Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 57


__ADS_3

Theo berangkat ke kampus seperti biasanya, ia berangkat lumayan mepet dengan jam masuk tapi dia masih saja bersikap santai seperti sekarang. Ia menoleh ke arah salah satu kelas, tidak menemukan apa yang dia cari.


'Apa yang kau lakukan, Theo? Ingat, kau bisa siapa-siapa di sini.'


Pria itu berjalan mengabaikan segalanya, ia kembali melangkah sampai langkahnya berhenti ketika ketika seseorang membicarakan sesuatu, tentu saja Theo masih ada rasa penasaran yang tinggi dan dia mencoba mendengarkan apa yang mereka katakan.


"Hana tidak masuk ke kampus lagi, sudah 4 hari lewat yah?"


"Dia kenapa ya? Aca saja tidak tahu, apa lagi yang lain."


"Aku tidak tahu, akhir-akhir ini dia sering menghilang beberapa saat kemudian kembali dengan wajah yang berbeda. Maksud ku seperti kemarin, apa kau lihat? Luka di hidungnya dan juga sudut bibirnya juga robek."


"Memang dia suka tawuran? Secara dia kan adik dari Dimas, ketua Bem sekaligus Ketua dari geng motor Elang bukan?"


"Mustahil, Hana anak yang baik. Dia bahkan tidak seperti kakaknya yang super duper jutek itu."


"Memang sih, semoga saja dia tidak apa-apa ya."


"Benar, aku jadi khawatir dengannya."


Theo hanya diam, sepertinya pembicaraan itu tidak ada kebohongan sama sekali. Sudah tepatnya memasuki 4 hari gadis itu tidak terlihat, bahkan beberapa orang mencarinya dan juga dosen. Hana di butuhkan di kampus, mahasiswa pintar seperti dirinya memang paling di cari. Di tambah Hana masuk organisasi suka relawan untuk membantu pihak berwajib seperti bencana alam atau semacamnya.


Mustahil jika Hana berbuat seperti itu, Dimas. Mungkin pria itu seperti brandal tapi di balik itu dia sayang dengan adiknya itu bahkan seolah tanpa jeda, selalu memikirkan adiknya tanpa henti. Kedua saudara itu baik, sama-sama baik dari sudut pandang yang berbeda.


Tapi pertanyaannya adalah, ke mana Hana sekarang? Tidak ada kabar atau bahkan sebuah ucapan sekalipun. Theo memutuskan untuk pergi ke kelasnya, karena sebentar lagi kelas akan di mulai.


Pria itu berjalan menelusuri lorong kampus, tapi tidak di sengaja Jeffran menabraknya. Membuat Theo terkejut, tapi ia tidak begitu mempermasalahkannya. Tapi bukannya hanya Jeffran saja, bahkan Wildan saja nampak terburu-buru.


Wildan berlari tapi dia di tahan oleh Theo, pria itu bertanya-tanya akan semua keadaan yang membingungkan itu. Tidak bisa dijelaskan, setidaknya berikan dia petunjuk.


"Ada apa? Kenapa kau berlari seperti itu?"


"Kau belum tahu?" Theo menaikan alisnya sebelah menandakan bingung, dia tidak tahu kenapa dan apa yang terjadi sekarang.


"Memangnya ada apa?"


"Hana kritis." Theo terdiam, Wildan berlari melewatinya begitu saja. Pria itu benar-benar terdiam tanpa mengeluarkan satu kata apa pun, ia menoleh ke arah ke mana Wildan pergi.


Sampai pria itu memilih untuk menyusul, ia masa bodoh dengan kelasnya hari ini. Ia berlari kencang ke arah parkiran, bagaimana sekarang? Siapa yang menduga jika semua ini akan terjadi begitu saja.


...•••...


Ia melihat beberapa anggota Veselssolf dan Elang datang, menunggu di ruang tunggu dan jangan lupakan Dimas yang tengah di tenangkan oleh teman-temannya sekarang. Keadaan kacau bukan main, Theo berdiri mematung di sana melihat ruangan yang sekarang tertutup rapat.

__ADS_1


"Tenang lah Dimas-"


"AKU TIDAK BISA TENANG! HANA HAMPIR MATI!-" Semuanya terdiam, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi menurut Bima yang juga menjaga sejak kemarin bahkan dia rela skip kelas musiknya hanya untuk menemani Dimas.


"Semuanya salah ku..." Tidak ada yang menjawab, mereka semua mengerti apa yang Dimas rasakan tapi sampai kapan pun juga mereka tidak akan pernah tahu seberapa sakit Dimas sekarang.


Hancur lagi, pria itu bahkan seolah sudah tidak ada harapan lagi sekarang. Kejadian di mana malam tadi, Dimas hanya pergi sebentar saja itu pun tidak jauh dari ruangan tersebut. Ia sudah bisa berbicara dengan Hana setidaknya beberapa kata ia sudah membuat Hana tahu, jika Dimas tidak akan meninggalkannya.


Tapi setelah Dimas pergi sebentar, dan Dimas kembali. Keadaan Hana sudah sekarat kembali, entah kenapa? Padahal terakhir Dimas menemui Hana itu pun tidak ada 30 menit dan Hana baik-baik saja.


"Theo? Kau di sini?" Dimas menoleh ke arah Theo yang tengah menatapnya dengan tatapan lain.


"Di mana Satya?" Theo menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu di mana Satya dan sedang apa. Walaupun mereka bersahabat dan tengah di landa perang dingin di antara keduanya.


Benar-benar Theo tidak tahu ke mana pria itu berada, bahkan sudah seharian ini Theo tidak melihatnya. Semuanya hanya terdiam, mereka mencoba menghubungi Satya tapi tidak ada jawaban apa pun.


"Aku bertemu dengan Satya kemarin." Ucap Jordan, semua orang menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan. Sepertinya mereka tidak mengetahui apa pun, apa sekarang ia harus memberitahu yang sebenarnya? Atau ia harus sembunyikan demi keselamatan Satya?


Karena dia tahu jika Dimas tengah hilang kendali, semua sudah selesai dalam sekejap di tambah keberadaan Theo sekarang. Mungkin akan menambah bencana besar.


"Di mana dia? Kau bertemu dia di mana?"


"Aku melihatnya di rumah, dan aku juga melihat Anna juga di sana-"


"Iya, apa mereka satu rumah? Atau rumah itu untuk bertiga? Aku sungguh tidak tahu, aku melihat mereka berdua seperti itu sudah sejak kemarin." Ketika kalimat itu berakhir.


Diam-diam Theo mengepalkan tangannya dan kemudian pamit pergi, sedangkan mereka hanya menatap saja dan di sisi lain Surya juga hanya melihat, tapi dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia memilih diam, walaupun sebenarnya ia sudah tahu semuanya tapi dia hanya mau Satya menanggung semua kesalahannya sendiri.


Di sisi lain, Theo benar-benar mengendarai motornya seperti orang yang kesetanan. Masa bodoh dengan nyawanya yang akan melayang karena caranya mengendarai kendaraan sudah seperti akan bunuh diri. Pria itu benar-benar marah bahkan kemarahannya itu tidak ada sebab, ada satu sebab sebenarnya dan itu tentang.


'Dia tidak mau bertanggung jawab, sialan!'


...•••...


Satya masih bersama Anna, mereka sudah seperti pasangan suami istri tapi sayangnya orang yang beranggapan begitu salah besar. Justru mereka tengah menjalani larangan yang seharusnya tidak di lakukan, pria itu tengah makan malam romantis bersama Anna.


Karena Anna yang meminta tentu saja, mungkin sepertinya mood Anna tengah bagus jadi Satya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Di mana ia harus membuat gadis yang dia cintai merasa bahagia di sampingnya, di sebuah restoran yang terkenal mewah. Tentu saja, tidak akan ada yang mengetahui akan itu.


Mereka mengobrol dan melakukan apa pun di sana layaknya pasangan romantis, di tengah mereka tengah menikmati pemandangan. Anna memberikan sebuah kotak kecil kepada Satya.


"Coba kamu buka." Satya kebingungan, ada apa ini? Ia menerima kotak itu dan ragu harus membukanya atau tidak.


"Kenapa? Buka saja, itu kejutan untuk kamu." Satya berakhir membuka kotak itu yang ternyata, ia menatap ke arah gadis itu dan tidak tahu harus berkata apa lagi.

__ADS_1


"Ini serius?"


"Iya, selamat ya sebentar lagi kita jadi-" Belum juga kalimat itu selesaikan olehnya dan seseorang sudah menarik Satya, dan memukul pria itu tanpa ampun.


Anna berteriak histeris karena itu, banyak bodyguard yang mencoba menahan pria itu untuk menghentikan kegaduhan itu tapi sepertinya tenaganya sudah melebihi.


"THEO!" Raga datang dan mencoba membantu bodyguard itu memisahkan antara kedua pria itu, ia menatap ke arah Anna. Ia melihat gadis itu dengan tatapan yang sangat tidak menyangka. Tapi dia tidak memperdulikan gadis itu, dan memilih menenangkan Theo yang sudah terbawa emosi.


Satya mencoba berdiri, ia mengusap darah yang berada di sudut bibirnya. Pukulan Theo memang tidak bisa diremehkan begitu saja, pria itu memiliki tenaga yang kuat.


"Apa maksudmu?!"


"HARUSNYA AKU YANG BERTANYA BODOH! KAU INI PUNYA OTAK ATAU TIDAK?! DAN KAU PEREMPUAN TIDAK TAHU MALU! SAUDARA MU SEKARAT DAN KAU MALAH BERSENANG-SENANG DENGAN SUAMINYA!!! APAKAH ITU PANTAS!? KAU ADALAH MANUSIA PALING HINA KAU TAHU!!"


"TUTUP MULUT LU THEO!!"


"KENAPA! KAU TIDAK TERIMA WANITA SIMPANAN MU AKU HINA?! DI MANA KAU BANGSAT! ISTRIMU SAKIT! KAU MALAH BERSENANG-SENANG DI SINI DI MANA PIKIRAN MU?!!!"


Satya terdiam, ia tidak pernah melihat Theo semarah ini kepadanya dan sekarang ia bisa melihat bagaimana tatapan benci itu melayang ke arahnya sekarang, bahkan Raga sendiri tidak mau membelanya.


"Raga-"


"Aku kecewa dengan mu, kau tahu istrimu hampir saja di bunuh dan di perkosa oleh orang, dan kau di mana?"


Theo melemparkan gelas tepat ke arah mereka berdua, memukul Satya untuk sekali lagi dan bahkan ia berjalan ke arah Anna. Raga? Dia tidak akan menghentikan apa yang akan Theo lakukan, biarkan pria itu memuaskan semuanya amarahnya.


"Saudara macam apa kau ini hah?!"


"AHHK!!"


"Seharusnya yang mati dan mati dalam keadaan kotor itu kau, bukan Hana." Theo tidak pernah bermain tangan dengan wanita mana pun tapi untuk kali ini saja ia tidak akan menahan jiwa kemanusiaannya itu. Ia menjambak rambut panjang Anna dengan kasar, ia bahkan menampar wajah gadis itu tanpa berpikir panjang.


"Sepertinya kau memang kurang puas, kau membuat saudaramu sendiri menderita. Setelah kau merebut Jeffran kau juga merebut suaminya dan setelah itu apa yang akan kau rebut? Nyawanya? Tidak akan pernah aku biarkan itu terjadi, jika saja itu akan terjadi-"


Theo kembali menjambak rambut Anna, bahkan sampai perhiasan rambut itu jatuh begitu saja. Apa perdulinya akan perhiasan itu? Perhiasan itu tidak akan menutupi kebusukan seseorang.


"Kau yang akan aku bunuh terlebih dahulu." Theo menepis kepala gadis itu dan kemudian pergi, semua sudah kacau bahkan tanpa sisa.


Raga masih di sana dan menatap Satya dengan tatapan penuh perasaan kecewa, bagaimana bisa sahabatnya yang begitu baik itu melakukan hal yang sekeji ini? Ia tidak percaya dengan semua ini, tapi ini tepat di depan matanya. Ia melihat sebuah kotak yang berisikan sebuah benda, dan ia melihat jelas apa itu.


Tapi dia tidak memperdulikan akan itu dan segera pergi dari sana tanpa sepatah kata apa pun lagi, ia sudah muak dengan keadaan yang ada dan korbannya adalah perempuan baik seperti itu. Dimana hati mereka sebenarnya?


Theo menaiki motornya lagi dan kembali pergi begitu saja, ia tidak bisa menahan amarahnya begitu saja. Ia tidak akan menerima jika seseorang yang ia anggap lebih dari tempat ia bersinggah di sakiti.

__ADS_1


'Maafkan aku, Hana. Aku melanggar janji ku sendiri.'


__ADS_2