Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Awas Jatuh Cinta!


__ADS_3

“Bener-benernih cowok, aku doain jodohmu janda biar tau rasa!” Mbak Tia.


Tak pernah berpikir sebelumnya jika atasannya itu mampu berkata seperti itu.


Sambutan pertama yang justru membuat harga diri karyawan baru itu seperti melorot.


Hanya karena status, kalimat demi kalimat yang mengandung cabai rawit pedas harus mereka dengar.


Perempuan yang berdiri ditengah-tengah ruangan itu datang ke sini hanya untuk bekerja, bukan untuk di hina.


Apa yang salah dengan statusnya.


Janda atau bukan tak jadi masalah, asalkan pekerjaan lancar jaya.


Dan lagi menjadi janda pasti bukanlah pilihan yang mudah untuk setiap orang. Termasuk wanita yang sedang menunduk dalam hingga hampir menenggelamkan seluruh wajah ke dalam dada.


Pasti malu rasanya berada diposisi itu.


Dasar Linggar tidak tahu diri, sendirinya juga duda malah menghina janda. Ckckck!


“Aamiiin.” Kamil yang seolah tak enak hati melihat Rindi terus mendapat hinaan dari sang bos.


Seolah ingin menangis, Rindi hanya mampu menundukkan wajahnya menatap ke arah lantai. Tidak jangan  menangis, bukan saatnya menangis!


Ia ingin melompat menerkam pria itu. Mencakar wajah, dan merobek mulut bocor itu dan berteriak di hadapannya, “kamu yang merebut kesucianku, dan kamu juga yang membuat aku jadi janda.”


Ya, pria itu adalah Linggar. Mantan suaminya dan juga atasannya sekarang.


Apakah definisi dunia ini sempit kini telah ia dapati. Mengapa harus Linggar yang berdiri di hadapannya.


Hari pertama kerja yang sangat mengesankan. Tak mungkin untuknya melupakan hari bersejarah ini.


Dan apakah Linggar begitu benci kepadanya? Hingga rela menghina dan merendahkan dirinya bahkan saat dihadapan orang lain.


Ia seolah kehilangan sosok Linggar yang dulu sangat mencintainya. Rela melakukan apasaja hanya untuknya.


Yang selalu menyanjung dan memujinya disetiap kesempatan.


“Ya sudah cukup perkenalannya. Selamat datang diperusahaan ini, dan selamat bergabung di divisi keuangan B.


Kita mengerjakan laporan keuangan khususnya pengeluaran. Segala bentuk pengeluaran.”


“Dan selamat bekerja, semoga kamu betah bekerja di sini!” Berbalik memutari mejanya.

__ADS_1


Mengeluarkan dasi melewati kepalanya, hingga lilitan dasi tetap terjaga. Disampirkan di gagang laci meja, siapa tahu ia akan kembali di panggil oleh atasan hingga harus memakai kembali dan berpenampilan rapi.


Linggar bukanlah pria dengan penampilan yang sempurna.


Lilitan dasi dilengkapi dengan jas yang membalut tubuh, bukanlah style-nya. Ia adalah pria santai.


“Baik pak, dan terima kasih.”


Terima kasih juga sudah menghina saya, dan hemmm tunggu pemalasan saya.


Kamu yang memulai semua ini.


Apakah sebentar lagi perang dingin akan berlangsung?


Perang dingin antara mantan istri dan mantan suami.


Atau perang atasan antara bawahan?


Lalu siapa pemenangnya nanti?


“Itu meja kerja kamu dan silahkan minta bantuan Mbak Tia jika ada sesuatu yang belum kamu mengerti. Dia adalah senior diatas senior di ruangan ini.” Sambil menunjukkan meja kerja pada Rindi, lalu pandangan mengarah ke wanita yang disebut namanya. Tersenyum meskipun senyumannya justru dibalas dengan cibiran sang wanita.


Mbak Tia yang masih kesal dengan Linggar tadi. Kesalnya semakin bertambah, saat Linggar justru abai setelah menghina seseorang. Bahkan kata maafpun tak ada.


Semua kembali ke meja kerja masing-masing, termasuk Rindi yang telah mendapatkan rincian pekerjaannya dari Mbak Tia.


Bukan tak pernah ia mendapakan promosi jabatan, namun ia menolak. Kesibukan dengan urusan rumah tangga membuatnya tak memiliki ambisi dalam dunia kerja. Mendapat ijin kerja dari sang suami itu sudah cukup baginya.


Hanya sekedar membantu keuangan keluarga, untuk melangkah lebih jauh ke atas ia tak berminat.


Sebab bertambahnya tanggung jawab sama dengan bertambahnya pekerjaan sama dengan bertambahnya jam kerja dan berkurangnya waktu bersama keluarga.


Sejenak Linggar memperhatikan karyawan barunya yang juga adalah mantan istrinya. Wanita ini yang pernah menorehkan luka dalam hatinya. Menghianati cintanya yang tulus, dan  menginjak-injak hargadirinya.


Bahkan hanya untuk melanjutkan hidupnyapun seolah enggan. Beruntung ada bunda yang selalu menghiburnya dan memberikan semangat baru pada dirinya.


Jangan lupakan peran Arman yang selalu saja mendrobrak semangat hidupnya dengan berbagai macam cara. Hanya agar ia bisa melupakan kesedihan dan melanjutkan hidup.


Dan mengapa cinta bodoh itu seolah masih betah bersarang di hatinya?


Tak apakan jika ia memberikan sedikit perhitungan pada wanita itu?


Ia akan memiliki waktu lebih untuk melihat wanita itu bertekuk lutut di hadapan, jika perlu wanita itu harus memohon padanya.

__ADS_1


Itu bahkan tak sebanding dengan apa yang pernah wanita itu lakukan padanya.


Dengan kedudukan mereka saat ini, Linggar yang sebagai atasan dan Rindi sebagai bawahan ada banyak waktu dan cara untuk membalas semua sakit hatinya.


Dia bisa memberikan pekerjaan yang banyak pada Rindi. Bisa melimpahkan pekerjaan yang lain pada Rindi dengan berbagai macam cara dan strategi.


Atau menyuruh Rindi mengantar dokumen ke mana saja. Naik lalu turun ke lantai yang berbeda.


Biar saja lututnya pegal-pegal, atau betisnya bisa jadi sebesar dan kuat seperti pohon pisang yang siap di panen.


Atau menyuruh Rindi lembur seorang diri sampai mahluk berbaju putih bolong punggung datang menemaninya.


Hahahaha.... membayangkannya saja mampu membuat tawanya pecah seketika.


Pembalasan dendamnya siap menanti.


Rindi akan bertekuk lutut di depannya memohon maaf.


Atau menggoda, merayu Rindi hingga jatuh ke pelukannya, dan kembali jatuh cinta padanya.


Sementara dirinya tak boleh bermain hati.


Hemmm, itu ide yang paling bagus diantara yang lainnya.


Memberikan perhatian super pada Rindi. Hingga membuat wanita itu ketergantungan dengan keberadaan dan segala bentuk bantuannya.


Awas jatuh cinta!


Ya, jangan sampai dia yang jatuh cinta. Harus tetap menjaga hati agar ia tak lagi terjerumus ke dalam cinta semu Rindi.


Lets play, baby!


Sementara yang ditatap bukan tak tahu dirinya sedang diamati, bahkan sangat tahu diri hingga membuatnya terlihat salah tingkah.


“Tia, tolong bawa laporan ini pada pak Wira!”


“Baik pak, tapi tunggu ini dulu yah!” Tia seolah enggan meninggalkan pekerjaannya yang masih berada di pertengahan.


“Sekarang emak!” Perintah tak boleh di tangguhkan.


“Kamil sama Ayu ke personalia minta catatan karyawan baru sama data pengangkatan karyawan!”


“Rindi tolong buatkan aku teh, yang manis!” Pembagian tugas dari sang atasan.

__ADS_1


“Baik pak!” Ucap Ayu, Kamil dan Rindi hampir bersamaan. Sementara Mbak Tia hanya mampu menunjukkan bibirnya yang sedikit maju. Tanggung rasanya meninggalkan tempatnya saat pekerjaan masih berada di tengah-tengah.


“Pak Linggar suka teh hangat yang manis,” Ucap Ayu memberi tahu Rindi yang ditugaskan untuk membuat teh untuk sang bos.


__ADS_2