIndi yang kini hanya nampak punggung berjalan masuk ke kamar tanpa menutup pintu. mungkin menantikan dirinya. Benarkah putrinya itu hanya ingin dikerok saja?
Ada perasaan aneh dalam hati. Apa harus menyalakan kembali ponselnya?
__ADS_1
\===============
Linggar masuk ke dalam rumah disambut dengan wajah jutek Bunda.
Sedikit tak peduli, memilih terus melangkahkan kaki ke dapur, meminta tolong pada Bibi untuk dibuatkan jus buah pelepas dahaga.
"Linggaaaaar!" Teriakan Bunda saat melihat putranya itu acuh tak acuh padahal jelas tadi meliriknya.
" Kenapa sih Bun?" Tanya Linggar saat ia memutar langkah kembali di tempat Bunda yang tengah duduk berdua dengan ayah.
" Rindi kenapa?" Bunda masih dengan wajah juteknya.
"Nggak kenapa-napa." Jawab Linggar enteng. Merasa memang tak terjadi apa-apa pada Rindu, kecuali mabok.
" Kenapa memang?" Tanya nggak balik.
" Kamu nggak ngapa-ngapain kan sama Rindi?" Bunda masih melirik seperti hendak menerkam saja.
"Ngapa-ngapain gimana sih?" Linggar turut mendudukkan tubuh, bergabung bersama kedua orang tua.
"Rindi gak hamil kan?" Bunda sedikit menurunkan volume suara. Berharap kabar yang baru saja beliau dengan melalui ponsel tak benar adanya.
"Bunn,...." Ayah dengan kening berkerut tajam, kini turut menatap Linggar seolah ingin meminta penjelasan lebih lanjut.
"Ciuman aja nggak, hehehe."
Yang diceritakan Linggar adalah tentang hari ini. Hari kemarin-kemarin tak menjadi pembahasannya untuk saat ini. Merasa ini bukan sebuah pembohongan. Wajah berupaya menunjukkan sebuah kejujuran.
"Tapi memang lebih baik pernikahan dimajukan. Nggak usah terlalu lama, takutnya Kami benar-benar khilaf."
"Maka jadilah!" Ucapnya enteng tanpa beban sedikitpun.
Kalimat terakhir turut disertai dengan gerakan mengelus perutnya sendiri, senyum lengkap dengan lirikan menggoda pada sang ibu.
"Awas aja kalau ... " Ucapan bunda terpotong saat ponsel yang berada di atas meja kembali berdering.
Memilih meraih ponsel dari pada melanjutkan omelannya pada putra bungsunya yang sedikit jahil.
"Apa?" Pekikan Bunda yang disertai dengan tubuh yang tersentak dan berdiri.
Pun dengan ayah dan Linggar, yang turut merasakan panik nya Bunda padahal sebabnya belum mereka ketahui.
"Mau lahiran?"
__ADS_1
Keterkejutan bunda telah terjawab, membuat kedua pria itu saling memandang.
"Sekarang udah ada di rumah sakit?" Entah ini pertanyaan atau omelan, yang pasti suara bunda sedikit melengking ke udara.
"Aduuuuuh, Reza kok nggak ngabarin." Saat Bunda telah menutup panggilan telpon itu. Mulai beranjak dari sana, entah tujuannya ke mana.
Antara ke kamar dulu, guna mengambil barang pribadi, atau langsung pergi ke Rumah sakit menyusul sang putri tercinta.
"Lah ini udah ngabarin!" Linggar turut melangkah mengikuti jejak kedua orang tuanya. Meskipun raga sebenarnya lelah, namun terbayar dengan berita yang baru saja ia dengar.
Akan mendapatkan keponakan baru.
Bunda meletakkan kedua tangan di wajah, berupaya mengendalikan diri dari kepanikan yang baru saja melanda. "Aduuuuh jangan macam-macam deh!" Keluhnya seorang diri.
" Lah Siapa yang macam-macam sih Bun?" Linggar yang selalu saja bisa menjawab Bunda, justru semakin menambah pening yang hadir secara mendadak.
Bunda memilih kembali ke arah kamar.
Kembali bergabung dengan kedua pria yang masih berdiri menantinya setelah menyiapkan sejumlah uang untuk kebutuhan mendadak nantinya.
" Sekarang Chaca di mana?" Pertanyaan ayah kembali menghentikan langkah Bunda yang tadinya telah berada di ruang tamu hendak keluar.
Satu pertanyaan yang justru semakin membuat pusing saja dengan suasana ini.
"Aduuuuh lupa. Coba Telepon Reza tanyain Caca sekarang di mana?" Menunjuk pada Linggar.
Sementara langkahnya kembali mengayun membawa tubuh masuk ke dalam rumah.
" Mau ke mana Bun?" Linggar dengan suara yang sedikit besar, takut Bunda Tak Mendengar.
" Kebelet," Bunda dengan kedua tangan memegang perut bagian bawah. "Mau pipis."
" Bunda kayaknya panik sendiri deh!" Linggar memandang sang ayah yang memilih mendudukkan diri di sofa empuk.
Entah apa lagi yang akan menjadi alasan keberangkatan mereka yang tertunda nantinya.
\============
To Be Continued!
Kita lanjut besok yah.
Jangan lupa like n komennya. Sekalian sisa votenya, hehehehe telat yah!
__ADS_1