
"Sepertinya kita akan jadi teman satu kamar ya, Jeano." Tidak ada jawaban atau sautan dari kembarannya. Dia nampak sibuk dengan barang-barangnya sendiri, tanpa menghiraukan yang berada di sekitarnya.
Jack hanya melihat seraya membuang nafas panjang, meskipun ia sudah terbiasa di acuhkan. Tapi tetap saja hal yang seperti ini ia kurang suka, terkadang ia ingin protes kepada Jeano.
Kenapa dia selalu diam? Bersikap seolah tidak memperdulikan sekitarnya dan akan lebih sibuk sendirian ketimbang bersama orang lain? Itu membingungkan, Jeano bisa betah sendiri sedangkan Jack tidak akan betah akan kesunyian. Dia takut akan kegelapan dan juga suasana sunyi, benar-benar takut.
Ketika seseorang tiba-tiba saja masuk membawakan peralatan menggambar milik Jeano, dia hanya menatap dan sesekali membantu membawa barang yang sudah di bawa.
"Apakah sudah semua tuan muda?"
"Sudah, pergilah." Pria itu pun pergi setelah mendapatkan perintah, seperti itu lah kehidupan.
Jeano menutupi kanvas yang dia tutupi dengan kain, tapi entah lukisan apa itu Jack tidak pernah tahu. Karena memang Jeano sering mengerjakan proyek menggambarnya sendirian, maksudnya tidak ada siapa pun.
Ketika Jack datang dia akan berhenti melukis dan bergantian dengan melakukan kegiatan yang lain, siapa yang tidak penasaran dengan benda besar itu? Jack bahkan ingin mencuri kanvas itu saja, dan melihat hasil lukisan kembarannya saat ini.
Nyaris saja Jack akan mendekat ke arah lukisan dengan niatannya itu, tapi Jeano sudah berdiri di depannya menghalangi langkahnya dengan cepat. Dia menatap kembarannya dengan tatapan bertanya, ia tahu mengapa Jack seperti ini? Rasa penasaran membuatnya seperti ini.
"Apa yang kau lakukan?"
"Apakah aku salah jika hanya melihat lukisan mu? Aku juga mau lihat, pasti sangat mengagumkan." Jack hendak meraih kain hitam itu, tapi lagi-lagi Jeano menahannya untuk sekian kalinya.
"Aku bilang tidak, apa kau punya telinga?"
__ADS_1
"Kau tidak melihat kedua telinga ku ini? Apa kau buta?"
"Lupakan saja, pergi ke ranjang mu dan jangan usik barang-barang ku." Jeano mengambil handuk dan akan pergi ke kamar mandi, tentu saja untuk membersihkan diri setelah hampir 5 jam perjalanan menuju rumah baru mereka sekarang.
Jack hanya diam saja ketika Jeano melewatinya begitu saja, memangnya sepenting itu kah lukisan itu sampai Jack saja tidak boleh lihat? Mungkin memang sepenting itu, Jack hanya perlu mengerti saja. Tapi kurang apa Jack mengerti akan keadaan yang Jeano alami? Perasaan selama ini Jack selalu mencoba memahami posisi Jeano, tapi dia saja yang tidak pernah menghargai akan semua itu.
Apakah Jack juga salah? Mungkin memang privasi, semua orang membutuhkan privasi di dalam kehidupannya. Tidak seharusnya Jack sepenasaran dengan rahasia seseorang sampai seperti ini, tidak baik sama sekali.
Tapi Jack masih penasaran dengan lukisan yang kembarannya buat itu, ia terus menatap ke arah kanvas berkain hitam tersebut. Karena ingin membuang perasaannya yang terlalu kuat itu, Jack memutuskan untuk keluar kamar saja. Membiarkan Jeano sendirian seperti biasanya, mungkin dia akan tidur setelah mandi karena memang sudah malam.
Angin balkon berhembus lumayan kuat, tapi tidak begitu kuat juga dan tidak terlalu pelan. Hembusan angin yang membuat kain hitam itu sedikit terbuka, memperlihatkan sebagian kecil dari lukisan tersebut yang memiliki warna terang.
Jack menuruni anak tangga dan menemukan banyak orang di sana, banyak yang tengah menata barang-barang yang di bawa. Ia melihat bundanya tengah memasak di dapur dan sedangkan ayahnya tengah menelpon seseorang di luar sana, dan juga jangan lupakan tantenya yang tengah sibuk dengan acara menulis novelnya itu.
"Tante sedang mengetik buku lagi ya? Padahal buku tante sudah banyak, kenapa buat lagi?"
Jihan menoleh ke arah suara dan kemudian tersenyum, dia menunjukan hasil karyanya selama 4 bulan itu. Hampir satu tahun ini ia tidak membuat tulisan lagi karena ia terlalu lelah akan kuliahnya saat ini, tapi yang namanya hobi siapa yang mau menghentikan? Tidak akan bisa.
Mungkin itu yang membuat Jack bertanya-tanya sekarang, seolah Jihan tidak ada lelahnya sama sekali akan semua ini. Mengerjakan banyak tugas, bahkan membuat banyak hal untuk penilaian, dan harus membuat buku yang tidak tahu kapan selesainya.
"Dengarkan aku, Jack. Aku menulis buku karena aku suka, tidak ada yang bisa menghalangiku jika aku bisa. Jadi kamu harus bisa melakukan apa yang kamu suka selagi tidak menganggu orang lain atau bahkan merugikan, lakukan yang bermanfaat. Lagi pula, buku yang tante buat banyak pelajaran hidup. Tante juga berusaha membagikan ilmu di sini, di dalam buku ini. Hobi mu harus bermanfaat untuk orang lain, karena kita manusia itu saling membutuhkan."
Jack memang tidak terlalu paham akan semua cerita yang dikatakan oleh Jihan, tapi ia sudah lumayan paham dengan apa maksud dari pembicaraan Jihan itu.
__ADS_1
Ia mulai memahami semua itu dengan perlahan, seraya menatap ke arah layar laptop itu. Mungkin memang benar apa yang dikatakan tantenya itu, hobi seseorang juga harus bermanfaat bagi orang disekitar kita. Jika memang menurut orang tidak berguna, setidaknya hobi yang kita punya tidak merugikan orang lain. Sudah seperti itu saja, tidak ada yang rumit di sini. Tergantung orangnya saja sebenarnya.
"Begitu ya, jadi harus bermanfaat. Seperti makan masakan bunda yang enak itu? Itu bermanfaat kan tante? Menghabiskan makanan yang di masak bunda membuat bunda senang, apakah makan juga hobi?" Jihan tertawa ketika mendengar ucapan Jack yang terdengar seperti lelucon itu.
"Tidak, bukan itu maksud ku. Makan bukan hobi, tapi itu kebutuhan yang di butuhkan mahkluk hidup seperti kita ini." Ucapnya seraya mencubit pipi gembul keponakannya itu.
Jihan terkadang merasa jika cara berpikir kedua anak itu mirip dengan Hana, sekilas mirip dengan Johan, dan wajah mirip dengan Satya. Mungkin karena memang mereka berdua adalah anak dari Satya bukan dari Jihan, tapi sikap yang Jeano tunjukan sangat mirip dengan Johan.
Terkadang Jihan banyak berpikir akan banyaknya teori itu, terkadang pikirannya menjerumus ke satu arah yang seharusnya tidak ia pikirkan. Sangat tidak sopan sekali, tapi selagi tidak ada yang tahu kenapa tidak?
"Kalian membicarakan apa? Ayo makan malam sebelum kalian istirahat, yang lain juga makan ya." Hana memanggil banyak orang untuk segera makan malam, wanita itu berjalan menghampiri suaminya itu.
Sedangkan Jack hanya melihat saja seraya ia melihat pekerjaan yang Jihan kerjakan itu. Tidak tahu dan tidak paham, tapi ia hanya suka saja melihat orang bekerja seperti ini. Jack jadi ketularan lelahnya.
"Jack? Di mana saudaramu?" Hana tiba-tiba saja bertanya kepadanya, itu juga mengundang perhatian Jihan dan juga Johan.
"Dia sedang mandi, bunda. Mungkin sebentar lagi dia akan turun ke bawah-"
"Aku memang sudah ada di sini, kalian saja yang tidak menyadari." Jeano berdiri di sana, semua orang menatapnya penuh dengan keterkejutan. Sejak kapan dia berada di sana? Bahkan Jihan sendiri tidak tahu kapan Jeano berada di sana.
"Sedang apa kau di sana?"
"Hanya melihat semua orang sibuk dengan dunianya sendiri. Apa aku benar?" Ucapnya seraya menuruni anak tangga dan tatapannya tepat ke arah semua orang, tidak ada yang tertinggal satupun. Dia memang masjid kecil, tapi tatapannya yang seolah mengintimidasi membuat semua orang tidak berani menatapnya balik.
__ADS_1
"Ayo makan, nak. Setelah itu istirahat lah dengan nyenyak." Johan menggandeng anaknya itu ke ruang makan, sedangkan Jack di senggol oleh Jihan agar segera cepat ke meja makan sebelum kepala keluarga itu mengamuk.