
"Aku dengar Satya akan menikah lagi dengan Anna, karena Anna hamil anaknya Satya-" Suara pecahan gelas membuat semua orang yang berada di sana menoleh dengan cepat.
Keberadaan Wildan membuat yang lain terkejut, ada apa ini? Pria itu hanya diam saja tidak mengatakan apa pun sampai di mana Jeffran datang menghampiri Wildan dengan raut wajah khawatir.
"Hey? Kau tidak apa?" Wildan seketika sadar dengan apa yang dia lakukan tadi, dia lantas memungut pecahan gelas tersebut yang tercecer di atas lantai.
Jeffran juga ikut membantu Wildan, karena memang pecahan gelas kaca itu memang lumayan banyak. Ia sesekali melirik ke arah Wildan, memang ada yang aneh dengan pria itu hari ini. Entah apa alasannya itu, tapi ia berfirasat lain dengan itu. Selesai membersihkan pecahan gelas tersebut, mereka berdua sama-sama berdiri dan Wildan yang membuang sampah itu di tempatnya.
Semua menatap ke arah Wildan, ada apa? Mereka bisa bertanya-tanya. Sedangkan Wildan hanya terdiam di sana dan membuang sampah itu, kepalanya masih tidak bisa berpikir setelah ia mendengar semua itu. Seolah-olah kepalanya berhenti berpikir, membeku dan tidak dapat berbicara apa pun.
Sampai di mana Wildan memilih pergi dari beskem mereka, pria itu benar-benar pergi dari sana begitu saja tanpa berpikir panjang sama sekali.
Tentu saja semuanya kebingungan dengan kelakuan Wildan hari ini. Tapi di sisi lain sepertinya memang hanya Jeffran yang tahu keadaan yang sebenarnya, tapi dia tidak bisa berbuat apa pun. Semua sudah terlanjur terjadi, tidak bisa melakukan apa pun karena memang ia tidak berhak atas segalanya. Jeffran hanya berharap jika Wildan bisa menerima keadaan yang sekarang dengan lapang dada.
Tapi tentu saja semua itu tidak akan semudah itu, butuh proses yang begitu panjang untuk melupakan segalanya. Yang sudah membuat hidup seseorang seperti jauh lebih baik, seolah keberadaan kita memang benar-benar di butuhkan di sini. Akan sulit, itu tidak akan mudah.
Wildan masuk ke dalam mobilnya, mengendarai kendaraannya dengan membabi buta tanpa arah. Air matanya menetes, jujur saja ia tidak akan tahan dengan semua ini dan memang Wildan akui ketika ia mendengar kabar itu, belum ada persiapan untuk hatinya. Tapi memang cepat atau lambat ia sudah menduga akan apa yang terjadi, tapi tetap saja Wildan tidak akan siap menerima hal tersebut.
Pria itu menangis, menyetir kendaraan tanpa memikirkan yang lain. Hatinya hancur, benar-benar hancur tanpa sisa sekarang dan ia sepertinya harus membiasakan diri dengan semua ini. Karena Wildan yakin, ini pasti yang terbaik.
Di sisi lain, Anna yanga berdiam diri di dalam kamar. Menatap layar ponselnya yang terdapat gambar seseorang di sana, tebak siapa. Wildan Agraha, pria itu yang akhir-akhir ini membuat Anna merasa jauh lebih hidup dan membuat Anna sadar akan banyak hal.
Jika bukan karena Wildan, mungkin niat buruk yang Anna lakukan akan terus berjalan. Tapi kenyataannya tidak karena pria itu datang dan menghentikan semuanya, ia berpikir memang hanya Wildan yang bisa menuntunnya ke jalan yang benar tanpa harus memberikan apa pun, karena dia kenyataannya terlalu tulus.
Dan dari semua itu perasaan itu mulai tumbuh, mungkin dari kedua belah pihak sudah sama-sama merasakan semua itu bahkan termasuk Anna sendiri. Perempuan itu jujur tidak menerima keputusan kedua orang tuanya, ada dua alasan mengapa Anna menolak dan terus membantah.
Alasan pertama adalah ia sudah tidak mau mengusik kehidupan Hana yang sudah mulai baik-baik saja, ia sudah mulai terbiasa dengan kehidupannya dan mulai berdamai dengan keadaan. Alasan yang kedua adalah, dia mencintai Wildan.
__ADS_1
Tapi sepertinya alasan apa pun itu tidak akan berlaku untuk apa pun, ia tidak bisa melakukan apa pun karena Anna tidak mau jika ayahnya melakukan sesuatu kepada calon anaknya. Anggap saja pria itu sudah gila, dia mengancam Anna untuk menikah dengan Satya dan memanfaatkan situasi yang ada. Jika Anna tidak melakukan semua itu, maka anak yang Anna kandung akan menjadi korbannya.
Hati ibu mana yang tidak hancur ketika anaknya menjadi bahan taruhan seperti itu. Jujur saja Anna kecewa dengan ayahnya sendiri, dia bahkan tanpa berpikir panjang mengatakan semua itu. Ayahnya memang sudah gila sejak awal, dia bahkan sudah menghancurkan kehidupan kembarannya dan kakak laki-lakinya. Bodohnya Anna baru sadar sekarang.
Perasaan benci dari Anna bukannya berasal dari dirinya sendiri, Anna tidak tahu apa pun saat itu tapi ketika melihat Hana mempunyai banyak teman apa lagi saat itu Jeffry memang sahabat Hana dari kecil, membuat Anna cemburu.
Dan Stella membuatnya membenci akan keberadaan Hana, niat itu lah yang membuat Anna tidak mau melihat bahagia karena termakan omongan. Anggap saja Anna memang bodoh, tapi kenyataan memang begitu, mau bagaimana lagi?
Sekarang, Anna di kurung di dalam kamarnya karena mereka takut jika Anna melarikan diri sebelum pernikahan di mulai nanti. Acara akan di adakan setelah perceraian Satya dan Hana selesai, sekaligus resmi.
"Maafkan aku... Maafkan aku karena bodoh tidak bisa melakukan apa pun..." Tangisannya tentu saja akan terlihat jelas, perasaan bersalah yang terlalu besar bahkan sampai sekarang.
"Maafkan aku..."
...•••...
Tapi langkahnya tertentu karena seseorang memeluknya dengan erat dari belakang, suara tangisan terdengar menusuk indra pendengarannya. Bahkan air mata itu membuat bahu Hana terasa basah, perempuan itu menoleh ke arah belakang dan Satya benar-benar menangis.
Pria itu tidak mau melepaskan pelukannya, seolah ia tidak mau jika Hana pergi meninggalkan begitu saja. Anggap saja Satya adalah seseorang yang terlalu egois sekarang, Hana juga sudah mengetahui akan rencana pernikahan itu yang akan di adakan setelah perceraian mereka berdua sudah di nyatakan resmi nanti.
Hana melepaskan tangan Satya dari perutnya tapi pria itu tidak mau, dia terus menangis dan menggelengkan kepalanya seolah itu adalah sebuah penolakan.
"Satya, lepaskan-"
"Tidak, aku tidak mau melepaskan kamu jangan pergi aku mohon..." Hana terdiam, sejujurnya Hana juga tidak mau melakukan semua ini.
Tapi di sisi lain ia sudah terlalu lelah dengan semua kejadian ini, cobaan yang seolah tidak ada hentinya terus datangan. Itu membuat Hana merasa muak, anggap saja jika mereka berdua bukanlah jodoh.
__ADS_1
"Aku harus pergi-"
"Tidak! Tetap di sini aku mohon..." Hana menangis dalam diam, ia tidak menyadari jika Satya menatapnya dengan tatapan pedih. Seandainya waktu bisa di ulang, maka Satya akan melakukan yang terbaik disaat itu juga. Maka dari itu kejadian ini tidak akan pernah dia alami.
"Aku mohon, Hana..."
"Tapi-"
"Jangan pergi, aku membutuhkan sekarang dan selamanya. Jangan pergi dari ku, aku tahu kau sedang hamil anak ku jadi jangan pergi..." Hana hanya diam, memikirkan apa yang Satya katakan.
"Ini bukan anak mu."
"Itu anak ku, Hana-"
"AKU BILANG INI BUKAN ANAK MU! INI ANAK KU!" Satya lagi-lagi tidak bisa mengatakan apa pun, pria itu perlahan melepaskan pelukannya membuat Hana merasa jika dadanya seperti di tusuk ribuan jarum. Tapi ia tetap bertahan dengan pendiriannya dan tidak menangis di depan Satya seperti orang bodoh.
"Apa maksudmu-"
"Kau yang bilang sendiri jika aku adalah wanita murahan, baiklah. Aku sudah menurutinya, aku bukan perempuan baik-baik dan anak ini bukan anak mu. Kau sudah puas? Selamat tinggal." Hana pergi begitu saja meninggalkan Satya yang masih berada di sana dengan perasaan yang campur aduk.
Ia hanya bisa menatap kepergian Hana tanpa melakukan apa pun, atau bahkan berusaha seperti beberapa detik yang lalu. Sedangkan perempuan itu berjalan keluar dari gerbang, dia masuk ke dalam mobil itu dan membuang nafas panjang.
Pria di kursi pengemudi menoleh ke arahnya, melihat bagaimana Hana berusaha menyembunyikan perasaannya yang hancur, berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya dari orang lain. Ia hanya diam di sana, sampai di mana Hana menoleh ke arahnya.
"Kenapa tidak jalan?"
"Apa kau baik-baik saja?" Hana hanya diam, dia kembali mengalihkan pandangannya ketika pertanyaan itu melayang ke arahnya.
__ADS_1
Sedangkan Johan masih menatap ke arah Hana dengan tatapan lain, sampai di mana sudah menyerah. Hana tidak akan mengaku, walaupun orang lain sudah bertanya ribuan kali kepadanya. Johan kembali menarik pedal gas dan kemudian mereka berdua pun pergi dari sana tanpa sepatah kata apa pun lagi.