Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 48


__ADS_3

Hana bekerja seperti biasanya dan pulang tepat pukul jam 10 malam, ia juga berjalan sendirian bahkan ia tidak memesan kendaraan online karena uangnya tidak akan cukup, dengan uang yang dia bawa sekarang tidak bisa memesan kendaraan online.


Mau bagaimana pun keadaannya Hana juga tetap kuat dan tegar, ia yakin pasti ada jalan keluarnya. Jarak tempat kerja dengan rumah lumayan jauh, hampir mustahil jika ada kendaraan umum di sekitar sana karena semua pasti sudah tidak ada.


Gadis itu berjalan sendiri, melewati trotoar menghindari tempat gelap dan sepi. Ia hanya takut jika ada sesuatu yang terjadi, Hana masih trauma dengan kejadian di mana ia masih di SMA dahulu. Ia menggelengkan kepalanya berusaha melupakan kejadian saat itu.


"Jangan di ingat-ingat, Hana. Itu akan menyakiti mu terus." Ucapnya sendiri, ia hanya berusaha memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


Tanpa ia ketahui jika kendaraan Satya tengah melaju, dengan Anna di dalam sana. Hana mulai menyadari ketika suara mobil yang familiar membuat langkah Hana terhenti, melihat mobil itu melaluinya begitu saja.


Ia hanya bisa menertawai nasib mirisnya itu, yang tidak pernah beruntung dalam apa. Setidaknya ia tidak merepotkan Satya bukan? Ia sudah berusaha menjadi istri yang baik dan juga menurut. Tapi jika masalah pekerjaan, Hana tidak akan bisa mengalah.


"Mau kemana kau malam-malam begini? Kau suka keluyuran rupanya." Ucap seseorang membuat Hana kembali berhenti dan menoleh ke arah samping.


Di mana ada Theo di sana tengah mengendarai motor kesayangannya, ia melepaskan helmnya dan melihat Hana lebih jelas. Sebenarnya Theo tahu apa yang Hana lakukan malam-malam begini, ia sengaja mengatakan itu agar terkesan tidak tahu apa-apa.


Gadis itu hanya menunduk, ia tidak tahu harus menjawab apa. Apa lagi tatapan Theo yang terkesan menuntut itu membuatnya mendadak bisu.


"Aku-"


"Pulang dengan ku, cepat."


"Tapi bagaimana kalau-"


"Itu urusan gampang, cepat naik." Seolah Theo bisa membaca pikirannya karena sejak tadi Theo terus memotong perkataannya dan menjawab dengan jawaban yang tepat.


Hana mengalah dari pada ia dilaporkan kepada Dimas, pria itu pun memakai helm dan menoleh ke arah belakang di mana Hana tidak bisa naik. Mungkin karena dia sudah mulai mengantuk.


Theo mengulurkan tangannya sebagai pegangan untuk Hana naik ke atas motor, Hana menyadari itu dan menggenggam tangan Theo. Naik ke atas motor Theo, dan setelah itu ia melepaskan genggaman itu. Pria itu hanya diam, ia langsung saja melaju dengan kecepatan sedang.


Biasanya ia menggunakan kecepatan tinggi, karena ia membawa nyawa orang lain sekarang mungkin saja ia akan melakukan apa yang tidak pernah ia lakukan. Theo hanya diam, keduanya sama-sama diam bahkan dipertengahan perjalanan.

__ADS_1


Theo melirik Hana dari kaca spion, gadis itu hanya menatap ke depan dengan rambut pendeknya yang berterbangan. Diam-diam Theo tersenyum tipis dan membiarkan fokus ke jalan.


Tempat di mana ada lampu rambu lalu lintas, lampu merah membuat Theo memberhentikan kendaraannya. Pria itu menatap ke depan tanpa memperdulikan apa pun yang berada di sekitarnya.


Sedangkan di tempat lain, di dalam mobil lebih tepatnya. Karena lampu merah sedikit menjeda perjalanan mereka, Anna bersandar di bahu lebar itu dengan senangnya. Ia bahkan tidak memikirkan apa akibat dari semua itu dan Satya juga nampak tidak keberatan dengan semua itu. Ia justru dengan senang hati memberikan bahunya kepada Anna.


Gadis itu menutup matanya karena baginya komen ini begitu menyenangkan, sampai ia membuka mata dan di sambut dengan pemandangan yang membuatnya tidak habis pikir.


"Hana?" Satya lantas menoleh ke arah Anna, gadis itu menyebutkan nama kembarannya membuat Satya heran. Sampai ia ikut melihat ke arah mana Anna melihat, dan benar saja ia melihat pemandangan yang sama.


'Hana? Dia bersama siapa?'


"Pegangan yang benar, nanti kau kayang."


"Siapa yang melayang?" Theo merotasi bola matanya, ia lama-lama juga jengkel dengan Hana yang tidak bisa mendengar apa yang dirinya katakan. Mungkin karena terhalang helm sekaligus suara angin.


"SETAN! PEGANGAN YANG BENAR!"


"OHH! BAIKLAH!" Hana langsung memegang jaket yang Theo kenakan, sekaligus jawaban Hana membuat Theo tertawa kecil. Bagaimana ia bisa dulu menyukai gadis seperti ini?


Tapi pandangannya justru ke arah mobil di belakang, plat nomor itu. Theo seketika memasang wajah datar dan memelankan kecepatannya membiarkan mobil itu melaju terlebih dahulu.


Ia bisa melihat ada gadis di dalam sana dan Theo yakin itu adalah Anna. Ia pernah mendengar cerita dari Bastian, senior geng Vesselsoft yang dahulu yang tidak lain adalah sahabat dari Dimas.


Tragedi di mana keluarga itu tidak pernah akur, satu dari lima orang itu di acuhkan sendirian padahal sama-sama keluar di sana dan bukan anak tiri melainkan masih sedarah. Ketika itu Theo tidak percaya dengan cerita itu karena menurutnya, tidak logis sekali apa lagi yang di jauhi adalah anak perempuan.


Tapi sekarang ia percaya, ia begitu percaya dengan perkataan Bastian. Tidak ada yang salah atau melenceng karena Theo sudah tahu semuanya, ia melirik ke arah Hana lagi. Gadis itu diam, sepertinya dia juga menyadari akan mobil tadi.


Lantas pria itu menarik tangan Hana membuat gadis itu seolah seperti memeluknya di saat itu juga, tentu saja Hana akan terkejut.


"Pegangan yang erat, aku mau ngebut." Hana menurut dan menggenggam tangan Theo, lebih tepatnya seperti memeluk pria itu.

__ADS_1


Theo melaju dengan kecepatan tinggi, ia akan mengejar mobil itu sekarang juga. Kalau bisa ia ingin membuat mobil itu celaka, tapi bagaimana dengan gadis di belakangnya sekarang? Mau bagaimana mana pun, Theo pada dasarnya tidak mau membuat gadis itu menangis.


...•••...


"Kau yakin mau pulang di sini? Aku bisa mengantarmu ke apartemen Dimas."


"Tidak apa-apa." Jawaban yang selalu sama saja membuat Theo merasa bosan dengan jawaban itu, ia menatap rumah yang berada di depannya sekarang. Nampak damai dari luar tapi tidak ada yang tahu betapa rumah itu melebihi neraka.


Hana masih terdiam, dengan Theo yang masih diam karena ia tengah berpikir sesuatu. Sepertinya ia harus benar-benar menyelidiki semua ini atau tidak?


"Jangan sembunyikan apa pun." Ucapan Theo membuat Hana seketika menatap ke arah pria itu, dia mulai menyalakan mesin motornya dan pergi begitu saja.


Semoga tidak ada yang terjadi, ia memang kecewa dengan Satya karena tidak bisa menjaga Hana dengan benar. Tapi ia sudah bersumpah jika Hana di perlakukan tidak adil, maka seperti rencananya dengan seseorang. Ia akan membawa Hana pergi jauh dari kota Jakarta itu.


Hana masih berada di luar, melihat Theo sudah pergi dari sana. Hana pun berjalan masuk ke dalam rumah, seperti biasa sepi dan mungkin saja Satya tengah bersenang-senang. Biarkan saja, Hana tidak terlalu perduli walaupun di dalam hatinya begitu ingin berada di samping pria itu setidaknya sebentar saja.


Baru saja akan masuk ke dalam, suara mobil kembali terdengar dan Hana yakin itu pasti Satya yang baru saja pulang. Hana menoleh ke belakang, menemukan pria itu baru saja turun dari kendaraannya dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. Ia menatap Hana dengan tatapan penuh kebencian di saat ini.


"Dari mana saja kau?" Hana tidak bisa menjawab ketika Satya justru bertanya dengannya.


"Aku bekerja-"


"Bohong, kau bersama Theo bukan? Mengaku saja."


"Dia hanya mengantar aku pulang saja, apa yang salah dengan itu?"


"JELAS SALAH! KAU INI SUDAH TAHU KALAU KAU SUDAH JADI MILIK ORANG MALAH DEKAT DENGAN PRIA LAIN?! DI MANA OTAKMU ITU!?"


Satya menunjuk ke arah kepala Hana bahkan mendorong kepala Hana dengan kasar, sedangkan gadis itu hanya diam saja tidak menjawab lagi. Ia memang salah, tapi itu hanya sekedar tumpangan saja. Tapi bagaimana dengan Satya saat ini? Dia justru terang-terangan akan hubungannya di tengah dia sudah menikah.


"Aku minta maaf-"

__ADS_1


"Sudah basi." Satya masuk ke dalam dengan sengaja mendorong Hana, membuat gadis itu menabrak pintu. Ia tetap bersikap tenang walaupun rasanya ingin menangis keras.


'Tidak apa-apa, Hana. Bukannya kamu sudah biasa diperlakukan seperti ini? Seharusnya kau tidak terkejut.'


__ADS_2