Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Apa maksudnya ini?


__ADS_3

Rindi baru saja masuk berjalan dengan pandangan terus memusat ke arah berkas yang berada di tangannya.


Sementar Linggar baru saja beranjak dari duduknya hendak ke luar.


Mereka berpapasan di tengah ruangan.


Rindi langsung mematung ketika merasa sesuatu lembut menyentuh pipinya. Ia berbalik ke arah belakang, menatap punggung Linggar yang baru saja menjauh darinya.


Apakah Linggar mencium pipinya?


Tangannya naik menyentuh pipi bekas ciuman Linggar. Apa maksudnya ini?


Pandangannya sempat mengedar ke seleruh ruang. Menatap semua orang yang masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tak ada yang terusik dengan kejadian barusan.


Apakah ini hanya mimpi, namun terlalu nyata jika dikatakan ia hanya sekedar berkhayal.


Sementar Linggar menutup pintu dengan senyum di wajahnya.


Ah, rasanya masih ingin menyentuh pipi Rindi dengan bibirnya.


Rindi kembali terdiam dan mematung. Masih memikirkan benarkah Linggar menciumnya atau memang hanya sekedar mimpi.


Hingga suara Kamil terdengar menyapanya, “Kenapa Rin?” Merasa aneh karena Rindi terdiam seorang diri di tengah sana.


“Gak papa?” Tangan yang masih menyapu pipi kini bergerak menggaruk, seperti ada yang gatal di sana. Mencoba bersikap tenang, meskipun hati mengandung beribu tanya semoga tak mengundang kecurigaan yang lainnya.


Rindi merajuk, memutuskan untuk tak menyapa Linggar selama bekerja. Cukup mengucapkan yang penting-penting saja.


Bahkan saat mereka tinggal berdua di kantor saat jam pulang kerja.


Lelah sebenarnya. Beberapa hari ini mereka masih setia menyiapkan bahan audit untuk hari selanjutnya.


Hingga pukul sembilan malam tiba, saatnya untuk pulang. Rindi sama sekali tak berniat untuk pamit pulang pada sang atasan.


Merapikan meja kerjan. Memasukkan ke dalam tas apa saja yang harus di masukkan. Malam ini ia harus membawa motornya pulang. Tak ingin pulang dengan Linggar.


Linggarpun melakukan hal yang sama. Merapikan meja dan memasukkan apa saja yang harus di masukkan ke dalam tasnya.


Rindi telah beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan meninggalkan Linggar yang tersenyum tertahan. Entah apa lagi yang ada di otaknya kini.


Memakai helm, tak lupa memasang switer


rajut kesayangan. Memasukkan kunci ke dalam kontak.


Ah, akhirnya iapun bebas, pulang sendiri tanpa Linggar. Tapi entah ada yang janggal. Rasanya seperti ada yang hilang.


Stater motor, panaskan sedikit.


Namun ia tercengang saat Linggar memisahkan tangannya dengan kemudi motor. Apa maunya pria ini?


Saat Rindi terdiam menanti masih menanti Linggar menarik tangannya, pria itu malah masuk ke sela-sela antara kemudi dengan Rindi.


Apa maunya pria ini?

__ADS_1


“Aku yang bawa,” Linggar sambil menggantungkan tasnya di depan.


Mata Rindi semakin terbuka lebar.


Gila! Pikirnya.


“Kamu kangen banget yah sama aku.


Sampai gak mau jauh-jauh? Gak bisa bawa motor kalau kayak gini?” Pria itu masih


berdiri, karena Rindi belum memberinya kuasa atas motornya.


“Aku gak ada helm lain kak.”


“Bentar kita beli dipertigaan. Ada mobil opencup yang jualan  helm.”


“Cepetan!” Tambahnya. “Biar cepat sampai di rumah.”


Dengan bibir maju ke depan menunjukkan bahwa dirinya tengah merajuk, Rindi mundur kebelakang meski hanya sedikit. Maksudnya ingin memberi pelajaran pada Linggar, biar pria itu lelah sendiri menahan bobot tubuhnya karena mendapatkan jatah duduk hanya sedikit.


“Rin, gak muat ini.”


Rindi semakin mencebikkan bibir.


Apa maunya pria ini?


“Mau pangku aku?” Linggar berbalik menunjukkan senyum genitnya.


“Pc,” Rindi akhirnya memberikan tempat yang layak untuk Linggar. Kali ini dia mengalah, atau mungkin memang tidak bisa berbuat apa-apa mungkin.


Pria ini menggunakan hoodie black,


apakah Linggar memang merencanakan ini?


“Udah.” Rindi singkat. Masih ada sisa-sisa kesal di sana.


“Di mana?”


“Di jok.” Kalau tidak di jawab, pria itu pasti akan terus menuntutnya.


Mereka berhenti di pertigaan yang dimaksud Linggar untuk membeli helm. Tak lupa mengamankan kunci motor sebelum turun. Bisa saja Rindi meninggalkannya di sana.


“ Pegangan di sini.” Sambil meraih tangan Rindi guna melingkarkan di perutnya. Mereka siap untuk kembali memecah jalan.


“Awas jangan sampai lepas. Aku mau jadi Rossi malam ini.”


Alasan! Bilang aja mau dipeluk.


“Awas jangan dilepas.” Ucapnya lagi, sedikit berbalik.


Di belakang Rindi menahan senyum lalu kembali mencebikkan bibir lalu kembali menahan senyum.


“Rin, lapar. Makan dulu yuk!” Sedikit teriak agar Rindi mendengarkan ucapannya sebelum angin membawa suara itu semakin menjauh.

__ADS_1


“Terserah!” Rindi sedikit ketus. Padahal dalam hati ingin bersorak karena bahagia. Kali ini seperti mereka sedang berkencan.


“Mau makan apa?”


“Terserah!” Lagi-lagi satu kata yang akan membuat kaum pria berada di fase salah yang tak pernah benar.


Linggar memutuskan singgah di salah satu kedai bertenda biru yang terlihat menyembulkan asap. Sate madura menjadi pilihannya saat ini.


“Kakak mau makan di sini?” Rindi dengan kening berkerut.


Dulu saja waktu Linggar masih mahasiswa, pria itu membawanya ke restoran meskipun bukan yang mewah-mewah atau minimal cafelah. Sekarang saat sudah menerima gaji sendiri kenapa justru Linggar membawanya ke pedagang kaki lima seperti ini.


“Kan tadi bilangnya terserah. Lupa?” Entah mengapa raut Linggar kali ini terlihat menyebalkan.


Atau mungkin hanya perasaan Rindi saja karena ia kalah berdebat, Linggar mengembalikan ucapannya.


“Bukan! Biasanyakan makan di restoran atau cafe.” Ucapannya, tapi tetap turun juga dari motornya.


“Kan tadi bilangnya terserah?” Kini wajah Linggar semakin terlihat tengil, dengan tambahan alis yang naik turun.


“Ayo ah!” menarik pelan tangan Rindi agar mau beranjak dari motor. Tangan berpindah ke pundak Rindi saat mereka telah meninggalkan motor masuk ke dalam tenda.


Di sana hanya ada dua meja panjang dengan kursi plastik di masing-masing sisi meja.


Menempatkan Rindi di kursi paling ujung. Memilimalisir Rindi duduk berdekatan dengan pria lain yang sama akan menikmati sate di kedai itu.


“Mau pesan apa?” Ucapnya sambil menatap Rindi.


“Memangnya ada pilihan?” Rindi masih ketus saja.


Sudah jelas-jelas yang mereka datangi adalah penjual sate, ya pasti adanya sate.


“Pc, sate ayam atau kambing? Gitu?” dibalas ketus, tapi ia suka bagian ini. Entah mengapa berdebat hal ringan seperti ini dengan Rindi membuatnya bahagia.


“Ohhh....” Dengan bibir membulat.


“Kirain ada burger, chiken-chiken gitu.” Disertai dengan tangan yang bergerak gemulai.


“Awwww,....” Suara Rindi yang mengaduh karena Linggar baru saja menyentil keningnya.


“Centil banget.” Linggar.


Namun justru membuat Rindi terkikik, di sambung Linggar yang ikut menertawakan aksinya.


“Kambing.”


“Pak, sate kambing dua porsi, ayam satu porsi. Bumbu lengkap, sama lontong juga.”


“Kok tiga?”


“Lapar Rin, gak ada makanan gratis lagi. Yang satunya kita bagi dua. Kamu juga pasti lapar kan?”


“Ooh, jadi tungguin jatah makan gratis?” Lirikan mata yang mengarah ke arah Linggar.

__ADS_1


“Hahahaha, gak juga sih. Udah jangan bicarain yang itu-itu. Nanti tambah panas, di sini gak ada ac.” Melihat raut wajah Rindi, sepertinya wanita itu sedang menunjukkan rasa cemburunya.


__ADS_2