Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Sedikit Jual Mahal


__ADS_3

“Kok tiga?”


“Lapar Rin, gak ada makanan gratis lagi. Yang satunya kita bagi dua. Kamu juga pasti lapar kan?”


“Ooh, jadi tungguin jatah makan gratis?” Lirikan mata yang mengarah ke arah Linggar.


“Hahahaha, gak juga sih. Udah jangan bicarain yang itu-itu. Nanti tambah panas, di sini gak ada ac.” Melihat raut wajah Rindi, sepertinya wanita itu sedang menunjukkan rasa cemburunya.


Linggar mencubit hidung Rindi yang tampak menggemaskan di matanya. Ia suka jika Rindi cemburu.


“Kamu tunggu sini yah, aku mau jalan ke sana bentar. Pesan martabak dulu.” Sambil menunjuk ke arah gerobak yang terlihat sangat terang benderang. “ Kamu mau rasa apa?”


“Coklat keju, sama martabak asin jumbo spesial jamur.” Menengadah wajah memandang Linggar yang kini telah berdiri di sampingnya.


“Ckckck, nyesel tanya kamu. Orderannya banyak!” Keluhan yang ia ucapkan memang tak sebanding dengan kebahagiaanya saat ini.


Kini hatinya mulai bimbang, antara tetap melanjutkan misi balas dendamnya atau kembali melangkah bersama Rindi.


Untuk sementara, hanya ingin menikmati rasa bahagia yang selalu hadir setiap saat bersama Rindi.


“Ya udah. Tunggu yah!” Mulai berjalan menjauhi Rindi. Berbalik kembali, “Awas jangan makan dulu.” Dengan telunjuk yang digoyang-goyangkan di depan wajahnya.


Selang beberapa lama, Linggar kembali dengan memberikan senyumannya pada Rindi. Melihat pria itu entah mengapa membuat hatinya kembali meleleh.


Kemeja yang sudah tak serapi pagi tadi, dengan lengan yang digulung hingga siku. Tampan memang, mengapa mereka dulu sampai berpisah? Dan sekarang hubungan apa yang mereka jalin ini.


Tak ada kata penguat atau peresmi. Sama seperti dulu, saat pertama mereka menjalin hubungan. Linggar hanya mengatakan sayang padanya, itupun saat ia sedang menutup mata dan dianggap tidur oleh Linggar.


Apakah hubungan inipun sama seperti dulu? Lalu di mana akhir dari hubungan ini. apakah kembali ke pelaminan, ataukah Linggar hanya ingin memberinya harapan palsu.


Lalu meninggalkan dirinya di saat rasa sayang dan ketergatungan pada pria ini sedang berada di puncak tertinggi.


Rindi tak berani mengambil satu dari sekian banyak alasan yang ada di otaknya.


Yang jelas Linggar kembali membawanya masuk ke dalam lingkaran rasa nyaman saat


bersama.


Apakah salah jika ia mulai menggantungkan harapan dan rasa cinta kembali ada Linggar. Ia bahkan takut walau hanya untuk memikirkannya saja.


“Weits, beneran ditungguin.” Kembali duduk ke dekat Rindi, menatap menu yang sudah tersaji di meja.


Membangunkan Rindi dari lamunan panjangnya.


“Kok cepat?” Ucapnya sambil memandang Linggar yang mulai memerah jeruk nipis di atas bumbu kacang, lalu menambah sambal tumis.

__ADS_1


“Kan cuma pesan, baru di buat juga bentar kita ambil.” Sambil sesekali menatap Rindi kemudian kembali menatap menu di hadapannya.


Sudah lewat jam makan malam, bahkan terlalu jauh lewatnya. Membuat Linggar tak mampu lagi menyadari jika Rindi sedang menatapnya. Memperhatikan setiap gerak-geriknya secara dalam.


Hingga beberapa suapan telah masuk ke dalam  mulutnya, Rindi masih menatapnya dengan senyuman.


“Aaa,” Linggar sambil mengarahkan sesendok ke arah Rindi.


Rindipun menyambutnya diiringi dengan senyuman.


Hemmm, dia ingin disuapi ternyata, pikir Linggar.


Dengan senang hati Linggar masih terus setia menyuapi Rindi lalu kembali menyuapi dirinya dari piring yang sama.


“Habis Rin,” Ucapnya sambil mengambil porsi yang satu lagi di tuang ke piringnya.


Mungkin disitulah Rindi mulai tersadar jika mereka sedang makan dengan suap-suapan.


“Kenapa?” Karena Rindi tak lagi mau disuapi oleh Linggar.


“Gak cuma capek.” Elaknya.


Kembali memasang bibir mengerucut ala cemberut. Malu sih.


“Gak usah, aku sendiri aja.”


“Semangat yah, auditnya tinggal besok.” Memasukkan makanan itu kedalam mulut sendiri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Menghampiri motor, mereka kembali siap membelah jalan.


“Rin giliran kamu yang ke sana. Ambil pesanan martabaknya!” Linggar sambil menunjuk ke arah gerobak martabak.


“Kok aku?” Kembali mengerucutkan bibirnya.


“Biar kamu melek dikit. Kita masih harus melanjutkan perjalanan.”


“Pc,” Meskipun dengan hentakan kaki tapi Rindi masih tetap berjalan ke arah yang ditunjuk Linggar.


Sementara Linggar hanya menggelengkan


kepala sambil tersenyum memandang Rindi.


“Nih,” Menyerahkan dua bungkusan yang terdiri dari dua kotak masing-masing.

__ADS_1


“Ayo!”


“Ngantuk.” Alasan paling masuk akal yang terselip di otaknya untuk menyandarkan diri ke pundak Linggar.


Ingin rasanya menguatkan lilitan tangan yang bersarang di perut Linggar. Jika boleh sampai Linggar terasa sesak karena pelukannya.


Tapi ragu, ia tak punya alasan masuk akal lagi untuk itu. Ingat dia masih dalam mode merajuk.


“Sandaran aja Rin, tapi jangan tidur beneran yah! Motornya oleng nanti.” Ucapnya masih dengan nada yang sedikit lebih keras.


Rindi menahan diri untuk tidak tersenyum. Kenapa mesti di tahan? Kan Linggar tidak akan melihat wajahnya saat ini.


Jika boleh jujur ia memang sejak lama ingin memeluk Linggar kembali. Tak bisa dipungkiri jika rindupun telah hadir dalam dirinya.


Namun sebagai wanita, yah harus pandai-pandai menutupi perasaan. Sedikit jual mahal, tak apalah.


Dan sekarang ia dipaksa untuk memeluk orang yang ia dirindukan, dengan senang hati.


Tapi jangan terlalu kentara juga jika ia begitu mendalami perannya sekarang. Dan lama-lama semakin ingin memeluk Linggar dengan erat.


Iiiihhhhh...., gemes!


Pelukannya menguat meskipun hanya dalam beberapa detik.


Merasakan pelukan di perutnya membuat Linggar tersenyum, sambil mengelus pelan tangan yang tengah melingkari tubuhnya. Sedikit gengaman memberi tanda agar Rindi tetap dengan posisi itu. Ia suka.


“Besok aku jemput.” Linggar sambil menyerahkan satu bungkusan martabak ke arah Rindi, saat mereka telah sampai di depan rumah Rindi.


“Loh, motorku?”


“Aku yang bawa."


“Gak akan ku bawa lari. Kalau kubawa lari kamu bisa cari aku langsung. Kamu tahu rumahku, kamu tau kantorku, kamu juga pernah liat tubuhkukan?”


Membuat Rindi mencibir, menunduk


menyembunyikan wajahnya. Memang semua itu benar, tapi kan tak harus di ucapkan juga. Apalagi saat keadaan mereka seperti ini.


“Besok aku jemput!” Ucapnya saat Rindi telah memulai langkah untuk masuk ke dalam rumah.


“Bandel!” Ucapnya lagi. Meskipun nadanya sedikit ketus namun bibirnya tersenyum.


“ Awas jangan sampai pakai mobil,


motormu kusita." Sedikit teriak.

__ADS_1


__ADS_2