
Dimas memutar arah di mana ia melihat adiknya sendirian di halte tadi, ia sudah mengantarkan Key kembali ke rumah seperti permintaannya. Pria itu tidak bisa berpikir jernih, mengapa sejak dari tadi saja ia menghampiri gadis tadi. Hujan lebat semakin menerjang, tidak dapat di prediksi.
Ia menuju ke halte tadi dan tidak ada siapa pun di sana, tidak ada yang dia cari dan gadis itu tidak ada. Tersisa beberapa orang saja yang menunggu bus terakhir datang.
"Mungkin dia sudah pulang." Dimas pun melaju ke arah apartemen, ia yakin jika Hana sudah pulang karena ia tidak melihat gadis itu di halte seperti tadi.
Tidak begitu lama ia sampai di gedung apartemen, memarkirkan kendaraannya dan kemudian ia pulang kembali ke apartemennya. Menaiki lift untuk ke lantai yang di tuju dan belum lagi ia harus berjalan melewati beberapa lorong gedung. Pria itu yakin jika adiknya sudah pulang, walaupun gadis itu tidak menjawab telponnya.
Pria itu menempelkan kartunya ke alat sensor membuat pintu terbuka, ia pun segera masuk ke dalam. Tapi tidak ada suasana jika ada seseorang di dalam sana, Dimas memeriksa ke arah meja makan yang masih terdapat makanan dingin yang sama sekali tidak ia sentuh.
Dimas berlari ke arah kamar adiknya, agak mendorong pintu itu dengan kasar dan keadaan kamar masih gelap bahkan cahaya bulan yang menembus menerobos korden putih membuktikan jika tidak ada orang di sana.
"Tidak ada di sini?" Dimas menutup pintunya lagi dan memeriksa kamar mandi yang letaknya pojok apartemen. Tidak ada siapa pun di sana bahkan lantai saja kering.
"Kemana kau sialan?" Dimas mencari nomor kontak adiknya dan mulai menelpon ke nomor tersebut berharap gadis itu akan mengangkat telponnya. Namun, kenyataan salah di mana panggilannya tidak di jawab sama sekali.
Dimas frustasi dan ia kembali keluar apartemen, memeriksa keadaan yang ternyata tidak ada siapa pun di sana kecuali dirinya sendiri.
Pria itu panik sekarang, padahal ia jelas melihat Hana berada di halte tadi. Duduk diam, bagaimana Dimas tahu? Karena pakaian yang Hana kenalan adalah pakaian yang Dimas hadiahkan saat gadis itu ulang tahun.
"Kemana kau Hana?"
...•••...
Thoe menatap ke arah ponsel yang terus berdering dan hanya melirik tanpa ada niatan mengangkat sama sekali. Ia juga tahu itu adalah Dimas, tapi yang menambah membuatnya jengkel adalah di mana pria itu lebih mementingkan kekasihnya ketimbang adik kandungnya sendiri.
Siapa saja akan membenci Dimas apa pun alasannya. Walaupun Theo akui jika pria itu yang selama ini menolong Hana, tapi apakah setelah itu dia membiarkan adiknya terlantar di halte seperti itu.
Suara pintu terbuka membuat Theo seketika langsung mengalihkan pandangannya dan menghampiri dokter yang baru saja keluar bersama perawat yang juga seperti membawa sesuatu.
"Bagaimana keadaannya?" Theo hanya tidak sabar, ia tidak mau jika Hana kenapa-napa di tambah.
"Karena kelelahan itu pasti, tapi selanjutnya kami tidak bisa bilang. Pasien harus melewati masa uji coba lab untuk 3 hari ke depan jika anda ingin tahu hasilnya. Apakah anda keluarganya?" Theo tidak bisa menjawab tapi ia hanya mengangguk, dokter itu pun memberi tahu beberapa hal dan kemudian dia pamit pergi.
__ADS_1
Theo berdiri di sana, ia tidak tahu harus berbuat apa. Sampai Pria itu pun mengambil tasnya dan ponsel itu, masuk ke dalam ruangan dengan langkah pelan. Melihat keadaan gadis itu yang semakin membuatnya frustasi.
"Hey, apa kamu masih ingin tidur?" Ucapnya dan ia meletakkan tasnya di sofa, menarik salah satu kursi dan duduk di sana berdekatan dengan Hana.
Pria itu kembali terdiam ketika ia melihat semua ini, bagaimana ia harus menjelaskan perasaannya sekarang? Ia tidak sanggup harus melihat ini, Theo sesekali menunduk melihat tangan itu sekarang di infus.
"Apa sesakit itu? Tapi kenapa kau tidak bilang apa-apa?"
"Ah, aku ingat. Aku bukan siapa-siapa ya." Theo tersenyum miris, tidak seharusnya ia menyimpan perasaan yang terlalu dalam seperti ini di mana ia juga tahu bagaimana resikonya nanti.
Sampai di tengah-tengah Theo memperhatikan Hana yang seperti enggan membuka matanya, suara ponsel kembali berdering membuat malas.
Ia menatap ke arah ponsel itu, mengambil benda persegi panjang itu dan mematikannya. Suara seperti ini, tidak pantas untuk rusuh. Hana juga pasti butuh istirahat lebih.
...•••...
"AHK! SIALAN!" Dimas terus menghubungi Hana tapi tidak pernah ada respon dari gadis itu. Sekarang ia terlalu marah karena adiknya itu tidak kunjung kembali ke apartemen, apa lagi jam sudah menunjukan angka 11 malam.
Anggap saja pria itu sudah hilang kendali, karena posisi sekarang adalah salahnya. Kenapa dia tidak menghampiri Hana sejak tadi saja? Jika itu terjadi maka Hana akan tetap berada di apartemen dan tidak menghilang seperti sekarang.
Entah apa yang berada dipikiran Dimas sekarang, ia bahkan terus mengumpat di setiap jalan. Ketika ia sampai di parkiran, ia langsung menaiki mobilnya dan kemudian melaju untuk mencari keberadaan Hana.
Di tempat lain, Satya tengah bersama Anna. Mereka berdua berkencan, sudah sejak tadi sore mereka berdua terus bahkan enggan untuk pulang ke rumah. Bagaimana jika ayahnya mencari nanti? Sepertinya itu bisa di tangani karena yang terpenting bagi mereka adalah waktu untuk berdua saja.
"Sebentar lagi kamu menikah dengan kembaran ku." Ucap Anna secara tiba-tiba dan ia memeluk Satya dengan erat seraya berbaring di atas ranjang.
"Iya, tapi kau tidak perlu khawatir. Karena aku tidak akan berpaling darimu."
"Akan aku pegang ucapanmu, jangan tinggalkan aku." Anna terlalu berharap dengan keadaan, di mana ia tahu jelas jika semua ini salah besar. Di saat ia juga tahu jika perjodohan itu di antara Satya dan Hana tapi dia sempat sekali melakukan semua ini.
Sebelum ia tahu juga ia sudah tertarik dengan Satya, lalu Jeffran di kemanakan? Pria itu tidak penting, terlalu setia menurut Anna membosankan juga. Jeffran terlalu mementingkan Hana, memprioritaskan gadis itu ke timbang dirinya yang merupakan kekasih. Kekasih kedua maksudnya.
Tapi semua itu pantas terjadi, karena Anna memaksakan kehendak sedangkan di sisi pria itu juga masih mencintai Hana. Bagaimana? Siapa yang salah?
__ADS_1
"Aku dengar dulu kau berhubungan dengan Jeff, kalian nampak dekat." Ucapnya, tangannya membenahi rambut Anna yang terkesan berantakan.
"Itu dahulu, lagi pula dia lebih mementingkan gadis lain dari pada aku." Anna tidak mengatakan yang kenyatannya, jika saja Anna mengatakan dengan jujur jika gadis itu yang memaksa Jeffran untuk melepaskan Hana dan harus bersamanya.
Mungkin saja Satya akan berubah pikiran dan meninggalkan Anna, karena terkesan jelas jika gadis itu hanya memanfaatkan saja dan sisanya ia ingin membuat Hana menderita.
"Benarkah? Kasihan sekali kamu sayang, seharusnya kamu bersamaku saja. Kamu akan bahagia."
"Iya, makanya aku milih kamu." Anna begitu senang karena ia begitu diratukan oleh Satya. Walaupun ia lebih menyukai Jeffran tapi ia tidak pernah merasakan hal seperti ini ketika bersama Jeffran, tentu saja karena dia salah orang.
Di tengah kesibukan mereka berdua, mungkin karena suasana mereka mendadak memanas. Satya menatap ke arah gadis yang ia peluk, mungkin karena pakaian yang dikenakan oleh Anna terlalu terbuka. Pria nama yang tidak tertarik dengan pemandangan seperti itu.
Merasa di perhatikan terus, Anna mendongak melihat ke arah pria itu. Gadis itu bukannya takut atau bahkan semacamnya karena asetnya di lihat, dia justru tersenyum. Ia beranjak dan merangkak duduk di atas pangkuan Satya. Yang lebih mengejutnya lagi, gadis itu duduk di antara kedua paha Satya.
"Kamu mau?"
"Apa maksudmu?" Mungkin Satya tidak habis pikir saja karena Anna akan peka dengan itu, lantas ia membuka kemejanya turun sampai tiga kancing memperlihatkan dadanya.
"Sayang, jangan lakukan itu." Satya menutup kembali kemeja yang dikenakan oleh Anna, ia tidak mau melakukan hal lebih apa lagi diluar pernikahan. Ia tidak mau sesuatu yang tidak dirinya inginkan terjadi.
"Kenapa? Kamu tidak menyukai aku?"
"Bukan seperti itu, maksudku-" Suara ponsel memecahkan suasana tegang tersebut, Satya mengangkat panggilan itu. Ketika ia mendengar suara bundanya membuatnya melirik ke arah Anna, membuat gadis itu diam di saat itu juga.
Sampai Satya mengangguk, mengiyakan apa yang bundanya katakan dan entah apa yang dikatakan. Membuat pria itu beranjak dari tempat tidur, ia mengambil jaketnya yang baru dan membuang jas lamanya. Tidak mungkin ia pulang dalam keadaan masih memiliki aroma parfum perempuan.
"Aku antar kamu pulang, bunda menelponku." Satya mengambil kunci mobilnya dan menunggu Anna bersiap untuk pulang.
"Kenapa? Kenapa tidak kamu tolak saja ajakan bundamu itu?"
"Aku tidak bisa menolaknya, cepat. Aku antar kau pulang, di luar hujan." Anna pasrah, gadis itu pun bersiap dan kemudian pulang kembali ke rumah. Tapi ia senang akan sesuatu.
'Menolak bukan berarti tidak mau bukan?'
__ADS_1