Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Perawat Cantik


__ADS_3

"Selamat pagi pak, maaf jam mandinya jadi ulur sedikit yah!" Ucapan seorang wanita cantik yang baru masuk ke ruangan yang mereka huni dengan tersenyum sambil mendorong stroller.


Membuat kedua insan itu menghembuskan napas lega secara bersamaan. Saling melempar pandang, dengan senyum malu.


Satu pemikiran.


Satu pengharapan.


Semoga hari bunda tak datang.


Please!


Hanya sehari saja, mungkin sudah cukup untuk mereka berdua melepas rindu.


"Terima kasih sus, bisa taroh di meja saja."


"Nanti biar pacar saya yang bantuin mandi."


Rindi mengangkat alis saat mendengar penuturan Linggar.


Apa tadi, membantu Linggar mandi?


Gak salah tuh?


"Oh, baiklah kalau begitu. Saya taruh sini saja ya pak!" Ucap sang wanita dengan serangam putih-putih itu.


Mulai menyimpan sebuah mangkuk berbahan stainless, handuk putih, dan lipatan baju pasien ke atas nakas bercat putih.


"Kakak yakin, aku bantuin mandi?" Tanyany saat sang perawat baru saja menutup pintu.


"Kenapa? Gak mau? Kamu rela cewek lain megang-megang badanku? Rela?" Pertanyaan dari Linggar tak mampu ia jawab.


Memang ia takkan rela melihat tubuh Linggar dijamah perempuan lain. Tapi ia sendiripun tak siap untuk memegangnya.


Bisa saja bukan hanya memandikan, tapi bisa merambat ke mana-mana.


Ingat! Mereka adalah dua insan yang saling mencintai, saling mengagumi.


Yakin hanya sebuah sentuhan guna membantu membersihkan badan.


Rindi menggelengkan kepala dengan mata yang terpejam. ia tak yakin akan memiliki cukup stoc keimanan untuk itu?


"Ya udah kalau gak mau." Ucapan Linggar yang terakhir.


Setelah itu mereka hanya berdiam diri sebelum perawat yang sama kembali masuk ke dalam.


"Ada pak?"


Pertanyaan itu mengerutkan kening Rindi. Apakah kehadiran perawat itu diundang oleh Linggar?


"Sus, saya mau minta dibantu mandi. Tolong cewek yang muda dong. Anak magang kalau ada."


Ucapan Linggar membuat kening Rindi kembali berkerut, sementara perawat itu justru tersenyum manis.


Huhhhh, dasar pria gak jelas.

__ADS_1


Tadi saja sok-sok gak mau dipegang-pegang sama cewek lain, lah sekarang dianya malah minta cewek muda.


"Gak usah sus, biar saya saja! Terima kasih." Ucapnya ketus. Padahal ia telah mengusahakan diri untuk melembutkan suara. Mungkin efek kesal bin jengkel merasuk ke dada.


Linggar tersenyum samar, membuang pandangan ke samping menyembunyikan wajah.


Nyahoooo, cemburu kan? Belum apa-apa juga.


Rindi mulai mendekat dengan menghentakkan bokong ke ranjang Linggar.


"Kakak bisa jalan sendiri ke kamar mandi kan?" Nadanya masih jutek saja. Padahal itu hanya alasan menyamarkan geteran jantung yang kini berdenyut kencang.


"Kamu pikir mandinya orang sakit bagaimana?" Linggar yang masih enteng-enteng saja.


"Gak mandi di kamar mandi sayaaang." Semburat merah kini menambah rona pipi pada wanita itu.


"Cuma dibasuh pake handuk basah. Tuh yang baskom kecil isinya air hangat."


"Iya tauuuu." Rindi.


"Sok tau," Sedikit colekan di dagu membuat Rindi bertambah kesan plus malu.


"Kalau gak tau, bertanya! Bisa-bisa kamu nyasar kalau jalan terus." Kali ini senyuman pria itu semakin mengembang.


Tidak tahukan dia jika darah Rindi terasa semakin berlomba-lomba bagai ombak menggulung, melambung.


"Mulai dari mana?" Rindi.


"Buka bajuku!" Perintah Linggar kembali menimbulkan pertanyaa-pertanyaan baru di benak Rindi.


"Terus?"


"Buka dulu!"


"Pc." Mulai menganggkat tangan meski ragu.


Membuka satu, dua, hingga tiga kancing kemeja.


"Kamu gemetar? Kenapa?"


"Aku takut khilaf. Kita khilaf." Rindi jujur tentang pikirannya.


"Gak usah mikir yang macam-macam, aku sakit. Kamu hanya perlu membantu aku bersihin badan."


"AKu tutup mata deh."


"Eh," Pria itu kembali membuka mata yang baru saja ia pejamkan.


"Kamu gak usah pegang-pegan rambutku yah!"


"Kenapa?" Rindi.


"Aku belum keramas,"


"Udah tiga hari," Kali ini dengan lirih. "Lepek, gatal, malu."

__ADS_1


"Kakak mau keramas?" Rindi menghentikan kerja jarinya di kancing terakhir.


"Boleh?!" Linggar dengan meragu.


"Shamponya ada?"


Linggar menggeleng, malu memang tapi kepalanya sudah lumayan gatal jika dibiarkan begitu saja.


"Kirain orang sakit gak perlu keramas, heheheh."


"Ya udah aku ke depan dulu, beliin shampo. Terus apa lagi?" Turun ke ranjang tanpa membiarkan piyama Linggar terbuka.


"Camilan buat kamu aja."


\=========


"Tutup mata yah!" Pinta Rindi.


Kini mereka telah berada di depan wastafel. Rindi mulai menyiramkan air, memberikan sedikit cairan shampo dan memijat-mijat pelan kepala Linggar.


"Enak banget Rin. Sejuk, apalagi pijatan tanganmu, kayak perawatan salon, hehehehe."


"Emang kakak pernah ke salon?"


"Pernah sih, cuma beberapa kali seumur hidup, hehehehe."


"Enak dipegang-pegan sama cewek cantik?" Nada yang terdengar memang pelan, tapi entah mengapa perasaan sudah tak enak.


Duk! Duk! Duk!


Mode cemburu keluar.


Waspada Linggar, sebelum bom molotov meledak.


"Di salon juga ada pekerja prianya kok. Bukan cuma cewek aja." Berusaha menenangkan.


"Ck," Rindi meremas kuat rambut yang berada dalam genggamannya itu. Sekarang ia berkuasa atas tubuh Linggar.


Diketokin, diplintir ia juga bisa.


"Aduhhhh Rin, aduhhhh Rin, pelan. Sakit banget ini." Keluhnya, sepertinya Rindi menggunakan sebagian besar tenaga hanya untuk menjambak rambutnya.


"Ampun Rin, aku gak ke salon lagi deh! Janji!" Pintanya.


Sekejap RIndi tersadar dengan apa yang ia lakukan pada Linggar.


Pria itu salah apa memangnya. Aneh memang jika cemburu menyerang.


"Itu di meja udah ada berkas sama laptop kamu." Mengalihkan topik, bisa-bisa rambutnya habis di tangan wanita yang ia ketahui berhati lembut itu.


"Bilang kek dari tadi." Sedikit ketukan di kepala ia hadiahnya sebelum membilas bersih rambut Linggar.


\========


Kita sambung beberapa menit ke depan.

__ADS_1


Jangan lupa likenya n komennya. Biar semangat upnya.


__ADS_2