
"Makanan tadi Pak Linggar yang bayarkan?" Ucapkan Kamil setengah berbisik.
Saat ini mereka sedang menunggu Linggar yang baru saja menjauh dari mereka hendak menunaikan panggilan alam sebelum masuk ke dalam bioskop. Tak ingin nanti aktifitas itu justru mengganggu saat mereka sedang duduk manis di dalam bioskop.
Sementara Mbak Tia beserta keluarga kecilnya memilih memisahkan diri dari barisan mengambil arah lain, tentu saja untuk mengajak buah hati menikmati family time.
"Eh, bukan begitu." Hanya ditanya seperti itu Rindi langsung terlihat panik. tak ingin teman-teman nya menjadi curiga. Tak ingin teman-temannya meninggalkan dan menepikannya. Ia belum memiliki banyak teman di kantor selain mereka.
Terlebih Citra.
Benar saja, pandangan gadis yang sedang tergila-gila pada Linggar itu langsung saja menajam ke arah RIndi.
Panas, atau mungkin saja beranjak ke garis cemburu.
"Bukan gitu!" Rindi mencoba mengendalikan diri.
Bayangan Linggar yang bersikeras menyodorkan kartu kredit setelah merebut kartu kreditnya dari tangan kasir cantik restoran tadi kembali terlintas.
Sempat berdebat hanya untuk membayar makanan mereka.
Tak berharap ada maksud atau niat yang lain dari seorang Linggar. Semakin membuatnya yakin saat Linggar mengatakan alasannya mengamankan kartu kredit milik Rindi.
"Pak Linggar bilang,...." Rindi cemberut menatap satu persatu temannya.
Antara mengucapkan atau tidak. Tetap saja pasti mereka tersinggung.
"Kalian akan terus malakin aku, sampai gaji pertama kamu habis." Sambil menunduk, merasa kata-kata itu pasti tak enak didengarkan oleh mereka.
"Beeuuuh, segitunya,...." Ucapan Kamil seolah langsung pecah berikut rasa kecewanya.
Rasa kecewa menganggap Linggar seolah ingin meninggalkan adat istiadat yang katanya telah berlangsung secara turun temurun itu.
Padahal dulu Linggar adalah orang paling semangat mengerjainya. Dan benar, jika gaji pertamanya itu hampir setengah habis karena pengeluaran untuk divisi mereka di era itu. Dan sekarang tujuan selanjutnya ya tentu saja anak baru yang sedang tertunduk sambil melirik mereka satu persatu. Balas dendam.
Heh, curang!
Linggar justru membantu wanita itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kita nonton apa?" Ucap Kamil sambil melihat jadwal penayangan film.
"Gak mungkinkan kita nonton yang romantis-romantis gitu. Lagian diantara kita tidak ada juga yang jadi pasangan." Lanjutnya sambil terus mendongak dan menggaruk-garuk dagu sendiri.
Tak menghiraukan Citra yang sedang menyonggol-nyenggol dengan siku tangan.
"Sut, sut, sut!" Kode yang diberikan oleh gadis itupun tak mampu menyadarkan seorang Kamil.
Gadis itu justru ingin menonton film romantis, berharap tontonan itu mampu menyonggol perasaan mantan bosnya yang kurang peka menanggapi seluruh perhatiannya.
Rindi hanya menatap Ayu yang juga menatapnya sambil melemparkan senyuman.
__ADS_1
Sepertinya kedua gadis itu hampir berada di satu frekuensi, malas untuk berkata, malas untuk menanggapi dan cenderung ikut saja.
"Apasih?" Kamil yang merasa terusik dengan tinggah Citra yang hanya sekedar menyenggol tanpa berkata.
Mana ia tahu tentang arti dari senggolan itu. Ia bukanlah seorang peramal atau cenayang yang bisa mengartikan segala sesuatu hal hanya dengan melihat saja.
Ia butuh sebuah kata tentang ide atau keputusan yang akan diambil.
Sementara Citra justru meliriknya dengan tajam. Berpikir jika pria itu tak mengerti perasaan dan keinginannya.
Sementara Linggar berada paling belakang dengan tangan kiri menahan tali ransel dan tangan kanan di masukkan ke dalam saku celananya seperti sedang mengawasi anak-anaknya Ia hanya menunggu dan mengikuti keinginan anak-anaknya itu.
Terlihat lebih dewasa meskipun umur mereka tak jauh beda. Mungkin pengalaman hidup benar mampu membuat seorang lebih dewasa.
"Kamu mau nonton kartun?" Tanyanya pada siapa saja yang mendengar.
"Ya udah yang itu saja Rin," Menyebutkan judul film komedi buatan negeri sendiri. Bergendre komedi, rasanya pas untuk mereka saat ini yang berstatus sebagai teman kantor, netral.
Mengedarkan pandangan pada satu persatu teman-temannya, mencari persetujuan atau penolakan. Hanya Citra saja yang menatapnya masih dengan wajah yang cemberut.
Kali ini menatap ke belakan posisi Linggar, hanya mengangguk setuju.
Rindi siap melangkah maju ke arah kasir, di mana di sana telah berjejer beberapa orang, mengantri.
"Aku temanin," Ucap Linggar juga ikut melangkahkan kaki ke depan tak mengidahkan pandangan anak buahnya yang lain.
"Tuh kan!" Kamil seolah melayangkan protes pada Linggar. Bisa di tebak, bosnya itu akan kembali membayarkan tiket karcis mereka. "Ck, curang!"
"Kamu lupa?" Kamil yang meliriknya sebal, "Dulu pak Linggar juga ikut andil loh, habisin duit kamu waktu gajian pertamamu."
Benar cinta itu buta.
Bukan tapi mampu membutakan pandangan seseorang.
"Itukan dulu,...." Padahal dulu iapun merasa kesal saat harus mengorbankan gaji pertamanya hanya untuk teman-temannya.
Linggar kembali menggantikan Rindi dalam mentraktri teman-temannya itu.
"Pak gak enak sama yang lain." Protesnya pada Linggar.
"Ya jangan bilang-bilang ke mereka noh!" Linggar yang justru menanggapinya dengan sedikit cuek.
"Tapi mereka tahu pak," Rindi yang kini dengan mode cemberut. Entah alasan apa lagi yang akan ia berikan pada teman-temannya itu.
"Udah, ayo!" Setelah pembayaran dan menentukan kursi oleh Linggar, pria itu langsung beranjak tanpa memperdulikan RIndi yang masih ingin melayangkan protesnya.
"Udah beli camilan?" Linggar kini sambil memandang Kamil yang hanya menggeleng menjawabnya.
"Nih," Mengulurkan dua lembar uang merah pada Kamil berharap itu mampu menyusut pertanyaan yang sebenarnya telah siap oleh pria di depannya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tempat duduk telah ditentukan.
Seperti permintaan Citra, gadis itu duduk bersebelahan dengan Linggar, sang pujaan hati yang tersembuyi.
Sementara Kamil duduk paling ujung. Kedua pria itu seperti pengawal untuk para gadis.
"Pak Linggar bayarain lagi kan?"
Entah kenapa sampai ke sini kok, Kamil seperti semakin julid saja. Rada kesal menanggapi, tapi harus tetap di jawab agar semua tak terlihat semakin mencurigakan.
RIndi hanya mengangguk dengan sedotan minuman bersoda khas bioskop yang masih melekat ke bibir.
Mereka hampir berkumpul di satu titik, tubuh maju ke depan menyisakan sedikit saja area untuk duduk.
"Gak ada maksud lain kan?" Kamil masih menginterogasi.
Membuat Citra kembali mencebikkan bibir memandang bergantian antara Kamil dan Rindi.
Maksud lain apa maksudnya ini?
"Gak kok!" Nada naik dengan cepat dan tanpa permisi. Sejenak ia lupa jika mereka sekarang berada di dalam bioskop, bahkan film telah diputar.
"Eh, maaf-maaf!" Ucapnya lagi dengan kepala menoleh ke kiri lalu ke kanan, sadar suaranya tadi mengganggu penonton yang lain.
"Suuut, jangan berisik!" Kamil lirih dengan telunjuk tetap di depan bibir.
"Iya, gak sengaja," Rindipun balik berbisik.
"Kita bahas bentar aja, nanti di luar!" Citra.
"Gak bisa, nanti lupa lagi, terus kalo kita kebanyakan bisik-bisik Pak Linggar bisa curiga. Trus kalau masalah ini kita biarin lama bisa lupa kita nanti!" Entah mengapa Kamil terlihat semangat untuk membahas ini.
"Emang benerkan kita lagi bicarakan dia?" Ayu yang juga ikut nimbrung.
"Ck, kamu itu, sekalinya ngomong kayak gak tau aturan aja!"
"Tapi emang bener kan?" Citra membela.
Mereka masih berdiskusi dengan berbisik-bisik.
"Jadi gimana?" Kamil.
"Kamu yang jadi gimana?" Citra yang justru meninggalkan titik kumpul, memilih menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
Tak bisa dipungkiri ada rasa kesal takut dan cemburu yang sedang menghantui hatinya.
Bagaimana jika Linggar benar memiliki rasa pada Rindi?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
To Be Continued!
__ADS_1
Lanjut beberapa menit ke depan.