Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Menanti Hari


__ADS_3

"Bunda, ...." Linggar dengan oktaf tinggi dari dalam kamar.


"Tolong!" Teriaknya kembali setelah keluar dari dalam kamar.


Kembali memanggil Bunda saat diri telah berada di anak tangga melangkah satu demi satu turun ke bawah. Suaranya masih melengking memanggil dengan kepala yang menoleh ke kiri kanan mencari posisi Bunda berada.


"Bun--,"


"Apa Sih Gar dari tadi teriak-teriak." bunda dengan spatula di tangan muncul dari dalam.


"Ini!" Linggar menempatkan telunjuk di depan perutnya yang sedikit kentara di balik baju biru frozen yang dikenakannya.


"Kenapa?" Bunda yang masih belum mengerti.


"Ini bun!" Ucapnya dengan lesu. Kali ini dengan telunjuk menekan-nekan perutnya sendiri.


"Kamu gendutan Dek?" Lirna yang memilih pulang ke rumah orang tuanya setelah melahirkan, dengan alasan ingin membantu persiapan pernikahan Linggar.


"He em," Linggar dengan anggukan kepalanya yang lesu.


Tiga pasang baju persiapan pernikahannya baru saja sampai tadi siang. Dan sore ini ia baru saja mencoba satu pasang.


Dan hasilnya pakaian itu kekecilan di tubuhnya, menampakkan bagian perut yang sedikit membuncit.


"Masih bisa duduk?" Lirna.


"Bisa tapi pelan-pelan!" Linggar.


"Jongkok? Masih bisa?" Lirna lagi.


"Nggak tahu, takut sobek di sini." Sambil mengusap pelan bagian bokongnya. " Duduk aja udah was-was."


"Ya bajunya dipermak aja!" Bunda masih setia memegang spatula, ikut duduk bersama kedua anaknya.


"Kalau mau kalau main permak, berarti semuanya harus dipermak dong bun." Linggar.


"Nggak ada diet-diet segala! bajunya di permak aja!" Bunda.


" Ini akibat dari demo besar-besaran kamu dulu," Lanjutnya.


"Susunya masih minum, Dek?" Lirna.


"Masih, kan disuruh sama Bunda. Lagian enak kok."


"Ya kalau gitu kamu udah bisa diet mulai sekarang," Lirna. " Minum susunya dihentikan dulu."


"Bunda juga suruh minum susu karena nggak mau kamu kerempeng kayak dulu, apalagi mau nikahan." Spatulanya telah ditepuk pada tubuh Linggar. Sedikit kesal, pembahasan ini seperti menjunjuk bunda sebagai penyebab  baju Linggar tak muat.


"Kalau bajunya yang mau dipermak, berarti kamu harus merubah semuanya, bisa jadi semua bajumu nanti gak bisa kepake lagi Gar."


Linggar bernafas dengan keras, sambil menunduk menatap perutnya yang kembang kempis seirama dengan nafasnya.

__ADS_1


Lirna benar, dia harus merubah salah satunya. Antara pakaian atau tubuhnya yang dirubah.


" Dietnya sehat kok bun! daripada kamu melar terus! Belum jadi bapak udah gendutan." Lirna yang menepuk pelan paha bayi kecilnya yang turut di letakkan di sofa, masih sempat mencibir adiknya.


"Sarapan dan makan siang masih seperti biasa. Nah, yang berubah itu jam makan malammu."


"Makan malam bergeser ke sore hari, sekitar jam 5-an."


"Malam boleh makan, tapi menunya diperhatikan. Kalau boleh makan buah saja, seperti pisang atau ubi ungu yang direbus, Enak kok."


"Olahraga jangan lupa. Jadi mulai sekarang harus bangun lebih pagi."


"Eh bangunnya pagi kok. Aku nggak pernah telat ke kantor." Linggar menyela.


"Ya berarti harus lebih pagi lagi. sisipkan waktu olahraga sebelum ke kantor. Lari keliling Kompleks sebentar saja, tapi harus rutin."


Seminggu mendekati pernikahan sedikit lebih berat dilalui bagi seorang Linggar.


Mengikuti saran kakaknya, untuk diet sehat demi mengembalikan postur tubuh seperti semula.


Tidak kerempeng, dan tidak gemuk juga.


Tapi bukan hanya itu yang menjadi ujiannya saat ini.


Pingitan ala bunda yang harus ia jalankan bersama Rindi.


Pekerjaan masih jalan, tapi mereka dilarang bertemu satu sama lain. Dan bodohnya Rindi turut mengikuti arahan dari sang Bunda. Tak ingin bertemu seminggu sebelum pernikahan.


Sejak kapan ponsel masuk dalam ranah pamali-pamali segala?


Dan saat ia menghampiri Rini di ruangannya, wanita itu akan menjadikan Pak Adit dan rekan-rekannya sebagai alasan. Katanya, " Ada mata-mata bunda di antara mereka."


Eggghhh, kesel sekali rasanya.


"Bundaaaaa," Linggar langsung melemparkan tasnya ke arah sofa saat baru saja memasuki rumah.


Mendapati Bunda yang menggeleng-gelengkan kepala saat menatap wajah kusutnya.


"Lagi-lagi ngadu! Lagi lagi ngadu!" Suara Lirna.


"Kamu tuh cowok gar. Bisa nggak sih jalani hidup lurus-lurus aja?" Disuruh break ketemuan aja rusuhnya minta ampun."


"Cuman seminggu Gar, cuman seminggu. Habis itu kamu bebas ngapa-ngapain sama Rindi. Sabar dikit kenapa sih?" Lirna mewakili suara  hati bunda.


Tak peduli saat Linggar memasang wajah kesalnya.


\=============


Rindi duduk di depan meja rias. Dua orang wanita yang  ditugaskan dari Mua tengah menjalankan pekerjaannya. Merias wajah dan rambut calon pengantin wanita hari ini.


Di belakang Rindi, tepat di tempat tidur 3 orang gadis Tengah bahu membahu merias satu sama lain secara bergantian.

__ADS_1


Lilis, Tantri dan Andini yang siap merelakan waktunya 24 jam sepanjang hari ini untuk sahabat mereka yang tengah berbahagia.


" Pufffttt," Suara hembusan keras terdengar dari Rindi.


" Kenapa Rin?" Andini menghentikan tangannya yang tengah melukis wajah Lilis.


"Gugup." Jawabnya.


"Kirain kamu sama Kak Linggar udah nggak ada gugupnya. Secara kalian udah barengan berapa tahun. Ini juga bukan untuk yang pertama kali, kan pernikahan kedua kalian, dengan orang yang sama lagi. Udah pengalaman." Tantri.


"Pengalaman oho-oho juga!"


Disambut gelak tawa dari ketiganya.


Yakinlah, jika bukan karena segan kedua MUA itu juga pasti turut menertawakan dirinya.


"Ck," Rindi hanya berdecak kesal. Bukannya mendapat kalimat penenang justru ejekan yang terlontar.


Tak jauh berbeda dengan Rindi, Linggar turut gugup, bahkan sebelum matahari menyambut.


Hampir semalaman, ia justru tak bisa terlelap.


Bedanya, jika Rindi bersama teman-temannya maka Linggar hanya seorang diri di dalam kamar.


Duduk sendiri di sisi tempat tidur. Di tangannya tengah memainkan peci berwarna putih gading berhias sulaman benang emas. Senada dengan beskap yang dikenakannya.


Beberapa kali tangannya mencoba menahan lutut yang bergetar. Sesekali pula desisan terdengar dari bibirnya.


"Dah siap Gar?" Bunda muncul dari balik pintu, mengecek kesiapan sang calon pengantin pria itu.


"Gugup Bun." Ucapnya saat menatap Bunda.


"Minum dulu baru kita siap-siap berangkat. udah jam 09.00, akad nikahnya jam 10.00." Bunda menyodorkan air putih yang baru saja ia tuang dari teko kaca.


Linggar menyambut, meminumnya hingga tandas.


"Sudah, ayo!"


" Tunggu Bun, aku gugup banget ini. Mau pipis dulu." Linggar mulai berdiri sambil memegang asetnya, mulai berjalan sedikit cepat ke arah kamar mandi.


" Aduh kamu jangan bahas pipis-tipis lagi. Bunda juga mau ikutan pipis kalau gitu."


Sesaat kemudian, Bunda telah menggedor-gedor pintu kamar mandi Linggar. Panggilan alam itu terasa semakin dekat.


"Cepetan Gar, kebelet ini."


"Ck, lelet banget sih!" Umpat Bunda saat Linggar baru saja keluar dari kamar mandi.


Linggar memilih berlalu meninggalkan kamar, berharap gugup sedikit lebih berkurang jika bergabung dengan keluarga yang lain.


Dari pada sama bunda yang tak bisa diajak ber-gugup ria.

__ADS_1


Ya bawaannya gitu, langganan toilet!


__ADS_2