Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 10


__ADS_3

Hana sedang berada di rooftop, ia hanya ingin sendirian saja. Walaupun ia harus menahan rasa laparnya sendiri seperti saat ini, kedua orang tuanya tidak memberikannya uang untuk membeli makanan dan sedangkan Hana sudah keluar dari pekerjaannya karena papanya yang meminta. Bukan meminta lagi, lebih tepatnya memaksanya untuk keluar.


Gadis itu sebenarnya tidak bisa menahan rasa lapar. Terus memegang perutnya sendiri, terus meronta minta untuk diberikan asupan sampai sesekali meletakan roti dan juga satu kotak susu.


Tentu saja membuat Hana salah fokus dan langsung saja melihat ke arah pelaku yang meletakkan makanan itu. Ternyata dia lagi, baru saja dia pertama kali masuk ke sekolah sudah selalu menganggu Hana. Tidak, Hana tidak terganggu akan kehadirannya. Hanya saja Hana takut jika Anna merasa terancam karena keberadaannya dan ia kembali merasakan sakit untuk sekian kalinya.


"Aku beli itu untuk mu, kamu suka coklat kan? Jadi aku belikan itu untuk kamu. Di makan jangan dilihat saja." Hana menunduk melihat makanan itu dan juga minuman di pangkuannya.


"Makasih, tapi aku gak-"


"Aku maksa sih, sebagai perkenalan kan. Aku gak punya teman di sini, dan kamu teman pertama ku. Lebih tepatnya teman pertama dan sudah lama." Hana menaikan alisnya, ia hanya bingung apa yang di maksud oleh Jeffran tadi. Lama katanya? Mereka berdua sudah lama kenal? Kenapa Hana tidak menyadari apa pun ketika pertama kali baru Jeffran?


"Apa maksudmu?"


"Astaga anak ini, kau tidak ingat aku? Padahal saat aku pergi dan naik mobil kau menangis paling kencang." Hana kembali mengingat, ia memang pernah samar-samar mengingat jika dahulu sempat memiliki teman tapi dia pergi.


"Siapa?" Jeffran menatap datar ke arah Hana, bagaimana bisa gadis ini tidak mengenalinya? Apa wajahnya terlampau berubah atau memang Hana yang pelupa?


"Kau memanggilku, Jeje. Ingat?"


"Jeje?" Sampai Hana sedikit ingat, ia melihat lagi ke arah Jeffran yang tersenyum ke arahnya dan mengeluarkan kalung yang dia pakai. Kalung pemberian Hana 7 tahun lalu, di mana Jeffran ulang tahun dan Hana hanya bisa membelikan kalung dari pedagang depan sekolah dulu karena harganya murah. Lagi pula Hana mengumpulkan uang jajannya hanya untuk membeli kalung itu untuk Jeffran dahulu.


Hana menunduk, menahan air matanya dan memeluk Jeffran secara mendadak. Membuat lelaki itu sempat terkejut, tapi dia segera membalas pelukan teman lamanya itu. Sebuah alasan konyol mengapa Jeffran tadi malah perkenalan seperti seolah tidak kenal.


Tadinya Jeffran hanya mau memastikan jika Hana ingat padanya atau tidak, ternyata tidak ingat jadi lumayan sia-sia ia memberikan kejutan seperti rencana awal.

__ADS_1


"Kamu lama banget perginya." Jeffran tersenyum, membalas pelukan Hana tidak kalah erat. Jujur saja ia menyesal meninggalkan Hana, tapi bagaimana lagi di posisi ia juga di paksa untuk ikut.


"Maafkan aku, aku yakin kau berusaha bertahan tanpa teman? Tapi sekarang ada aku." Jeffran melepaskan pelukan itu dan mengusap air mata dari pipi bulat itu.


Terdapat luka yang samar di sana, beberapa luka lebam yang hampir menghilang. Yakin semua tidak baik-baik saja, sejak dahulu ia tahu semuanya tapi apalah daya Jeffran masih anak-anak. Ia bisa apa dahulu selain mengadu, orang tuanya juga tidak bertindak karena menurut mereka bukan urusan juga.


Tapi kedua orang tua Jeffran sempat akan membawa Hana pergi juga. Namun, mereka merasa tidak ada hak atas Hana. Membuat dengan perasaan terpaksa meninggalkan gadis malang itu harus berjuang sendiri tanpa pendamping.


"Jika ada sesuatu yang terjadi. Bilang kepadaku, jangan sembunyikan apa pun karena cepat atau lambat aku akan tahu semuanya. Mengerti?"


...•••...


Sepulang sekolah, Hana berjalan bersama Jeffran. Lelaki itu memaksa untuk pulang bersama, karena sudah sekian lama bukan? Mereka berdua juga rindu akan momen mereka berdua yang sama-sama sekolah dahulu. Berangkat sekolah bersama, pulang juga bersama, jajan, bahkan main-main di taman jika jam pulang sedikit dimajukan.


"Lama tidak seperti ini ya, pulang sekolah bersama seperti ini." Ucap Jeffran seraya tersenyum ke arah Hana, begitu juga Hana. Ia mengingat dahulu sering lari-lari, karena Hana pada dasarnya ceroboh selalu saja terjatuh.


"Semoga saja kau tidak suka terjatuh lagi, kau terlalu berharga untuk terluka." Hana hanya diam, tersenyum. Lama ia tidak merasakan hal seperti ini, diperdulikan seseorang yang begitu dekat.


Sampai seseorang berlari ke arah mereka berdua, dengan secara tiba-tiba menggandeng lengan Jeffran. Tentu saja keduanya akan mengalihkan pandangan mereka berdua akan objek yang mendadak datang.


"Jeffran, pulang sama aku yok. Lama kita tidak pulang bersama bukan? Sekalian kita main ke cafe, cerita-cerita." Anna datang, bersama dua temannya yang mengikuti dari belakang.


Hana? Dia hanya diam tidak menanggapi apa pun, tidak mau ada yang terjadi lagi. Ia cukup lelah dengan semua ini, bagaimana pun Hana juga bisa merasakan lelah bukan? Hana juga manusia biasa yang diciptakan dengan perasaan.


"Sejak kapan kita pernah pulang bersama?"

__ADS_1


"Kamu kenapa jahat sekali, Jeff? Aku ini teman kamu loh sejak kecil-"


"Kau pengganggu sejak kecil? Apakah itu maksud mu?" Ucapan Jeffran sukses membuat semua orang menatap ke arah mereka, menjadikan sebagai pusat perhatian.


Secara kebetulan Johan berada di sekitar sana dan menyaksikan keributan kecil itu. Ia bisa melihat raut wajah Hana yang terkesan seperti menahan sesuatu, seperti ingin berbicara tapi tertahan. Apa hubungan Jeffran di antara Anna dan Hana? Tampaknya memang sudah saling kenal sejak lama.


"Kamu bicara apa? Kamu jahat banget sama aku, kalau sama Hana aja seperti itu. Kamu di godain sama Hana ya? Apa dia menawarkan tubuhnya kepadamu-"


"JAGA UCAPANMU!" Suara keras itu, semakin membuat semua orang menatap ke arah mereka dengan tatapan bertanya. Semua siswa juga mendengar percakapan mereka yang terbilang keras.


"Jeffran-"


"Dia saudaramu, bagaimana bisa kau berkata seperti itu tanpa berpikir? Ternyata kau tidak pernah berubah, dan ingat. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah tunduk padamu. Sampai kapan pun!" Jeffran menarik Hana agar ikut dengannya dan meninggalkan tempat itu.


Menjauhi Anna yang berada di sana, berdiri menatap ke arah Jeffran. Menatap sekeliling, semua orang menatapnya dengan tatapan yang aneh membuat Anna tidak nyaman sama sekali.


"Bajingan."


"Eh! Anna kamu mau kemana?! Jangan ditinggal dong!" Kedua temannya itu berlari mengikuti Anna yang berlari entah kenapa.


Sedangkan Johan masih di tempat, dan Satya malah bertanya-tanya akan apa yang Jeffran katakan tadi. Suara lelaki itu cukup keras, tentu saja akan terdengar banyak orang.


"Saudara? Mereka berdua bersaudara? Bagaimana bisa?" Satya tidak habis pikir, ia bahkan baru tau jika kedua perempuan itu adalah saudara. Tapi bagaimana bisa? Jika mereka bersaudara, mengapa Anna sering membully Hana tanpa berpikir panjang?


"Kau tahu tentang ini, Johan?"

__ADS_1


"Tidak penting untuk ku."


__ADS_2