
Viola menunggu di depan pintu utama, ia ingin melihat menantu cantiknya itu dan membicarakan kabar baik yang begitu terdengar menyenangkan.
"Bund, jangan berdiri di sana. Mereka akan datang sebentar lagi, Satya bilang dia tengah dalam perjalanan kemari."
"Aku akan menunggu di sini saja, aku mau memeluk menantu ku." Pria itu memaklumi tingkah istrinya itu, ia juga berakhir berdiri di sana menemani Viola yang menunggu kedatangan kedua anaknya.
Tidak lama kemudian sebuah mobil datang dan seperti dugaan jika mobil itu adalah milik putra mereka yang tidak lain adalah, Satya. Via begitu bersemangat, ia menghampiri mobil itu dan ketika Hana keluar dari mobil.
Ia mendapatkan sambutan hangat dari keluarga tersebut, bahkan dalam momen langkahnya itu. Hana di peluk dengan erat oleh Viola, bukan pertama kali memang tapi Hana masih belum terbiasa dengan semua itu.
"Lama tidak melihat mu, nak." Viola terus memeluk Hana bahkan dia mengabaikan anak kandungnya sendiri yang hanya bisa menatap dari kejauhan saja.
Satya hanya diam saja, dia tidak mempermasalahkan kelakuan bundanya itu dan ia memilih bersalaman dengan ayahnya. Mengobrol singkat sembari menunggu kedua perempuan itu selesai dengan urusan mereka berdua. Viola melepaskan pelukannya dan ia agak terkejut, bahkan senyumannya luntur ketika melihat penampilan Hana yang mendadak berubah dalam waktu beberapa hari saja.
"Kamu potong rambut?" Satya langsung menoleh dan melihat ke arah Hana yang hanya diam, dan menjawab dengan anggukan singkat. Tanpa di sadari jika pandangan mereka berdua bertemu, di mana tatapan itu membuat Satya langsung memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Iya, rambut panjang cukup merepotkan untuk di rawat." Ucap Hana, ia memberikan alasan logis agar Viola percaya dengannya. Sepertinya demikian, wanita itu percaya dengan alasannya yang ternyata adalah kebohongan.
"Begitu ya, padahal bagus kalau rambutnya panjang loh. Tapi tidak apa-apa, kamu tetap cantik kok. Ayo masuk ke dalam, bunda masak makanan banyak buat kamu." Wanita itu menarik Hana masuk ke dalam rumah, dengan terpaksa Hana melepaskan topinya dan masuk ke dalam rumah besar tersebut.
Sebenarnya ia sudah biasa melihat rumah seperti itu dan Hana juga pernah tinggal di rumah seperti itu, hanya saja untuk saat ini hawanya berbeda karena di sini lah Hana bisa merasakan suasana yang tidak bisa ia rasakan di rumahnya sendiri.
Entah seberapa bahagianya dirinya sekarang. Sampai tidak bisa di deskripsikan dengan kata-kata apa pun, ingin rasanya menangis sekarang juga karena suasananya. Entah bagaimana Hana harus menjelaskan? Apakah ia harus bersyukur karena mempunyai sebuah keluarga yang menyayangi dirinya atau justru ia harus pergi karena suaminya tidak menganggapnya ada.
"Hana mau makan apa? Biar bunda yang ambilkan."
__ADS_1
"Tidak perlu, aku bisa mengambilnya sendiri."
"Tidak apa, jangan sungkan begitu."
...•••...
Mungkin malam ini adalah sebuah kesialan yang pernah Satya rasakan, ia harus sekamar dengan gadis yang sama sekali tidak ia sukai. Ia menoleh sesekali ke arah Hana yang duduk di sofa, setelah dia mengambil bantal cadangan dan selimut. Tentu saja tanpa sepengetahuan dari kedua orang tua Satya, mereka hanya tahu jika mereka berdua tidur bersama dalam satu ranjang.
Padahal tidak sama sekali, Hana memang lebih suka di sofa dari pada ia harus di ranjang dan membuat Satya tidak nyaman dengan dirinya. Mengalah? Hana sudah biasa mengalah, itu bukan sebuah pengalaman baru.
"Kenapa kau di sana?" Pertanyaan konyol, kenapa pria itu malah bertanya? Bukannya dia sendiri yang pernah mengatakan jika dia tidak akan mau bersama Hana apa lagi tidur satu ranjang berdua.
"Bukannya kamu sendiri yang tidak mau-"
Hana juga hanya melihat Satya mulai berbaring di atas ranjang, membelakangi Hana yang masih duduk di sofa karena ia masih ragu harus melakukan semua itu. Tapi bukannya Satya yang menyuruh? Semua itu bukan atas keinginannya, meskipun Hana sebenarnya tidak ada masalah dengan semua itu.
Mungkin belum merasa ada orang di sampingnya pria itu berakhir menoleh, ia menghadap ke arah Hana yang masih berdiri di sana menatap ke arah ranjang seolah dia ragu melakukan itu.
"Kau tidak tidur?" Hana berusaha berbicara sejujurnya, tapi sepertinya tatapan Satya seolah tidak bisa di ganggu gugat. Berakhir Hana tidak menjawab, ia hanya berdiri di sisi ranjang dan mulai duduk di tepi ranjang dengan perasaan yang campur aduk.
Ini pertama kalinya setelah mereka menikah selama kurang lebih seminggu, tidak pernah Hana satu ranjang dengan siapa pun bahkan sekalipun seorang pria. Ia tidak pernah, sampai gadis itu ragu sendiri padahal dia adalah suaminya.
Satya yang sepertinya sudah jengkel dengan Hana yang tidak kunjung berbaring dan malah sibuk berpikir, dia secara tiba-tiba menarik Hana untuk tidur di ranjang dan dengan posisi kedua tangan Satya memegang bahu Hana. Sekarang seolah pria itu menindih Hana sekarang dan tatapan mereka bertemu beberapa saat.
"Kau keras kepala." Ucapnya dan kemudian dia beranjak dari sana, ia segera berbaring lagi dengan posisi membelakangi Hana.
__ADS_1
Sedangkan gadis itu masih terdiam karena ia masih terkejut, jantungnya seolah tidak bisa di kontrol dengan apa pun. Perlahan ia menoleh ke arah Satya berada, pria itu tidur dengan tenang seolah tidak ada gangguan apa pun.
Hana masih tidak bisa tidur sama sekali, ia mulai membelakangi Satya juga, menatap ke arah sofa di mana seharusnya dirinya berada di sana. Bagaimana jika Anna tahu akan semua ini? Semoga saja tidak, dan lagi pula mana mungkin Satya bilang sendiri jika dia satu ranjang dengan Hana.
Pria itu juga akan menjaga hubungannya dengan baik, meskipun sedikit menggunakan akan kebohongan. Hana juga mengerti, mungkin Satya menyuruhnya bukan karena dia mau menjalani hubungan dengan baik, melainkan karena dia tidak mau jika semua ini ketahuan. Sandiwara ini, akan terbongkar dan percuma saja. Hana juga akan tetap di salahkan dan Hana tidak mau hal itu terjadi.
Gadis itu seolah sudah tidak bisa tidur lagi karena begitu banyak yang dia pikirkan sekarang. Tapi di saat Hana akan menutup matanya dan berusaha untuk tidur, mendadak sebuah tangan melingkar tepat di pinggangnya membuat Hana seketika terdiam. Ia berusaha tetap diam, melirik ke arah bawah dan ternyata itu adalah tangan milik suaminya sendiri.
Hana tidak bisa berpikir, gadis itu berusaha tidak bergerak tapi ia selalu penasaran. Berakhir ia harus menoleh ke arah belakang, benar saja Satya memeluknya dari belakang. Jarak di antara mereka berdua begitu dekat, lumayan agak tidak wajar jika Hana tidak terbiasa dengan semua itu. Mungkin karena ini memang pertama kalinya.
Hana tidak mengeluarkan suara apa pun karena tidak mau mengganggu tidur suaminya itu. Wajahnya begitu tampan saat tidur, pertama kalinya ia melihat bagaimana Satya tidur.
'Tampan.'
Hana meraih wajah suaminya itu, mengusap pipinya yang begitu tembam padahal terlihatnya tirus. Rambut halus itu, Hana menyukai semua itu bahkan alis tebal itu. Ia tidak bisa membayangkan jika setiap hari akan seperti ini, mungkin Hana akan selalu ingin hidup.
Ketika telapak tangan gadis itu masih berada di pipi pria itu, mendadak pergerakan dari Satya semakin mendekat dan pelukan itu semakin erat.
"Jangan ke mana-mana." Ucapnya dengan nada pelan khas suara orang tidur, Hana tidak menjawab dan ia tetap diam tidak bersuara. Ia senang ketika momen ini berlangsung, andai saja waktu bisa di hentikan maka Hana akan terus berada di situasi itu terus tanpa mau membuat waktu berjalan lagi.
"Aku tidak akan pergi, aku janji." Hana memeluk Satya, pria itu tidak bergerak dan justru ia semakin menyembunyikan wajahnya di antara leher istrinya dengan nyaman.
"Jangan pergi."
__ADS_1