
Mereka masih berdiskusi dengan berbisik-bisik.
"Jadi gimana?" Kamil.
"Kamu yang jadi gimana?" Citra yang justru meninggalkan titik kumpul, memilih menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
Tak bisa dipungkiri ada rasa kesal takut dan cemburu yang sedang menghantui hatinya.
Bagaimana jika Linggar benar memiliki rasa pada Rindi?
"Kenapa?" Suara Linggar yang tepat di sampingnya mampu menyadarkannya jika mereka sedang duduk berdekatan.
Linggar yang sedari tadi mengamati kegiatan mereka, masuk ke bioskop bukannya nonton justru sedang diskusi.
Citra menoleh ke samping, di mana Linggar yang sedang menopang tangan memegang minumannya.
Linggar sedang meliriknya dengan berbagai pertanyaan yang terselubung.
Rambut sedikit berantakan, menutupi sebagian dahi. Dari sini, ia semakin sadar jika pria itu teramat mancung untuk ukuran seorang pria lokal.
Bahkan dalam pencahayaan yang kurangpun pria itu terlihat sangat tampan. Mungkin Citra tak sadar jika matanya saat ini terbuka lebar hanya untuk mengamati sosok tampan itu hanya dengan bantuan cahaya dari layar lebar di depan sana.
Linggar seolah menatapnya dalam, hingga mampu mengantarkan rasa yang mendebarkan.
Darahnya seolah berlari ke sana ke mari. Seketika itu pula jantungnya seolah bertalu.
Linggar tampan!
Sangat tampan!
Lagi-lagi hati gadis itu memuji.
Tahu jika Citra sedang terpesona, Linggar segera memalingkan wajah kembali menatap ke arah depan tepat layar.
Sadar diri, jika gadis di sampingnya itu memiliki perasaan yang lain.
Terlalu nampak. Bahkan memang sengaja menampakkan.
Tak ingin memberikan harapan lebih banyak hingga membuat hati kecil itu terluka. Namun Linggarpun tak tega ketika harus menolak semua pemberian gadis itu.
Kembali mengisap sedotannya, berusaha secuek mungkin.
Namun yang terjadi itu semakin membuatnya terlihat sedang di terangi cahaya terang nan indah di hadapan gadis itu, terpesona.
Melihat sikap Linggar yang mengabaikan dirinya Citra lebih memilih memajukan diri kembali bergabung dengan temannya yang lain. Meskipun hanya berbisik-bisik tapi terlihat lebih seru.
Tak apalah, duduk berdekatan seperti inipun terasa sudah cukup bagi gadis itu, meskipun sadar jika Linggar sedikit cuek terhadapnya. Namun devinisi cinta itu buta sedang berlaku baginya kini.
"Awas yah, kamu harus ganti hari ini. Hari ini gak kehitung, gajimu masih utuh kan?" Kamil dengan telunjuk awas di depan Rindi, mereka masih berunding berbisik.
"Iya-iya ah!" Menyingkirkan tejunjuk dari hadapan wajah. Dirinya seperti telah melakukan satu kesalahan besar saja.
"Eh, tapi jangan minggu depan deh, bulan depan yah, yah!" Sedikit memelas pada Kamil, orang yang bersemangat menikmati gaji pertamanya.
"Kenapa?" Tanya pria itu, lirikan mata seperti silet yang siap menguliti, baginya Rindi mencoba melarikan diri.
"Bulan depan aja yah, minggu depantuh uangku udah berkurang. Buat beli bensin dan lain-lain, mau ngasih ibu juga." Semakin ke sini nadanya semakin menurun.
__ADS_1
"Iya deh, iya. Tapi awas yah, bulan depan." Kini tatapan Kamil beralih ke Citra, gadis itu tak menyimak seluruh pembicaraan forum.
"Bulan depan abis gajian, awas jangan bilang sama Mbak Tia sama Pak Linggar! Kita aja berempat yah!" Kini pandangannya beralih ke Ayu berusaha menegaskan.
"Iya-iya, kita ngumpul di sini lagi." Setelah memastikan diri, kini gilirang Rindi yang mundur kebelakang karena ponsel di dalam tas terasa bergetar.
Melihat ada pergerakan dari sana, membuat Linggar menoleh. Menatap mantan istrinya yang sedang menunduk memainkan ponsel.
Pandangannya begitu tajam, hingga terasa pada objek yang sedang dilihat. Rindi menoleh saat merasakan ada yang sedang memperhatikannya.
Di sana Linggar sedang mentapnya dengan kepalan tangan yang diletakkan di depan mulut.
Terlalu munafik jika Rindi mengatakan semua baik-baik saja. Nyatanya jantungnya kembali bertalu-talu tak menentu. Pria itu adalah orang yang pernah hidup bersamanya, pernah saling memandang satu sama lain.
Pandangan dalam hal segalanya.
Dan mereka kembali di pertemukan dalam keadaan seperti ini.
Berada dalam satu ruang kerja membuat mereka setiap hari bertemu.
Sementara di antara mereka, ada seorang gadis yang menaruh harapan besar pada sang mantan. Mengharuskan Rindi melangkah mundur memberi jalan jika tak ingin pertemanan diantara mereka terurai.
Tak ingin terbawa suasana Rindi kembali maju bergabung pada teman-temannya dengan rencana untuk menghabiskan gajinya sesi dua.
"Dasar, sok cantik!" Dengusan Linggar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ketiga gadis itu berjalan beriringan sambil mengaitkan lengan masing-masing sambil sesekali menunjuk ke arah toko yang mereka lewati. Sementara para pria berjalan mengikuti ke mana langkah para gadis.
Mungkin dia lebih memilih berjalan bersama ketiga gadis itu, lebih seru pikirnya. Tapi untuk meninggalkan Linggar seorang diri perlu pemikiran lebih mendalam lagi.
Rasa segannya masih ada untuk atasannya itu membuat pergerakan dan lisannya terbatasi, sempit terasa.
"Ikutin aja mereka, paling bentar masuk ke toko pakaian atau sepatu mungkin." Linggar, sedikit hentakan tubuh memperbaiki letak ransel dipunggung.
Pengalaman mengajarkannya tentang mengenal kesukaan kaum hawa itu.
Saat dirinya dulu terpuruk, bunda sering mengajaknya mengikuti kegiatan bunda seperti pengajian, belanja bahkan beberapakali mengikuti bunda saat arisan.
Benar saja, ketiga gadis itu memasuki sebuah toko baju. Mengitari sekeliling toko lalu keluar dengan tangan kosong, namun sesekali langkah terhenti kembali menengok ke arah toko sambil terlihat berdiskusi.
Dan ketika ditanya, "Kenapa?"
"Hanya melihat-lihat saja," Kata mereka.
Heh, apa yang dipikirkan para gadis itu?
Mungkin sedang bimbang karena terlalu banyak pilihan. Atau memikirkan harga pakaian yang sedang mereka incar.
Entah ini toko yang mereka masuki, toko tas dan sepatu.
Linggar memilih duduk di kursi yang terletak di sisi kiri toko, memantau ketiga gadis itu.
Kaki mulai pegal, tubuh sedikit lelah, kulit mulai lengket. Dan mereka belum berhenti juga.
Dasar para wanita.
__ADS_1
Seandainya ini cerita tentang CEO dan istrinya pasti tangannya sudah penuh oleh kantong belanjaan. Beruntung ini hanya sebuah kisah sederhana tentang seorang pria yang sederhana pula, yang sedang mencari cinta sejati setelah di sakiti.
Jadi ia hanya perlu berkorban waktu dan kakinya buat berjalan saja.
Ternyata Kamilpun lebih mengikuti jejaknya, dari pada harus terus berdiri dan mengikuti para gadis ke sana ke mari yang membolak-balikkan barang hingga jungkir balik. Entah untuk mengetahui model dan kualitas produk atau sedang melihat harga barang, Entahlah! Hanya mereka yang tahu.
Pandangan Linggar tertubruk pada Rindi. Sang mantan istri itu sedang membolak balikkan sepatu hells berwarna krem.
Sejenak ingatannya kembali mundur kebelakang.
Saat ia mencoba menyimpul mati hubungannya dengan Rindi, namun terlepas jua.
Selama menikah dulu ia tak pernah memberikan nafkah lahir pada istrinya dulu. Tak pernah memberikan kado atau apalah, hanya untuk memberikan kejutan.
Hah, apa yang bisa diberikan dengan hubungan sesingkat itu. Hanya menunggu jagung siap di panen saja, namun justru mereka telah berakhir.
Terlebih lagi, dirinyapun tak memiliki apa-apa termasuk gaji.
Dapatkah ia mengganti semuanya sekarang?
"Aku mau liat-liat juga!" Ucapnya pada Kamil sebelum beranjak.
Berjalan ke sisi kiri dulu, jangan langsung ke arah Rindi.
Perjalanan sepertinya terlalu jauh memutar, tapi sampai juga.
Kini mereka hanya dibatasi oleh rak sepatu.
Ditangan Rindi telah terganti sepatu berwarna hitam, tapi Linggar lebih menyukai yang pertama.
"Kamu suka?" Tanya pada Rindi, biarkan wanita itu memilih.
Rindi mendongak, tersenyum lalu meletakkan kembali.
Tangannya kembali terulur meraih sepatu lain, kali ini berwarna merah.
Ah teralu berani, bukan menunjukkan pribadi Rindi yang pendiam dan kalem.
"Aku suka yang itu," Menunjukkan sepatu yang pertama.
RIndi hanya menanggapi dengan senyuman. Memang awalnya tak berniat untuk membeli.
Gaji pertamanya disiapkan untuk ibu tercinta.
"Cobain itu!" Kembali Linggar seolah memerintah.
"Gak usah kak," Jawabnya.
"Cobain dulu!" Dengan tatapan sedikit menyala,gigi ditekan geram rasanya melihat Rindi yang sedikit keras kepala.
Rindi kembali mendongak melihat paras Linggar, kenapa pria itu harus pake urat segala?
"Ck," Namun tetap mengikuti perintah.
"Pas," Ucapnya lalu berlalu setelah meletakkan barang kembali ke tempat semula.
Linggar tak mungkin terus mengukitinya kan?
__ADS_1