Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 140


__ADS_3

Jihan berlari menelusuri lorong rumah sakit yang begitu ramai, semoga saja keadaan sudah membaik sekarang dan itu semua harus terjadi. Di mana gadis itu membuka pintu ruang inap yang Johan katakan tadi, melihat bagaimana keadaan perempuan itu sekarang membuatnya merasa sedih.


Kabar baik memang ketika kedua anaknya lahir dalam keadaan prematur, tapi juga dalam keadaan sehat juga. Kabar yang baik bukan? Tapi kabar yang tidak baik adalah di mana ibu dari kedua anak itu belum sadarkan diri sekarang.


Johan baru saja memeriksa keadaan kedua anaknya yang tengah di tangani oleh pihak rumah sakit, lahir dalam keadaan prematur bukanlah sebuah hal yang mudah, bayi yang seharusnya belum lahir tapi sudah dilahirkan karena suatu hal. Hana mengalami pendarahan, tidak tahu apa penyebabnya apa tapi jika dokter yang mengatakan karena benturan yang lumayan keras, tapi benturan apa? Ia tahu jika Hana berasa di dalam kamar saja dan istirahat, benturan apa maksudnya?


Apa perlu Johan harus mencari tahu akan sesuatu? Sepertinya ada sesuatu yang seharusnya Johan tahu, pria itu berpikir jika semua kejadian ini adalah di rencanakan bukan sebuah kebetulan.


Tapi di sisi lain, Johan bersyukur jika kedua anak-anaknya dalam keadaan baik. Lahir secara sesar, membutuhkan waktu yang sangat lama dan memang harus seperti itu prosedurnya.


"Kamu sudah melihat anak-anakmu?" Johan melihat keberadaan Jihan yang sudah berada di luar ruangan, gadis itu cepat sekali datang setelah ia baru saja menghubunginya.


Tapi ada yang aneh dengan Jihan, kenapa matanya merah dan bengkak? Tidak mungkin jika menangisi keadaan Hana? Karena Hana tidak sadarkan diri karena pendarahan sekaligus memang efek obat bius. Ada yang aneh, tapi Johan berusaha agar tidak banyak bertanya sekarang. Semua orang punya masalahnya di sini.


"Sudah, mereka dalam keadaan baik-baik saja. Aku menyuruh orang-orang kepercayaanku, tenang saja."


"Ya, memang seharusnya begitu. Lalu? Apa masih ada yang salah? Kau nampak banyak pikiran." Jihan menang peka, melihat bagaimana raut wajahnya datar itu kenyataannya masih bisa dia baca.


"Jangan pikirkan itu, aku titip Hana. Masih ada urusan yang belum aku selesaikan." Johan pergi setelah itu, tanpa mengatakan apa pun lagi dan meninggalkan Jihan yang masih berdiri di sana.


"Hey! Tapi dia masih belum sadar! Aku harus jawab apa jika dia sadar?!"


"Jangan katakan apa pun." Ucapnya dari jauh dan kemudian melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan raut wajah kesal sepupunya itu.


Jihan paham, pria itu memang sangat sibuk dengan banyak hal karena memang kehidupannya tidak semudah itu. Tapi Jihan yakin, ada sesuatu yang terjadi sampai Johan sendiri yang turun tangan dan tidak menyuruh siapa pun seperti biasanya, dia tidak terbiasa melakukan semuanya sendiri.


Urusan yang terkesan tidak penting baginya tapi juga harus diselesaikan, dia akan memilih menyuruh orang lain untuk menyelesaikannya ketimbang menyelesaikan semua urusan itu sendiri. Tapi apakah sepenting itu? Jihan memilih menghiraukan semua itu, gadis itu masuk ke dan ruangan inap itu dan menjaga tanggung jawabnya selama Johan tidak ada.

__ADS_1


Di lain tempat, Johan berjalan dengan tatapan yang angkuh. Dia memasuki kawasan rumah miliknya setelah dia baru saja pergi dari rumah sakit, ia pikir memang ada yang tidak beres. Tapi siapa sangka seseorang menunggunya di depan gerbang rumahnya, ia kenal siapa pria itu.


Dia menghampiri Johan dan membungkuk hormat kepada yang lebih tua, dia tersenyum ramah menyapa Johan. Tapi tidak tahu apa tujuannya dia datang kemari.


"Ada apa? Mencari Jihan?"


"Tidak, aku mencari dirimu. Bisa kita bicara sebentar? Ada yang mau aku tunjukan kepadamu, kau harus tahu ini." Johan tidak tahu apa maksudnya pemuda itu bisa berkata seperti itu, masalah kantor ia memang masih pegang tapi hari ini ia membatalkan semua pertemuannya.


"Apa maksudmu?"


"Lihat ini, aku merekam semua kejadian di rumah mu, semua rekaman yang sudah di hilangkan dari memori tapi aku menyimpan cadangannya di sini."


"Rekaman?" Tanpa menjelaskan lagi, Reyhan. Dia langsung turun ke lokasi setelah tahu apa yang terjadi, ia sudah berjanji akan membantu maka ia akan melakukan sebisa mungkin.


Kawasannya memang tidak sebesar itu, tapi masalah seperti ini adalah yang mudah dia tangani. Reyhan menunjukan sebuah rekaman, bahkan sampai di detik rekaman terakhir tersebut.


Tapi ketika sebuah kejadian tidak bisa di duga bisa dirinya lihat sekarang, orang itu memasakkan sesuatu kepada Hana dan entah dia memberikan apa di sana, itu membuat Hana beberapa kali mual, pergi ke toilet berulang kali dan dia terus memegang perut besarnya. Kejadian beberapa hari sebelum lahiran, tidak bisa ia duga.


"Siapa?"


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya dia orang suruhan." Johan menatap ke arah Reyhan, pemuda itu lebih teliti dari pada dirinya.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Jawaban yang Reyhan berikan hanya senyuman yang jarang dia tunjukkan, dia ingin menjawab tapi terlalu banyak halangan.


"Jihan, tanya kepadanya. Tangkap orang itu sebelum berulah lagi, bagaimana? Tugas ku selesai, jadi aku permisi." Reyhan pergi begitu saja setelah menunjukan rekaman cadangan yang sengaja dia ambil.


Setelah itu dia pergi entah ke mana, ia harus mengurus orang lain sekarang. Bukan menolongnya, lebih tepatnya menuntaskan semua masalah yang ada. Johan hanya diam menatap Reyhan yang pergi begitu saja meninggalkannya, ternyata di ponselnya sudah ada memori yang sama seperti yang di miliki Reyhan tadi.

__ADS_1


Pria itu sudah mengirimkan semua datanya ke ponsel Johan dengan cepat. Kerja cepat dan juga teliti, mungkin Johan tidak akan keberatan akan meminta bantuan kepada orang lain. Dia pun masuk ke dalam rumah, dia menyuruh beberapa bawahannya mencari semua maid yang ada di rumah, Johan akan memeriksa semua orang yang berada di dalam rumahnya.


Ia tidak akan memberikan toleransi apa pun, jika saja ia telat membawa Hana ke rumah sakit. Mungkin untuk kedua kalinya ia harus kehilangan seseorang yang ia seharusnya jaga, tapi untuk selamanya.


"Kumpulkan semua maid di rumah ini, dan jangan ada sampai yang kabur dari rumah ini, siapa pun itu."


"Baik tuan."


...•••...


"Apa semuanya sesuai dengan apa yang aku perintahkan?" Pria itu duduk di atas kursinya, dan tangannya memegang gelas kaca dengan minuman berwarna merah di tangannya. Menunggu kabar dari bawahannya yang tengah menjalankan tugasnya sekarang.


"Dari kabar yang sudah ada, sepertinya rencana anda berhasil, tapi..."


"Tapi apa?"


"Sepertinya tujuan anda belum tercapai-" Belum kalimat selesai, dan dia sudah melemparkan gelas tepat ke anak buahnya tanpa berpikir panjang. Tapi beruntung dia tidak terkena lemparan itu, pria itu menatap tajam ke arahnya membuatnya ketakutan.


"Gagal?! Bagaimana bisa?!"


"Maafkan saya, tuan. Tuan muda lebih cepat dari yang saya bayangkan." Dia memegang kepalanya yang mendadak menjadi sakit, pusing secara bersamaan ia rasakan sekarang.


Rencananya gagal, ia tidak bisa menjalani tujuan utamanya jika semuanya gagal dengan cepat. Anaknya memang memegang apa yang dia katakan, tapi semua itu apakah bisa mematahkan rencananya dan tujuannya? Tentu saja tidak, rencana lain juga akan menyusul.


"Pastikan anak buahmu tidak ketahuan olehnya, atau dia tidak akan bisa kembali di sini." Orang itu lantas mendongak, ia tidak percaya apa yang bosnya tadi katakan.


"Ap-apa..."

__ADS_1


"Aku tahu bagaimana anak ku, melepaskan orang yang masuk ke dalam kawasannya tanpa ijin? Nyawa tidak akan lepas, raga tidak akan di temukan. Anak ku memang hebat."


__ADS_2