
Linggar perlahan-lahan memajukan langkahnya, berharap bisa langsung menangkap Rindi.Setidaknya ia bisa menjauhkan Rindi dari jalan raya.
Namun satu langkahnya terlihat oleh Rindi, membuat gadis itu turut melangkahkan kaki ke belakang beberapa langkah, dan,
Ciiiitttt.
Bukkk.
"Rindi!" Semua teriakan menyebutkan nama gadis itu.
Rindi duduk terpaku seorang diri di tepi jalan. Sebelum seseorang mendekat.
"Mbak gak papa? Kita pindah yah?" Ucapnya sambil meraih tubuh Rindi. Kedua tangan pria itu telah berapa di pundak dan lipatan kulit Rindi.
Sebelum benar-benar mengangkat tubuh Rindi sepasang tangan besar telah menghempaskan tangannya dengan kasar.
"Seenaknya saja main gendong-gendong." Lengkap dengan tatapan sinis ke arah sang pria.
Pria yang tadi mengendarai motor dan menyenggol tubuh Rindi. Membuat gadis itu terhuyung lalu jatuh bersimpuh di atas jalan beraspal.
Panas dan terasa kasar di kulit.
"Aku cuma bantuin mas." Sang pria yang ikut terduduk karena ulah Linggar.
"Ya gak usah di gendong juga dong mas." Rindi telah berada di atas gendongan Linggar, namun debat masih
terus berjalan.
"Aku cuma mau pindahin mas, dibelakang masih banyak pengendara yang mau lewat." Sang penabrak.
"Kan bisa panggil saya dulu mas!" Ucapnya sedikit keras, secercah amarah terlihat dari sorot matanya.
"Mana kutau. Ceweknya aja gak kenal." Sang pria mengikuti langkah Linggar yang membopong tubuh Rindi masuk ke area parkir cafe.
"Lah itu sadar kalau gak kenal. Ngapain mau gendong-gendong segala?" Masih dengan nada keras, sepertinya memang amarah tengah bertandang.
"Kan udah dibilangin tadi, niatnya cuma mau bantu pindahin mas. Sebelum adeknya benar-benar di tabrak sama
pengendara lain."
Linggar yang baru saja mendudukkan Rindi di taman buatan kembali melayangkan tatapan sinis ke arah
pria tadi. Kesalnya masih terlihat.
Baginya, pria tadi seperti hanya ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Memeluk dan memegang tubuh Rindi dengan dalih menolong. Padahal terang jika pria itu hanya ingin memindahkan RIndi saja.
Mungkin ini yang disebut cemburu buta.
"Mana yang sakit?"Seketika itu pula tatapan Linngar berubah sendu. Rasa khawatir sangat terlihat di mata itu.
Memperhatikan dengan seksama seluruh tubuh Rindi jika saja ada yang terluka.
Sementara di sana empat pasang mata memandang mereka denga berbagai varian rasa.
Bukan rasa buah atau lainnya. Tapi rasa sedih,kahwatir, kesal dan geli.
Sedih saat Rindi tertabrak motor, eh tersenggol maksudnya.
Khawatir dengan keadaan Rindi.
Kesal karena mereka tahu bahwa Rindi hanys disenggol dikit eh udah gak bisa jalan.
Geli dengan kebo dohan Linggar yang seolah tak tahu dengan keadaan Rindi.
__ADS_1
Dari sana saja mereka sudah tahu jika Rindi baik-baik saja, paling lecet dikit.
Sementara Linggar? Heh.
Linggar hampir saja menyibak rok Rindi, ingin melihat kondisi lutut yang tadi dijadikan sebagai penopang tubuh saat mendarat.
Jika saja dirinya tak sadar bahwa bukan hanya dia satu-satunya pria yang akan melihat. Pria tadi masih berada di antara mereka.
Turut menyaksikan seluruh tingkah laku dan akibatnya.
Bisa-bisa pria itu juga melihat kulit mulus, putih. bersih di bawah rok itu.
Beruntung Linggar segera tersadar, hingga membatalkan aksinya. Kembali menutup kulit Rindi.
"Kita ke rumah sakit." Di rumah sakit jauh lebih aman.
"Bisa jalan sendiri?" Tanyanya lagi.
Rindi menggeleng, bibir terkatup rapat seolah enggan untuk bicara, dengan tangan yang telah melingkar di leher Linggar.
Wajah itu masih terlihat sendu, dengan genangan yang masih terlihat di pelupuk mata dilengkapi dengan pipi yang
masih basah.
" Jadi aku gak usah tanggung jawab nih?" Ternyata pria itu masih sabar mengikuti Linggar dari belakang.
"Tanggung jawab ngapain?" Masih kesel.
Kembali Linggar mengangkat tubuh Rindi, menghentak sedikit demi memperbaiki posisi RIndi dalam gendongannya dan membawanya ke mobil? Kembali menatap RIndi.
Berbalik sebentar, "Lis, bayarin mejaku yah!"
"Ok, wajib ganti ya kak!" Teriak Lilis Yang tadinya ingin melangkahkan kaki mendekati Rindi namun dihalangi oleh Dini.
Karena merekalah, ia dan Rindi kembali bertemu dengan wajar.
"Cup-cup-cup, udah jangan nangis lagi," Menepuk pelan kepala Rindi, saat telah mendudukkan Rindi di mobil namun setetes air mata masih sempat ia lihat.
Seatbelt telah dipasangkan, berikut kecupan singkat di kening, plus sapuan tangan di pipi Rindi guna menghapus jejak basah yang baru saja tercipta.
Linggar segera ke arah pintu tempat kemudi. Dan segera meninggalkan TKP. Meninggalkan seorang pria yang
sejak tadi mengikuti setiap pergerakannya.
"Kamu apanya kak Linggar?" Dini memulai salam perkenalan pada wanita yang tadi bersama Linggar.
"Aku mantannya waktu sekolah, dan kami kembali dekat dua minggu ini." Harus menegaskan jika ia pernah berada di sisi Linggar. Tatapan lurus ke depan hampir tak berkedip, tersirat luka di sana.
Pemandangan barusan seolah menegaskan jika Linggar lebih memilih wanita lain dari pada dirinya.
Tidak! Tidak!
Linggar seperti itu hanya karena dorongan kemanusiaan, bukan berniat meninggalkan dirinya.
"Tahun berapa? Sebelum masehi? Atau tahun gajah?" Andini tahu jika wanita ini mencoba masuk diantara Linggar-Rindi.
"Kalau urusannya tentang Rindi tuh, kak Linggar jadi orang gila yah?" Tantri ikut nimbrung berusaha membentengi hubungan antara Linggar-Rindi dari godaan orang ketiga.
"Bukan gila tapi gila banget malah, hahahaha," Tawa menggema secara bersamaan.
Berbanding terbalik dengan sosok yang satu yang berada terhimpit di antara mereka.
Masih berusaha meyakinkan diri jika semua yang ia dengar hanyalah sebuah masalalu.
__ADS_1
Linggar akan kembali pada dirinya, jika keadaan gadis itu telah membaik.
"Ingat gak waktu kak Linggar nyulik RIndi?"
"Ah, itu mah udah biasa buat kak Linggar."
"Rindinya aja yang gak mau ngerti banget."
"He'em, coba Kak Linggar itu kakakku, trus Rindi jadi kakak iparku, ku ketokin palanya sampe butek."
"Kamu apaan sih, teman kita itu."
"Abisnya Rindi kayak gak sukur banget dapet kak Linggar. Udah cakep, pekerjanya bagus, perhatiannya beuhhh, cintanya uuuuu." Andini dengan gaya manja bin g3nit, sesekali melirik pada wanita yang masih terdiam dengan tatapan kosong. Nampak sekali jika wanita itu sedang melamun atau sedang mencerna kalimat-kalimatnya.
"Lebay."
Serentetan percakapan itu seolah menjadi bahan bakar dalam hatinya.
Segitu cintanyakah Linggar pada gadis itu?
Sementara di dalam mobil, "Ini sakit?" Linggar saat ingin menggenggam tangan Rindi namun urung karena wanita itu terlihat meringis.
Ada beberapa goresan kecil di sana, di telapak tangan mungil yang tadinya mulus.
"Mau jalan sendiri atau digendong?"
Tak ada jawaban dari sebelah.
Bahkan sesekali masih terlihat tetesan bening masih membasahi pipi.
Dalam hati Rindi seolah ada rasa putus asa, namun ia tak tahu harua berbuat apa.
Jika Linggar meninggalkannya, ia sangat tahu penyebabnya.
Ketidak peduliannya akan menjadi jawaban teratas.
Tapi bukan itu yang menjadi alasan utama.
Hai seseorang, tolong sampaikan pada Rindi jika Linggar cemburu saat melihatnya tengah bersama pria lain!
"Dok, tolongin istri saya dok." Linggar memilih menggendong Rindi dan berjalan sidikit lebih cepat ke ruang pemeriksaan.
Rindi hanya diam saat Linggar memberikan predikat istri padanya, ingin tersenyum tapi gengsi. Masalah mereka belumpun terselesaikan.
"Kenapa pak?" Tanya seorang perawat.
"Diserempet motor sus."
"Sini pak, sini." Mengarahkan Linggar ke sebuah brangkar.
"Kenapa sus?" Dokter cantik yang menghampiri mereka.
"Katanya diserempet motor dok."
"Kita periksa bentar yah. Bapaknya boleh keluar sebetar!" Pinta sang dokter pada Linggar yang langsung diikuti oleh Linggar.
Tak butuh waktu lama ia kembali masuk ke ruang periksa saat perawat telah mengizinkan.
To Be Continued!
Dinda mau malak lagi nih.
Like, komen, bunga sama kopinya yah!
__ADS_1
Dinda tungguin di meja.