
Hana hanya diam di kamar mandi siswi, menatap dirinya sendiri yang begitu miris. Apakah seberat ini kehidupan? Jika memang seperti ini, seharusnya Hana tau sejak awal agar ia tidak perlu repot-repot lahir ke dunia ini.
Semuanya terasa menyakitkan jika di ingat, apakah Hana harus mengakhiri semua ini? Tidak bisa, gadis itu masih ingat dengan seseorang yang selama ini berperan penting dalam hidupnya. Menjadi sosok ayah sekaligus ibu yang tidak pernah Hana tau bagaimana rasanya kasih sayang.
"Apa aku seburuk itu sampai semua orang membenci ku?" Kalimat yang keluar begitu saja tanpa berpikir lagi. Hana cukup lelah menghadapi semua ini, cukup melelahkan harus tetap bertahan sampai sekarang.
Hana cukup hebat bisa hidup sampai sekarang, jika saja orang lain berada di posisinya. Apakah masih dalam keadaan baik-baik saja atau malah sebaliknya? Entah lah, tidak ada yang tau sampai batas mana kesabaran dan juga bertahan itu.
Sampai beberapa siswi datang dan seperti mengepung keberadaan Hana di sana. Gadis itu menoleh ke arah belakang dan mendapati Anna berada di sekitarnya bersama teman-temannya.
"Kalian mau apa?" Pertanyaan yang langsung pada intinya membuat Anna tersenyum, sepertinya Hana tau apa tujuannya datang kepadanya.
"Kau bertanya? Harusnya kau tau kedatangan saudara mu ini untuk apa." Hana langsung di sambut dengan pukulan keras di bagian kepalanya membuatnya merasa seperti tidak ada gravitasi di sekitarnya.
Belum ia mencoba menyeimbangkan dirinya sendiri, gadis itu kembali di pukul bahkan di tendang membuatnya terjatuh ke atas lantai yang dingin itu. Hana merintih kesakitan, luka sebelumnya belum pulih bahkan luka masih terlihat jelas.
"Harusnya kau juga sadar jika kau tidak pantas untuk hidup. Kenapa harus lahir?" Hana mendapati rambutnya di tarik keras oleh Anna hanya diam, menatap Anna dengan tatapan tidak dapat dijelaskan.
"Aku tidak minta dilahirkan." Anna tertawa mendengar jawaban itu, yang keluar langsung dari mulut saudaranya itu. Sepertinya akan menjadi sangat menarik?
Semua teman-teman Anna hanya melihat, sesekali tertawa karena melihat betapa mirisnya Hana sekarang. Sepertinya sebuah kemalangan untuk Hana karena lahir di satu rahim yang sama bersama Anna, tidak ada yang membuka suara.
"Itu intinya, baiknya aku akan membantumu menghilang dari dunia ini. Selain pecundang, kau juga suka menggoda rupanya. Apa itu hobi barumu?" Anna mencengkram rahang Hana dengan kasar, membuat Hana menatapnya dan menjawab semua pertanyaannya.
Ternyata Hana tidak seperti korbannya yang lain, menangis di depannya meminta ampunan agar dilepaskan. Hana memang berbeda, itu yang membuat Anna suka mengganggu kehidupan Hana dan membuat hidup Hana berantakan. Itu kesenangan tersendiri untuk Anna.
Bagaimana bisa Anna tega dengan saudaranya sendiri? Apakah mereka tidak memiliki ikatan batin layaknya saudara atau semacamnya? Tentu saja tidak, hati Anna sudah bagaikan batu dan membeku. Tidak ada yang membuatnya sadar walaupun dia dipukuli setiap hari. Keras kepalanya itu, entah menurun dari siapa.
"Apa maksudmu? Aku tidak menggoda siapa pun-"
__ADS_1
"Dengar ini pelacur kecil. Aku akan memberikan peringatan kepadamu akan itu. Sekarang, ikut aku bajingan." Seketika itu rambutnya di seret, dipaksa untuk ikut langkah kaki Anna yang begitu cepat.
Hana tidak dapat berdiri, ia terseret dengan rambut yang ditarik paksa oleh Anna. Tidak ada yang melihat keadaannya di tambah lagi suasana di sekitar belakang sekolah memang sepi di sana, tidak banyak orang lewat di sana karena memang hanya sekedar taman belakang, gudang dan juga toilet biasa.
Tebak kemana Anna membawa saudaranya itu? Gudang, gudang yang sudah tidak di pakai lagi. Bisa dipastikan tidak akan ada yang datang ke sana.
"Lepaskan Anna!"
"Diam!" Hana berusaha memberontak untuk melepaskan diri, tapi tau sendiri jika Anna tidak sendirian.
Beberapa teman dari Anna menendang tangan Hana membuat gadis itu sedikit tidak memberontak. Seolah mereka puas dengan apa yang mereka lakukan kepada gadis malang itu.
Sampai di gudang, Anna langsung mendorong Hana masuk ke dalam dengan kasar dan kemudian mengunci pintunya sebelum ada orang lain yang melihat keberadaan mereka.
"Ingat, ini hanya peringatan. Jika saja kau berani menggoda Johan lagi, akan aku pastikan hidupmu akan habis. Ayo kita pergi, tinggalkan pelacur itu. Berdoa saja agar dia diperkosa oleh satpam di sini."
"ANNA BUKA PINTUNYA AKU MOHON!! ANNA AKU TAKUT DI SINI!! ANNA!! TOLONG!! ANNA!! TOLONG!!"
Hana menangis, menggedor pintu berharap ada yang mendengarkan suaranya. Tapi kenyataannya tidak ada siapa pun di sana kecuali dirinya sendiri. Hana menangis, duduk di atas lantai yang kumuh dengan tubuh gemetaran bukan main. Memeluk dirinya sendiri adalah sebuah jalan, tapi tidak bisa mengurangi rasa takutnya itu.
•••
Jam istirahat pun berlangsung. Johan keluar dari perpustakaan setelah mengerjakan beberapa tugas yang harus dia selesaikan hari ini. Kemarin tidak sempat karena ia harus mengurus banyak hal.
Seseorang merangkulnya secara mendadak, membuat pemuda itu terkejut. Namun, dengan cepat Johan mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar kembali dan melepaskan rangkulan paksa tersebut.
"Sibuk banget ya."
"Ada perlu apa?" Johan tidak menanggapi sahabatnya itu, dia memang terlalu hiperaktif.
__ADS_1
"Tidak, kau ini selalu berprasangka buruk kepada ku. Kenapa sih? Muka mu lesu terus." Johan mengabaikan Satya. Entah kenapa ia hanya ingin sendirian saja tanpa ada gangguan dan semoga saja tidak ada masalah lainnya.
Selama Johan berjalan ke arah kelasnya, ia sengaja lewat di depan kelas seseorang untuk memastikan. Ia melihat lewat jendela kelas dan tidak menemukan apa yang dia cari, secara reflek Johan berhenti di depan kelas itu membuat Satya ikut berhenti.
"Hey, kau ini kenapa sih? Lihat apa?" Satya ikut melihat ke arah kelas tersebut, tidak ada siapa pun. Maksudnya ada beberapa siswa saja itu pun mereka menggerombol jadi Satya tidak tau yang mana Johan lihat.
Lelaki itu tampak mencari, ia hanya melihat bangku yang berantakan serta hanya tas saja di sana. Tidak ada orangnya, Johan hafal betul bagaimana. Agak aneh jika dia ke kantin sekarang, gadis itu takut akan keramaian karena banyak siswa yang membullynya.
Johan lantas kembali berjalan dengan pelan dan berpikir keras akan keberadaan gadis itu ke mana. Sampai tidak sadar jika ia berpapasan dengan gerombolan siswi yang baru saja pulang dari kantin.
"Hay Johan." Tidak ada sambutan balik dari lelaki itu, karena dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Satya merasa aneh dengan perilaku sahabatnya itu, ia memukul lengan Johan membuat dia tampak kesal.
"Apa?"
"Itu di sapa sama orang, malah diem-diem bae." Johan lantas menatap ke depan dengan tatapan sinis. Di depannya ada Anna, Gisella dan teman-teman mereka yang lain, tampak tersenyum ke arahnya dengan senyuman manis tapi tampak menjijikan di mata Johan.
"Tidak penting." Johan mengabaikan mereka dan memilih melanjutkan perjalanannya.
"Eh, sorry ya. Jangan di masukin ke hati. Johan emang gitu, tau sendiri kan. Yaudah hati-hati aja ke kelasnya. Bye!" Satya pergi dengan sambutan hangat kepada siswi itu, dan menyusul langkah Johan yang ternyata sudah lumayan jauh.
"Johan kayak banyak pikiran."
"Gak mungkin kalau Johan nyariin Hana kan? Tadi dia sempet berdiri di depan kelas kita soalnya."
"Ngawur, buat apa nyariin si pelacur itu?"
"Siapa tau minta jatah ya kan." Mereka semua tertawa setelah menjelek-jelekan orang. Tanpa mereka tau jika Johan masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
'Aku yakin ada sesuatu, apakah aku harus mencari tau sekarang? Bagaimana jika ada sesuatu yang buruk terjadi?'
__ADS_1