
Satya kembali ke rumah dalam keadaan tidak membawa apa pun, itu membuat Anna merasa heran. Perempuan itu padahal sudah ber antusias akan menyambut kedatangan saudaranya, tapi di mana dia?
"Satya, di mana Hana? Apakah dia belum masuk ke dalam?" Pertanyaan yang Anna layangkan kepadanya membuatnya merasa bersalah.
Ia tidak bisa membawa Hana ke rumah, dia sudah tidak ada di sini. Dia sudah benar-benar pergi dari sini, tanpa kabar apa pun dia pergi ke mana dan sejak kapan. Benar-benar tidak ada jawaban sama sekali, ia harus menjawab apa sekarang?
Anna terus menatapnya dengan penuh harapan, ia ingin bertemu dengan saudaranya dan meminta maaf akan segalanya. Di saat ia sudah melakukan itu, tapi Anna masih merasa belum cukup atas semua itu. Ia ingin membuat Hana tersenyum.
"Satya-"
"Hana pergi..." Seketika senyuman itu berubah, hilang dari wajahnya dan ia tidak paham. Apa yang Satya katakan?
"Apa maksudmu? Hana tidak mungkin-"
"Dia pergi, pergi jauh Anna. Tolong jangan minta aku untuk mencarinya..." Anna terdiam, ia tidak bisa berkata apa pun lagi. Ia tidak bisa mengatakan sesuatu karena pada dasarnya ia masih terkejut dengan berita yang suaminya katakan tadi.
Tidak mungkin bukan? Hana tidak akan pergi darinya secepat ini, bahkan sekarang dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun kepadanya. Terakhir melihat Hana ketika pernikahannya kemarin, itu pun Hana pulang cepat saat itu.
Bagaimana ekspresi Hana yang pasti bisa di baca, tapi Anna masih tutup mata akan semua itu. Ia merasa bersalah, ia ingin menembus segala kesalahannya dahulu. Membuat kehidupan saudaranya sendiri hancur bahkan tanpa alasan yang jelas.
...•••...
Tepat di keesokan harinya, kedua orang tua Anna datang untuk menjenguk anak mereka yang tidak sehat. Mereka khawatir dengan keadaan Anna sekarang, putri kesayangan mereka dalam keadaan buruk. Bahkan sebelum menginjak 3 bulan usia kehamilannya, Anna sering kejang-kejang. Tapi sekarang dia tidak lagi mengalami semua itu, kata dokter itu adalah efek samping dari ibu hamil yang hanya memiliki satu ginjal.
Seharusnya perempuan itu memikirkan resiko yang terjadi ketika dia hamil nanti, jangan heran keadaannya yang lemah sekarang adalah resiko utamanya. Stella menemani putrinya menghadapi semua ini. Tentu saja, ia harus menemani perjuangan putri kesayangannya untuk kehamilan pertamanya.
"Apakah keadaanmu sudah membaik? Masih sakit?" Stella memang nampak sangat khawatir, itu alasannya mengapa ia terus membujuk suaminya untuk segera menjenguk Anna sekarang.
"Aku baik-baik saja, bunda. Tapi..."
__ADS_1
"Tapi apa?"
"Apakah kalian tahu jika-" Kalimatnya terjeda ketika suara bel berbunyi. Tentu saja membuat seisi rumah merasa bingung, orang mana yang akan datang malam-malam begini?
Karena mereka juga sibuk dengan urusan masing-masing terutama fokus dengan kondisi Anna sekarang, jadi maid yang membuka pintunya. Seorang maid yang berdiri di depan pintu, membuka pintunya dan ketika itu ia melihat seorang pria di depan pintu.
Saat itu ayahnya Anna tengah memeriksa keadaan, memang siapa yang datang malam-malam seperti ini? Dan ketika ia melihat siapa yang datang, dia terdiam seketika dan di saat ia hendak menghampiri. Pria itu tersenyum tipis.
"Selamat malam, tuan."
"Iya? Ada perlu apa anda datang ke rumah menantu saya?" Pria itu tersenyum lagi, sampai di mana ia melirik ke arah belakang di mana Satya berdiri di sana.
"Saya ada urusan dengan menantu anda, apakah saya boleh berbincang sebentar dengannya?"
"Dengan anak perempuan kau juga, tuan. Jika berkenan..." Awalnya ia ingin menjawab tapi Satya terlebih dahulu menghampiri, seolah dia menghalangi dirinya datang untuk bertemu dengan Anna.
Apa yang salah di sini? Kenapa tiba-tiba dia datang tanpa ia tahu? Kedatangannya tidak di duga-duga sama sekali, malam ini tepat pukul 8 malam pria itu datang dengan segala misteriusnya, niatnya datang sudah dia katakan tapi dengan tujuan apa dia bertemu dengan Anna.
"Aku hanya menjenguknya, tenang saja. Dan ada sebuah kejutan untuk kalian di akhir nanti, tapi sebelum itu pertemukan aku dengan Anna sekarang juga." Mungkin niatnya memang baik, walaupun dia tidak pernah terlihat mengenal Anna tapi kabarnya dia memang pernah satu sekolah dengan Anna. Jadi mau bagaimana lagi? Mungkin mereka hanya bertemu sesekali setelah kelulusan tahun kemarin.
Satya mengawasi pria itu dari jarak dekat, ia tidak mau jika sesuatu terjadi kepada Anna. Ketika pintu itu terbuka dan memperlihatkan akan keberadaannya, membuat perempuan itu terkejut bukan main.
"Kau-"
"Ya? Apa kau terkejut?" Anna tidak bisa berkata apa pun karena masih terkejut, bagaimana bisa dia datang di saat seperti ini? Tapi di sisi lain Anna senang, hanya dia yang dekat dengan saudaranya. Mungkin dia tahu di mana keberadaan Hana sekarang.
"Johan, bagus kamu datang. Aku ingin bertanya, apakah Hana bersama mu? Kamu tahu di mana Hana sekarang? Katakan Johan, di mana saudara ku? Apa kau membawanya kemari? Aku ingin melihatnya."
__ADS_1
"Dan menyiksa batinnya untuk sekian kalinya? Begitu?" Perkataan singkat yang Johan katakan dan dia lontarkan kepada Anna, perempuan itu benar-benar terdiam sekarang. Apa yang dia katakan tadi?
"Apa maksudmu-"
"Kau menyuruh pria bajingan itu untuk mencari saudaramu bukan? Apakah itu salah satu caramu yang lain untuk menghancurkannya lagi dan, apa itu saudara?" Anna tidak bisa menjawab lagi, ia tidak bisa berkata apa-apa.
Johan mengatakan semua kalimatnya yang kenyataannya tepat mengenai hatinya sekarang, bahkan Satya terkejut. Bagaimana bisa Johan tahu jika dirinya mencari keberadaan Hana kemarin hari?
Pria itu menoleh ke arah Satya, menatapnya dengan tatapan santai dan menghampiri orang itu. Hatinya sudah terlalu panas, tidak tahan untuk membunuh orang tapi dia tahan karena ia sudah berjanji.
"Dan kau, seharusnya kau sadar kesalahanmu. Apa kau tahu akibat perbuatan fatalmu bersama keluarga iblis ini? Kau merusak mentalnya, dia nyaris gila. Dan itu karena siapa? Karena mu, dan juga wanita tidak tahu malu itu." Johan menunjuk ke arah Anna, perempuan itu tidak bisa mengatakan apa pun setelah apa yang Johan katakan tadi.
Hana nyaris gila karenanya? Apa yang sudah dirinya lakukan kepada saudaranya itu? Anna sudah melakukan dosa besar, dia sudah membuat seseorang sebaik Hana menjadi orang gila. Air matanya menetes tanpa ia sadari ketika ia mendengar semua apa yang Johan katakan.
"Jaga sikapmu, anak muda. Kau berada di wilayah kami."
"Tapi kawasan ini kekuasaan ku, kau hanya menumpang di sini." Ucapan Johan memang terkesan singkat, tapi langsung mengenai hati mereka bahkan otak seketika berhenti berkerja sekarang.
Stella tidak bisa menjawab, biasanya dia bisa mengatakan apa saja kepada semua orang dengan kata-kata tajamnya itu. Tapi kenyataan lain, dia tidak bisa mengalahkan Johan di mana tingkatan Johan dalam menguasai setiap tempat ini lebih besar. Jika saja pria itu tidak punya hati, mungkin dia akan menendang satu keluar keluar dari perumahan miliknya itu.
"Kau sudah melewati batasan mu, Satya. Aku mungkin bisa bersabar karena permintaannya kepadaku, tapi berhenti sekarang. Aku tidak bisa bersabar lagi ketika melihatnya menderita, dan katakan saham ku yang ku berikan kepada perusahaan mu akan aku putus sekarang juga. Tidak ada ikatan perusahaan di antara kita, terimakasih atas kerja samanya tuan Satya." Ucapnya dengan senyuman puas, membuat semua orang bungkam sekarang.
Dia tidak perlu membuang tenaga memukul, karena bisa saja Johan memukul tanpa harus membuang tenaga karena dia bisa melukai hati orang hanya dengan ucapannya saja. Jika saja bukan karena Hana, dirinya tidak akan bisa menahan segala emosionalnya sekarang.
"Dan ada satu kejutan lagi." Kalimat itu membuat semua orang menatap ke arahnya, tentu saja Johan akan senang ketika semua orang merespon. Ia menatap ke arah Stella dan Anna secara bergantian.
"Kebohongan yang kalian bangun, akan hancur pada akhirnya. Semoga kalian menikmati hasil dari perbuatan kalian." Setelah itu Johan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun lagi setelah itu.
Kepergian pria itu dari rumah membuat satu keluarga terdiam, terutama Stella yang mulai khawatir. Perkataan Johan tadi seolah dia tahu segalanya, apakah dia benar-benar tahu semuanya?
__ADS_1