Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 67


__ADS_3

Johan memberhentikan kendaraannya di depan universitas, ia tahu tempat itu adalah tempat di mana gadis itu sekolah. Tapi bukan gadis itu yang ia cari sekarang, melainkan orang lain yang harus ia cari tahu.


Keluar dari mobil, ia berjalan menelusuri gedung itu dengan menjadi pusat perhatian di sana. Mungkin karena penampilannya yang begitu mencolok, di tambah visualnya yang memang mengundang perhatian banyak orang. Pria itu masuk ke dalam area futsal di mana di sana memang ramai, walaupun ia benci keramaian tapi ia harus melakukan ini.


Duduk di salah satu kursi dan melihat para pemain tengah melakukan aksi mereka di lapangan futsal. Pertandingan hampir berhasil sebentar lagi, di mana pemenangnya juga sudah di tentukan. Salah satu pemain tidak sengaja menoleh ke arah tempat duduk penonton dan melihat keberadaan Johan di sana.


Ia agak terpaku, sampai di mana permainan di selesaikan dan dia pun berakhir menyusul Johan yang duduk di kursi penonton. Sebenarnya ia tidak yakin, apakah ia harus berurusan dengan Johan sekarang?


"Sudah selesai bermain? Apa kau ada waktu untuk bicara dengan ku sebentar?" Ucapnya langsung to the point, sedangkan lawan bicaranya hanya diam dan tidak lama dia menjawab.


"Tentu saja, kau mau bicara di mana?"


"Di sini saja, aku malas harus mencari tempat. Lagi pula ini tidak terlalu penting." Ucapnya, sedangkan Hendry mulai duduk di kursi sebelah Johan hanya berjarak satu kursi saja yang menjadikan jarak di antara mereka berdua.


Hendry merasa memang ada yang tidak baik, ia sesekali menoleh ke arah Johan yang masih tidak mengangkat suaranya dan hanya menatap ke depan dengan tatapan yang begitu datar. Entah apa yang pria itu pikirkan sekarang?


Tapi yang pasti, semoga saja bukan sebuah ancaman untuk Hendry sekarang. Ia merasa tidak punya kesalahan dengan Johan, bahkan ia baru saja melihat Johan beberapa kali itu pun tidak saling bertegur sapa dan melirik saja tidak. Baru kali ini Hendry berbicara langsung dengan pria itu.


"Aku yakin kau tidak sebodoh itu, kau pasti tahu apa alasan ku ingin bicara dengan mu." Kalimat yang Johan katakan membuat Hendry mendadak tegang.


"Memangnya apa yang mau kau bicarakan dengan ku?" Johan melemparkan lembaran foto kepada Hendry, membuat pria itu mematung seketika.


Mengambil beberapa foto yang menunjukan dirinya tengah melakukan sesuatu, seharusnya tidak ketahuan karena ia sempat menghapus semua bukti yang ada. Tapi kenapa Johan bisa tahu semuanya? Ia tidak tahu siapa Johan yang sebenarnya, baru dia pulang dari Australia. Seharusnya dia tidak mengetahui apa pun.


"Bagaimana? Kau terkejut dengan itu? Seharusnya kau tidak perlu memasang wajah sok polos mu itu di depan ku." Benar-benar membuat siapa saja langsung tunduk dengannya, hanya perlu beberapa bukti dan tidak perlu semuanya, karena Johan juga malas mencari semuanya.


"Bagaimana kau-"


"Mau kau menuruti perkataan ku atau ku sebarkan ini? Seharusnya kau bisa memilih salah satu tanpa di beri spoiler." Hendry terdiam, menatap lembaran foto itu membuat dirinya tidak bisa mengatakan apa pun.

__ADS_1


Ia menatap ke arah Johan yang masih santai di sampingnya, menunggu jawaban yang akan Hendry berikan. Pria itu menatap dengan tatapan santai tapi sebenarnya menuntut sesuatu yang akan dia dapatkan. Hendry tidak bisa melakukan apa-apa, semuanya sudah di pegang oleh Johan. Tanpa terkecuali.


"Apa mau mu?" Kalimat itu yang terkesan singkat saja, sudah membuat Johan tersenyum penuh kemenangan.


"Jawaban yang bagus, Hendry Adiwijaya."


...•••...


Tepat di jam 11 siang, beberapa mahasiswa ada yang baru saja berangkat dan ada juga yang akan pulang, kelas mereka memang sendiri-sendiri. Berbeda dosen juga berbeda jam kelasnya, tapi karena sekarang jam siang adalah kelas psikologi.


Mahasiswa mulai beberapa masuk ke dalam gedung utama dan akan masuk ke gedung yang lain, karena pintu masuk utamanya memang ada di sana. Namun, entah semua mahasiswa justru mengerumuni mading yang terpasang di mading kampus.


Hana yang baru saja sampai di kampus bersama Satya juga terkejut, sekaligus merasa penasaran dengan apa yang berada di sana sampai mahasiswa ber kerumunan seperti itu.


Satya mencoba melihat apa yang ada di depan, tidak terlalu jelas sama sekali. Sampai di mana beberapa murid pergi mungkin karena sudah merasa puas melihat, beberapa belum merasa puas juga. Tapi aksesnya masih lumayan bisa di buat berdiri di sana, Hana berdiri di depan mading bersama Satya.


"Apa-apaan ini?" Suara Raya tentu saja terdengar dari beberapa pihak, Hana tidak layan menggelengkan kepalanya.


"Siapa yang memasang ini di mading?!" Teriakan Raya tentu saja terdengar kembali, semua mahasiswa terkejut dan juga mengelak tidak mengetahui apa pun.


Mereka datang ke kampus dan memang sudah dari sejak pagi sudah ada di sana, siapa yang salah atau tidak tidak ada yang tahu di sana?


"Aku tidak tahu, sudah dari pagi foto ini dan kertasnya menempel di sini." Jelas salah satu mahasiswa yang menjadi saksi karena dia masuk kelas pagi.


"Benar, itu sudah terpasang sejak pagi. Bahkan kata penjaga tidak ada yang tahu siapa yang memasang ini." Sautan dari yang lain, Raya terdiam sekaligus Hana yang juga mengetahui apa pun.


Sampai di mana mereka sama-sama berpikir, siapa yang memasang semua foto itu. Apa harus aku beri tahu apa yang berada di mading? Hampir 6 sampai 9 lembar foto yang di sana adalah Aca, dan tulisan yang menjelaskan jika Aca adalah pembunuh sekaligus penghianat yang sebenarnya. Tidak tahu apa yang di maksud dari semua itu.


Hana dan Raya menoleh ke belakang, dan di sana sudah ada Aca yang berdiri dengan tatapan yang tidak bisa di artikan sama sekali. Beberapa mahasiswa memberikan Aca jalan, akses untuk ke mading. Gadis itu juga menoleh ke arah Satya yang juga berdiri di sekitar mading dengan Hana di sampingnya.

__ADS_1


"Aca..." Aca berjalan mendekat ke arah mading dan melepaskan semua foto sampai kertas yang tertulis di sana. Ia juga marah karena tidak ada yang membelanya.


Aca meremat semua kertas itu dan membuangnya ke dalam tong sampah, ia lalu menatap ke arah Hana yang berdiri di sana menatap dirinya dengan tatapan yang.


"Kau pasti yang menempelkan semua itu bukan? Jawab!" Aca menghampiri Hana dengan tatapan benci, bahkan hendak menarik Hana dengan kasar tapi Satya menghalangi langkahnya.


"Jangan asal menuduh sembarangan. Hana tidak mungkin seperti itu." Satya seolah memang membela Hana, pada dasarnya ia juga memang membela Hana. Istrinya tidak mungkin melakukan semua itu, ia adalah saksi di mana Hana tidak akan melakukan semua itu.


"Aca, jangan asal tuduh. Kita bisa mencari pelakunya bersama-sama-"


"Kau membela gadis ini? Raya kau harus membela ku."


"Aku membelamu, tapi jangan tuduh Hana. Dia tidak salah apa pun di sini, dia juga baru datang, kenapa kau menyalahkan dirinya?" Ucap Raya, ia tidak menyalahkan siapa pun. Ia juga berpikir, mana mungkin Hana melakukan semua ini. Mustahil sekali.


Aca menatap semua orang dengan tatapan tidak percaya, sampai di mana ia melihat ke arah Hana dan tatapannya beralih menjadi tatapan penuh kebencian yang teramat. Membuat Hana merasa jika dirinya tidak pernah berguna.


"Kau penghancur Hana." Ucapnya sebelum dia pergi dari sana, meninggalkan semua mahasiswa yang berada di sana dengan keadaan bingung.


"Apa yang dia katakan itu?"


"Entah lah? Apa dia salah paham dengan Hana? Mereka bertengkar?"


"Kenapa jadi seperti ini sih? Pelakunya siapa tapi yang di tuduh siapa, agak membagongkan." Mereka juga merasa heran sendiri dengan keadaan yang ada.


Raya menepuk bahu Hana, membuat gadis itu tetap bersabar menghadapi sikap Aca yang memang secara mendadak dia berubah, mungkin saja Raya belum mengetahui penyebabnya. Tapi Hana bukannya merasa apa, dia justru merasa bersalah tanpa alasan di tambah perilaku Aca yang seperti itu.


"Jangan dengarkan apa yang dia katakan, fokus kah belajar. Kayanya mau jadi psikolog." Ucap Satya seraya merangkul istrinya itu, ia juga memberikan semangat agar Hana tidak memikirkan masalah yang ada. Itu semua bukan kesalahan Hana.


"Benar apa kata, Satya. Jangan memikirkan masalah sekarang, fokus saja. Aku akan menangani masalah ini, kau jangan khawatir." Ucap Raya sebagai penambahnya, Hana hanya mengangguk dan tersenyum saja. Padahal apa yang dia tunjukan tidak sesuai dengan apa yang Hana pikirkan.

__ADS_1


__ADS_2