
Anna menatap ke segala arah dengan tatapan yang gusar, keadaan kamarnya sudah seperti kapal pecah. Tidak beraturan begitu berantakan bukan main, ia terus menyakiti dirinya sendiri tanpa sadar bahkan sekarang gadis itu hanya berdiam diri di sudut kamarnya tanpa berniat melakukan apa pun. Darah di tangannya berada di mana-mana, memeluk dirinya sendiri yang terasa menyakitkan.
Mengingat ketika pria itu pergi meninggalkannya hanya demi gadis itu yang sekarat di rumah sakit, seharusnya dia menemani Anna sekarang seperti apa yang dia janjikan kepadanya. Akan menemani Anna selama hamil, tapi mana kenyataannya.
Dia justru meninggalkan Anna begitu saja seperti sekarang, dia tidak bisa di hubungi sekarang. Mungkin karena sibuk mengurusi istrinya itu, Anna terus mengutus gadis itu sampai kapan pun. Ia benci dengan gadis itu, rasa ingin membunuh semakin besar tapi apa lah daya. Dia harus bagaimana lagi?
"Kamu jahat, Satya. Kamu jahat banget..."
...•••...
Gadis itu sudah sadar sejak kemarin hanya saja tenaganya masih belum sepenuhnya pulih, sepanjang hari yang dia lakukan hanya berdiam diri saja meskipun dia sudah di ajak berkomunikasi. Tetap saja responnya hanyalah diam dan tidak melakukan apa pun.
Dokter bilang itu bisa terjadi karena depresi berat sekaligus trauma yang dalam, tidak bisa di obati kecuali suport dari keluarga yang terus menuntunnya sampai sembuh total. Dari mana sembuh dalam arti, semua dari fisik dan mental dia sehat seperti sediakala.
Tapi sepertinya akan rumit, karena beberapa kali Hana juga sering mengamuk tanpa sebab, menangis tanpa sebab, bahkan dia menyakiti dirinya sendiri. Satya yang memang selalu berada di ruangan itu tidak bisa berkata-kata.
Bagaimana semua ini bisa seperti ini? Satya hanya bisa berbuat yang terbaik untuk istrinya, ia tidak bisa membantu lebih selain apa yang di tangani dokter sendiri.
Kedua tangan Hana sengaja di ikat di sisi bangsal agar Hana tidak kembali menyakiti dirinya sendiri, bahkan karena amukan itu Hana menyerah Satya membabi buta pria itu. Ia melihat apa yang ada di depannya adalah orang yang sama seperti yang hendak membunuhnya dan bahkan hampir juga memerkosa Hana.
Tatapan kosong itu membuat Satya kerasa hatinya seperti ada yang menusuk, menusuk dengan tusukan yang dalam tapi tidak ada luka yang membekas atau bahkan darah yang mengalir.
"Kamu butuh sesuatu, sayang? Minum?" Tidak ada jawaban untuk perkataan itu, jawabannya adalah tatapan gusar seperti tidak ada semangat hidup sama sekali. Sampai di mana mata indah itu mengeluarkan air mata membuat Satya terkesiap.
"Kenapa kau di sini? Apa kau akan memukul ku lagi seperti waktu itu? Apa kau juga akan membunuh ku juga? Kamu benci kan sama aku? Seharusnya kamu bunuh aku saja-" Satya memeluk Hana di saat itu juga, membuat gadis itu terdiam tanpa mengeluarkan kata apa pun lagi.
__ADS_1
"Tidak, maafkan aku atas itu. Tapi aku tidak seperti itu, jangan katakan semua itu lagi Hana. Aku tahu aku salah di sini, tapi aku mohon jangan seperti ini." Satya memeluk Hana dengan erat, sedangkan gadis itu hanya diam dan ia mendongak menatap ke arah suaminya itu.
Apakah semua sudah berubah? Apakah doanya sudah di jawab oleh yang ada di atas sana? Sikap suaminya yang berubah dan bahkan ketika dirinya membuka matanya untuk kedua kalinya ia hanya melihat keberadaan Satya saja, dengan Dimas dan kedua mertuanya yang juga menunggu.
Tapi seseorang yang menggenggam tangannya saat itu adalah suaminya, di mana itu tidak pernah terjadi bahkan termasuk hari-hari sebelumnya. Anggap saja Hana masih tidak percaya dengan semua ini, ia senang. Hana senang ketika ternyata Satya sudah menyadari akan kesalahannya.
Gadis itu tidak bisa memeluk Satya, kedua tangannya di ikat tapi ia merasa aman ketika pria itu memeluknya hangat seperti sekarang. Pelukan yang hangat, selain Dimas.
"Jangan katakan hal itu lagi, aku tidak akan sanggup mendengarkannya. Maafkan aku, aku akan berubah dan berusaha berubah."
Hana sebenarnya tidak percaya tapi bagaimana pun Satya yang mengatakan semua itu sendiri, percaya tidak percaya. Hana harus benar-benar mempercayai pria itu bukan? Apakah itu harus? Kesempatan itu ada.
"Akan aku lihat."
...•••...
Menjadi sosok suami yang sebenarnya, tidak seperti sebelumnya. Satya sering memberikan perhatian kepada Hana, selain untuk menyembuhkan trauma Hana yang terbilang lumayan parah, Satya juga melakukan itu untuk membalas semua kenaikan Hana kepadanya.
Tidak ada salahnya, Satya melakukan itu juga atas kemauannya sendiri. Tidak karena ucapan siapa pun, semua itu murni karena dia sudah sadar dan akal sehatnya sudah mulai dia gunakan.
Bahkan sekarang Satya bersih keras untuk memindahkan semua barang-barang Hana ke kamarnya, jadi mereka berdua sekarang satu kamar yang sama. Kedua kalinya Hana harus satu kamar dengan Satya, walaupun sudah menjalani sebuah hubungan suami istri. Mereka baru saja kedua kalinya satu ranjang dan bahkan satu ruangan seperti ini.
Sepulang dari rumah sakit, Satya mengurus semuanya dan tidak membiarkan Hana memegang semuanya sendiri, tidak akan membuat istrinya kelelahan.
Dimas juga menyaksikan perubahan itu, walaupun sejujurnya ia sudah tidak percaya lagi dengan pria itu. Sangat, sekali kepercayaannya di hancurkan maka jangan berharap jika Dimas akan percaya lagi.
__ADS_1
Tapi Satya sendiri yang sudah bersumpah akan menjaga Hana sebaik mungkin, memperbaiki segala hubungan yang buruk itu kembali membaik seperti yang seharusnya. Dimas akan memperhatikan, tetap mengawasi dalam arti ia akan menjadi saksinya.
Dimas mau tidak mau dia harus kembali menyerahkan Hana kepada Satya, tapi sebuah kalimat yang membuat Satya merasa hampir 100℅ akan gagal adalah, di mana Dimas mengatakan.
"Aku akan melihat semuanya, satu kesalahanmu tetap fatal di mata ku. Dan jika kau menyakiti adik ku, maka jangan berharap bisa melihatnya untuk kedua kalinya. Karena aku sendiri yang akan membawanya pergi, sejauh mungkin dari manusia munafik seperti dirimu."
Kalimat itu, jujur saja menyakitkan di dengar. Tapi sekaligus penyemangat untuk Satya, untuk membuktikan apa yang dia katakan akan terjadi. Satya mau memperbaiki semuanya, berusaha dan sampai kapan pun ia akan tetap berusaha.
Seperti sekarang ini, Hana tertidur di kursi sebelah kemudi. Tepatnya pria itu tengah menyetir akan kembali ke rumah mereka berdua untuk menjalani hidup yang baru, yang seharusnya terjadi sejak awal.
Satya fokus menyetir, sesekali ia memperhatikan istrinya yang masih sibuk dengan alam mimpinya. Mungkin karena tidak bisa tidur selama seharian, rasa kantuk pasti akan tetap ada. Satya membiarkan Hana tidur dahulu, ia akan membiarkannya beristirahat.
Sampai tidak beberapa saat mereka pun sampai, gerbang di buka oleh penjaga rumah dan mobil masuk ke dalam bagasi rumah. Satya mematikan mesin mobilnya, ia melepaskan sabuk pengaman yang dia kenakan dan juga melepaskan milik gadis itu juga. Melihat wajah Hana dari dekat, kenapa ia baru sadar jika istrinya sangat cantik jika tertidur seperti ini?
Terlalu memperhatikan dan betah, ia sampai tidak sadar jika ia harus membereskan beberapa barang ke rumah. Pria itu turun dari mobil, membuka sisi pintu yang lain dan menggendong istrinya itu. Tidak terlalu berat menurutnya.
"Ringan, mulai sekarang aku akan merawat mu dengan baik." Ucapnya dengan pelan, ia bahkan mengusap rambut pendek itu dengan penuh penyesalan.
Menyuruh satpam rumahnya untuk membawa barang-barang yang ada di mobil, membawanya masuk ke dalam rumah sedangkan Satya akan membawa Hana ke kamarnya. Kamar mereka berdua yang seharusnya.
"Apa kamarnya sudah di bersihkan?"
"Sudah tuan, kamar lama tuan juga sudah saya bersihkan juga." Ucap maid yang baru saja Satya pekerjakan. Membersihkan kamar lama yang akan di jadikan kamar tamu, sedangkan mengganti kamar lain menjadi kamar utamanya.
"Kamar itu tidak penting, bawa barang-barangnya masuk ke dalam. Aku akan membereskannya sendiri."
__ADS_1
"Baik tuan." Satya masuk ke dalam kamar, melihat pemandangan baru. Ia lumayan lega sekarang, ia berjalan masuk ke dalam dan membaringkan Hana di atas ranjang dengan perlahan seolah tidak mau membuat gadis itu terluka lagi.
Membenarkan selimut itu agar dia tidak kedinginan, memandang wajah yang begitu lugu itu masih terdapat luka di beberapa sisi. Satya hanya terdiam, memikirkan banyak hal.