Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Merasa Terusir


__ADS_3

Sementara Rindi masih duduk dengan menutup wajah, menutupi tangisnya yang masih tak mau berhenti.


Bahkan saat ini Linggarpun mengacuhkannya, memilih pergi tanpa menghiraukan tangisnya.


Seperti inikah dulu saat ia mengcuhkan Linggar?


Meskipun ia tahu Linggar tak bermaksud untuk meninggalkannya. Kesimpulannya Linggar hanya ingin memilih bunda dari pada dirinya.


Persis sama seperti yang dulu ia lakukan pada Linggar. Meskipun niat hati ingin mempertahankan rumah tangga


mereka, ia seperti tak berdaya untuk melawan kakaknya sendiri.


Lebih memilih keluarga sendiri, dari pada suaminya.


Apakah ini karma untuknya?


Atau memang takdir mereka tak bersatu meskipun saling mencintai.


Bunda berdiri dan berjalan keluar untuk memanggil Pak Bur. Gengan sigap sopir itu masuk ke rumah mengikuti


langkah bunda.


“Kamu pulang dulu, tenangkan diri. Kamu cantik dan masih muda. perjalananmupun masih panjang, Kamu carilah


pria yang lebih baik dari pada Linggar. Adakan?” Memang dengan nada rendah tapi terdengar sangat menyakitkan. Terlebih dengan tangan yang terlipat di depan dada, menandakan ketegasan tengah berlaku.


“Mari non, saya antarkan pulang!” Ucap Pak Bur, dengan sedikit menundukkan badan. Berupaya untuk tidak


menyinggung dan semakin menyakiti mantan menantu majikannya.


Lirikan mata dari sang nyonya besar membuatnya harus segera bertindak, meskipun rasa iba turut datang saat


melihat wanita muda itu tengah banjir air mata.


Semakin ke sini, Rindi merasa terusir.


Meskipun tangisnya belum reda, Rindi memilih beranjak dari tempat duduknya. Beberapa kali menyapu wajah yang


masih terhias air mata yang entah mengapa semakin menganak sungai.


Mendatangi bunda yang masih berdiri, mengulurkan tangan hendak takzim terlebih dahulu sebelum ia keluar dari rumah ini.


Biar bagaimanapun, Rindi masih menghormati bunda. Baik sebagai mantan mertuanya, atau sebagai mantan calon


mertua lagi.


Beruntung bagi Rindi, bunda mau menyambut tangannya. Jika tidak perjalan hari ini akan semakin menyakitkan


baginya.


Setidaknya bunda masih menganggap dan melihat sosoknya. Itu saja.

__ADS_1


“Rindi pergi bun.” Meskipun banyak kata yang ingin ia ucapkan, tapi tak mampu keluar. Tangisnya yang belum


reda menjadi salah satu alasannya.


“Maaf,....!” Ia tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya. Satu tangan masih menyalami bunda, sementara yang lain


menutup mulut berharap mampu meredam suara isak tangisnya.


“Iya, bunda juga minta maaf."


"Kalian carilah pasangan hidup masihng-masing, dan berbahagialah.” Bunda.


Inginnya beliau menarik tubuh Rindi masuk ke dalam pelukannya. Namun jika itu sampai terjadi, maka bisa dipastikan bundapun akan mengikuti jejak Rindi. Menangis.


Benar, bukannya tak iba dengan semua yang ia lakukan pada dua insan yang beliau tahu saling mencintai itu.


Namun untuk memastikan sulit untuk mereka bersama.


Terlalu banyak yang ikut campur dalam urusan mereka, membuat jalan yang berlubang semakin terjal dan semakin sulit dilalui.


Tak lupa Pak Bur membukakan pintu belakang mobil untuk Rindi. Dengan sedikit berlari memutari mobil, masuk ke


bagian kemudi.


Baru saja mobil berjalan meninggalkan pekarangan tangis di kursi belakang semakin pecah.


Rindi tak lagi mampu membendungnya. Tak lagi mampu menahan, sakitnya ternyata teramat sangat.


Rindi seolah meluapkan segala kesedihannya, tak peduli berada di mana dan siapa yang mendengarnya. Apakah memang perempuan seperti itu, cengeng, pikirnya.


Tangisannya terdengar sangat memilukan. Bahkan Pak Burpun harus menggigit bibir agar tak ikut menangis


seperti penumpangnya. Beberapa kali Rindi terlihat tertunduk, namun saat tertunduk itu justru tangisnya semakin pecah saja.


Membiarkan tetesan air mata dan ingusnya jatuh ke bawah membasahi lantai mobil.


Biar saja pikirnya.


Biar mereka—Linggar dan keluarganya-- sibuk membersihkan sisa-sisa tangisnya besok. Padahal jika hanya


tetesan-tetesan, itupun akan menguap dan kering sendiri.


Jika memang itu harus dibersihkan, pekerjaan itu akan jatuh ke pada Pak Bur juga. Yang hanya mampu menatapnya penuh iba sekarang ini.


Bagi pak Bur, ini adalah satu kenangan yang terulang kembali.


Dua tahun yang lalu, ia membawa pulang majikannya dalam keadaan hampir sama.


Payah dan menangis.


Dan sekarangpun demikian hanya pemerannya saja yang berganti. Jika dulu Linggar masih berusaha menahan tangis sedikit saja, maka sekarang Rindi tak ragu untuk menangis bahkan saat masih berada di dalam mobil.

__ADS_1


Dan mungkin saja dengan alasan yang sama. Restu.


Kasihan kedua orang ini. Saling mencintai tapi ujiannya terlalu berat.


Jika di luar sana, ujian cinta berupa orang ketiga. Maka mereka diuji oleh keluarga sendiri.


Apakah tidak ada niat bagi keluarga mereka untuk melihat mereka berbahagia dengan saling memiliki satu sama lain?


Sementara sepeninggalan Rindi, bunda memilih menghempaskan diri di sofa. Pandangan menerawang jauh ke depan tak berujung.


Mungkin terlihat kejam tapi jujur, ia ingin sekali menyambut dan memeluk mantan menantunya tadi. Tak bisa


dipungkiri ada rasa rindu pada mantan menantunya itu tapi mau bagaimana lagi, keluarga Rindi belum menerima Linggar.


Satu titik kristal berhasil lolos dari sudut matanya, segera ia hapus dengan telapak tangan sendiri.


Ia tak boleh lengah.


Ia tak boleh lemah.


Percuma memberikan restu pada Linggar dan Rindi, jika penghalang dari keluarga Rindi masih tetap ada dan


tetap eksis dengan tujuannya.


Dalam pemikiran bunda, Linggar belum diterima di keluarga Rindi.


Jikapun sekarang mereka bersatu, sementara keluarga Rindi masih bertingkah seperti dulu itu hanya akan membuat Linggar tersisihkan dan merasa tak dihargai.


Lalu lambat laun mereka akan tetap berpisah, dan menimbulkan rasa sakit yang sama seperti dulu.


Dan sebelum cinta diantara mereka menjadi semakin besar dan dalam, sebaiknya berpisah saat ini juga.


Sekarang atau nanti, kan sama saja.


Tetap perpisahan akan menjadi pintu terakhir hubungan mereka.


Kali ini, yang jadi tugas pertama bunda adalah mendampingi dan menghibur putranya. Berusaha memberikan semangat meskipun harus kehilangan wanita yang ia cintai, yaitu Rindi.


\========


To Be Contined!


Jangan lupa oleh-olehnya!


Dinda tak pernah bosan untuk selalu meminta dukungan teman-teman yang baik hati dan tidak sombong, rajin sedekah (bunga sama kopi maksudnya) hehehehehe.


Tanpa dukungan kalian, benaran nulis seperti sia-siap belaka.


Setiap kali liat like dan komen yang beterbangan, membuat hati pun turut melayang.


Apalagi kalau ada bunganya, beuuuuh hati serasa turut berbunga-bunga.

__ADS_1


Pun kopi, jantung terasa berkopi-kopi. (Luruskan sendiri yah!)


__ADS_2