
"Kalian sudah saling kenal?" Pertanyaan yang dilayangkan oleh Viola kepada anak laki-lakinya yang menyebut nama Hana dengan tatapan terkejutnya.
Tapi ketika semua orang menatapnya, raut wajahnya seketika menjadi begitu datar seolah tidak ada yang terjadi. Viola masih tidak percaya tapi ia justru senang karena ternyata anaknya bisa mengenal Hana.
"Ya bagus kalau begitu, tidak perlu ada masa perkenalan bukan?" Ucap Stella antusias dan menatap ke arah Hana yang hanya diam saja, gadis itu memikirkan banyak hal.
Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di tambah pria itu, Hana tidak mau menyakiti siapa pun membuat sahabatnya sendiri sakit hati. Lalu apa yang Hana jelaskan nanti kepada Aca? Hana tidak mau jika Aca membencinya nanti, hanya Aca teman satu-satunya yang Hana miliki bahkan setelah sekian lama ia sendirian.
"Pernikahan bisa di percepat, kalian setuju bukan?" Tidak ada jawaban dari dua anak remaja itu, mereka sama-sama diam saja tidak menjawab sepatah kata apa pun.
Satya, dia hanya menatap Hana dengan tatapan datar seolah tidak minat. Ia tahu siapa Hana, karena ia beberapa kali mendengar nama itu di sebut oleh banyak dosen karena terlalu pintar dan juga teladan di kampus, mungkin karena itu Satya bisa tahu dan lagi. Satya belum mengetahui jika yang membuat Theo emosi adalah gadis itu.
Keduanya sama-sama diam tidak menjawab, membuat kedua belah pihak itu menyetujui keputusan mempercepat acara perjodohan itu dengan menikah dengan waktu cepat. Mungkin karena terlalu senang, apa lagi ayahnya Hana yang begitu senang karena sudah mendapatkan kerja sama bersama ayahnya Satya yang berjanji akan memberikan seperempat perusahaannya kepada keluarganya Hana.
Seperempat bukan lah sebuah hal yang kecil, di dalam perusahaan otomotif seperti milik keluarga Satya itu adalah hadiah yang lumayan besar. Tidak bisa dilewatkan itu, mereka bahkan tega mengorbankan anak gadis mereka sendiri hanya demi sebuah kekayaan yang tidak bisa di bawa mati.
"Seperti kesepakatan."
Satya masih menatap ke arah Hana, gadis itu memang manis dan juga cantik. Tidak heran mengapa Theo bisa suka dengan gadis itu terlebih lagi sikapnya yang terlalu lembut, tentu saja. Siapa yang tidak suka dengan gadis itu? Jawabannya adalah Satya. Tidak ada wajah minat yang ia tunjukan.
'Kenapa dia menerima perjodohan ini? Sial! Bisa-bisa hubunganku dengan kekasihku hancur karena gadis ini.'
...•••...
Hana terdiam ketika ia sudah berada di dalam mobil seseorang, jujur saja ia terpaksa menerima tawaran itu bukan berarti dirinya mau. Tidak bisa berbuat apa pun karena Hana terus merasa jika dirinya di awasi di setiap tempat.
__ADS_1
"Ingat, aku terpaksa menerima mu. Jangan berharap aku akan jatuh cinta denganmu." Ucap Satya secara tiba-tiba ketika ia tengah fokus menyetir juga, Hana tidak menoleh sama sekali karena ia juga enggan menatap ke arah Satya.
"Aku tahu." Hanya sebuah jawaban singkat yang Hana katakan kepada Satya. Walaupun jujur saja di antara ia senang berada di dekat Satya dan ia juga khawatir akan hubungannya dengan Aca akan hancur hanya karena masalah percintaan.
Hana tidak bisa berbuat apa pun, apakah ia harus jujur saja kepada Aca? Apakah Aca masih menerimanya sebagai teman atau sebagai musuh setelah sekian lama mereka berdua menjalani hubungan pertemanan dengan baik selama satu tahun?
Perasaan buruk itu terus datang di kepala Hana, tidak dapat hilang atau bahkan ia hindari saja rasanya sulit. Tidak ada cara lain, Hana takut jika semua berakhir tidak sesuai dengan harapan yang ada.
Ketika saat itu hujan lebat, karena memang akhir-akhir ini memang sering hujan deras mungkin karena cuaca tengah tidak bagus untuk beberapa hari ke depannya. Hana terus melamun memikirkan banyak hal yang harusnya ia tidak pikirkan itu.
Sampai ia merasa mobil berhenti, membuat Hana duduk tegak dan menoleh ke arah Satya. Pria itu juga terdiam, ia seperti tengah memikirkan sesuatu dan ia menerima telpon dari seseorang.
Suara yang tidak asing di telinga Hana, suara itu begitu jelas Hana kenal. Ia tidak tahu dan tidak pasti apakah dugaannya benar atau tidak tapi ia yakin itu pasti dia. Dina, teman dari Anna. Hana hafal betul bagaimana suara seseorang walaupun baru ia kenal, tapi apakah benar?
"Keluar."
Hana langsung menoleh ke arah Satya, apa maksudnya keluar? Di luar hujan lebat setidaknya dia mengantarkan Hana ke halte saja agar Hana bisa berteduh, tapi pria itu malah berhenti di pinggir jalan yang jauh dari halte berada.
"Apa maksudmu? Di luar hujan."
"Aku tidak perduli, cepat turun." Ucapnya sekali lagi penuh dengan penekanan, Hana mau tidak mau harus segera pergi dari sana.
Gadis itu melepaskan sabuk pengamannya dan langsung membuka pintu mobil, keluar dari mobil di mana keadaan masih hujan lebat. Ketika pintu itu sudah Hana tutup, mobil itu melaju meninggalkannya begitu saja.
Hana hanya menatap mobil itu pergi begitu saja, dengan hujan yang untuk sekian kali yang menemani Hana dalam perasaan kesepian itu. Gadis itu hanya menatap dan menunduk, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya nanti.
__ADS_1
Ia tidak bisa berpikir lebih, langkah kakinya yang begitu pelan berjalan ke arah halte berada berniat untuk berteduh di sana sekalian menunggu bus. Tidak ada bus di jam semalam itu, tidak ada.
Gadis itu terus berjalan dan memperdulikan apa pun, dengan telapak kakinya yang penuh dengan luka karena sepatu hak tingginya melukai kakinya sendiri. Luka itu terkena air hujan dan menambah rasa perih di permukaan luka itu.
'Aku tidak tahu sampai kapan cobaan ini akan selesai. Tapi aku berharap akan ada sebuah dunia untuk tempat aku pulang nanti.'
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, langkahnya yang begitu pelan dan juga lumayan tidak seimbang. Gadis itu memeluk dirinya sendiri di tengah hujan lebat itu, entah terlihat atau tidak air matanya yang begitu deras turun meloloskan diri dari kelopak matanya. Beruntung ada hujan, yang menghapus jejak air matanya begitu saja saat ini.
......•••......
Masuk ke dalam apartemen dengan keadaan basah seperti itu, Hana masuk ke dalam dan kemudian melangkah ke arah kamar. Namun, sebuah suara membuatnya berhenti.
"Dari mana saja kamu? Dengan pakaian seperti itu?" Hana tahu itu siapa, tentu saja Dimas. Jika bukan pria itu yang tinggal bersamanya lalu siapa lagi.
"Aku hanya pergi sebentar."
"Sebentar kata mu? Lihat jam sekarang sudah jam berapa? Berani sekali kau keluar tanpa ijin, apa kau sudah mulai berani dengan ku sekarang? Jangan artikan sikapku selama ini dalam arti tidak bisa berbuat apa pun. Aku bisa saja memukulmu, aku hanya kasihan denganmu saja."
Kata-kata itu mampu Hana dengar meskipun bersamaan dengan kepalanya yang begitu amat sakit, hatinya juga sakit ketika Dimas mengatakan itu.
Selama ini Dimas hanya kasihan dengan Hana saja? Apakah itu benar? Tapi Dimas mengatakan semua kalimat itu secara langsung tepat di depan Hana. Gadis itu terdiam tidak bisa berkata apa-apa, dadanya sesak sendiri ketika ia tahu semuanya. Benar apa kata kepalanya jika tidak seharusnya Hana tidak perlu percaya dengan siapa pun di dunia ini, tidak ada yang menginginkan dirinya hidup.
"Aku tahu, kakak hanya kasihan sama aku. Aku sadar kok, makasih sudah terus terang dengan apa yang kakak rasakan selama ini."
Kalimat itu seketika membuat jantung Dimas rasanya berhenti berdetak, bahkan sempat sekali Hana tersenyum ke arahnya dengan wajah pucat itu. Tanpa mengatakan apa pun, Hana berjalan ke arah kamar dan meninggalkan Dimas di ruang tamu sendirian.
__ADS_1