
Rindi terhentak saat mendapati seseorang telah mengenggengam tangannya. Ia berbalik, dan mendapati Lilis yang tadinya berada di sampingnya kini telah berpindah ke kursi sebelah duduk di sandaran tangan kursi karena tak mendapatkan bagian kursi.
Mereka telah berada di taman kampus.
Kini tempat Lilis telah tergantikan oleh seorang pria yang hobi menggenggam tangannya. Linggar yang telah duduk di sampingnya, menyandarkan kepala ke sandaran kursi sembari memejamkan mata. Membuat sang gadis terhentak dengan debaran yang tak beraturan.
“Kak, kenapa?” Rindi.
“Ngantuk!” Linggar tanpa membuka mata.
“Ke kantin yuk! Laper nih!” Andini, “dari pada liatin orang pacaran, mana kenyang?”
“Yuk, aku juga lapar!” Seorang lelaki yang turut bergabung bersama mereka.
“Kamu, mau tinggal disini pacaran atau ikut ke kantin?” Tantri saat mereka semua telah berdiri, menyisakan dirinya bersama Linggar.
“Kak, mereka mau ke kantin. Aku juga. Lapar!” Sedikit mencoba melepaskan gengaman Linggar yang nyatanya tak bisa terlepas.
Linggar membuka mata dengan sedikit mendongak, padangannya kini menangkap wajah Rindi yang tepat barada didepannya, begitu dekat. Bahkan terlalu dekat. Sedikit saja gerakan bisa menempelkan bibirnya tepat di pipi RIndi.
Dengan pipi chubynya yang lebih mendominasi otak Linggar. Dengan tangannya Linggar menyentuh pipi Rindi membuatnya kembali menoleh ke arah depan. Ia harus mengalihkan pemandangan yang terlalu memukau itu. Jika tidak, bisa-bisa bibirnya terlempar dan mendarat di sana.
“Kita nitip boleh?” Linggar meraih selembar uang biru dan menyerahkannya pada Lilis, orang kepercayaannya.
“Mau makan apa?” Tanyanya pada Rindi.
“Bakso.” Rindi.
“Jangan yang berkuah, kita makan di sini saja kalau mereka sudah datang!”
“Nasi kuning aja, kalau gitu. Lebih simpel buat dibungkus.”
“Aku nasi goreng.” Linggar, “ jadi bisa sambil tukeran.”
“Gak cukup ini kak, gak ada uang jalannya nih!” Andini.
Linggar kembali memberi selembar uang merah dan menyerahkannya pada Lilis. Hanya untuk bersama Rindi ia harus merogoh kantongnya dalam-dalam.
Dua ratus ribu merupakan harga yang lumayan wah untuk seorang mahasiswa seperti dirinya. Terlebih lagi saat ayah membatasi uang jajannya karena beberapa kali tertangkap merokok bersama teman-temannya.
Ayah bilang, “Boleh merokok kalau punya penghasilan sendiri.”
Mungkin ia harus mengurangi rokok untuk mendapat kepercayaan ayah lagi untuk mendapat uang jajan lebih.
Atau minta pada kakaknya, yang juga kini telah membatasi kontribusinya setelah mendapat laporan dari ayah.
“Aku ngantuk Rin,” Kini Linggar lebih berani menjatuhkan kepalanya bersandar di pundak Rindi yang hingga kini belum mendapat kepastian dari sikapnya.
Lalu bagaimana dengan Rindi? Ia tak bisa bergerak. Bahkan untuk bernapas sekalipun ia harus berhati-hati. Jika tidak ia akan mendapatkan Linggar yang benar-benar jatuh dalam pelukannya.
Belumpun selesai dengan pemikirannya sendiri, Linggar berdiri dari duduknya. Mau kemana?
__ADS_1
Ternyanya hanya berpindah duduk ke sebelahnya yang memiliki tempat lebih luas, lalu membaringkan tubuhnya dan mendaratkan kepalanya di paha Rindi.
Ya ampun, ini lebih parah dari sebelumnya, lelaki ini kini benar-benar berada dalam pangkuannya.
Tolong berikan dia waktu untuk bernapas terlebih dahulu!
Linggar menutup wajahnya dengan buku seolah semua biasa dan baik-baik saja. Sementara Rindi hanya mampu menggingit bibirnya sembari menahan gemuruh jantungnya yang kini tengah bekerja keras.
Ini terlalu intim baginya. Linggar adalah orang yang pertama menggunakan pahanya sebagai bantalan. Ia tak pernah seperti ini, bahkan saat bersama kakaknya yang justru akan menjadi bantal untuk kepalanya.
Tunggu-tunggu! Bukankah mereka telah jadian semalam?
Mereka telah resmi pacaran bukan?
Tapi kenapa Linggar tak mengatakan apa-apa? Apakah pria itu tak ingin mengulang semua perkataan yang semalam ia lontarkan?
Ah cemen!
Atau Linggar lupa?
Ahhhh..... tau ah, pusing.
Dengan perasaan gemuruh, dan apa yang harus dilakukan sekarang? Apakah hanya berdiam diri dan membiarkan lelaki itu terlelap?
Menatap tangannya yang entah harus ia simpan di mana? Masa iya harus meletakkan tangannya di tubuh Linggar, atau mengusap kepala pria itu. Benar-benar ide buruk. Ia menggelengkan dengan mata tertutup.
Tak sampai setengah jam, Linggar mulai menarik buku membuka penutup wajahnya, namun belum beranjak. Rindi harus memaksa diri agar mampu menatap lelaki yang masih berada di pangkuannya.
Linggar tersenyum, “Kamu cantik.”
Ampun deh! Kata-kata apa lagi itu. Ujian apalagi yang harus Rindi jalani. Ini terlalu sulit baginya.
Tinggal selangkah lagi pria ini mampu membuatnya terjatuh dalam kubungan sakit hati jika saja pria ini berpaling darinya.
Tidak! Jangan jatuh cinta Rindi. Pria ini terlalu sempurna untukmu. Sangat mudah
untuknya mendapatkan gadis yang lebih baik dari dirimu. Kamu hanya seseorang
dari beberapa gadis yang dijadikan mangsa oleh Linggar.
“Terima kasih.” Berupaya tersenyum padahal lagi deg-deg serrrr.
“Udah ah, bangun kak, pegal tau!” Harus sedikit membentak demi menetralisir rasa agar terlalu ketahuan jika dirinya baper.
“Iya-iya, ini juga bangun.” Linggar yang mulai beranjak dan mendatangi kran air terdekat untuk membasuh wajahnya.
Lebih fress.
“Ngantuk banget yah? Begadang?” Rindi, mungkin hatinya lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
“Hemm.” Mengusap wajahnya dengan handuk yang baru saja diambil dari dalam ransel Sepertinya pria ini selalu menyiapkan handuk kecil di tasnya, mengingat kegemarannya berhubungan dengan aktivitas yang mengorbankan keringat berlebih.
__ADS_1
“Abis nonton bola sama anak-anak. Bentar malam perempat final, jadi sepertinya begadang lagi!”
Entah mengapa seolah pemberitahuan bagi Rindi untuk meminta ijin agar tidur dipangkuannya lagi esok hari dan untuk beberapa hari selanjutnya hingga pertandingan selesai.
Bersamaan dengan kedatangan teman-temannya yang baru saja dari arah kantin.
Ugh, lama banget tau. Seperti menunggu mereka seharian penuh, sendiri.
“Nih, ibu bos dan bapak bos. Makan siangnya, please cepetan! Sebelum dosennya masuk!” Andini sambil menyerahkan bungkusan berisi pesanan mereka.
Astaga, ia lupa jika masih memiliki kelas selanjutnya.
“Makan di sini saja ya?” Entah itu usul atau sebuah perintah. Karena Linggar telah membuka bungkusannya terlebih dahulu.
Makan berdua dipandangi dengan teman-teman lainnya. Membuat Rindi menjadi salah tingkah.
Benar-benar hari ini dihadapi dengan hati yang seolah jungkir balik.
“Pulang jam berapa?” Saat Linggar telah menyelesaikan makannya.
“Jam berapaan?” Melempar pertanyaan itu pada teman-temannya. Bukan tidak tahu, hanya saja hatinya benar-benar belum stabil.
“Jam 3.” Hampir semua temannya menjawab. Rindi mengangguk membenarkan ucapan teman-temannya.
“Aku tungguin, kalau selesai telpon aja!
“Kakak gak ada kelas?” Tanyanya.
“Udah selesai dari tadi.”
“Loh kok, kakak pulang aja dulu! Aku bisa pulang sam Dini.” Rindi menatapnya dalam.
Jika memang tak ada kelas, buat apa pria itu tinggal lebih lama di sini. Apalagi hanya untuk tidur? kan bisa pulang ke rumah, tidur dikamar dengan kasur empuk tanpa penggangu.
“Aku tunggu! Atau kalau mau cari, cari aja ke basecamp. Aku disana.” Linggarpun berlalu setelah membersihkan sisa bungkusannya.
To Be Continued!
Jangan lupa memberi like setiap membaca Bab Baru.
Hanya sebuah sentuhan jari mampu membuat Dinda melayang.
Dan buat kalian yang telah memberikan sentuhan jari, Dinda ucapkan banyak-banyak terima kasih.
Lope Yu!
Lope Yu!
Lope Yu!
Lope Yu!
__ADS_1