
Linggar masih terduduk di dekat ranjang Rindi sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.
“Rin, kita nikah ya? Aku takut kamu hamil, kita pasti akan dicemooh orang.” Tuh kan tahu sendiri akibatnya, masih mau bertingkah.
Bangkit dari duduknya hanya ingin mempersembahkan beberapa kecupan di wajah Rindi. Linggar masih bertahan di sana.
“Aku sayang kamu.” Ucapnya lirih tepat di hadapan wajah Rindi. Pucuk hidung saling bersentuhan.
Satu tangannya menggenggam tangan Rindi, Sementara tangan yang lain bekerja mengelus pipi Rindi. Sesekali kecupan di daratkan ke wajah berganti ke tangan yang ia genggam.
Mencoba memberikan ketenangan dan kekuatan kepada kekasihnya. Berharap semua kembali seperti semula. Kebersamaan, kebahagian, serta senyum mereka.
“Aku sayang kamu.” Ucapnya lagi, masih dengan lirih.
Entah berapa ribu kali kalimat itu ia lontarkan. Seperti tak bosan-bosannya.
“Kamu maukan jadi istriku?”
Rindi hanya tersenyum sambil menatap mata sendu kekasihnya itu.
Pria itu seperti berada dalam kubangan penyesalan.
Tapi semua ini berawal dari Rindi. Memang semua ini salahnya.
Ia yang mencoba bermain hati, membangkitkan kemarahan pada seorang Linggar hingga pria itu mampu melangkah melampaui batasannya.
Apakah tak salah jika ia memberikan satu kesempatan pada Linggar? Toh semua sudah terjadi. Beruntung jika Linggar masih ingin bertanggung jawab padanya.
Ia tak lagi bisa mengharapkan pria lain, Pria baik mana yang mau pada gadis sisa pria lain? Bahkan Iqram sekalipun setelah semua kejadian ini.
Rindi mengangguk, menerima semua pernyataan Linggar.
Betapa bahagianya Linggar hanya dengan melihat Rindi yang menggangguk sambil tersenyum. Seperti ia mendapatkan hujan setelah setahun dilanda kemarau panjang.
Setidaknyan Rindi mau jadi istrinya, mau mendampinginya dalam suka dan duka. Setelah itu biarlah ia yang akan memutar otak untuk kehidupan mereka.
Setelah itu wajahnya yang semakin maju, mencoba meraih bibir yang tadi tersenyum untuknya.
“RO MAN TIS sekali.” Diiringi suara tepuk tangan yang memekakkan telinga.
Membuat kedua pemeran utama berbalik mencari sumber suara. Melupakan kegiatan yang hampir saja terlaksana,
namun terhenti karena di sana, di sofa, Kak Reno telah duduk dengan kaki yang menumpu pada kaki lainnya.
“Bagaimana Rindi tidak terbuai dan terpedaya, mulutmu semanis madu tapi tingkah laku sepedis sambal terasi.”
Santai, namun entah mengapa justru terlihat sedikit menyeramkan dan menyakitkan.
Seketika Linggar langsung meneggakkan badannya menjauhkan wajah dari Rindi. Berbalik menatap sang pemilik
suara,
“Mulai berani kamu bertingkah?” Tangan di lipat di depan dada menandakan bahwa ia memiliki kekuasaan di sini.
Kekuasaan pada dua orang yang masih saja bergenggaman tangan.
“Mau jadi suami adikku? Heh, jangan mimpi!”
“Kamu kira aku mau punya adik ipar b3jat seperti kamu?” Dengan lirikan mata yang begitu sinis. “Ogah.”
__ADS_1
“Siapa yang menyuruhmu datang menemui orang tuaku untuk melamar Rindi. Kamu sudah melangkahiku dalam meminta ijin.”
Lalu apa yang harus Linggar katakan untuk membela diri. Pria di sana adalah calon kakak iparnya, kakak kandung wanita yang ia cintai.
Ternyata langkahnya dalam menikahi Rindi tak semulus yang ia perkirakan. Masih ada rintangan yang harus
ia lalui. Meskipun orang tua Rindi telah memberikan restu, ternyata tidak pada pria yang di sana.
“Sini!” Pria di sana memanggilnya, berikut dengan gerakan tangan yang mengibas.
“I-iya kak.” Linggar terbata, namun tetap melangkah mendekat ke arah sofa.
Semua perbuatannya harus ia pertanggung jawabkan. Termasuk kemarahan sang calon kakak ipar.
Duduk di sofa lain dengan menundukkan kepalanya.
Takut?
Entahlah, yang jelas ia harus tetap menghargai pria ini. Biar bagaimanapun, dirinyalah yang salah.
Sangat wajar jika pria ini marah atau membencinya setelah apa yang ia lakukan pada adik dari pria itu.
“Apa yang bisa kamu berikan pada Rindi. Pekerjaan saja belum punya. Uang jajan saja masih minta orang tua
sok-sok-an mau menanggung hidup orang lain.” Reno
Iya, itu semua benar. Ia belum memiliki pekerjaan. Ia yang masih meminta pada orang tua hanya untuk uang
jajan. Lalu apa yang akan ia berikan pada Rindi untuk memenuhi segala kebutuhan Rindi nanti.
Sangat lucu jika semuanya masih ditanggung orang tuanya.
“Kenapa tidak selesaikan kuliah dulu baru melamar Rindi hah?” Ucapnya membentak di sertai gerakan kaki yang
menghentak ke arah Linggar. Tepat mengenai betis Linggar.
Pasti sakit, saat kaki yang berbalut sepatu pantofel itu menendang dan mengenai betis Linggar. Linggar
hanya meringis namun tak berani membela diri.
Kemudian kembali menahan wajah agar tetap tampil seperti baik-baik saja.
Ia terima segala kemarahan, sekiranya itu bisa menebus kesalahannya.
“Apa kamu mau jika ada anggota keluargamu diperlakukan seperti itu hah?” Sekali lagi bentakan yang diikuti dengan tendangan.
Sementara Linggar hanya pasrah. Iya benar, iapun tak kan terima jika ada yang berbuat tak senonoh pada
keluarganya. Tapi sungguh bukan itu maksudnya.
Ia hanya ingin menahan Rindi agar tetap berada di sampingnya meskipun dengan cara yang salah.
Rindi yang masih terbaring di sana tak mampu membelanya. Hanya menatap nanar pada Linggar yang sedang di
sidang oleh kakaknya.
Ingin membela tapi rasa takut juga menghampirinya. Jika saja kakaknya tahu kejadian yang sebenarnya, bukan tidak mungkin ia juga mendapat hukuman dari sang kakak.
“Maaf kak, aku akan......”
__ADS_1
“Akan apa hah? Memangnya dengan maaf bisa mengembelikan semuanya?” Kembali ia mendapatkan tendangan mesra di betisnya untuk ke sekian kalinya.
Bahkan ia tak diberikan waktu hanya untuk sepatah katapun meski hanya meminta maaf. Kini ia sadar, bahwa apapun yang akan ia katakan atau lakukan akan tetap salah di depan pria ini.
Karena kebencian pria itu sepertinya telah merasuk ke dalam dada.
Percuma.
Percuma meminta maaf.
Percuma membela diri.
Diam hanya menjadi temannya saat ini. Satu yang pasti, Rindi dan orang tuanya telah menerima lamarannya. Dan
mereka akan segera menikah.
Masalah pria ini, kakak iparnya. Mungkin ia harus sedikit acuh, agar ketenangan di segala penjuru terjaga dengan
baik.
Tetap saja ucapan calon kakak iparnya itu mengusik hatinya.
Tentang apa yang akan ia berikan pada Rindi? Sementara dirinya kini belum memiliki pekerjaan untuk menghidupi
Rindi.
Hari-hari selanjutnya merupakan hari tersibuk untuk Linggar.
Kuliah, menemani dan mengurus Rindi selama di RS. Juga mengurus pernikahannya dalam waktu kurang dari
seminggu.
Dan mencari pekerjaan tentunya.
Pernah sekali Linggar menemui salah seorang kerabat dekatnya, mengutarakan maksud dengan sedikit memohon agar diberi kesempatan untuk bekerja.
Dengan mengatakan permasalahannya dan menutupi yang harus tertutup. Tak semua orang harus mengetahui aibnya bukan.
Intinya ia akan segera menikah dan menjadi kepala keluarga. Tanpa pekerjaan? Bahkan ia pun ragu.
Meskipun ayah dan bunda mengatakan akan menanggung seluruh keperluannya beserta istri, tapi rasanya tak adil baginya.
Dengan dirinya yang masih di sibukkan dengan acara menyusun skripsi, apakah mampu bekerja sambi kuliah? Lalu
dimana waktunya buat istri? Dan bagaimana jika Rindi benar-benar hamil? Dengan begitu waktunya akan semakin sesak dengan kesibukan-kesibukan.
To Be Continued!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Minta sumbangan likenya dong!
Duh ngantuk.
Ada kopi gak?
Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.
Yah!Yah!Yah!Yah!
__ADS_1
Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.