Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Aku Korban Ketampananmu


__ADS_3

"Gar gimana?"


Pria yang baru saja masuk ruangan itu pun menoleh ke arah suara.


Menatap Tia yang dari tadi menatapnya sejak pintu terbuka.


Linggar hanya tersenyum, tetap melangkahkan kaki ke arah yang dituju, meja kerja Rindi.


"Linggar,...."Tia yang mulai kesal merasa diacuhkan.


"Kenapa mak?" Saat bokongnya telah bersandar di meja kerja Rindi menghadap pada sang pemilik meja.


"Yang kemarinnnnn?" Pembicaraan tertuju saat dimana Tia mendatangi langsung Linggar di meja kerjanya yang berada tepat di depan ruangan Direktur Utama.


Sedikit memohon agar Linggar mau membantunya untuk tetap berada di posisi sebagai staff biasa.


Tak ingin menduduki jabatan apapun karena hanya akan memberikan beban dan tanggung jawab yang seolah akan memberatkan pundaknya.


Tak bisa ia emban, karena posisi sebagai ibu rumah tanggapun pasti akan berpengaruh.


Dirinya yang saat ini ditunjuk sebagai pejabat sementara menggantikan Linggar pun Kun terasa berat baginya.


"Iya, nanti mak. Belum dapat yang cocok."


"Kelamaan gaaaar." Menunjukkan wajah kesal dan sedikit memohon. 2 minggu sudah lumayan lama membuatnya terseok-seok.


Waktu telah menunjukkan puluk 12 siang. Waktunya rehat sejenak demi mengisi kampung tengah.


"Makan, makaaaaan." Sorak Kamil yang bermaksud mengingatkan seluruh rekan kerjanya.


Semua mulai bergerak membereskan meja seadanya, kemudian bangkit dari duduk.


Terkecuali Linggar yang masih berdiam diri bersandar di meja kerja Rindi.


"Eh, mau ke mana?" Tangannya bergerak saat Rindi hendak melangkahkan kaki dari sana.


"Ya makan lah." Tak ingin kehilangan teman terlalu lama. Memilih selalu ikut makan siang bersama.


Sementara semuanya terdiam menunggu keputusan Rindi yang akan ikut dengan barisan atau memilih tetap bersama Linggar.


Linggar membalikkan badan pada yang lain. Hanya dengan menggerlingkan mata semua telah mengerti maksud dari pria itu.


"Dasar." Ketus Tia yang hanya ditanggapi oleh tawa Linggar.


" Kak jangan seperti ini!" Linggar masih menggengam pergelangan tangan Rindi menahan langkahnya.


Menyaksikan teman-teman mereka berlalu dengan raut yang berbeda.


Sedikit senyuman ditampilkan oleh Linggar, sementara Rindi menatap dengan nanar hingga pintu tertutup setelah Kamil mempersembahkan senyum terpaksa pada keduanya.


"Seperti ini bagaimana?"Linggar.


"Aku nggak enak dengan Citra. Dulu aku yang jadi penghubung kalian."


"Yang suruh jadi penghubung siapa? jadi gondok sendiri kan?"Mencolek pelan pucuk hidung sang mantan.


Sementara Tangan yang satu itu belum terlepas dari pergelangan tangan Rindi.


Pc, kesal rasanya Rindi, Linggar tak mau mengerti dengan keadaan.


Inginnya Rindi, Linggar mau meluangkan waktu sedikit saja pada Citra hanya untuk sekedar minta maaf.

__ADS_1


Perlahan wanita itu mulai mendekat dan berdiri tepat di hadapan Linggar yang masih setengah duduk di meja kerja Rindi.


Masuk kedalam Sela kaki Linggar, kedua tangan Rindi telah berada di samping tumbuh Linggar.


"Kamu terlalu tampan." Menjatuhkan kepala bersandar di bahu Linggar.


Linggar tak menepis, pun tak bergerak untuk merengkuh tubuh itu. Membiarkan tindakan Rindi, toh gadis itu tak menjauh darinya.


Ingin mengetahui sejauh mana Rindi menyentuhnya.


Kalau ia mau, cukup sekali gerakan kepala menoleh ke kiri, maka bibirnya akan mendarat mulus tepat di pipi Rindi tanpa ada halangan dan rintangan.


Dalam hati,,, bersorak sekencang-kencangnya.


Fixed, Rindi masih cinta.


"Baru tahu ya Aku tampan?"


Rindi menggeleng-gelengkan kepalanya pelan,masih dalam keadaan tertunduk di bahu Linggar.


"Dan aku yang selalu menjadi korban karena ketampananmu." Dan Tak habis pikir dengan tindakan sebagian wanita yang menurutnya sedikit berani.


Berani menunjukkan cinta, berani berucap cinta, dan berani menyakiti orang lain demi menggapai cinta.


Sehebat itukah yang namanya cinta?


Ia sendiri Bahkan tak mampu menatap orang yang ia cintai terlalu lama.


Linggar memilih memainkan rambut Rindi yang terikat rapi.


"Rin, kamu gak kutuan kan?"


"Apaan sih?" Padahal tadi sudah setengah romantis namun pria itu mengacaukaannya.


Namun langkah terhenti karena Linggar kembali menggenggam satu tangannya dan menarik kembali mendekat berdiri tepat di hadapan sambil terkekeh pelan.


"Aku kan cuma nanya Rin." Senyum semakin terkembang di bibirnya saat melihat Rindi mengerucutkan bibir maju ke depan.


"Kamu tau gak kalo bunda ketemu sama mbak Lirna itu bahasannya cuma sekitaran kecantikan."


"Sampai cari kutu bareng, hahahahaha." Tertawa tapi masih mengenggam tangan Rindi.


Dan tawa itupun menular pada Rindi meskipun hanya senyuman.


"Apalagi kalau ada Chaca, dikerubunin tuh kepala bocah."


Pc.


Wanita itu hanya mampu berdecak kesal.


Namun mendengar cerita Linggar, memaksa otak untuk kembali mengingat kebersamaan mereka dulu.


Bunda, Kak Lirna dan Chaca.


Mereka pernah dekat dan menjadi anggota keluarga.


"Rin, Ke rumah yuk!"


Ajakan Linggar membuatnya terdiam sebentar sambil berpikir.


apa kabar bunda?

__ADS_1


Apakah Bunda masih selembut dulu? Apakah Bunda masih menerima mau kehadirannya?


Ketukan pintu menjadi penyelamatnya, setidaknya untuk kali ini ia selamat dari ajakan ataupun bahasan Linggar tentang keluarga mantan suaminya itu.


Ternyata Linggar telah meminta bantuan pada seorang OB untuk membelikan mereka makan siang.


"Makasih banyak bang. Moga sukses." Senyum merekah di wajahnya saat menerima lembaran lebih sebagai tip disertai kerlingan mata.


"Sini Rin!" memilih mantan meja kerjanya dan mendaratkan kotak nasi di sana.


Meja sedikit lebih lapang, hanya bersihkan 1 unit komputer tanpa ada tumpukan berkas di atasnya.


Ditambah lagi 2 buah kursi yang terletak saling berhadapan, membuat posisi di sana memang pas untuk mereka berdua untuk makan siang.


" Kamu mau apa?" sambil menyiapkan kotak nasi yang isinya hampir sama. Kenapa mesti bertanya?


" Memang apa bedanya?" Rindi yang mengikuti langkah Linggar dan ikut duduk tepat di hadapan pria itu.


"Satu ayam satunya bebek." tangan terdiam di meja menunggu keputusan Rindi.


"Emmm, yang paling enak apa?" Kedua tangan masih terlipat di atas meja, belum menentukan pilihan.


" Hampir sama sih sebenarnya. Tapiiiiiii,...." sambil berpikir Apa perbedaan bebek dan ayam.


"Emmm, daging bebek lebih gurih. Terus apa lagi ya?"


"Eh tapi kadang-kadang dapat daging bebek yang sedikit alot. susah kunyahnya."


" tapi ada daging bebek yang paling enak."


" apa?" kedua tangan masih terlipat di atas meja mata memandang kedua bola mata Linggar. Menanti Jawaban dari pertanyaan bebek yang paling enak.


"Bebek bakar di resepsi pernikahan kita."


"Emmm, bebek, deh." Akhirnya pilihan telah ditentukan.


Cie....cie.... yang lagi membayangkan makan bebek bakar di pesta pernikahan." Ucap Linggar dengan kerlingan nakal. Wajah bertumpu di kedua tangan yang berada di atas meja.


Menatap wajah Rindi yang sengaja mengekspresikan raut marah hanya untuk menutupi malu karena gombalan receh Linggar.


Mungkin tak bisa diberi predikat receh, karena gombalan itu serasa mencolek hatinya.


" Ya udah aku ayam aja deh, ayam." pilihan berganti.


"Hahahahah," tawanya menggelegar namun kembali iya reda secara paksa.Rindi orangnya perasa, takut jika wanita itu meninggalkannya nya sebelum makan selesai.


Acara saling mencicipi menu pun dimulai.


\=\=\=\=\=\=


To Be Continued.


Maaf dinda baru bisa nyambung ceritanya lagi.


Minggu kemarin sempat berduka, jadi gak sempat ketemu sama teman-teman.


Harap maklum yah.


Doa-in Dinda semoga selalu diberi kesehatan buat lanjutin ceritanya sampai tamat.


Sama dukungannnya juga.

__ADS_1


Itu-tuh, kopi sama bunga buat temenin Dinda di depan laptop.


Biar bisa menyajikan cerita yang menarik n senang buat di baca.


__ADS_2