
“Rin.” Ucapnya dengan tangan yang bergantung di atas.
Hendak meraih tubuh istrinya itu, tapi kembali teringat dengan perlakuan Rindi baru saja padanya.
Saat gelora sedang melambung ke awang-awang, Rindi justru dengan segaja menghempaskannya jatuh terperosok tak berkutik.
Otaknya terasa blank. Dadanya semakin tak beraturan. Tak terima dengan sikap istrinya itu.
Perubahan Rindi dianggap terlalu signifikan.
Ah, bukankah Rindi tadi bertemu dengan Kak Reno?
Mungkin ia salah, tapi perasaannya mengatakan ada sesuatu yang Reno ucapkan hingga membuat Rindi berbalik arah, tak mengidahkannya.
Apakah Reno sempat memberikan racun pada Rindi itu untuk menjauhinya?
Linggar terbaring terlentang memandang tembus ke langit-langit kamar pengantin dengan satu tangan yang diletakkan di keningnya. Memikirkan alasan yang sedikit masuk akal saat Rindi menolaknya malam ini.
Sesekali memandang tubuh Rindi yang berbaring masih betah membelakanginya.
Hah, yang benar saja. Malam pertamanya hanya seperti ini.
Benar-benar tak terima dengan sikap Rindi ini.
Tapi tenang saja, ia akan memboyong istrinya itu ke rumah ayah-bunda. Di sana tak ada yang akan mengusik
mereka lagi. Tak ada yang akan membisikkan kata-kata tak berguna pada istrinya itu.
Menutup mata, memaksa diri agar bisa terlelap. Namun hingga jarum jam tepat lurus ke atas, ia sama sekali tak
mampu masuk ke dunia mimpi.
Kembali menatap punggung istrinya, ingin memeluk tapi takut di tolak lagi. Kembali menatap ke atas langit-langit kamar di sertai hembusan napas kasar berharap mampu menepis kegelisahan yang sedari tadi menghantui.
Menutup mata, kembali mencoba membawa diri masuk ke dalam lorong mimpi.
Tapi, ternyata sulit.
Padahal biasanya dia tidur sendiri tanpa ada Rindi di sampingnya, namun setelah mendengar suara wanitanya
itu ia akan tertidur dengan sangat lelapnya hingga pagi mengetuk jendela kamarnya.
Tapi ia justru tak bisa terlelap saat wanita itu berada di sisinya.
Kembali menatap sendu ke sampingnya, wanitanya itu telah tenang dalam lelapnya.
Rindi tertidur?
Apakah tak mengapa jika ia mencuri cumbu pada wanita itu? Wanita itu adalah istrinya sekarang. Wanita yang telah halal untuk ia sentuh.
Tangan terangkat, perlahan sedikit demi sedikit mendarat di pinggang sang istri.
Sangat pelan takut akan mengganggu tubuh sang istri. Tapi mampu membuat Rindi tersentak, kaget. Linggar membulatkan matanya, mencoba menebak keadaan mereka saat ini.
__ADS_1
Rindipun tak tidur, sama seperti dirinya.
“Rin,” Sapanya pelan. Tangan masih berada di atas tubuh istrinya.
“Aku capek kak.” Rindi perlahan memindahkan tangan Linggar dari tubuhnya.
Linggar hanya mampu mengerutkan keningnya begitu dalam. Pikirannya semakin semraut, bagai gulungan benang kusut tak tahu tepinya di mana.
Capek? Lelah?
Alasan klise yang dibuat hanya untuk menghindarinya.
Ia mengerti jika hari ini sangat melelahkan, bahkan iapun sama, capek seperti kata Rindi.
Tapi, keadaan ini seolah menahan dirinya untuk terlelap. Dirinya terlalu banyak memikirkan ada apa, mengapa Rindi menolak sentuhannya.
Kelelahan ini akan sangat mudah mengantarkan mereka ke alam mimpi jika saja tak ada sesuatu yang mengganjal
pada diri, hati dan otak mereka.
Bahkan harusnya malam ini ia mereka bisa tidur hingga siang hari karena aktifitas yang melelahkan di ranjang ini.
Tidur!
Pc, persetan dengan semua ini. Mendengar kata capek dari mulut Rindi mampu membuat tubuhnya berkali lipat
merasakan kelelahan. Atau mungkin kantuk telah di ujung kesadaran.
Berbalik, mengikuti jejak Rindi yang membelakanginya.
“Pagi pak,” Ucap Rindi saat keluar dari dalam kamarnya.
Tak ada yang spesial hari ini. Tak terjadi apa-apa antara ia dan suaminya meskipun berada dalam satu kamar dan satu ranjang sekalipun, kecuali kecanggungan.
Beberapa orang masih terlihat hilir mudik membersihkan sisa pesta kemarin.
“Eh, udah bangun?” Bapak yang sedang duduk bersila di lantai dengan satu unit cobek di hadapannya, lengkap
dengan bahan-bahan yang telah di bersihkan.
Bapak memandang Rindi yang sedang berjalan mendekat dengan tak biasa. Bapak maklum jika putrinya yang sebagai pengantin baru itu, akan menampakkan diri jauh lebih siang. Mungkin kegiatan kemarin akan menyisakan rasa lelah di tubuh.
Terlebih lagi, kegiatan di kamar sebagai pengantin baru akan berlanjut pada malam harinya. Tapi ini masih terlalu
pagi untuk tampil di dapur sebagai pengantin baru.
“Kenapa pak?” Merasa risih dengan pandangan bapaknya.
Di depan kompor ibu yang terlihat sedang memanaskan lauk yang ditinggalkan oleh pihak catering kemarin.
“Suamimu mana? Masih tidur?” Bapak masih menatap lekat pada putrinya.
“Iya pak, kan aku ke sini buat bantuin bikin sarapan.” Sambil mulai melangkahkan kaki mendekat ke arah dapur.
__ADS_1
“Bikin apa pak?” Tanyanya mengalihkan pembicaraan. Rindi tak ingin membahas apapung dengan orang tuanya
perihal pernikahannya dan permintaan konyol kakaknya.
“Biasalah bapakmu itu, gak afdhol kalo makan gak pake sambal.” Bukan bapak yang menjawab, tapi ibu yang mulai
menyalakan kompor gas satunya lagi.
“Apalagi kemarin dapat kiriman terasi kendari dari om Pa’i. Makin semangatlah bikin sambal.” Lanjut ibu.
Rindi tersenyum, setidaknya bisa bebas dari pembahasan tentang ia dan suaminya.
Ibu hanya melirik sebentar ke arah bapak lalu ke arah Rindi yang telah mengambil ancang-ancang untuk ikut berjongkok di dekat bapaknya.
“Jangan duduk Dir!” Perintah bapak membuat Rindi berhenti dengan lutut sedikit di tekuk.
“Kenapa pak?” Tanyanya masih dengan posisi yang sama.
“Kamu ke belakang, ambil buah tomat yang sudah merah.” Bapak sambil memasukkan segenggam cabe merah ke dalam lesung batu.
Rindi berdiri dan berjalan ke arah pintu samping. Sebuah taman kecil hasil kerjasama bapak dan ibu. Di sana sebagian besar isinya tanaman kebutuhan dapur.
Cabe, tomat, kemangi, seledri, bawang merah, bawang putih dan masih banyak lagi tanaman yang berumur pendek.
Hanya sebagian kecil berisikan tanaman hias seperti anggrek yang di letakkan menggantung, Bunga matahari, dan
beberapa bunga dalam pot berukuran mini.
Dengan beberapa biji buah tomat di tangannya Rindi mulai berjalan masuk kembali mendekat ke arah bapak yang
sedang berkonsentrasi mengulek.
“Kok dikit Dir?” Bapak yang menatap sendu pada lima buah tomat yang masih basah berada di dalam wadah kecil.
“Bapak mau buat sambal sekampung?” Rindi yang telah duduk di hadapan bapaknya.
“Banyak. Sana ambil lagi!” Titah bapak yang masih tertunduk fokus dengan ulekan di tangan.
Rindi kembali berjalan ke arah pintu samping, penghubung rumah dengan kebun.
Beberapa saat kemudian, ia kembali muncul dengan delapan buah tomat di tangan, kemudian ke arah wastafel untuk dicuci lalu di serahkan ke bapak.
“Dira, balik lagi!” Ibu yang sedang mengaduk nasi di atas wajan. “ Ambilin daun seledri banyak!” Perintahnya.
“Ada lagi yang mau diambilin di kebun?” Hari ini tugasnya mungkin hanya bolak-balik dapur-kebun.
“Gak ikhlas ya gak usah!” Ibu yang sedang menambahkan beberapa bumbu nasi goreng yang tadinya telah ia
haluskan. Wajah sedikit dibuat cemberut.
\=====
To Be Continued!
__ADS_1
Maaf yah, gak sempat double up.
Kita usahain besok deh!