Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Ingin Berbaikan


__ADS_3

“Rin, kamu di mana?”


“Udah di kantin kak, kenapa?”


“Tolong pesanin makan siang yah, dua! Bentar lagi aku turun sama Mirza, ini juga udah beres-beres sedikit.” Menjadi tangan kiri atasan membuat harinya sedikit terasa lebih sempit.


Selalu berburu dengan waktu.


Hanya mampu mencuri-curi waktu untuk bertemu dengan pujaan hati.


“Iya,” Satu kata untuk penjelasan panjang lebar yang Linggar perdengarkan sebelum telpon terputus tanpa  pamitpun.


“Siapa Rin?” Mbak Tia.


“Kak Linggar.” Menaruh ponsel di meja.


“Cieee-cieeee yang panggil kakak, panggilan kesayangan tuh?” Kamil dengan lirikan mata menggoda.


“Puffft,” dan beranjak dari duduk menampilkan wajah memberenggut hanya untuk menutupi perasaan malu.


Beberapa saat setelahnya Rindi kembali datang dengan dua nampan di masing-masing tangannya, “Ughhhh.” Ternyata lumayan pegal menahan beban menu makan siang.


“Kenapa gak bilang kamu mau ambil dua? Kan bisa kubantu bawa.” Kamil menghentikan suapannya ketika suara sambaran nampan yang sedekit keras karena tak kuat ditahan lama.


“Gak pa-pa kok, masih bisa. Kak Linggar belum datang?” Masih belum kembali duduk demi mengatur napas. Hah


sepertinya dia kurang olahraga, atau ia yang terlalu jago membawa nampan langsung dua.


“Belum,” Kamil dan Tia yang hampir bersamaan.


Kamil mengatur nampan di bangku yang tak berpenghuni, barulah kembali duduk.


Menahan speed kuyahannya dengan mata yang berkeliling seluruh penjuru kantin. Linggar pasti menahannya meskipun ia telah menghabiskan makannya.


“Rin, kok manggil Pak Linggar kakak, bukan mas, abang atau sayang gitu? Waktu masih nikah juga panggil kayak


gitu?” Kamil yang kembali menguyah setelah membantu menata letak nampan meskipun hanya menggeser sedikit saja.


Rindi hanya terkekeh pelah seraya menunduk. Jika boleh jujur tak ingin terlalu bercerita tentang masa-masa pernikahannya bersama Linggar dulu.


Biar bagaimanapun banyak luka di sana.


“Sory lama. Pak bos balik manggil lagi.” Akhirnya yang ditunggu telah tiba. Langsung duduk tepat di samping Rindi


dan Mirza di hadapannya.


“Silahkan duduk bapak-bapak.” Kamil dengan suapan terakhir di depan mulut.


“Thank’s ya,” Ucap Mirza mulai menyuap makanan.


“Thank’s,” Linggar mengikuti disertai lirikan mata. Semakin lengkap dengan senyuman yang menggugah selera.


Makan dengan tangan kanan, dan menggenggam tangan Rindi di bawah meja dengan tangan kiri.


Ini adalah makan siang yang ke sekian kalinya setelah insiden itu.


Mengabaikan setiap tatapan mata dan segala bisik-bisik yang lambat laun mulai meredup termakan waktu.

__ADS_1


Yang lain tinggal menunggu mereka menghabiskan makan siang dengan lahap dan terkesan cepat. Mungkin efek lapar atau memang sudah dari sononya.


Tak butuh waktu lama kedua pria itu menyusul yang lainnya menghabiskan makanan. Masih duduk di sana sambil


merapikan sisa-sisa makan siang. Mungkin hanya ini cara mereka menghabiskan waktu istrirahan.


“Kak, aku mau shalat dulu,” Karena Linggar belum ada tanda-tanda untuk beranjak, sementara waktu istirahat semakin menipis.


“Ya udah ayo.” Menatap Mirza yang ikut mengangguk menyetujui.


Yang lain telah berdiri dahulu membiarkan Linggar dan Rindi mengambil jajaran terbelakang. Tak ingin memandang


yang aneh-aneh.


“Rin, pulang bareng yuk!”


Hells membantu Rindi sedikit lebih tinggi. Setinggi bahu Linggar sudahlah lumayan untuk tak membuat pria itu


terlalu menunduk menatapnya.


“Aku bawa motor kak.” Senyum disumbangkan seiring penolakannya.


“Kan bisa ditinggal dulu kayak dulu! Di sini aman kok.” Sudah lama mereka tak berada dalam satu ruang atau


mobil dalam jangka sedikit lebih lama, hanya sekedar makan siang bersama, itupun bukan berdua.


“Yah-yah! Udah lama gak pulang bareng.”


“Lain kali aja deh!” Rindi mencebikkan bibir, sedikit cemberut berharap Linggar tak lagi membahas ini.


Kedua pasang mata bersua, salin menyumbangkan senyuman manis. Merasa sama-sama menang.


Baru kali ini rasanya Linggar mengalah pada Rindi.


Masuk ke dalam lift yang langsung penuh dengan rombongan mereka.


Hingga pintu terbuka di lantai 9, tempat para tukang hitung itu bersarang. Hampir serempak melangkahkan kaki


keluar dari lift, kecuali Rindi yang tangannya kembali di cekal oleh Linggar.


“Pc, apalagi kak?” Ucap kesal pada Linggar yang hanya tersenyum melirik.


“Kamu antar aku dulu, baru turun lagi.”


“Kan ada Pak Mirza gak bakalan ada setan kok.” Ucapnya pelan dirasanya apa yang basru saja diucapkananya


sedikit tak masuk akal.


“Eh iya, aku takut nanti ada setan.” Linggar semakin menghimpit tubuh Rindi di sudut, berikut menampilkan


acting takutnya.


Rindi hanya mampu mengikuti akting Linggar, bola mata menatap ke langit-langit seiring dengan hembusan


napas kesalnya, terjepit. Padahal hanya tinggal satu tingkat lagi. Dasar pria itu.


“Hati-hati di jalan.” Sambil melambaikan tangan dari luar lift.

__ADS_1


Rindi hanya mencibir membiarkan Linggar dengan segala tingkahnya, “Basi.” sebelum pintu tertutup.


Tinggallah Rindi sendiri di dalam lift yang membawanya kembali turun ke lantai 9. Kedua tangan saling


menggenggam, senyumpun turut mengembang.


Pintu lift terbuka, tapi Rindi belum beranjak dan justru diam berdiri. Di sebelah sana, Citra baru saja keluar


dari lift lain.


Untung saja tadi mereka tak bertemu saat Linggar masih bersamanya. Rindi belum siap bertemu dengan Citra


dan Linggar sekaligus.


Antara ingin melangkah dan menghampiri, namun rasanya terlalu berat. Tapi tak ingin keadaan ini terlalu


lama berlarut. Mungkin saja nanti Citra memilih melupakan dirinya dan menjadikannya sebagai musuh kekal abadi.


“Citra!” Panggilnya. Sungguh ia telah membuang jauh-jauh rasa malu yang masih bersarang di hatinya.


Meyakinkan diri jika yang berada di hadapannya ini adalah teman dan akan tetap jadi temannya.


Tapi jika diperbolehkan ia tak ingin membahas Linggar kali ini.


Beberapa kali sering bersama ia merasa jika hanya Linggar, pria yang mengerti dirinya. Mengetahui hampir semua


keinginan Rindi tanpa harus berkata. Ia tak bisa lagi mengatakan akan mengikhlaskan Linggar untuk Citra.


Melangkah keluar sebelum pintu kembali tertutup dan Citra semakin jauh.


Teman-teman Citra yang lain memilih meninggalkan mereka, tahu jika yang dibahas sedikit menyinggung perasaan.


“Cit, maaf!” Ucapnya memaksa bibir berkata.


“Hehehehe,” Citra yang terkekeh meskipun terlalu jelas jika sedang memaksakan diri. Biar bagaimanapun ialah


yang menjadi korban di sini.


Jika Rindi dan Linggar hanya menanggung malu saja, lalu bagaimana dengan dirinya yang juga menanggung malu


dan sakit hati secara bersamaan.


“Gak pa-pa kok.” Kemudian berlalu. Berada di hadapan Rindi kembali membuat lukanya tergores.


“Kita temenan kan?” Rindi yang masih mencoba mengajak Citra berbicara dari hati ke hati. Namun realita tak


demikian.


Hah, gampang sekali mengatakan itu setelah semua penghianatan yang ia lakukan. Lalu bagaimana jika Citra meminta Linggar? Apakah Rindi akan melepaskan Linggar untuknya.


Sekalipun dilepas Linggar tak mungkin mendatangi dirinya. Siapalah dia?


Citra tak menjawab lebih memilih cepat berlalu.


Hah, hanya akan kembali di hadapakan dengan kekalahan.


“Cit,” Teriakan Rindi tertahan, memandang teman yang semakin menjauh tanpa mau menatapnya. Pc.

__ADS_1


__ADS_2