Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Salah Ketik


__ADS_3

Linggar masuk ke ruangan dengan segera melonggarkan dasi yang sedari tadi melilit di lehernya bagaikan sebuah cekikan.


“Yang ngerajin faktur masuk siapa?” Linggar yang tepat berada di depan mejanya.


“Rindi.” Jawaban dari arah belakang.


Iapun tahu, jika itu pekerjaan Rindi bahkan tanpa bertanya sekalipun tidak bertanya.


Sebuah kesalahan yang kini menyeret namanya sangat tepat untuk melampiaskan kemarahannya. Mungkin ini saatnya balas dendam. Toh memang gadis itu bersalah.


“Kamu tau apa kesalahan kamu?” Berbalik, menatap tajam ke arah Rindi.


Lengan baju telah digulung hingga ke siku.


“Ma-maaf pak, saya ti-tidak tahu pak.” Rindipun telah berdiri saat namanya disebut tadi. Tertunduk menatap amarah sang bos,mencoba menerka di mana letak kesalahannya.


“Dalam setiap pekerjaan, satu kata yang selalu harus kamu ingat adalah ketelitian.” Ballpoint yang berada di tangan di jadikan sebagai alat untuk menunjuk pada Rindi.


“Apalagi di bagian keuangan. Satu angka saja, atau salah tempat saja sudah dianggap besar. Kamu tahu itu kan?”


“Tia, tolong bantu dia ngecek kembali semua faktur masuk bulan kemarin! Kamil juga! Sekalian ayu juga, biar cepat kelar.”


Tak ingin membuang waktu hanya dengan marah-marah, permasalah harus segera diketahui dan diselesaikan. Sebelum semuanya semakin rumit.


“Baik pak!” Jawaban yang hampir serempak.


Tia sebagai seorang senior mengambil tumpukan faktur masuk yang telah disimpan dengan rapi di lemari arsip besi.


Melihat tampang sang atasan yang jauh dari kata lurus, dan memerintahkan semua pasukan turun ke medan perang yang sama sepertinya sedang ada masalah yang cukup besar.


Membagi faktur menjadi 4 bagian sama rata, dan tiap bagian dibagian pada satu persatu personil. Setelah mendapat kiriman file dari Rindi mereka kembali ke meja masing-masing untuk mencocokkan angka yang tertera di faktur dengan yang terimput pada laporan.


Beberapa lama hening dan tenggelam dalam kesibukan masing-masing hingga saura terdengar dari sudut sana. Seorang gadis yang memeliki suara yang sangat mahal harganya.


Seperti namanya “Ayu”,  seorang gadis dengan tipekal pendiam dan anggun. Suaranya mungkin terlalu berharga untuk didengarkan oleh orang-orang yang tidak memiliki kepentingan sangat khusus sekali.


“Pak,” Dengan suara yang sangat lembut bagaikan hembusan angon malam. Bahkan memerlukan konsentrasi penuh hanya untuk mendengarkan penjelasannya.


“Mungkin Rindi salah ketik pak!” Ucapnya lagi.

__ADS_1


Kini seluruh tatapan menuju ke arah Ayu.


“Tolong liatin Tia, apanya yang salah!” Linggar.


Tia mulai menuju ke meja Ayu. Sementara kedua temannya hanya memandang ke arah mereka.


Terlebih lagi Rindi, ia harus mempersiapkan diri menghadapi amukan dari atasannya. Atau bahkan amukan dari atasan yang di atas lagi.


“Ketemu?” Linggar.


“Hem, salah ketik. Harusnya Rp 719.324.980,00 diketik Rp 791.324.980,00” Tia.


“Wow. Fantastic! Selisih tujuh puluh juta lebih." Penekan suara penuh dengan menunjukkan tujuh jarinya ke depan.


Kamu tidak berniat melihat hasil kerja kamu?” Tanyanya dengan tatapan sinis ke arah Rindi.


Entah ini murni kemarahan atau ada unsur balas dendam? Tapi yakinlah raut wajahnya menampakkan jika gunung berapi itu siap meledak kapan saja.


Dengan sangat berat Rindi mulai melangkah ke arah meja Ayu, begitupun dengan Kamil. Tak ingin ketinggalan Linggar juga turut berdiri menghampiri mereka. Melihat kesalahan penulisan yang membuat sang bos harus berhadapan dengan para atasan.


Ke lima orang tersebut menjadikan layar komputer Ayu sebagai titik fokus pandangan mereka. Lalu berpindah ke tumpukan faktur yang berada di hadapan Ayu, mengulang beberapa kali hanya untuk memastikan kebenaran dari ucapan Ayu.


Rindi yang tadinya menyiapkan diri menerima kemarahan kini hanya mampu tertunduk menerima kemarahan sang bos.


“Aku dianggap korupsi sama atasan.” Ucapnya lantang sambil menunjuk dada sendiri dengan kuat.


Rindi semakin tertunduk bahkan hampir meneteskan air mata.


“Tujuh puluh juta masuk domper bisa buat kerupuk berapa banyak?”


Tujuh puluh juta hanya buat beli kerupuk? Apa gak ada barang lain yang bisa disebutkan selain kerupuk? Perhiasan atau pakaian branded mungkin? Tia yang tadinya ingin menyela mengurungkan niatnya melihat wajah atasannya semakin terbakar api emosi.


“Butuh beberapa bulan gaji untuk kamu mengembalikan uang itu?” Masih dengan kemarahan yang menyala.


Rindi yang merupakan staff biasa dan baru dengan gaji tak seberapa, beruntung ia bekerja di salah satu perusahan besar hingga memberikan gaji yang sedikit lebih dari UMP. Tapi untuk membayar kerugian yang ia perbuat sendiri sepertinya harus berpuasa selama beberapa bulan


“Masih bagus kalau jika bos masih berbicara masalah gaji, jika yang lainnya? Pemecatan dengan catatan hitam, SIAP?” Ucapannya tegas or sinis.


Ia ingin marah namun di depan teman-teman yang lainnya mungkin membuat Rindi merasa semakin dipojokkan.

__ADS_1


Memandang Tia dan menggelengkan kepalanya ke arah pintu, membuat Tia memberikan kode kepada teman-teman yang lain untuk meninggalkan ruangan mereka, menyisakan Rindi dan Linggar berdua. Dengan pintu tertutup.


Tapi sungguh, ini bukan termasuk dalam rencana balas dendam yang ia gadang-gadangkan. Nyatanya rencana balas dendam hanya dalam bentuk wacana semata, tak pernah terlealisasi sampai detik ini.


“Apa kamu belum puas menyakiti aku, hingga meminta bantuan dari para atasan untuk menjatuhkanku?” Ucapnya datar terkesan dingin.


“Apa kurang bagimu menghancurkan hidupku hingga berniat menghancurkan karirku juga?”


“Apa aku benar-benar tak berarti di matamu?”


“Sampai kapan kamu terus menyakiti aku?”


Intonasi semakin menurun.


Entah ucapannya ini masih berada dalam lingkungan pekerjaan atau telah keluar menuju ke ranah pribadi. Yang jelas tersirat kemarahan dan kekecewaan diwajahnya saat ini.


Rindi hanya mampu tertunduk.


Tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk menghancurkan karir Linggar. Kesalahannya kali ini adalah murni karena human error, tanpa niat apapun.


Kesalahan pengetikan yang tertukar hanya satu tempat membawa dampak besar, bukan hanya pada Linggar, tapi pada dirinya sendiri yang merupakan tersangka utama dalam kasus ini.


Jikapun harus dipecat mungkin namanya akan masuk dalam catatan hitam, dengan alasan korupsi dan merugikan perusahaan. Apakah akan ada perusahaan yang mau menerimanya bekerja lagi. Dirinya mungkin akan betah tinggal di rumah menunggu jodoh yang datang menghampiri.


Iya jika jodohnya benar-benar datang, jika kandas?


Ingat dirinya adalah seorang janda, janda bolong. Julukan yang selalu membuatnya seolah tak pantas untuk menjemput cinta lain.


Lalu bagaimana dengan Linggar, yang notebenenya seorang lelaki dan calon suami yang memang seharusnya menjadi pencari nafkah untuk keluarganya kelak?


Rindi telah menggoreskan banyak luka pada pria itu, tapi ini bukan disegaja. Sungguh!


Air matanya mulai tergenang disudut pinggir matanya. Merasa selalu saja membawa masalah pada Linggar. Mungkin dirinya memang harus menjauh dari pria itu. Jika tidak ia akan terus menjadi penyebab kesedihan bagi Linggar.


“Apa belum puas kamu menyakiti aku?” Kini suara itu seolah melemah, namun entah mengapa itu justru menjadi pemicu air mata yang kini telah tumpah membasahi pipi.


“Aku......gak.......pernah.......berniat........menyakiti........kakak.” Bahkan kalimatnyapun mulai terbata karena menahan sesak di dalam dada. Linggar benar, dirinya memang selalu membuat pria ini tersakiti.


Rindi sambil mengusap kasar air matanya, membuat Linggar terenyuh.

__ADS_1


__ADS_2