
Dimas datang ke rumah itu, melihat suasananya yang memang lumayan sepi. Tapi entah kenapa dia yakin jika masih ada orang di dan rumah itu, ia melangkah mendekat ke arah gerbang dan di sana ada satpam. Dia kenal dengan Dimas, karena sudah hampir sekian kali Dimas berkunjung ke rumah walaupun tidak sering.
"Selamat pagi tuan, anda mencari nona Hana?"
"Iya, apa dia di rumah sekarang?" Penjaga itu mengangguk, mempersilahkan Dimas masuk. Membuka gerbangnya lebar-lebar untuk pria itu, dia juga membungkuk sopan kepada penjaga itu dan kemudian dia masuk ke dalam sana.
Ia mengetuk pintunya, ia harap ada orang di dalam sana. Tapi kenyataannya tidak ada jawaban sama sekali, Dimas pun membuka pintunya dan ternyata tidak di kunci sama sekali. Ia pun masuk ke dalam, melihat ternyata adiknya tidur di sofa membuatnya merasa heran.
Lantas Dimas menghampiri Hana yang tertidur di sofa itu, kenapa dia malah tidur di ruang tamu bukannya tidur di kamarnya? Dimas pun menepuk bahu Hana dengan pelan, tentu saja agar tidak membuat gadis itu terkejut nantinya.
"Hana, kenapa kamu malah tidur di sini? Di mana suami mu?" Hana seketika langsung terbangun karena melihat keberadaan Dimas yang begitu tiba-tiba datang ke rumah.
Hana menatap sekeliling, sepertinya Satya memang belum pulang ke rumah. Jika saja dia sudah pulang ke rumah, Hana pasti sudah merasakan kehadirannya sejak lama. Melihat tidak ada reaksi dari Hana, membuat Dimas bertanya-tanya.
Dia juga ikut menatap ke seluruh penjuru rumah, di mana pria itu? Kenapa tidak ada di rumah membiarkan adiknya tidur di ruang tamu seperti ini? Apa dia tidak mengabari jika dia tidak akan pulang ke rumah dan membuat Hana menunggu di ruang tamu seperti ini?
Terlalu keterlaluan, yakin saja Dimas merasa ini bukan pertama kalinya terjadi. Ia duduk di bawah Hana, menggenggam tangan adik perempuannya itu dan membuat gadis itu terdiam seketika itu juga. Kenapa Dimas seperti itu?
"Katakan dengan jujur, apa yang terjadi kepada kalian?" Hana menatap ke arah pria itu, sepertinya ada yang dia ketahui sekarang. Tapi Hana masih tidak mau menjawab apa pun, gadis itu takut jika akan menambah masalah yang ada.
"Tidak ada apa-apa."
"Kau bohong, seharusnya kamu bilang sama kakak. Kenapa kamu diam saja? Dengarkan kakak Hana, kakak tidak suka jika adik kakak di perlakukan seperti ini. Jangan diam saja, Hana." Mungkin percuma saja Dimas mengatakan semua kata itu berulang kali tapi pada akhirnya Hana tidak akan mendengarkan.
Ia tidak menyalahkan Hana, dia menyalahkan dirinya sendiri karena dia sudah lalai dalam mengurus Hana. Walaupun bukan sepenuhnya tanggung jawab itu bukanlah dirinya lagi, tapi Dimas adalah kakak kandung yang memang sudah jadi tugasnya menjaga adiknya. Entah dia sudah menikah atau tidak, itu sudah menjadi kewajiban dan seorang kakak justru lebih punya banyak hak besar untuk mengambil keputusan untuk adiknya.
Bukan menuntut atau semacamnya, jika sudah terdesak maka Dimas akan melakukan sesuatu. Tanpa meminta persetujuan Hana tentu saja, untuk apa melakukan itu? Hana tidak akan mau melakukan apa yang Dimas katakan, gadis itu keras kepala sejak kecil.
__ADS_1
"Kamu sudah chat dia?" Hana hanya menunduk, dia mengangguk untuk menjawab pertanyaan Dimas.
Seketika Dimas paham apa yang terjadi, pria itu memeluk adiknya itu dengan erat. Memberikan sebuah semangat yang tidak dia katakan tapi tersirat dalam sebuah pelukan, Hana hanya diam saja dan menatap kosong ke depan. Ia tidak ada tujuan lagi, semuanya sudah hancur dalam waktu singkat.
Diam-diam pria itu mengepalkan kedua tangannya erat, ia mencoba menahan seluruh amarahnya yang ingin dia keluarkan. Tapi ia tidak akan melakukan itu di depan Hana, ia akan melakukan semua rencananya. Tentu saja membuat Hana bahagia adalah tujuannya.
"Tenang saja, kakak akan membuat kondisi ini berubah."
...•••...
Setelah memesan makanan, dan makanan itu juga sudah sampai sekarang. Dimas tidak akan membiarkan Hana memasak dalam kondisi yang kacau seperti sekarang, ia tidak mau sesuatu terjadi kepada adiknya itu. Pria itu hanya menatap gadis itu makan dengan lahap di depannya, Dimas ikut senang melihatnya.
Sampai sebuah dering ponsel membuat keduanya mengalihkan pandangan mereka. Ternyata itu adalah bunyi ponsel Dimas, pria itu memeriksa ponselnya. Ia berharap hanya ada kabar baik saja, tapi kenyataannya salah.
"Hana makan dulu, kakak mau keluar sebentar ya."
"Hanya sebentar saja, tunggu saja di sini." Ucapnya, dan di jawab gadis itu dengan anggukan setuju.
Dimas kemudian berjalan keluar dari ruang makan, lebih tepatnya di area teras. Ia mengangkat telpon dari seseorang yang tentu saja membuat emosinya semakin memuncak, bagaimana tidak? Ia tahu semuanya sekarang, tidak ada yang bisa menyembunyikan fakta jika sekarang masih kacau.
Jika saja pria itu berani menyakiti Hana secara fisik, maka Dimas tidak akan pernah berpikir panjang untuk membawa Hana pergi menjauh. Sejauh mungkin, sampai Satya sendiri tidak akan bisa menemui Hana sampai kapan pun. Dimas akan menjadi benteng, tidak akan ada yang bisa menyakiti adiknya.
"Lakukan apa yang bisa kau lakukan, aku akan bicarakan ini dengan Johan."
Setelah ia berbicara banyak hal, panggilan itu terputus secara sepihak. Dimas berdiri sejenak di sana, mengatur emosionalnya agar tidak meledak di tengah jalan. Setelah itu, pria itu pun kembali masuk ke dalam rumah dengan ekspresi berbeda jauh dari yang sebelumnya. Dia tersenyum, memberikan banyak kasih sayang kepada Hana.
Entah kenapa dunia begitu kejam dengan adiknya itu? Memang apa kesalahan yang pernah gadis itu perbuat dahulu sampai sekarang seolah siksaan dunia tidak ada usainya. Tidak ada kata menyerah di dalam kamis Hana, gadis itu terlalu kuat.
__ADS_1
Dimas tahu dunia bukannya tidak adil, melainkan Hana yang terlalu kuat. Dia bertahan sampai sekarang bahkan di situasi dia tengah terpojok akan kondisi, jika saja Dimas menjadi Hana. Mungkin dirinya akan memilih membalaskan semua dendam dengan cara yang lebih jahat, ia hanya mau orang lain juga merasakan apa yang dia rasakan.
"Kakak tidak makan juga? Baksonya masih banyak." Dimas menatap ke arah gadis itu, sepertinya memang makanan yang dia pesan terlalu banyak.
"Hana makan saja yang banyak, kamu kurus banget. Padahal dulu pipi mu gembul, apa Satya tidak memberimu makanan sampai kamu kurus begini?"
"Dia mengurusku-"
"Makan saja, kalau tidak habis nanti kakak sama paman yang habiskan." Hana mengangguk, mengambil krupuk pangsit untuk di makan. Dimas tersenyum kembali, ia berharap Hana terus seperti ini. Maksudnya makan dengan lahap, seolah tidak ada beban sama sekali.
"Kakak, Hana boleh minta sesuatu? Sekali saja."
"Berkali-kali juga tidak apa-apa, kakak akan turuti. Hana mau apa?"
Hana sepertinya tengah berpikir, dia tidak enak hati jika terus merepotkan kakaknya itu. Tapi berbeda dengan reaksi yang Dimas tunjukkan, dia justru antusias sekali ketika mendengar permintaan Hana. Pria itu masih menunggu kalimat selanjutnya dari adik kesayangannya itu.
"Hana? Tidak apa-apa, bicara saja. Hana mau apa?" Hana hanya menunduk, memainkan jarinya sendiri. Apakah dia harus mengatakan apa yang dia mau kepada Dimas? Tapi sejujurnya Hana mau Satya yang melakukan itu, bukan Dimas. Tapi di depannya hanya ada Dimas, lagi pula Satya tidak akan mau.
"Hana mau kue balok-"
"Ayo berangkat sekarang, mandi dulu tapi. Hana belum mandi bukan? Nanti kita langsung beli sekarang juga, minta yang Hana mau sebanyak mungkin, cepat mandi dulu."
Hana langsung mendongak ketika Dimas menjawab dengan kalimat cepat sekaligus pelan, pria itu tersenyum ke arah gadis itu. Hana tersenyum antusias dan kemudian mengangguk, dia berlari ke arah kamarnya, mandi sesuai dengan yang Dimas suruh.
Melihat Hana yang kembali seperti anak-anak membuat Dimas lega, mungkin ini hanya bertahan sementara saja. Tapi setidaknya Dimas sudah berusaha bukan? Dimas hanya mau membuat Hana melupakan segala masalahnya, setidaknya untuk sebentar saja.
__ADS_1