Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Dampak Sebuah Pelukan


__ADS_3

“Makan!” Sedikit membentak, berharap Rindi tetap berada dalam satu ruang.


Mendapat bentakan seperti itu, membuatnya mematung seketika.


Ini sudah kesekian kalinya Linggar berbicara keras padanya, tak ada lagi kelembutan pria itu untuknya.


Apa lagi yang ia harapkan?


Sepertinya ia akan terbiasa dengan Linggar yang sekarang.


“Kamu kayak gak menghargai pemberian Citra saja! Di kasi makanan langsung pergi.” Ia sedikit bisa menebak jika Rindi ingin meninggalkan dirinya dan Citra hanya berdua dalam ruangan ini.


Bisa timbul fitnah lagi. Kalau fitnahnya bersama dengan Rindi, iapun siap. Tapi tidak dengan orang lain, Linggar masih harus pikir-pikir lagi.


“Iya sory. Bukan maksudku gak menghargai pemberian Citra. Tapi bener, aku mau pipis.” Kembali duduk dengan memasang wajahnya sedikit memelas. Berada di posisi ini sungguh tak nyaman. “Sory Cit,” Ucapnya lagi.


Ia merasa menjadi obat nyamuk antara mantan suaminya dengan gadis lain. Terlebih lagi ia terkejut saat Linggar membentaknya di hadapan orang lain.


“Iya boleh, pipis sana! Dari pada kamu pipis di sini.” Menunjuk dengan Rindi lalu ke arah pintu. Ada rasa bersalah dalam hatinya, tapi ia harus tegas!


“Ingat Cuma pipis, abis itu balik sini lagi!”


“Awas kalau gak, lemburnya ditambah!” Nadanya belum juga terdengar enak di telinga.


Jangan sampai Rindi benar-benar meninggalkan dirinya berdua dengan Citra.


Dan pastinya Rindi memikirkan akan terjadi hal-hal lain lagi.


 “Iya,” Dengan wajah di tekuk dan menunduk meninggalkan ruangan.


Citra mengangkap maksud Rindi yang hendak meninggalkan mereka karena ingin memberi waktu berdua saja.


“Kenapa gak langsung pulang Cit?” Pertanyaan Linggar saat mereka hanya berdua.


Citra harus memikirkan jawaban apa yang bagus untuk ia kemukakan sekarang.


Pasti Linggar akan menilai setiap kata dan perbuatannya.


“Emmm, tadi ada keperluan juga pak. Kemarin Kamil bilang bapak sama Rindi lembur siapin audit jadi ya,...... sekalian beli makanan buat bapak dan Rindi.”


Hening untuk beberapa lama.


Linggarpun tak menanggapi jawaban dari Citra, padahal gadis itu telah memutar otak hanya untuk mencari jawaban yang tepat, setidaknya tidak terlalu menjatuhkan harga dirinya di hadapan sang pujaan hati.


“Katanya kemarin bapak marahin Rindi sampai nangis.” Entah ini bertanya atau hanya sekedar pemberitahuan.


“Jangan keras-keras sama Rindi pak. Dia memang sedikit pendiam, tapi perasa. Sedikit saja disinggung udah mau mewek aja pak. Jadi kasihan juga ngeliatnya.”


Iya saya juga kasihan liat dia nangis kemarin, makanya langsung peluk.


Tapi gak papa, dia kayaknya udah baikan sekaligus tenang. Jika beneran jatuh cinta lagi, itu bonus buat saya.


Dan dampak pelukan itu, sangat baik. Ia dan Rindi seperti kembali dekat.


“Hemmm, sebenarnya kemarin masih mau marah tapi ya seperti kata kamu Rindi perasa. Belum apa-apa udah nangis duluan. Bisa banjir ruangan ini.” Ucapnya tersenyum membayangkan Rindi yang menggunakan dasinya untuk menyusut hidung yang tersumbat.


Pintu terbuka menampilkan Rindi yang berjalan dengan tertunduk. Kedua orang itu kembali terdiam tanpa bahasan lagi.


Meraih kotak makan yang berada di ujung meja, membuka dan makan. mengabaikan kedua orang yang duduk di sana saling berhadapan.


“Rin, mau sholat? Bareng yuk!” Citra yang berdiri, merapikan kotak makan yang telah kosong memasukkan kembali ke dalam kantongan untuk di buang di tempat sampah.

__ADS_1


“Iya.” Ucap Rindi mencoba tersenyum ke arah Citra, meski kaku.


Berdua berjalan beriringan ke arah mushollah yang terletak di lantai yang sama. Hampir tiap lantai memiliki moshollah meskipun ukurannya tak terlalu besar. Cukup untuk mereka shalat secara begantian.


“Aku tau tadi kamu mau ngasi waktu kami berduakan?” Citra sedang membahas tentang Rindi yang tadinya pamit ingin sholat padahal belum masuk waktu shalat magrib.


“Tapi sayang pak Linggar gak kasi ijin yah. Coba kalau kasi ijin kami bisa berdua lebih lama lagi.” Ucapnya sedikit manja dan berharap.


“Apa pak Linggar emang gak punya fell ama aku yah?” Citra menggandeng lengan Rindi.


Mendengarkan kalimat itu membuat Rindi menoleh ingin melihat raut wajah Citra.


Wajah penuh harap namun terlihat suram.


“Kamu udah ngakuin perasaan kamu ke pak Linggar?” Meskipun sedikit sesak namun dia harus terlihat profesional.


Hahahah, profesional dalam menjadi penghubung antara Linggar dan Citra. Sakit gak tuh?


“Gak berani aku.” Citra lesu.


Hehh.


“Takut di tolak.”


“Takut patah hati.” Mencoba meletakkan kepalanya di kepala Rindi. Seperti mencari tempat sandaran dalam menguatkan hatinya.


Padahal Rindi ingin Citra mengungkapkan perasaan pada Linggar. Jika memang Linggar memiliki perasaan yang sama terhadap Citra maka ia akan mundur.


Halah, mundur apaan. Linggar juga belum tentu memiliki perasaan yang sama untuknya kan?


Tapi jika Linggar tak membalas perasaan Citra, setidaknya Rindi terlepas dari tugas yang dibebankan Citra padanya.


Belum lagi harus mengendalikan diri dan raut wajah karena rasa panas yang seolah menjalar ke seluruh tubuh saat mendengar cerita dan pengharapan Citra pada Linggar.


Ditambah kebohongan-kebohongan yang harus ia pikirkan hanya untuk tetap menutup segala perasaan.


Atau setidaknya hatinya sedikit lebih tenang. dari pada harus menjadi perantara  Linggar dan Citra.


Pukul 9 malam Rindi merentangkan tangan merenggangkan tubuh yang terasa kaku karena berada dalam posisi tetap dalam waktu lama.


Malam ini mereka lembur dengan interaksi minimal. Berbicara hanya seperlunya dan tak keluar dari hal pekerjaan.


Kedatangan Citra justru membuat jarak yang sempat membaik di antara mereka kembali jauh.


Membereskan meja dan tasnya, bersiap untuk pulang.


“Pulang?” Linggarpun turut membereskan mejanya.


“Iya, saya duluan pak!” Tetap menunduk. Ingin rasanya berlari agar cepat meninggalkan tempat ini.


“Bareng Rin! Biar aku antar kamu pulang!” Linggar masih sibuk dengan perlengkapan yang berserakan di meja. Berkas dikumpulkan jadi satu meskipun tak tersusun sesuai urutan.


“Aku pulang sendiri saja pak, gak papa!”


Entah mengapa Rindi terasa berbeda saat ini. mungkin menghindar lagi. Atau cemburu?


“Ck.” Linggar berdecak mendengar penolakan Rindi. Rasanya seperti orang lain saja.


 “Mau ambil motor pak. Udah dari kemarin nginap di sini kasihan.”


“Aman Rin. Ada satpam, ada cctv juga.”

__ADS_1


Alasan saja si Rindi, Padahal motor sudah nginap mulai dari kemarin.


Seolah tak ingin mendengar atau berdebat terlalu lama, Rindi telah menyampirkan tasnya ke pundak dan bersiap meninggalkan ruangan tanpa menanggapi ucapan Lingggar lagi.


Melihat gelagat aneh Rindi, Linggar langsung beranja dari duduknya dengan sedikit langkah panjang langsung menyambar tangan Rindi.


Padahal mereka sudah sedikit berbaikan sejak kemarin.


“Kamu kenapa?” Ucapnya menahan langkah Rindi.


“Capek pak!” Rindi lesu. Kepala tertunduk memandang ke bawah.


Pak! Pak!


Mereka hanya tinggal berdua di sini, tapi Rindi masih saja berlaku formal padanya. Rindi yang memilih menunduk dan mencoba menghindari pandangannya. Sedikit menebak jika Rindi sedang cemburu.


Kemarin mengajak Rindi pulang tak melewati drama menghindar seperti sekarang. Bahkan sempat bergandengan tangan, mengingat kantor mungkin saja kosong melompong.


Berbicara berbagai hal diantara mereka. Saling menggoda satu sama lain. Tapi sekarang? Heeeh.


Ini pasti karena Citra. Apa lagi yang menjadi alasan kuat?


“Bareng!” Tetap menggengam dan berjalan kembali ke mejanya, untuk mengambil tas kerja.


“Aku pulang sendiri saja pak!” Nadanya mulai memelas. Malas rasanya berdua saat perasaan panas begini.


“Udah malam Rindi. Bahaya kalau pulang sendiri, naik motor lagi. Ngeyel banget deh hari ini. Kamu cemburu?”


Sebenarnya ingin tersenyum melihat tingkah Rindi, tapi sebisa mungkin di tahannya. Takut Rindi menjadi tersinggung dan marah.


Tak ada kata.


Linggar terus saja menarik tangannya, hingga ke parkiran. Sedikit mendorong tubuh Rindi masuk ke dalam mobilnya, karena tubuh itu terasa kaku dan mencoba menahan langkah.


Rindi hanya memasang wajah cemberutnya. Bibir maju ke depan, dan pandangan mengarah ke luar jendela mobil.


Tak ada niat untuk memulai kata.


Hening. Diam. Mencekam.


Tak ada suara. Bahkan Linggar enggan memutar musik hanya untuk membuat suasana sedikit hidup.


"Ada tamu?" Saat Malam ini Linggar mengantarnya tepat di depan pagar rumah.


Tak seperti kemarin malam yang hanya sampai di lorong.


"Gak ada." Rindi melepas seatbelt dari tubuhnya.


"Mobil siapa?" Tanyanya lagi.


"Mobilku." Tangan telah berada di handle pintu mobil, " Hadiah kelulusan dari Kak Reno."


Mendengar nama itu,.....


Membuat Linggar terpaku sepersekian detik.


Pria itu adalah orang yang pernah memisahkan dirinya dengan Rindi.


Bagaimana kabar pria itu?


Apakah masih hidup atau sudah dead?

__ADS_1


__ADS_2