Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Resiko Numpang Hidup 2


__ADS_3

"Jangan marah gitu!" Linggar terkekeh  sambil memeluk Rindi dari belakang.


Sementara wajah istrinya itu telah merah merona karena malu plu kesal dengan kelakuan Linggar. Bibir di majukan agar kesan merajuknya semakin terlihat nyata.


Sudah beberapa kali diingatkan, "Jangan di Sini!" Tapi Linggar tetap ngeyel, tetap menjalankan aksinya menjalankan hak sebagai suami untuk memberikan nafkah batin pada sang istri meski tertunda.


"Sana mandi! Gak gerah apa?" Tepisan ringan Rindi pada tangan sang suami.


"Iya, tapi kamu senyum dulu!" Linggar masih memeluk erat tubuh Rindi, menahan segala pergerakan yang mencoba membuka kuncian itu.


"Hehehe," Rindi membuka lebar bibirnya, menampakkan senyum terpaksa yang membuat Linggar turut tersenyum.


"Ngambeknya udahan!" Lembut tangannya mengacak rambut sang kekasih halal sebelum melangkah masuk ke kamar mandi.


"AKu ingin kita punya rumah sendiri. Ya, minimal apartemenlah."


Rindi memicingkan mata dalam cahaya redup kamar, memandang aneh pada pria yang baru saja mengajaknya mengeruk indahnya pernikahan.


"Apartemen? Emang kakak punya duit?"


"Ya belum lah, kan udah dipakai buat nikahan." Linggar.


"Aku pengen menikmati gituan di berbagai tempat." Sambil tersenyum nakal, Linggar semakin mengeratkan pelukan pada tubuh yang masih sama-sama polos itu. Geli sendiri saat membayangkan perkataannya.


Gituan di berbagai tempat pasti lebih seru pikirnya.


"Apa kata bunda, kalau kita beli apartemen?" Rindi.


"Makanya jangan bilang-bilang sama bunda!"


Linggar kembali mengguncang pelan pundak Rindi.


"Sayang, kalau masih sakit istirahat aja dulu. atau mau resign? Aku bantu Buatkan surat pengunduran diri."


Sedari tadi ia mencoba membangunkan Rindi yang kembali tidur usia salat subuh.


Sesaat kemudian, Rindi membuka mata lebar-lebar. Memaksa diri untuk terjaga meski untuk masih sangat menyerang setelah mendengar kalimat terakhir suaminya.


Resign?


Apa yang harus ia lakukan jika berada dalam rumah seharian penuh. Terlebih itu bersama ibu mertuanya, mereka belum terlalu akrab meskipun katanya telah berbaikan.


Pasti masih canggung saat harus bersama dan hanya berdua.


Ah mungkin ia akan memutar otak hanya untuk mencari bahan pembicaraan nantinya.


Membayangkannya saja rasanya Rindi belum Sanggup.

__ADS_1


"Hoaaammm.... aku sudah bangun!" Ucapnya dengan masih memaksakan diri untuk bangkit dari peraduannya.


ia belum siap untuk Berhenti bekerja saat ini.


Kehamilan bukan alasan baginya untuk tinggal di rumah.


\==========


Masih dengan menggunakan bathroobnya, Rindi berdiri di depan lemari milik Linggar.


Membantu menyiapkan baju seragam pernikahan Lilis dan Arman yang entah kapan mereka dekat hingga memutuskan untuk menikah.


Namun matanya menangkap sesuatu yang aneh dari sana. Baju berwarna hijau dengan motif batik.


Kembali pikirannya menerawang, menciba mengingat sesuatu, di mana ya pernah melihat baju seperti ini?


Dan ingatannya meskipun sedikit kabur, tertuju pada sosok perempuan yang hadir di pernikahan mereka dengan wajah yang sembab.


Bahkan mata yang tergenang saat telah sampai tepat di hadapan mereka yang kala itu menjadi sepasang pengantin.


Wanita yang pernah ia lihat di cafe sedang duduk berdua dengan Linggar.


Wanita itu, pernah singgah di kehidupan suaminya.


Dan memiliki barang couple-an seperti ini, bisa dipastikan hubungan antara Linggar dan wanita itu bukan hanya sekedar pertemanan biasa.


Apa benar Linggar sempat menjalin hubungan dengan wanita lain selain dirinya pada saat itu?


Dikibuli. Hatinya kini Condong pada rasa cemburu, curiga dan amarah.


Entah ini pengaruh hormon kehamilan atau apa?


Yang jelas, Linggar ternyata pernah menghianatinya.


Dengan amarah yang sepenuhnya menguasai hati, seperti itu pula tenaga yang ia pakai hanya untuk membanting sepotong pakaian itu dari tangannya.


Linggar keluar dari kamar mandi, mendapati istrinya duduk di tepi ranjang dengan wajah ditekuk.


Heh, biasalah kalau wanita hendak ke pesta, akan banyak sekali drama yang tercipta.


Gaun yang tidak sesuai lah?


Make up yang kurang. Sepatu yang kurang matching. Dan banyak sekali masalahnya.


Memilih mengabaikan raut wajah yang terlihat sedikit memerah itu.


" Rin bajuku mana?" Tanyanya pada sang istri ketika melihat Sisi di samping Rindi kosong tanpa ada bajunya yang tersedia untuknya.

__ADS_1


"Baju kamu?"Rindi dengan liriknya. " Baju apa?"


"Ya pakaian buat ke pestalah!" Ucap Linggar biasa saja, tanpa tahu jika sang istri kini telah di serang virus cemburu.


"Kamu gak lupa kan hari ini hari apa?" Lanjutnya.


"Tau."


Dan melalui jawaban judes dari Rindi, Linggar tahu jika sesuatu telah terjadi, entah itu apa.


"Kamu kenapa?" Linggar yang memilih duduk di sisi sang istri.


Rindi menoleh ke arah Linggar, dengan menyuguhkan tatapan tajam yang mampu menembus jantung.


"Mau baju kamu?" Tanyanya, masih dengan amarah yang terpendam. Dan Linggar mengangguk, pun dengan raut yang bingung terkesan oon.


"Itu!" Dengan matanya, RIndi menunjuk pada sepotong baju batik yang tergeletak di sana.


Entah apa yang harus Linggar katakan saat ini. Ia bahkan lupa jika masih menyimpan couple-an itu.


Ck, ini salahnya, teledor.


" Sejauh mana hubungan kalian?" Rindi, masih dengan tatapan tajamnya.


"Apa sudah pernah ke hotel sama-sama?" Lanjutnya.


Menurut pada pengalamannya sendiri, Linggar membawanya ke hotel saat dulu. Dan tak menutup kemungkinan Linggar akan membawa wanita itu ke hotel juga. Siapa yang tahu kan?


" Kamu ini ngomong apa sih?" Linggar turut memicingkan mata.


" Apa aku sehina itu di matamu?" Tak percaya jika Rindi menganggapnya seperti itu.


"Bisa saja kan?" Rindu tak mau kalah, berbicara dengan nada yang keras. " Kakak juga pernah nipu aku sampai bawa aku ke hotel." Air mata telah tergenang, jangan sampai yang ada di pikirannya benar terjadi.


" Asal kamu tahu, dari 138 juta pria di Indonesia, aku masuk 5 besar pria yang paling setia."


"Nggak mungkin segampang itu aku tidur sama wanita lain." Linggar yang telah berdiri tepat di hadapan RIndi, pun tak bisa mengontrol emosi hingga membuatnya berbicara sangat keras.


Dengan napas yang memburu dan dada yang naik turun, seolah ada yang hendak meledak dalam dadanya. Tak terima dengan semua tuduhan yang Rindi layangkan padanya.


" Dan satu lagi yang harus kamu tahu, kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cium, aku peluk, Bahkan aku tidurin."


"Nggak ada yang lain selain kamu."


Cara bicaranya begitu lancar dan menggebu.


"Bohong!" Rindi turut berdiri, pun dengan suara yang tak kalah kerasnya.

__ADS_1


"Kakak pasti punya pacar lain selain aku." Dari mana Linggar mendapatkan keberanian nya dulu saat membawa Rindi ke hotel kalau bukan berdasarkan dari pengalaman.


" Ada, memang ada. waktu SMA, tapi cuma pacaran monyet. Cuma pegangan tangan, nggak lebih, dan itu Kartika." Jawabnya jujur. berharap rindi bisa memaklumi masa lalunya.


__ADS_2