Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 78


__ADS_3

Sekarang Hana tengah di rawat di rumah sakit, karena kekurangan darah dan juga robek kan yang berada di tangannya juga cukup dalam. Satya yang berada di luar ruangan hanya bisa menunggu sampai ada kabar, ia berharap semua baik-baik saja.


Sampai di mana dokter keluar dari ruangan bersama dengan perawat yang lain, dokter itu menenangkan Satya karena pria itu terlalu tergesa-gesa.


"Bagaimana keadaannya?"


"Apa anda bagian dari keluarganya? Saya harus membicarakan masalah serius tentang keadaan pasien." Ucapnya dengan tenang, ia membuat Satya seketika terdiam.


"Apa kau keluarganya?"


"Saya temannya..." Dokter itu membuang nafas panjang, ia tidak bisa membicarakan kondisi seseorang tanpa berbicara dengan pihak terkait. Tapi jika memang hanya ada seseorang di sana, mungkin dia bisa memberi tahu kan kepada keluarganya.


"Tolong beritahukan kepada keluarganya, sepertinya pasien mengalami depresi berat. Jangan membuatnya semakin parah, jika anda berkenan jaga dia demi kesehatannya. Saya juga merasa sedih jika pasien melakukan aksi bunuh diri seperti ini. Tolong, jaga temanmu. Jangan biarkan dia pergi, karena seseorang sepertinya tidak pantas untuk pergi, dia pantas hidup jadi jaga dia. Buat dia bahagia, buat dia lupa akan masalahnya. Hanya itu saja, tolong sampaikan kepada keluarganya. Terima kasih, permisi."


Satya hanya terdiam beberapa saat, apa yang dirinya lakukan tadi? Dokter tadi mengatakan banyak hal, membuatnya seketika tidak dapat berpikir jernih. Pria itu melangkah ke arah ruangan tersebut, membuka pintu secara paksa dan mendapati gadis itu menatap kosong ke arah jendela.


Pria itu tanpa berpikir panjang menarik baju Hana dengan kasar, membuatnya langsung tersadar tapi dia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya diam, menatap ke arah Satya dengan tatapan kosong.


"Apa yang kau lakukan?! Apa dengan bunuh diri semua akan selesai?! Tidak Hana! Tidak akan pernah selesai! Kau justru akan menghancurkan semuanya!!" Ucapnya dengan nada keras, membuat Hana tidak bisa mengatakan apa pun.


"Kenapa kau menyelamatkan ku? Bukan kah kau senang jika aku mati?" Kalimat itu, Satya reflek melepaskan cengkramannya dan melangkah mundur.


Dia menjambak rambutnya sendiri, dia menunjuk tepat ke arah Hana dan terus mengeluarkan sumpah atau bahkan kata-kata kasar untuk Hana. Reaksi gadis itu? Tidak ada reaksi selain diam menatap ke arah suaminya itu. Tidak ada harapan dirinya hidup, untuk apa dia menyelamatkan Hana jika ujung-ujungnya dia menyumpahi Hana dengan segala kata-kata yang seharusnya tidak pantas dia katakan kepada istrinya sendiri.


Sampai di saat Satya mulai lelah, dia terlalu emosi. Dia mendapati reaksi Hana yang hanya diam, dia memilih pergi dari ruangan tersebut dari pada ia melakukan sesuatu kepada istrinya itu.

__ADS_1


Hana hanya menatap kepergian Satya keluar dari kamar inapnya, kenapa dia keluar? Apa dia lelah? Seharusnya yang lelah di sini adalah Hana, kenapa Satya yang lelah? Gadis itu hanya tersenyum, menatap ke arah pergelangan tangannya yang sudah terlilit dengan kain kasan.


Sungguh, semua ini memang tidak adil. Kenapa harus Hana yang merasakan semua ini dan di sisi lain Hana sudah lelah harus terus berhadapan dengan masalah. Ia lelah, benar-benar lelah.


...•••...


Sedangkan di tempat lain, Satya berada di ruangan dan menatap ke arah pintu kaca yang menunjukkan seseorang yang berada di dalam sana.


Keadaannya belum membaik karena benturan keras di kepalanya, sekaligus bagian tulang belakangnya juga cedera. Ketinggian gedungnya memang masih ada harapan untuk selamat, tapi yang namanya jatuh dari ketinggian. Tidak ada jaminan selamat, atau bahkan hidup dengan normal. Tidak ada di dunia ini hal seperti itu, kecuali keajaiban datang.


Ia menyesali perbuatannya sekarang, kenapa ini harus terjadi? Ia tidak paham kenapa begitu tiba-tiba, tanpa aba-aba membuatnya merasa dunia ini hanyalah mimpi semata.


Tebak siapa yang Satya jenguk sekarang? Aca, gadis itu tidak sadarkan diri selama 24 jam ini. Tidak ada tanda-tanda akan dirinya sadar sekarang, bahkan kata dokter dia belum ada kepastian untuk sadar dalam waktu 1 minggu ke depannya.


Jika dalam 1 minggu kedepannya Aca tidak kunjung sadar, mungkin dokter hanya bisa menunggu. Satya tidak di perbolehkan masuk, karena di dalam ruangan masih di sterilisasi. Tidak sembarangan orang bisa masuk tanpa seijin dokternya secara langsung.


Tapi Satya selalu percaya dengan apa yang dia lihat dari pada perkataan orang lain, lagi pula banyak saksi yang mengatakan jika Hana pelaku dari terjunnya Aca. Membuat gadis itu dalam keadaan koma seperti sekarang, memang bukan situasi yang bagus.


Satya mencoba tetap tenang, ia bahkan tidak menunggu di ruangan istrinya. Di mana seharusnya dia ada di sana untuk menjaga Hana, bukan malah meninggalkan gadis itu sendirian seperti sekarang.


...•••...


Theo berada di kampus sekarang, menenteng tasnya di bahu. Berjalan bersama Raya di sampingnya, mereka berdua berangkat bersama karena jadwal mereka berdua kebetulan memang sama.


Tapi entah kenapa di depan sana kenapa begitu ramai? Theo menghampiri dengan langkah cepat dan begitu pula dengan Raya, sepertinya memang ada keributan di sana. Theo menyingkirkan orang-orang yang berada di depannya, yang menghalangi jalannya. Ketika dia sudah melihat apa yang ada di depannya membuatnya terdiam.

__ADS_1


Lantas Theo berlari dan berdiri tepat di sana membuat beberapa mahasiswa menghentikan aksi mereka itu. Sedangkan Raya terdiam, dia masih tidak paham dengan keadaan sampai dia melihat jika temannya di lempari oleh telur.


"Apa yang kalian lakukan?"


"Tentu saja memberikannya pelajaran! Mau apa lagi? Menyingkir lah-"


"Menyingkir kata mu? Bubar!" Theo sudah terlalu marah, dia juga sudah terlalu lelah meladeni manusia seperti mereka.


Theo membantu gadis itu berdiri, tapi dia tidak kunjung berdiri. Raya menghampiri, tapi tidak ada niat menolong sama sekali membuat Theo merasa heran dengan kembarannya itu.


"Kenapa kau hanya berdiri saja? Bantu aku."


"Kau saja sendiri, kau yang mau menolongnya. Urusan ku masih banyak." Ucapnya, dia kemudian pergi begitu saja tanpa melakukan apa pun. Theo mengumpat di dalam hati, ada apa dengan Raya itu?


Theo mengulurkan tangannya ke arah Hana yang terduduk di lantai, gadis itu mendongak menatap ke arah pria itu yang menolongnya sekarang. Tatapannya kosong membuat Theo terdiam, ada apa?


"Ayo aku bantu berdiri."


"Tidak perlu-" Hana memilih berdiri sendirian, ia merasa keadaannya sekarang kacau. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain hanya pasrah tadi, membiarkan mereka menghakimi dirinya. Sama seperti dahulu bukan, seharusnya Hana terbiasa dengan situasi seperti ini.


Theo melepas jaketnya dan memberikannya kepada Hana, membuat gadis itu terdiam. Tapi pria itu tidak mengatakan apa pun selain mengambil tas Hana yang terjatuh lumayan jauh, dia membawakan tas yang Hana bawa. Langkah Hana memang lumayan pincang, kakinya lebam. Apa yang sudah mereka lakukan sampai seperti ini?


Pria itu membantu Hana berjalan tanpa mendengarkan apa yang di katakan oleh orang lain, sampai di mana Hana berhenti melangkah membuat Theo juga berhenti. Lantas dirinya ikut melihat arah pandang di mana Satya berdiri di sana, apakah dia sejak tadi di situ?


"Satya-" Belum juga Hana memanggil, pria itu sudah pergi terlebih dahulu seolah dia benar-benar mengabaikan Hana. Theo hanya memandang pemandangan itu.

__ADS_1


'Sial!'


"Jangan pikiran pria bodoh itu, urusi dirimu dulu. Aku antar kau ke UKS, aku akan bawakan baju ganti dan mengobati lukamu." Tidak ada jawaban dari Hana, mungkin gadis itu memikirkan suami bodohnya itu.


__ADS_2