Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Mencari Kepastian


__ADS_3

Kedua pasang mata saling melirik tajam, menusuk. Seraya memikirkan waktu dan cara membalas dendam selanjutnya.


Rindi selangkah lebih maju, setelah tadi menggigit keras paha Linggar setidaknya mampu melampiaskan rasa kesalnya. Seketika Linggar tersenyum, Rindi semakin memicingkan mata, aneh pikirnya.


Linggar mengulurkan tangan meraih tubuh Rindi, mudah Saja merebahkan wanita itu kembali ke pangkuannya. Dengan tetap menjaga kestabilan posisi Rindi.


Stabil di sini memiliki arti, Rindi tetap aman dan tak memiliki kesempatan untuk menggigitnya lagi. Menahan pergerakan kepala Rindi agar tak menghadap ke paha dan menggigitnya lagi.


Linggar menundukkan kepala, mendekat kearah wajah Rindi yang menyamping. Mendaratkan bibirnya tepat di pipi Rindi.


Hemmm, empuk! Seketika kata itu menyenggol hatinya.


Lembut dan wangi bedak yang mulai tersamarkan, terkikis karena air mata tadi.


Ahh, ia lupa dengan maksud hatinya, niat yang tadinya ingin membalas perbuatan Rindi. Terhanyut saat bibir bersentuhan langsung dengan pipi sang kekasih. Ah ternyata rasa itu sangat indah.


"AAAAAAAA," teriakan Rindi, saat Linggar menggigit pipinya. Semakin memberontak ingin melepaskan diri dari jeratan Linggar.


Rindi menjauh dengan wajah yang terpasang mode kesal. "Tuh kan basaaah," Ucapnya sambil mengusap pipi yang baru saja digigit oleh Linggar.


"Hahahahaha," Tawa Linggar seketika pecah. "Halllah tadi juga dapat dari sumbernya," kembali tertawa.


Senang sekali rasanya. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.


Dapat mulus pipi, dapat membalas gigitan Rindi dan dapat melihat wajah kesal itu. Menggemaskan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Jadi gimana?" Pertanyaan dari ibu. Saat ini mereka tengah berkumpul berempat dengan bapak yang pulang untuk makan siang dan shalat dhuhur.


Linggar dan Rindi saling menatap, bertanya namun tak berucap. "Ada apa, mengapa dan yang mana?"

__ADS_1


Kembali menatap bronis dan air jeruk yang tersaji di meja. Padahal mereka baru saja beranjak dari meja makan, lambung masih dalam keadaan penuh, begah jadinya nanti.


"Kenapa bu?" Sambil mencomot sepotong bronis hangat. Pertanyaan dari bapak serasa mewakili sepasang muda-mudi itu.


"Ibu gak mau kalian terlalu lama menjalin hubungan yang gak jelas seperti ini?"


"Gak jelas gimana bu?" Bapak, baru saja menghabiskan sepotong bronis dan kembali mengulur tangan menjemput potongan lain, kok bisa yah?


“Ibu mau kalian perjelas dulu hubungan kalian ini?”


“Kan udah jelas bu.” Itu masih jawaban dari bapak. Kedua insan muda di sebelah meja itu masih terdiam, tak tahu harus menjelaskan apa.


“Pak, mereka berdua itu mantan suami istri pak, pernah kawin mereka itu. Gak baik selalu berdua-duaan, takut kebablasan.”


“Nikah bu, nikah.”


“Iya nikah, pernah kawin juga kan?”


Adddduh,.... pertanyaan itu. Apa harus dijawab? Iya bu, tadi aja sempat ciumanan merekanya.


Ibu berdiri dengan bibir yang mencibir mendengar gombalan receh bapak. Masuk ke dapur, menyiapkan requesan bapak.


“Ingat pesan ibu, jangan selalu berdua-duaan, yang ketiga setan.” Sejenak beliau terdiam dengan pandangan miring ke atas, berpikir. “Eh, jadi bapak setannya dong sekarang.”


“Bukan ibu gak merestui kalian, tapi ibu hanya gak mau kalian khilaf.” Sekarang mereka hanya tinggal bertiga.


“Kalian pernah hidup bersama, pernah tidur bersama juga. Untuk saling bersentuhan sekarang, mungkin tak lagi ragu dan malu.” Kedua terdakwa hanya mampu menundukkan kepala, malu.


“Kalian sudah dewasa, taukan maksud ibu?”


“Jadi sekarang juga ibu mau bertanya, mau dibawa ke mana hubungan kalian ini?”

__ADS_1


“Ingin rujuk, atau hanya ingin bermain-main?”


“Jangan bilang ingin saling mengenal dulu, gak cocok. Ibu tak mau mendengar jawaban itu.” Dengan menggeleng dan menutup mata.


“Apa dulu kalian pisah karena kamu selingkuh?” Pandangan mata ke arah Rindi, pertanyaan itu untuknya.


“Bu-bukan buuuu. Bukan karena itu.” Pandangan menunduk, ragu untuk menjawab. Biar bagaimanapun, pasti ada yang akan dikorbankan, tapi siapa?


“Lalu?” Pandangan ibu yang tadinya terasa sejuk dan damai berubah tajam.


Linggar yang duduk di samping Rindi hanya mampu memandang wanita itu, tak mampu membantu menjawab pertanyaan ibu.


“Terus kenapa Linggar nuduh kamu selingkuh kalo memang gak ada buktinya?”


“Ibu kan tadi udah bilang, kalau memang gak bisa setia kenapa masih bertahan sama Linggar. Kamu juga Linggar, tau kalo Dira pernah selingkuh, kenapa masih mau?”


“Karena aku cinta Rindi bu.” Jawab pria itu tanpa segan, tanpa ragu. Pandangan ke depan dan kepala mengangguk sekali, seolah meyakinkan diri dengan jawaban yang baru saja ia lontarkan.


“Tapi dia pernah tinggalkan kamukan?” Tubuh ibu condong ke depan, ke arah Linggar. Sepertinya ibu tengah berada di kubu Linggar.


“Bukan bu! Bukan karena itu.” Tak tahan rasanya terus dipojokkan seperti itu. “Kita pisah bukan karena aku selingkuh, tapi karena kak Reno?”


Wanita paruh baya itu memundurkan tubuh dengan kening berkerut. Apa hubungannya dengan Reno?


Padahal yang menjalani Linggar dan Rindi.


“Kak Reno yang misahin kita.” Setetes air mata terjun bebas ke pipi. Tak ingin menjadikan kakaknya sebagai tumbal, tapi memang itulah kenyataanya.


---------


Maaf yah Dinda baru nongol lagi!

__ADS_1


Kita lanjut beberapa menit ke depan yah.


Jangan lupa semangatnya yah!


__ADS_2