
Linggar tidak langsung mengikuti intruksi mertuanya, yaitu masuk ke kamar setelah sarapan pagi.
Dirinya masih malu untuk berbuat semaunya. mengikuti langkah mertuanya yang menuju ke ke pintu samping.
Menggunakan sendal jepit, ia terus berjalan dibelakang sang mertua.
Bapak mulai mengeluarkan selang panjang mengarahkan ke kebun. lalu apa yang akan ia lakukan sekarang?
Ia hanya memandang kegiatan Bapak mertuanya yang sedang menyiram tanaman.
Sekarang Ia lebih terlihat seperti seorang mandor yang mengawasi karyawannya yang sedang bekerja.
" Tidur sana, kamu pasti ngantuk!" Bapak sambil melihatnya lalu kembali fokus pada pekerjaannya menyiram tanaman.
"Hehehe," Hanya membalas dengan kekehan.
Ia memang sangat ngantuk tapi ia masih segan untuk kembali ke kamar dan hanya tidur.
Ia minta sedikit dipaksa untuk ke kamar atau setidaknya tangannya ditarik menuju ke kamar Rindi.
"Sudaaaah, Sana tidur!" Sekali lagi bapak mengusirnya. dengan sangat terpaksa dan senang hati Ia pun mulai pamit.
Merebahkan diri di atas ranjang mengabaikan Rindi yang sedari tadi mondar-mandir sibuk melayani keluarganya.
Kali ini tidurnya sangat nyenyak, mungkin efek begadang semalam sambil memikirkan Rindi.
Iya terbangun saat Rindi menyebut namanya sambil bahunya.
Melirik ke arah jam yang tertempel di dinding, menunjuk ke arah pukul 12 lewat.
"Kak, bangun! Makan siang dulu. semuanya udah ngumpul di meja makan." kali ini disertai dengan senyuman.
Nah gini kan enak, baru buka mata udah lihat bidadari cantik. Iya membalas dengan senyuman meskipun separuh
nyawanya masih menari di atas langit-langit kamar.
Dan yang mengesankan adalah Rindi mau menunggunya membersihkan diri sebelum keluar dari kamar.
Meskipun tanpa kata mereka berjalan beriringan menuju ke meja makan.
Ia lebih memilih untuk turut bergabung bersama para pria duduk melingkar lantai di depan TV.
Lebih menguntungkan untuknya karena kakak iparnya tercintanya justru memilih makan di meja makan.
"Kenapa enggak nunggu sampai lulus kuliah aja terus nikah?" pertanyaan dari salah satu kerabat Rindi.
Mereka masih duduk di depan TV setelah makan siang.
"Takut ketikung sama orang lain Om," Jawabannya jujur sedikit menyimpang memang.
"Di kampus ada cowok yang dekatin Rindi, padahal dia tau kita sedang jalan."
"Cinta banget ya sama Dira?" salah satu pria yang umurnya hampir sebaya dengannya.
"Banget. Teramat sangat malah!"
__ADS_1
"Sedalam lautan Seluas Samudra, hahaha." Salah satu kerabat Rindi.
Menjelang sore, keluarga yang lain telah pulang ke rumah masing-masing.
Linggar memilih untuk kembali ke kamar Rindi.
Menyiapkan beberapa kata untuk minta izin pada keluarga Rindi agar bisa istrinya itu ke rumah bundanya. Tapi terlebih dahulu ia ingin berbicara berdua dengan Rindi.
Rindi terlihat sangat sibuk, atau memang sengaja untuk menghindarinya.
Bahkan hingga sampai malam menjelang. selalu saja ada pekerjaan yang dilakukan oleh Rindi.
Rasa kesal kembali menggerogoti Linggar. Aneh rasanya dengan sikap menghindarnya Rindi. Terlebih lagi ini bukanlah rumahnya.
Rasa kesalnya semakin lengkap saja dengan situasi canggung berada di lingkungan yang baru saja ia kenali.
Merasa kerdil diantara semua orang. Untuk berbincangpun, ia tak tahu topik apa yang bagusnya
Entah apa yang harus ia kerjakan saat ini?
Pc, setidaknya Rindi mengajaknya berbicara apa saja.
Dan malam ini, berakhir dengan mereka yang tertidur dengan saling memunggungi.
“Bangunkan suamimu!” Ucapan ibu saat mereka telah selesai mengatur menu sarapan pagi.
“Sekalian sama kakak kamu juga!” Ibu yang masih di dapur sedikit berteriak ke arah Rindi.
Apa? Kakaknya itu masih ada di rumah ini?
Dia, Linggar dan Kak Reno.
Apa lagi yang akan mereka bahas di meja makan nanti?
Bagaimana menghadapi kakaknya di depan suaminya sendiri?
“Kak, ditungguin sarapan pagi!” Ucapnya dengan kepala menengok masuk, sementara sebagian tubuhnya masih berada di luar. Menyumbangkan senyuman sebelum kembali menutp pintu.
Linggar telah bangun dari tidurnya. Lagi-lagi sikap Rindi masih acuh dan sengaja menyibukkan diri.
Mata Linggar melebar menatap seseorang yang duduk membelakanginya.
Tak terlalu hapal, tapi ia yakin jika pria itu adalah kakak ipar tercintanya.
Hahahaha, kakak ipar tercinta.
Ia mencebikkan bibir saat kata itu terlintas di otaknya.
Bukan sebaliknya? Jika diijinkan bolehkah ia membenci pria itu?
Entah mengapa masalah selalu saja ada ketika ia bertemu dengan kakak iparnya itu.
Terlebih saat ini, mereka diwajibkan untuk sarapan pagi bersama.
Bukan maksud menunggu masalah.
__ADS_1
Tapi ia tak yakin jika pagi ini berlalu tanpa ada drama hasil karya kakak iparnya itu.
Mencoba mengatur napas, sebisa mungkin mengendalikan diri di hadapan keluarga barunya.
Meyakinkan diri yang sedang bimbang dalam melangkah mendekati meja makan.
Tak ada alasan untuk menolak dan pergi lagi dari sana.
Terlebih lagi, "Eh, menantu baru ibu." Mertuanya telah menyapanya, dilengkapi dengan senyum ramah.
"Ayo, sini gabung." Lanjut ibu.
Kini mereka telah duduk mengelilingi meja makan.
Linggar dan Rindi yang duduk bersisian, berhadapan langsung dengan Reno yang juga duduk bersisian dengan istrinya yang sedang membawa janin di perut.
Ibu sedang menyendokkan nasi goreng ke piring bapak. Ditambah sepotong telur dadar hasil buatan Rindi. Plus nugget yang juga hasil gorengan Rindi.
Ibu melirik ke arah Rindi sebagai kode untuk melakukan hal yang sama pada Linggar.
Rindi menatap ke arah sangku nasi yang baru saja diletakkan oleh kakak iparnya setelah melakukan hal sama seperti yang ibu lakukan pada suaminya.
Ibu masih menatapnya dengan sedikit lirikan ke arah Linggar. Rindi tau kode itu.
Iapun berdiri meraih sangku nasi, menyendok lalu meletakkan ke piring di depab Linggar.
Ini adalah pelayanan pertamanya pada sosok pria yang kini menjadi suaminya itu.
Jangan ditanya lagi perasaannya saat ini.
Grogi lokal melanda.
Bukan hal baru makan bersama Linggar. Tapi status baru ini yang membuatnya seperti merasa di awasi oleh semua orang.
Di ujung sana, bapak bahkan sedang mengulum bibir demi menahan senyum agar tak terlalu terlihat.
Anehnya tingkah bapak di anggap lucu oleh Linngar yang juga ikut mengulum bibir.
Kenapa bapak harus menahan senyum? Padahal sama anak sendiri.
Ia yang merasa wajar saja dengan kelakuannya yang justru hampir sama dengan bapak mertuanya, memiliki alasan tersendiri, ialah takut jika istrinya itu tersinggung hingga tak mau lagi melayaninya seperti ini.
Rindi kembali duduk ke kursinya setelah mengisi piringnya sendiri.
Ruang makan itu terasa sepi, padahal sedang terisi oleh seluruh keluarga.
Ibu dan bapak, yang berusaha biasa saja dengan saling berdiam diri nyatanya semakin terlihat aneh.
Rindi dan kakak iparnya itu masih terlihat saling menjauh.
Sementar Linggar memang tak terlalu dekat dengan keluarga Rindi.
Meskipun berpacaran cukup lama, tak mampu membuat nyalinya kuat untuk datang menyambangi Rindi di rumahnya dan memperkenalkan diri sebagai pacar Rindi.
Hanya beberapa kali, termasuk mengantar Rindi setelah kakinya terkilir karena didorong seseorang.
__ADS_1
Sering mengantar Rindi pulang kuliah, hanya sebatas di depan pagar saja.