
Entah bagaimana caranya harus meyakinkan Jeano? Nampaknya memang susah di tambah sifat keras kepalanya yang memang terlalu alami. Jack terkadang juga kesulitan menghadapi saudaranya itu, tapi bukan berarti dia harus menyerah dan berdiam diri. Tentu saja tidak akan seperti itu, menyerah tidak ada di dalam catatan hidupnya.
Sekarang, tepat di mana memang ada kelas melukis. Berada di ruangan khusus melukis yang banyak sekali kanvas yang tertata rapi di setiap tempat, dengan meja kecil untuk menaruh cat dan juga tempatnya juga.
Seperti biasanya juga jika Jack akan selalu keluar kelas, tapi sepertinya niatnya dia tentukan ketika Jeano ternyata duduk di sebelah pintu barisan paling depan. Bagaimana bisa keluar kelas jika seperti ini? Di tambah ekspresi saudaranya itu yang sudah tidak bersahabat dengan sekitar.
Guru datang sebelum Jack mencoba keluar, jadi memang mau tidak mau Jack harus ikut kelas. Guru menjelaskan beberapa materi dan mencontohkan beberapa teknik melukis yang benar, dan juga teknik menggores agar mendapatkan sebuah goresan yang bagus di sana.
Jack tidak paham apa yang guru itu katakan, ia tidak suka menggambar sedangkan kebalikannya Jeano suka menggambar. Jack lebih suka olahraga ketimbang harus melakukan hal yang membosankan seperti ini. Ia bahkan tidak paham apa pun dalam materi yang dijelaskan, padahal juga tidak banyak materi dan lebih langsung ke praktek saja.
Jack melirik ke arah saudaranya yang sudah mulai melukis, memang lukisan Jeano yang terbaik di kelas selama ini. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam hal ini, dia sudah terlalu mahir. Jangan di tanya soal Jack, dia tidak bisa menggambar. Karena memang guru sering jalan-jalan ke sana kemari untuk melihat muridnya itu.
Terpaksa ia harus ikut menggambar, entah apa itu yang Jack gambar tapi bentuknya sangat tidak jelas apa. Guru hanya melihat, tidak berkomentar apa pun karena menggambar memang bagian dari imajinasi seseorang, tidak bisa mengomentari imajinasi seseorang.
Jack melirik ke arah Jeano lagi, melihat objek jelas yang belum sepenuhnya sempurna tapi ia sudah bisa menebak apa yang Jeano gambar itu. Ia hanya diam, menatap ke arah sana tanpa mengatakan apa pun.
'Di saat dia di abaikan, tapi dia masih saja perduli dan memikirkan bunda. Seharusnya bunda lebih sayang kepadanya, bukan kepada ku yang tidak bisa melakukan apa pun.'
...•••...
"Gambar mu bagus, tidak kamu pajang saja di pameran sekolah?" Mereka sudah selesai kelas, sekarang memang waktunya istirahat.
Berniat memang akan pergi ke kantin seperti biasanya, Jeano juga merespon apa yang Jack katakan sepanjang jalan meskipun memang tidak banyak yang dia katakan sekarang. Lukisan yang Jeano buat yang memakan waktu 3 jam, masih belum selesai karena memang banyak detailnya.
Dan tugas lukis itu tidak boleh di bawa pulang, bisa diteruskan jika mau saja dan tidak boleh di bawa ke mana-mana selain di ruangan seni, gurunya memang banyak mau.
__ADS_1
"Tidak."
"Mengapa? Lukisanmu yang terbaik, selalu bagus. Kenapa tidak?" Jeano tidak menjawab apa yang Jack katakan setelah itu, ia banyak berpikir sekarang.
Sesampainya di kantin, Jeano dan Jack berdiri di sana. Melihat keadaan kantin yang begitu sangat ramai, karena memang jamnya makan siang mau bagaimana lagi? Jack melirik ke arah Jeano, ia yakin saudaranya itu tidak akan suka dengan suasana yang seperti ini.
Jack pun memilih untuk membeli air minum saja, mengajak saudaranya itu pergi ke satu tempat di mana jam makan siang tempatnya selalu sepi, tidak terlalu sepi juga. Masih ada beberapa orang, tapi suasananya menenangkan.
"Kau tidak makan? Hanya beli minuman saja mana bisa kenyang." Ucap Jeano, ia pikir Jack akan makan di kantin karena memang sudah jamnya.
Tapi kenapa saudaranya itu malah menariknya ke satu tempat yang ia tahu memang sering dalam keadaan sepi, tapi juga rapi dan tenang di sana. Jack membawa satu tas kecil, dia bawa dari rumah sebenarnya. Mungkin Jeano tidak menyadari itu.
Dia membuka tas tersebut dan ternyata berisikan makanan di sana, dua bekal yang berada di dalam sana. Alasan Jack membeli minuman karena dia lupa mengambil minum dari rumah.
Ingat luka yang membuat Jeano terpaksa menutupi tangannya, bahkan biasanya seragamnya akan dia gulung sampai siku karena gerah tapi sekarang dia menggunakan jaket untuk menutupi luka di tangannya.
"Di makan, bunda sudah memasak susah layan sejak pagi buta. Aku tahu kamu marah, tapi mengabaikannya juga bukan cara yang baik." Tidak ada jawaban, dan Jack juga tidak lagi bicara. Dia makan dalam diam karena tidak mau merusak suasananya.
Jeano hanya diam, ketika di tangannya sudah ada makanan sekarang. Bukan bermaksud ia tidak ikut sarapan tadi pagi, ia hanya malas harus berhadapan karena jujur saja Jeano masih dalam keadaan kesal. Tapi mengabaikan? Tidak, Jeano tidak melakukan hal itu. Ia rasa hanya sebuah waktu sendirian yang membuatnya bisa tenang selama beberapa waktu.
Ia pikir semua akan baik-baik saja setelah ini. Semua itu memang harus terjadi, untuk apa memikirkan dirinya sekarang. Keluarganya juga tahu jika Jeano lebih bisa menjaga dirinya sendiri walaupun usianya masih terlalu dini.
"Jangan di kasih sisa, nanti bunda sedih." Berakhir Jeano memakan makanan itu dengan perasaan yang mengganjal. Melihat hal itu Jack hanya diam, tapi juga merasa lega.
Akhirnya Jeano mau makan, karena memang yang Jack tahu jika saudaranya itu tidak menyentuh makanan sejak kemarin malam. Makan malam dan sarapan dia lewatkan begitu saja tanpa beban.
__ADS_1
Jack juga tidak mau jika saja Jeano sakit, dia harus tetap dalam keadaan sehat agar bisa menjaga bundanya juga. Jack juga harus sehat juga, intinya mereka berdua tidak boleh sakit jika ingin menjaga bidadari mereka berdua.
"Kau memakai kalung itu? Terimakasih..." Jeano berhenti menyuap makanan karena ucapan saudaranya itu yang terkesan memang begitu tiba-tiba itu.
Ia hanya diam tidak menjawab atau menjelaskan alasannya. Kalung yang Jeano gunakan adalah hadiah dari seseorang, yang memang perantaranya adalah Jack. Jack hanya merasa senang saja jika saudaranya itu bisa menghargai pemberian orang lain, salah satu kebaikan yang sering bundanya jelaskan.
Memang benar jika memberikan hadiah secara berlebihan memang tidak boleh, tapi apa salahnya jika menerima salah satu? Mereka berniat baik, memberikan barang-barang yang mungkin saja akan berguna nantinya.
Kalung yang Jeano kenakan juga tidak terlalu buruk juga, mungkin karena Jeano menggunakan jaket kalung itu tidak terlihat karna di masukkan ke dalam bajunya ketimbang di keluarkan. Tapi tidak masalah, itu justru lebih bagus ketimbang di buang bukan?
"Kamu sudah membaca surat yang dia berikan?"
"Aku membuang kertas itu, sampah." Jack melirik dengan tatapan malas, kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan rupanya.
"Jangan biasakan kebiasaan burukmu itu."
"Bukan urusan mu, memangnya kenapa? Kenapa bukan kau saja yang menerima hadiahnya?"
"Tapi hadiah itu memang tujuannya untukmu, untuk ku buat apa? Aku juga tidak suka aksesoris begitu." Ucapnya seraya menyuap makanan masuk ke dalam mulutnya.
"Dan kau pikir aku suka aksesoris?"
"Tapi jika itu pemberian Linda, kenapa tidak bukan?" Jeano memasang wajah malas, dia melanjutkan acara makannya dalam satu suapan dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan Jack yang memasang ekspresi menyebalkan.
"Kenapa pergi? Apa aku salah bicara?"
__ADS_1