
"Istirahat lah setelah ini-" Ketika Theo hendak akan pergi, tiba-tiba saja ia merasa seseorang memegangi ujung hoodienya membuat pria itu menoleh dan ternyata pelakunya adalah Hana. Theo tidak bertanya atau mengatakan sesuatu sampai di mana gadis itu mengatakan sesuatu.
"Terimakasih..." Nada pelan sekaligus halus masuk dengan sopan ke indra pendengarannya, Theo tidak menjawab. Dia hanya mengangguk sekilas, tangannya mengusap kepala gadis itu dengan pelan dan kemudian membawa kotak obat itu pergi, bersamaan dengan Theo yang keluar dari UKS tersebut.
Hana hanya berdiam diri di sana tanpa melakukan apa pun, ia menatap ke arah semua luka yang dia peroleh sendiri dan hanya bisa merasakan semua itu tanpa protes sama sekali. Ia sudah terbiasa hidup seperti ini, walaupun dalam waktu singkat kemarin hidupnya sedikit berwarna karena seseorang yang dirinya cintai dan sekarang sudah musnah.
Semua orang membenci Hana karena kesalahpahaman yang menyebar luas, seandainya saja mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa mereka akan tetap memperlakukan Hana sebagai iblis pembunuh? Atau yang lain?
Gadis itu menoleh ke arah pintu UKS di mana di sana ada seseorang yang berdiri di sana. Gadis itu hanya berdiam diri, ia mengira akan mendapatkan sebuah pukulan atau bahkan makian. Tapi sepertinya dugaannya salah ketika seseorang itu memeluk Hana dengan erat, suara isakan yang tertahan membuat Hana merasa kebingungan.
Dia memeluk Hana dengan erat, ia bahkan terus mengatakan sesuatu yang Hana tidak paham sama sekali. Ada apa dengannya? Kenapa dia seperti ini?
"Ayu-"
"Maafkan aku, aku tidak bisa membelamu. Tapi percayalah." Ayu melepaskan pelukannya, dia mengusap wajah sahabatnya itu dengan perlahan. Ia merasa bersalah karena luka yang berada di wajah cantik itu itu kembali muncul.
"Aku percaya jika kamu tidak melakukan hal keji itu, aku percaya sama kamu. Jangan khawatir, aku akan mencari kebenarannya. Sabar sebentar ya..." Hana menangis, gadis itu mengangguk.
Hana pikir sudah tidak ada yang percaya dengannya dan kenyataannya ia salah, Ayu percaya dengannya. Ia tidak bisa berkata apa pun kecuali menangis seperti sekarang, Hana memeluk Ayu dengan erat. Mengatakan sejuta terimakasih kepada gadis itu karena sudah memberikan kepercayaan itu.
__ADS_1
Ayu juga yakin, jika peristiwa itu bukan karena Hana. Pasti ada masalah lain atau bahkan teori lain yang membuat kejadian itu seolah adalah kesalahan Hana, padahal tidak sama sekali. Hana tidak mungkin melakukan itu, jangankan berpikir membunuh temannya. Hana membentak teman saja tidak pernah, bagaimana caranya mereka begitu mudah percaya dengan rumor tidak benar itu?
Di luar UKS ada seseorang yang hanya melihat, kedua tangannya mengepal kuat seolah tidak menerima semua fakta yang menjerumuskan sahabat. Jujur saja, ia tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ia mengenal Hana bukan 1 atau 2 hari saja, melainkan hampir 1 tahun lebih.
Bagaimana bisa ia percaya dengan rumor tidak benar itu begitu saja? Walaupun ia mendengar akan banyak ucapan orang yang seolah menjerumuskan. Tapi apakah ia akan percaya? Tentu saja tidak, jangan berharap dirinya akan percaya sebelum ada buktinya langsung.
Raya, tidak akan percaya dengan rumor murahan itu begitu saja. Walaupun dua orang melihat kejadian itu berada di atas rooftop gedung bisnis, mereka mana tahu apa yang terjadi di atas sana? Mereka hanya melihat Aca jatuh dan melihat Hana berada di atas sana. Menganggap jika Hana lah yang melakukan aksi pembunuh tersebut.
'Aku akan mencari kebenarannya, aku tidak akan percaya sebelum aku melihat semuanya sendiri.'
Ia menoleh ke arah Hana, keadaannya memang kacau. Ia sengaja tidak menolong Hana karena ia melihat semua orang nampak memperhatikan, tapi ia akan melakukan sesuatu tanpa harus orang mengetahui ini semua.
Sedangkan di sisi lain, Satya berjalan ke arah ruangan yang di duga adalah kelasnya. Ketika ia hendak masuk, seseorang menariknya dan langsung memukulinya dengan brutal tanpa ampun. Membuat Satya terkapar tidak berdaya karena tidak mendapatkan ruang untuk bernafas. Ia melihat jika pria di depannya menahan amarahnya, terlihat tatapan bencinya itu.
"Suami macam apa kau bangsat?! Kau menelantarkan istrimu!" Ucapnya dengan keras membuat semua orang seketika menjadikan mereka berdua menjadi pusat perhatian.
Theo sudah kehilangan kendali, yang lain juga berusaha menghentikan aksi Theo itu tapi tenaga pria itu seolah mengalahkan mereka semua atas segalanya. Theo tidak melepaskan cengkraman yang dia lakukan, tidak akan melepaskan Satya sekarang.
Ingin rasanya dirinya membunuh pria itu sekarang juga dan memenggal kepalanya, tapi apa boleh buat. Jika saja Theo melakukan itu, akan ada seseorang yang akan secara perlahan membenci dirinya. Theo tidak mau itu, ia hanya mau membantu dan menyadarkan walaupun dirinya sendiri masih dalam keadaan setengah sadar.
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu, Hana adalah urusan ku."
"Urusan mu? Mana janji yang kau ucapkan bodoh?! Mana?!" Saat itu datang Surya, Bima dan juga Wildan. Mereka menarik Theo untuk menjauhkan pria itu dari Satya.
Tapi kenyataannya mereka tidak akan bisa mengerti mengapa Theo sampai seperti ini hanya karena seorang gadis, Theo di ajarkan untuk menghargai seorang wanita dan apa lagi gadis itu adalah satu-satunya yang paling ia cintai. Anggap saja Theo tidak menerima kenyataan jika ternyata pujaan hatinya adalah milik orang lain.
Wildan menahan Theo bersama dengan Surya dan sedangkan Bima menolong Satya untuk berdiri kembali, Theo sudah seperti kesetanan sekarang. Dia terus memberontak.
"Bawa Satya ke UKS, aku akan mengurus Theo." Bima hanya mengangguk menurut saja, membawa Satya ke ruang kesehatan untuk di obati. Padahal kejadian itu hanya memakan waktu 2 menit tapi lihatlah keadaan Satya sudah seperti di kroyok 20 orang. Jangan bermain-main dengan Theo, pria itu seram meskipun dia banyak diam.
Sedangkan Wildan mencoba menenangkan Theo, pria itu nampaknya sudah muak dengan keadaan yang tidak pernah berpihak. Wildan mengerti, mungkin karena kejadian kemarin memang menghancurkan segalanya meskipun Wildan sendiri masih tidak percaya dengan semua itu. Jujur saja, ia masih tidak terima kenyataan.
"Tenang lah, Theo." Theo tidak bisa mengatur emosionalnya sendiri, sebenarnya sudah kedua kalinya ia seperti ini. Itu pun hanya karena satu orang yang di mana pria itu sangat tidak rela, bagaimana cara mengikhlaskan?
Theo sudah berusaha melakukan semua itu bahkan sampai dirinya melupakan dunia ini, tapi kenyataannya orang yang ia percaya tidak melakukan apa yang ia katakan. Siapa yang tidak akan marah dengan itu? Seseorang yang kau percaya kenyataannya mematahkan semua kepercayaan mu dalam waktu singkat, di mana kebahagiaan belum tiba, dia sudah menghancurkan segalanya.
Ingin rasanya ia menghancurkan satu gedung, tapi apalah daya Theo tidak bisa melakukan itu. Surya hanya bisa melihat, walaupun ia sudah tahu.
"Kenapa kau menjadi seperti ini? Atau hanya karena seorang gadis membuat mu berubah?" Theo seketika menatap ke arah Surya dengan tatapan datar tidak terbaca apa yang ingin dia katakan.
__ADS_1
"Lebih baik aku berubah karena seorang gadis, dari pada aku munafik seperti dirimu. Menyingkir!" Theo mencoba berdiri dan kemudian masuk ke dalam kelas. Bersikap seolah tidak ada yang terjadi.