
Bunda menatap Linggar dan Rindi secara bergantian. Tadi keduanya nampak sangat bahagia, bercanda dan tertawa.
Namun semuanya telah berganti. Kesedihan terlalu nampak di mata mereka. Kini mereka hanya menunduk mendengarkan penuturan Reno.
Pasti sakit rasanya saat dipisahkan dengan orang yang di sayangi.
“Rin, boleh cepat gak. Kasihan istri kakak yang lagi hamil nungguin.” Dengan membawa wanita hamil, siapapun pasti akan luluh.
“Iya, kak.” Lalu berlalu kembali ke kamar Linggar untuk mengambil barang-barangnya.
“Yah, bun, aku pulang dulu.” Rindi sambil mendatangi ayah dan bunda dengan tangan terulur untuk takzim.
“Loh, kamu beneran mau pulang? Kan belum pernah nginap di sini?” Ayah yang belum mengerti tentang keadaan yang ada.
Masih menggunakan piyama satin lengan pendeknya, toh mereka akan langsung pulang ke rumah, tak usah ganti baju segala.
“Iya yah, maaf.” Sebisa mungkin air matanya ditahan jangan sampai menimbulkan pertanyaan lebih oleh keluarga
Linggar.
“Iya lain kali ke sini lagi. Inikan rumah kamu juga.” Ayah.
“Iya yah, makasih.” Kini kakinya melangkah mendekati Linggar yang masih berdiri tak beranjak sedari tadi.
Dengan memeluk tas nya, dan satu tangan kembali terulur ke depan untuk takzim kepada sang suami. Sendu sangat terlihat jelas di matanya. Andaikan bisa kesedihan itu ia kendalikan, jangan sampai nampak di depan semua orang.
Sementara Linggar hanya mampu mengelus pipi halus sang istri. Ia masih rindu, bahkan masih sangat Rindu. Masih ingin mengulang kegiatan tadi, setidaknya saat menjelang subuh saat tubuh sedang mengisi daya.
Berdiri tegak dengan tangan menjuntai ke bawah, lemah. Hanya mampu memandang Rindi dari belakang dengan penuh pengharapan. Berharap istrinya itu berbalik dan memeluk dirinya. Tapi hingga punggung itu hilang dibalik pintu, Rindi tak kembali lagi seperti yang ia harapkan.
Tak apakah jika dirinya membenci pria yang tadinya tersenyum berpura-pura itu? Pria yang senantiasa mencari cara agar mereka tak bersama. Terus mencari cara memisahkan sepasang suami istri yang telah sah.
“Kok kamu gak ikut Rindi?” Ayah yang beranjak dari duduknya.
“Masih ada yang harus Linggar kerjakan yah.” Alasannya. Padahal jika di ijinkan ia mau-mau saja ikut ke mana
Rindi pergi.
“Kalau ada masalah, upayakan selesaikan secara intern saja dulu. Jangan memasukkan pihak ke tiga walaupun
itu dari pihak keluarga kecuali memang keadaannya sudah tidak memungkinkan.”
Bukannya dia yang ingin memasukkan pihak ke tiga. Tapi pihak ke tiga itu yang sengaja masuk untuk mengobrak-abrik rumah tangganya.
“Udah ah, ayah mau tidur.” Dan kini ayah mulai berjalan meninggalkan bunda dan Linggar.
“Duduk dulu! Gak capek apa berdiri terus dari tadi.” Menarik tangggan Linggar dan mendudukkannya di sofa. “Kamu gak papa?” Bunda turut duduk di dekat Linggar.
Mencoba mengerti akan apa yang dirasakan oleh putranya itu. Perpisahan yang seolah terpaksa saat mereka sedang berbahagia.
“Iya gak papa?” Meskipun perkataan seperti itu, namun hati seolah berkata lain. Hatinya bagai tercabik-cabik
Sakit, marah, kecewa dengan keadaannya saat ini.
__ADS_1
Terlalu nampak untuk bisa disembunyikan. Kepala terasa berat hingga harus di letakkan pada sandaran sofa.
Pandangan ke langit-langit namun pikiran seolah terbang melayang.
“Benar kata ayah kamu. Kehadiran pihak ketiga dalam rumah tangga akan semakin memperkeruh masalah.” Sambil mengelus lengan atas Linggar berharap mampu memberikan sebuah kekuatan.
“Kamu sudah makan?”
Linggar masih diam. “Mau bunda temani makan?” Dalam keadaan seperti ini, bunda memang paling mengerti.
“Gak usah bunda masuk ke kamar saja, aku gak papa kok. Bilang sama ayah gak usah khawatir.” Setidaknya ia tak
memberikan pemikiran berat kepada orang tuanya, cukup ia saja.
"Tapi kamu belum makan Gar?" Bunda sedikit menaikkan nada suara karena Linggar telah meninggalkan beliau ke arah kamarnya.
\===
“Kalian ngamar?” Reno saat mereka telah berada dalam mobil.
Rindi hanya mengangguk. Ada rasa marah, kesal dan sedih. Ia ingin membenci pria yang sedang mengemudi di
sampingnya, tapi tak bisa.
Reno adalah kakaknya. Kakak yang dulu selalu menyayanginya, mendukungnya, dan bahkan memfasilitasi hampir
seluruh hidupnya.
“Dira tolong dengar kakak.” Mobil telah berhenti di tepi jalan namun belum sampai ke rumah. Mungkin kak Reno
“Tolong dengarkan kakak!" Ucapnya lagi penuh penekanan. "Kakak hanya ingin memberikan yang terbaik buat kamu. mungkin kamu marah sama kakak, tapi gak papa. Semua ini aku lakukan untuk kebaikan kamu.”
“Tolong, hindari Linggar! Tolong jangan sampai hamil!” Semakin menekankan nada bicaranya.
“Linggar bukan pria yang baik untukmu. Kakak akan mencarikan pria yang jauh lebih baik dari pada Linggar.”
Pria yang lebih baik memang banyak. Tapi apakah cinta semudah itu mendarat pada siapa saja yang mendapatkan
predikat lebih baik?
Mungkin karena pernikahannya tanpa di dasari oleh cinta hingga pria ini seolah tak mempermasalahkan lagi tentang cinta dalam pernikahan.
“Kamu mau kan dengerin aku? Demi kamu Dira. Semuanya demi kebaikan dan kebahagian kamu.”
Lalu apa yang harus ia lakukan?
Menolak?
Tidak mungkin.
Reno terlalu berjasa dalam hidupnya. Semua yang dilakukan oleh kakaknya itu pasti untuk kebaikannya.
Sementara Linggar, orang asing yang baru tiga tahun masuk ke dalam kehidupannya.
__ADS_1
Dari segi waktu saja sudah sangat jelas jika Reno akan mengalahkan Linggar.
Rindi mengangguk. Tak berdaya untuk mengatakan tidak atau hanya sekedar menggeleng.
Reno membawa Rindi ke rumah. Aman menurutnya, toh Linggar tak ikut.
Masih dengan memeluk tasnya Rindi langsung masuk ke kamarnya saat ibu membuka pintu dan menyambut mereka dengan keadaan bingung?
“Loh kok kamu sama Dira? Suaminya mana?” Ibu sambil memandang Reno lalu menengok ke belakang mencari sosok Linggar.
“Linggar ada kerjaan mendesak bu. Beri waktu buat Linggar dan Rindi untuk saling fokus pada kesibukan masing-masing. Apalagi Linggar butuh waktu lebih banyak lagi agar kuliahnya cepat selesai.”
Masuk akal. Namun tidak untuk sepasang suami istri yang dipisahkan secara terpaksa.
Rindi merebahkan tubuh diatas kasurnya.
Kesedihan seolah melupakan rasa lapar yang tadi menyerang. Ia lebih memilih menyendiri sambil berkhayal dari pada mengisi perutnya. Membiarkan perutnya kosong tanpa sesuatu yang mengganjal.
Tak bisa dipungkiri ada rasa sakit saat harus mengikuti kakaknya meninggalkan Linggar di rumah itu.
Rumah tangga mereka baru saja berjalan baik, dan kini mereka kembali dipisahkan.
Mungkin esok kecanggungan kembali menyerang saat mereka bertemu.
Sementara di sana, tak jauh berbeda.
Setelah kepergian Reno dan Rindi daru rumahnya, tepat di hadapan kedua orang tuanya. Linggar lebih memilih
kembali ke kamar dari pada ke ruang makan untuk mengisi perut yang kini sudah benar-benar kosong.
Rasa laparnya telah menguap pergi entah ke mana. Mengabaikan diri demi menikmati hati yang terluka.
Duduk di kursi meja belajarnya.
Di sini, tadi mereka memulainya. Memulai sesuatu kehangatan antara sepasang suami istri.
Berbalik ke belakang, memandang tempat tidur yang masih berantakan belum di bereskan. tempat yang tadi baru
saja mereka tinggalkan. Menyisakan kenangan indah dan mendalam di hati.
Di mana Rindi yang tadi menyentuhnya dengan sangat lembut.
Malam panjang dengan kegiatan melelahkan namun n!kmat yang sempat ia impikan kini telah berakhir. Harusnya malam ini berakhir dengan beberapa ronde.
Kedua tangan telah menutup wajahnya, dengan pelan tangan menjalar ke atas kepala, menyugar rambut yang
masih lembab sehabis keramas. Menghembuskan napas dengan sangat kerasnya, menahan segala amarah yang tercipta.
Bagaimana dengan keadaan rumah tangga, jika sosok itu selalu saja mengusik. Tak bisa dipungkiri hatinya seperti merasakan sakit. Di saat mereka yang saling mencintai harus terpisahkan karena keegoisan seseorang.
Ya, saling mencintai. Karena kini dirinya yakin jika Rindipun memiliki rasa cinta meskipun tak sebesar cintanya
pada Rindi.
__ADS_1
To Be Continued!