
Rindi keluar dengan dari ruangan itu dengan hati yang teriris.
Benar, tak ada lagi tempat untuk nya di sini. Hengkang dari perusahaan ini menjadi jalan yang terbaik untuk semuanya.
Linggar tersenyum saat mendapati sosok Rindi berada di sekitar area kerjanya. Berjalan mendekati Rindi yang masih jalan dengan menunduk.
Hehehehehe, pasti Rindi kangen. Ingin ngajak makan siang mungkin.
Salah Linggar juga, lupa membawa ponsel saat ke luar kantor hingga Rindi harus menghampiri meja kerjanya.
Namun langkah kakinya semakin melambat saat menatap sesuatu yang tidak beres dari tingkah Rindi.
Jalan dengan terus menunduk tanpa melihat apa yang berada di depan mata.
"Rin, Rindi." Sapanya ketika mereka telah saling berhadapan.
Kening Linggar berkerut, bingung menatap keadaan Rindi yang seperti ini?
Tidak, Rindi ke sini tidak untuk mencarinya. Ada hal lain yang Rindi sembunyikan.
" Rindi, dari mana?" Linggar dengan lirih, rasa penasaran semakin besar.
Rindi terus menunduk sambil menggelengkan kepala sedikit lebih kencang. Wajah sayu yang Rindi coba sembunyikan mampu ditangkap oleh Linggar.
" Rin, kamu nangis?" Linggar mulai menunduk, menatap wajah Rindi.
" Rin, kamu kenapa?" Kedua tangan mendarat dan berada di bahu Rindi mengguncang perlahan.
Rindi mampu menepisnya dengan sedikit kasar, kemudian berlalu meninggalkan Linggar yang hanya menatapanya dengan bingung.
Rindi marah padanya. Tapi karena apa?
Menoleh ke belakang, tepat ruang sang atasan. Ia harus terlebih dahulu mencari hal apa yang membuat Rindi seperti itu.
Rindi dari mana kalau tak mencarinya?
Bertemu dengan atasan perusahaan?
Mau apa staf biasa seperti Rindi bertemu langsung dengan Direktur Utama.
Atau adakah sesuatu yang terjadi dengan ponselnya yang tertinggal di laci meja?
Tidak, ponselnya pasti baik-baik saja.
Berjalan perlahan mendekati ruangan Direktur Utama.
Jangan bilang jika Atasannya itu ikut campur dalam urusan pribadinya. Meskipun beliau adalah adik dari sang Bunda, kehidupan Linggar terlalu jauh untuk om-nya itu kendalikan.
Namun suara seseorang yang berada dalam ruangan itu mampu menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Suara yang setiap hari ia dengar.
Terlalu jelas, Rindi tak menutup pintu dengan rapat.
Kenapa Bunda berada di sini?
Apakah Bunda, menjadi dalang dibalik tangis Rindu.
"Apa kamu tidak terlalu kejam?" Suara om Adit.
Linggar menahan langkah, berniat menguping pembicaraan itu.
" Kejam dari mananya? Aku udah pernah bilang sama mereka berdua, tetep aja ngeyel. Yah mau bagaimana lagi." Bunda dengan sedikit ketus.
"Bunda tahu hubungannnya dengan Rindi masih berlanjut dari mana?" Kini Linggar bisa menebak apa yang membuat Rindi menunduk dalam seperti tadi.
Untuk selanjutnya ia bisa pahami jika Rindi akan menghindarinya.
"Kalau mereka masih melanjutkan, ya mutasi saja, ke mana kek. Yang penting mereka tidak bertemu lagi."
Kenapa bunda terdengar kejam seperti itu?
"Pc, Aku nggak mau ikut campur. Aku nggak mau Linggar jadi membenciku." Perbincangan itu mampu Linggar tangkap dengan sangat jelasnya.
"Bunda." Ucap Linggar pelan, berusaha memberi tahu keberadaannya. Perlahan mendorong pintu agar semakin melebar dan mulai melangkah masuk.
"Kamu?"
'Bunda ngomong apa ke Rindi?" Ucap Linggar pelan tanpa menjawab pertanyaan dari sang bunda.
"Oh, bunda hanya ingin menegaskan hubungan kalian. Sampai kapanpun bunda gak akan terima." Ucapan bunda penuh penekanan dan tegas.
"Kami akan berpisah, hanya masalah waktu saja. Kami hanya ingin mengulur waktu." Linggar berkata pelan, menekan nada suara yang justru terdengar seperti tercekat.
Bukan hal yang mudah, saat amarah memenuhi hati namun masih berusaha tak meninggikan suara.
"Kapan?" Bunda.
"Pelan-pelan bun, kami pasti berpisah. Jangan khawatir." Ucapnya meyakinkan bunda.
Pembicaraan itu masih terlaksanan dengan tenang namun mencekam.
Bunda tersenyum dengan menggelengkan kepala. Perkataan Linggar seperti lelucon untuknya.
Cinta Linggar terhadap Rindi teramat besar, bahkan cenderung bodoh. Mana ada manusia yang mau jatuh kedalam lubang yang sama.
"Bunda sudah merelakan gadis pilihan Bunda, sekarang giliran kamu yang merelakan wanita pilihan kamu." Bunda belum mau mengalah.
"Untuk masalah jodohmu, biar nanti ayah yang carikan. Kita sama-sama kalah, jadi kita impas. Satu sama."
__ADS_1
"Hehehehe," Linggar terkekeh kaku mendengar penuturan bunda yang sedang melakukan negosiasi mengenai teman hidupnya.
Negosiasi macam apa ini?
"Apa bunda tidak mengerti rasanya saling mencintai tapi tak bisa memiliki?"
"Heheheh, bunda tak mengerti. Bunda tak kan pernah mengerti." Berkata dengan diiringi kekehan dengan gelengan pelan, menertawakan dirinya sendiri.
Berharap sebuah pengertian dari bunda, kini bagai mengharapkan sesuatu yang tak pasti.
PAk Adit menyembunyikan wajah dibalik genggaman tangannya, dengan siku yang bertumpu di meja.
Ia bisa apa di sela perdebatan antara ibu-anak tersebut. Bukan tak ingin melerai perdebatan alot itu, tapi ia sungguh tak tahu duduk permasalahannya itu apa?
Melihat mata Linggar yang sayu dengan kening berkerut, ia tahu jika pria itu memendam kekecewaan yang teramat sangat. Tak ingin suaranya yang bisa saja menjadi bom pada Linggar yang siap akan meledak kapan saja.
Dengan decakan di bibir, Linggar berbalik meninggalkan ruangan itu. Kembali ke meja kerjanya.
Memukul-mukul meja dengan kerasnya guna melampiaskan kesal, kecewa dan amarahnya.
"Aaaaarrrrrgggghhhh,...." Akhirnya segala yang ia pendam tadi dikeluarkannya.
Mata yang tergenangpun mulai banjir.
Mengapa Bunda tak mengerti, mereka hanya butuh sedikit waktu untuk terbiasa tak bersama.
Mengurangi intensitas kebersamaan dan komunikasi mereka.
Mengapa Bunda tak mengerti juga, bahwa semua ini bukan sesuatu hal yang mudah untuk mereka.
Mereka yang saling mencintai, mereka yang selalu bersama namun harap harus berpisah jua.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Eh telat yah?
Belumkan?
Belum seminggu, toplesnya belum kosong kan? Bagi dong, hehehehehe.
Maaf yah baru up!
Sebulan sibuk belajar sembahyang mengaji, susah banget buat setorin naskahnya.
Ini dinda kasi double up, Doain besok upnya bisa lancar yah!
Jangan lupa semangatnya juga!
__ADS_1
Like, komen sama hadiahnya juga.
Sekalian sama votenya dong!