Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Bertopeng Persahabatan Yang Palsu ( Dikutip dari lirik lagu Cakra Khan - Beloved Shadow )


__ADS_3

“Jadi gimana?” Iqram yang mendapati Rindi sedang menatapnya, namun sangat jelas jika gadis itu sedang termenung atau memikirkan sesuatu.


“Apanya?” Rindi yang bingung dengan judul pembicaraan.


“Pengajiaanya mau ikut?” Pria itu masih menatapnya lekat. Sebuah pengharapan muncul dalam hatinya.


“Emmm, mungkin lain kali ya kak.” Ucapnya sopan, sambil sedikit menundukkan kepala karena merasa canggung.


“Gak usah panggil kakak, kita mungkin setingkat. Ya mungkin juga seumuran.” Iqram masih tetap mempersembahkan senyum indahnya meskipun hati sedikit kecewa.


“I-iya.” Kembali dalam mode salah tinggkah, karena Iqram masih terus memandanginya setiap gerak geriknya.


“Emmmm, nanti aku usulkan pakai masjid besar kampus deh, biar kamu juga bisa ikut tanpa rasa canggung.”


“Gak usah-usah!” Masa iya dirinya dijadikan sebagai alasan hanya untuk mengambil lokasi kegiatan yang ia sendiri


tak tahu menahu tentang itu.


“Gak papa, kan baru mau usulin. Belum tentu diterima juga. Lagian kalau pakai masjid besarkan bisa nampung banyak orang, sekalian biar mahasiswa yang lain juga bisa ikutan.” Iqram yang masih menatapnya sambil  tersenyum.


Jika boleh Rindi protes dengan tatapan pria itu yang selalu menatapnya lama dan terasa begitu dalam. Padahal masih banyak objek lain yang lebih menarik untuk di pandang.


“Emm, makasih. Aku masuk dulu.”


Terlalu lama berada di dekat pria ini bisa membuatnya khilaf, karena jujur pandangan itu sedikit mampu menggetarkan hatinya.


Tidak! Tidak boleh! Ia punya Linggar.


Iqram


Matanya seolah silau dengan sosok gadis yang semakin hari kian menarik perhatiannya. Setiap hari mencari alasan ke fakultas ekonomi hanya untuk melihat sosok yang terlihat selalu bercahaya.


Tak ada yang terlalu mencolok dari gadis itu. Bahkan cenderung pendiam, hanya sesekali terseyum atau tertawa saat bersama teman-temannya. Sosok itu bahkan hampir tenggelam ditengah-tengah kehebohan teman-temannya yang lain. Dan sikap diam itulah yang justru menjadi daya tarik tersendiri bagi Iqram.


Dan saat Fiki bertanya, “Memangnya gak capek, hampir tiap hari cari aku?”


Ia harus jujur alasan yang membuat langkahnya terasa ringan untuk menyambangi temannya itu dengan, “Tuh cewek siapa?”


“Yang mana?” Fiki.


“Yang manis tuh. Pake kemeja biru langit.”


“Oooh, Rindi.” Fika sambil memandangnya yang belum melepaskan tatapannya ke arah yang namanya Rindi.


“Kenapa?” Kemudian kembali memandang Rindi di sebelah sana. Beberapa kali seperti itu, hanya ingin mencari jawaban dari pertanyaan yang kini mengusik hatinya.


“Cantik.” Ucap Uqram jujur 101 %, mungkin telah terhipnotis oleh senyum gadis itu hingga tanoa sadar iapun ikut tersenyum.


“Jangan dia. Dia ada yang punya. Cowoknya lagi KKN, mantan anak basket.”


“Gak gangu cuma ingin cuci mata.”


“Cuci mata hampir tiap hari.” Fiki yang menyenggolnya agar tatapannya berakhir pada cewek manis itu.


“Ya harus biar mata bersih, hati juga bersih.” Pandangan masih belum berakhir dari sosok Rindi.


Seolah alam menyambut dan mendukung langkahnya, saat dirinya sedang berjalan bersama Fiki, gadis itu juga terlihat bersama dengan temannya sedang menikmati hidangan di dalam resto di sebuah mall.


“Fik, bantu dong!” Menarik tangan temannya berjalan mendekat ke sekumpulan gadis di meja sana.


Gadis itu seolah mengubah kepribadian yang dulu pendiam menjadi seorang yang ambisius.


“Dia punya cowok Ram.” Ucap Fiki berusaha menahan langkahnya.

__ADS_1


“Iya, tahu cuma pengen kenal saja. Cepat sebelum mereka pergi.” Tangannya seolah mendapat kekuatan lebih hingga mampu menarik FIki yang sejak tadi menahan langkah.


“Awas jangan sampai terlalu dekat!” Ancaman Fiki yang hanya menguar begitu saja.


“Hai Dini,” Fiki yang ternyata memilih menyapa gadis yang lebih aktif dari pada yang lainnya.


“Hai juga.”


“Boleh gabung gak?”


“Udah duduk juga. Baru minta ijin.” Dini sedikit ketus karena Iqram yang telah mendudukkan diri di sampingnya.


Di kursi sebelah RIndi langsung menundukkan kepala saat melihat Iqram yang telah mendudukkan diri masih tetap dengan senyum yang justru mengganggu buat Rindi.


Senyum yang beberapa hari ini sering ia lihat secara dekat dalam waktu yang mungkin telah terjadwal, yaitu saat ia memarkirkan motor di kampus.


“Oh, ini gara-gara cowok ini nih!” Fiki yang santai namun tertahan karena mendapatkan kode keras berupa tatapan tajam dari Irqam.


“Udah kelaparan banget, kita liat kalian di sini jadi ikut gabung. Gak papakan?”


“Makan aja gak papa, asalkan bayar sendiri.” Ucap Dini acuh.


Nampaknya Fiki tak cukup akrab dengan mereka. Tapi tak apa, hanya ingin kenal tak ada maksud lain. Terlebih Fiki tak hentinya mengingatkan jika gadis manis itu telah memiliki pria spesial, dan nampaknya bukan pria sembarangan.


“Oh, ya kenalin teman ku! Cuman kenalan doang, gak papa kan!” Fiki.


*"Thank’s Fiki! The best!" * Iqram harusnya memberikan sesuatu kepada FIki sebagai pemulus perjalanannya.


Tak ingin menyia-nyiakan waktu Iqram mulai mengulurkan tangan ke arah satu persatu gadis itu. Sengaja memilih


gadis manis itu terakhir agar bisa berdiam disana dengan sejumlah pertanyaan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.


“Tinggal di mana?”


Lalu menundukkan pandangannya.


Mungkin memang menghindar karena baru kenal, atau sekedar menjaga kesetiaan.


Tenang saja, hanya cuci mata kok! Begini juga sudah cukup.


Tapi tidak untuk hari-hari selanjutnya. Karena setelah perkenalan itu justru membuat pria ini sulit untuk memejamkan mata.


Hari-harinya kini dihiasi dengan hayalan tingkat tinggi. Serta menyumbangkan otaknya untuk memikirkan apa, bagaimana dan kapan lagi bisa mendekati Rindi.


Hanya ingin berdekatan, menatap dan mendengar suara Rindi. Itu saja, tidak lebih!


\=\=\=\=\=\=


Beberapa kali pertemuan terjadi antara Iqram dan Rindi, membuat mereka semakin akrab. Jangan pikir itu hanya


pertemuan biasa. Terlalu sering jika di katakan kebetulan.


Yang sebenarnya, Iqram memang sering menunggu kedatangan Rindi di parkiran lalu berjalan bersama masuk entah itu bersama dengan teman yang lain atau hanya berdua.


Meskipun dengan dengan tegas Rindi mengatakan jika ia telah memiliki kekasih tak jadi masalah.


Toh mereka hanya berteman, tak apakan hanya untuk sedikit lebih dekat. Itulah yang terucap di bibir ke duanya, entah bagaimana dengan hati.


Bukankah hati tak bisa ditebak?


Status membohongi hati.  Bertopeng persahabatan yang palsu.


Sudah dua kali Rindipun menerima ajakan dari Iqram untuk ikut pengajian.

__ADS_1


“Rin, kamu gak ada hubungan apa-apakan sama Iqram?” Lilis yang selalu mendampingi Rindi saat bertemu dengan


Iqram.


“Hubungan apa?” Meskipun tahu maksud pertanyaan Lilis namun ia tetap menepisnya, walau hanya sebatas kata.


“Kalian terlalu dekat Rin.” Sedikit penekanan agar Rindi mencoba memperhatikan perkataannya.


“ Ya dekatlah, namanya juga sahabat.”


“Sahabat atau kekasih bayangan?” Skak langsung tanpa embel-embel.


“Kok kamu ngomong kayak gitu sih?” Rindi yang kini memandang sahabatnya itu secara dalam.


“Kalian terlalu munafik kalau dibilang sahabat. Perkenalan kalian itu baru, sangat baru buat dijadikan sahabat. Iqramtuh, suka sama kamu. Dia sering mandang kamu.”


“Ya iyalah mandang, punya mata juga.” Rindi bukannya tak tahu jika Iqram menyukai dirinya sebagai seorang gadis. Namun iapun tak bisa menampik jika ia menyukai Iqram meskipun telah memiliki seorang kekasih.


Toh Linggar tak ada saat ini. Tak apakan jika dirinya sedikit dekat dengan pria lain. Dan status sahabat mampu membuat Iqram tetap berada di sampingnya.


“Sukanya sebagai cowok ke cewek. Seperti kak Linggar sama kamu, bukan sekedar sahabat biasa Rin. Iqram suka


memperhatikan kamu, dari jauh matanya aja udah mandang ke kamu, seperti gak ada objek lain lagi.”


“Rin, ingat kak Linggar!” Lilis sambil menggoyang-goyankan lengan Rindi.


“Iya, aku ingat kok. Aku punya pacar namanya Linggar. Iya ingat—ingat.” Menganggukkan kepalanya berkali-kali.


“Hindari Iqram, sebentar lagi kak Linggar pulang. Akan ada hati yang terluka diantara kalian.”


Hindari Iqram?


Rasanya sulit.


Ia merasa nyama bersama Iqram.


Iqram dengan pembawaan yang tenang hampir sama dengan dirinya. Membuat iapun merasa tenang dan damai ketika bersama dengan pria itu.


Jauh berbeda ketika ia harus berdekatan dengan Linggar, kekasih aslinya.


Linggar yang sedikit pemaksa dan tak tertebak.


Bersama dengan Linggar hampir tiga tahun lamanya, nyatanya tak membuat ia mampu mengenali atau memprediksi Linggar yang sesungguhnya.


Linggar sering membuat hatinya seolah berpacu dengan tindakan-tindakan yang sering tak bisa ia tebak.


Di dekat Linggar, membuat jantungnya bekerja dengan keras.


To Be Continued!


Jangan lupa jarinya di goyang yah!


Minta sumbangan likenya dong!


Duh ngantuk.


Ada kopi gak?


Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.


Yah!Yah!Yah!Yah!


Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.

__ADS_1


__ADS_2