
Seperti biasa Hana akan memilih berangkat ke sekolah dari pada harus berdiam diri di rumah. Tapi Dimas selalu memaksanya agar tetap di rumah saja, karena apa yang terjadi kemarin membuat Dimas emosi. Masih dalam keadaan emosi yang begitu berat.
"Kamu di rumah, kakak gak mau tahu itu."
"Tapi Hana harus sekolah kak, nanti ada ulangan Biologi. Kalau Hana gak ikut, papa sama mama marah sama Hana lagi." Dimas terdiam, ia menoleh ke arah Hana yang menatapnya penuh permohonan.
Apa yang harus Dimas lakukan sekarang? Ia juga tidak mau kalau Hana di sakiti lagi oleh kedua orang tuanya itu, sulit ia harus menerima kenyataan. Ingin membawa Hana pergi sejauh mungkin, tapi bagaimana? Dimas belum mempunyai kekuasaan apa pun dan Dimas baru proses melakukan itu.
Ia akan membangun perusahaan sendiri, ia tidak akan memegang perusahaan papanya. Jika saja Dimas menerima tawaran itu, ia tidak akan mau di tambah lagi Dimas tau bagaimana ujungnya jika terus berada di bawah kekuasaan papanya itu, ia tidak akan bisa membawa Hana pergi, seperti apa yang diharapkan Dimas selama ini.
"Yasudah, tapi jika ada seseorang yang berada di dekatmu menemanimu. Dia teman kakak, dia akan menjaga mu di sekolah."
"Tidak perlu, Hana bisa jaga diri sendiri-"
"Menurut atau tidak sama sekali?" Hana berakhir mengangguk untuk menyetujui tawaran Dimas.
Hari ini tidak ada orang tuanya, atau lebih tepatnya kedua orang tua mereka tengah pergi ke sebuah tempat untuk menyelesaikan masalah. Dimas harap mereka tidak akan pulang dalam waktu dekat ini, keadaan Hana masih tidak bisa memungkinkan.
...•••...
Masuk ke sekolah, sisi kursi samping Hana terisi oleh seseorang. Yang tentu saja Hana tidak tau dia siapa? Dia bahkan tampak ramah kepada semua orang, sepertinya tidak untuk Hana. Gadis itu tidak begitu percaya dengan seseorang.
Hana duduk di bangkunya membuat lelaki tampan itu menoleh ke arah Hana, tersenyum tipis kemudian mengulurkan tangannya ke arah Hana seolah mau kenalan. Tentu saja Hana terkejut akan itu, lelaki itu tersenyum ke arah Hana. Membuat satu kelas menoleh ke arah mereka berdua yang seketika menjadi pusat perhatian.
"Hai, aku Jeffran. Anak baru di sini." Ucapnya dengan senyuman yang sama, Hana hanya mengangguk. Ia tidak mau menyentuh lelaki itu karena ia takut akan berurusan dengan para perundung.
__ADS_1
Di tambah sepertinya lelaki yang baru saja masuk ke kelasnya tampak populer. Bagaimana tidak? Dia bahkan dengan terang-terangan tersenyum ke arah Hana, apa dia tidak tau jika Hana adalah korban bully di sekolahan itu?
"Kenapa kau diam saja? Siapa namamu?"
"Hana, jangan bertanya kepada ku lagi." Ucap Hana dengan kepala menunduk, ia sengaja lebih fokus ke ponsel karena tatapan anak-anak di kelas sudah seperti akan membunuhnya.
Membuat lelaki itu langsung menatap ke segala arah, entah mengapa seketika seisi kelas mendadak memalingkan pandangan ketika lelaki itu menatap mereka semua. Seolah dia tidak akan mengijinkan tatapan itu datang ke arah Hana.
Sampai tidak lama guru sampai membuat semua murid lumayan rusuh hanya untuk duduk ke bangku mereka masing-masing. Jeffran mungkin tidak terlalu terbiasa akan itu.
"Selamat pagi kalian semua, hari ini sepertinya ada murid baru ya." Guru itu melihat ke arah Jeffran, seperti laporan yang sebelumnya di baca wanita paruh baya itu.
"Kamu? Bisa maju sebentar untuk memperkenalkan diri?" Jeffran langsung berdiri tanpa menjawab dan berjalan ke depan, berdiri tepat di depan kelas.
Mungkin ia terlalu mencolok di antara siswa lainnya, tentu saja siapa yang tidak tertarik dengan Jeffran. Wajahnya terlalu tampan untuk di abaikan, sedangkan Hana tidak terlalu memperhatikan keberadaan Jeffran yang berada di depan sana. Ia takut akan banyak hal yang membuatnya hanya diam.
Sedangkan Jeffran selalu menatap ke arah Hana, membuat Anna merasa jika Jeffran menatap ke arahnya. Anna tersenyum ketika ia merasa ketika Jeffran seperti menatapnya padahal tidak sama sekali, lelaki itu menatap Hana karena gadis itu selalu bersembunyi.
"Kamu dari Australia? Kenapa pindah ke sini Jeffran?"
"Orang tua." Semua mengangguk paham ketika Jeffran menjawab singkat tapi begitu ke intinya. Setelah perkenalan lelaki itu langsung melangkah duduk ke bangkunya yang bisa di bilang dekat dengan Hana.
Anna menoleh ke arah belakang ketika Jeffran berjalan ke belakang, Anna sempat tersenyum ke arah Jeffran sebagai sapaan tapi kenyataannya lelaki itu malah menatapnya dengan tatapan sinis dan mengabaikan sapaan Anna.
Duduk di samping Hana, menoleh ke arah gadis itu yang terus fokus ke arah ponselnya. Jeffran merebut ponsel itu, melihat apa yang Hana lihat selama ia berada di depan.
"Lihat apa sih sampai mengabaikan aku terus? Apa aku kurang menarik di mata mu?"
__ADS_1
Anna melihat semua itu membuat gadis itu menggeram marah. Kenapa Hana selalu saja mendapatkan perhatian dari lelaki yang dia suka? Mengapa selalu Hana yang dapat? Anna iri sekali, ia ingin rasanya menyingkirkan Hana dari dunia ini. Sangat ingin, tapi ia juga sadar akan resiko yang harus ia tanggung.
"Pelajaran akan di mulai, semua harap fokus dan jangan mengobrol."
...•••...
Sedangkan di kelas Johan semua orang rusuh di dalam kelas. Tidak ada guru karena guru yang seharusnya mengajar mereka semua tidak berangkat dengan alasan sakit, lantas menjadi jamkos tentu saja.
Menyisakan Johan bersama Satya. Kedua lelaki itu sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Johan melirik ke arah Satya yang sepertinya tengah mengagumi seseorang, tapi apa perdulinya? Itu urusan Satya sendiri dan Johan malas harus berdebat apa lagi mendengarkan cerita kasmaran temannya itu.
Johan dan Satya satu kelompok,bedanya Satya tidak tau siapa Hana yang sebenarnya. Ia hanya tau jika Anna adalah adik kandung dari Dimas, ia mengagumi gadis itu. Mana yang harus di kagumi? Terkadang Johan merasa jika Satya hanya terkena ilmu sihir saja.
"Aku dengar di kelas tempat Anna ada anak baru, angkatan kita bukan?"
"Aku tidak tau." Satya mendengus kesal, ia memalingkan wajahnya dari Johan. Lelaki itu memang pada dasarnya menyebalkan, jangan heran tidak ada yang mau menjadi pasangan pemuda itu yang terlewat cuek.
"Terserah kau saja deh." Johan malah berpikir banyak hal, siapa yang datang ke kelas Hana? Ia khawatir dengan Hana setelah kejadian beberapa hari lalu sukses membuat Johan merasa ia punya sakit jantung.
Tidak beberapa lama jam istirahat pun tiba, semua berhamburan keluar kelas. Tentu saja Johan dan Satya akan keluar kelas juga, berbeda dengan tujuan Satya yang memiliki tujuan mengisi perutnya karena nanti akan ada ulangan harian. Johan justru banyak memastikan, apakah Hana di kelas? Apakah dia baik-baik saja?
Kantin melewati kelas dari Hana berada. Tidak lupa Johan menoleh ke arah sana, melihat Hana yang hanya diam saja sedangkan di samping Hana ada seseorang yang berusaha mengajak Hana berbicara. Tentu saja membuat Johan lantas langsung memalingkan pandangan ketika Hana menatapnya, seolah tertangkap basah pelaku menatapnya.
Satya berjalan santai, tidak menyadari perubahan sikap bahkan raut wajah Johan yang semakin masam.
Sedangkan Hana yang dari dalam kelas melihat keberadaan Johan, mendadak wajahnya merah. Ia ingin kejadian beberapa hari lalu yang di mana Johan secara terang-terangan memeluknya, bahkan memberikannya jaket miliknya sekedar menutupi tubuh Hana, dan lagi yang membuat Hana salah tingkah.
Ketika Johan mengusap kepalanya seraya berkata kata maaf, seolah ia terlalu merasa bersalah akan keterlambatannya.
__ADS_1
'Tidak, dia hanya membantu kakak saja. Tidak lebih bukan? Jangan langsung suka Hana, nanti kamu di sakitin.'
"Hana, ke kantin yok. Apa kamu tidak lapar?"