
"Jeano! Jack! Berhenti bermain gamenya nak! Ayo makan malam dulu!" Suara melengking khas bunda mereka terdengar membuat keduanya seketika berhenti bergerak sekarang. Bahkan jari mereka yang awalnya sangat cepat dan gesit di stik ps seketika terdiam.
Keduanya sama-sama diam sampai di mana mereka berdua saling menatap satu sama lain, lelaki yang satunya menatap dengan tatapan jailnya dan menaikan alisnya dengan tatapan yang aneh membuat saudaranya sendiri merasa jijik.
"Bagaimana? Mau menyerah?"
"Hanya dalam mimpi mu."
"Ayolah! Aku hanya menang sekali saja apalah sebuah kiamat bagi mu? Kau sudah menang puluhan kali dari tadi." Ucapnya seraya berdiri dari tempat duduknya, ia sudah mulai kesal.
Bukan karena kekalahan yang sudah puluhan kali dia terima, melainkan kemenangannya yang tidak kunjung datang juga membuatnya semakin kesal. Walaupun ia sering bermain game seperti itu, tapi ketika mengalahkan saudaranya sendiri rasanya sudah seperti berperang secara sungguhan.
Pemuda itu hanya menatap dengan tatapan malas dan kemudian beranjak dari tempat duduknya, dia menekan tombol yang membuat suara keras dari televisi membuatnya merasa semakin.
"Hey!" Dia meletakkan gamenya di atas ranjang dan kemudian berjalan berlalu begitu saja, meninggalkan saudaranya yang uring-uringan itu.
"Terima saja, dan cepat turun sebelum ayah menyita bola mu." Ucapnya dengan santai dan kemudian menutup pintu itu tanpa dosa.
Sedangkan yang masih berdiam diri di sana, masih menahan kesalnya. Ia bahkan ingin melempar stik gamenya itu dan benar saja, dia melempar stik gamenya itu sampai menabrak dinding, tidak hancur sama sekali hanya saja nanti akan eror sedikit. Pemuda itu terus menatap kesal ke arah di mana pintu barusan tertutup karena saudaranya pergi.
Ia kesal, sangat kesal sampai menatap televisi saja rasanya berat sekali. Tidak mau kalah terus tapi ia memang tidak bisa mengalahkan saudaranya itu memang.
"Jeano!!!!"
Sedangkan si pelaku, berjalan dengan santai menuruni anak tangga dengan senyuman tipisnya. Ia sangat suka jika membuat saudaranya itu kesal setengah mati karena selalu kalah masalah game dengannya.
__ADS_1
"Astaga, ada apa itu?" Bahkan bundanya sendiri bisa mendengar suara anaknya itu dengan keras berteriak menyebutkan nama saudaranya itu.
Ada apa lagi? Tiada hari tanpa bertengkar memang, mereka padahal saudara kembar. Tapi masih saja bersikap seperti itu, anak itu bahkan duduk di salah satu kursi seraya menatap anak kecil di depannya yang sibuk memakan camilan nya.
Sampai menyadari jika kakaknya terus memperhatikan dirinya, dia melirik dengan pipi yang menggembung semua penuh dengan makanan.
"Malam apa kamu? Sepertinya enak."
"Aaa!! Tidak! Kakak ambil sendiri di sana, jangan ambil punya ku." Jeano membuang nafas panjang, dia duduk dan melihat bundanya tengah menyiapkan makanan.
"Mau aku bantu bund?" Pertanyaan yang memang terkesan singkat itu membuat ibu anak 3 itu menoleh dan kemudian tersenyum.
"Tidak perlu, kamu makan saja dulu karena ayahmu pulang terlambat nanti."
"Kenapa? Apa ada masalah kantor lagi?" Hana tidak bisa menjawab apa pun selain tersenyum saja sebagai jawaban yang pasti. Ia hanya tidak mau pikiran anak-anaknya justru teralih ke masalah keluarga ketimbang memikirkan urusan mereka sendiri.
Berselang beberapa menitnya setelah Jeano berada di ruang makan, Jack menyusul dengan wajah masam penuh dengan perasaan kesal kepada saudaranya itu. Jeano juga makan tanpa rasa bersalah sama sekali, tidak merasa melakukan kesalahan apa pun yang membuat saudaranya itu menjadi kesal sampai seperti itu.
Jack menarik kursi dan duduk di samping adik kecilnya, yang tidak lain adalah anak terakhir dari keluarga itu, katakan saja dia anak bungsu yang sangat menggemaskan. Bayangkan saja wajahnya sangat mirip dengan sang ayah, seolah dia adalah versi mungilnya dan cerianya juga.
"Makan apa kamu?"
"Makan roti buatan buna, kakak ambil sendiri jangan ambil punya ku." Ucapnya seraya menyembunyikan makanannya agar tidak di minta oleh kedua kakaknya itu.
Terkadang dia bingung, mungkin karena wajah kedua kakaknya itu nyaris tanpa celah dan benar-benar mirip membuatnya kesulitan. Tapi lama-lama dia bisa membedakan antara keduanya, Jeano cenderung memiliki suara yang berat dan aura yang menegangkan. Sedangkan sebaliknya, Jack sama saja sebenarnya dari nada suaranya hanya saja dia jauh lebih muda tertawa, ramah senyuman dan dia lebih nyambung di ajak bercanda ketimbang Jeano.
__ADS_1
Tapi bukan berarti perbedaan itu membuatnya membeda-bedakan kedua kakaknya. Dia begitu sayang dengan keduanya begitu juga sebaliknya, saling melindungi satu sama lain. Apa lagi kehadiran anak itu begitu di harapkan banyak orang.
"Kak Jack kalau mau bisa ambil di meja, rotinya baru saja matang." Hana tiba-tiba datang dan membawakan tiga gelas susu, kemudian memberikan masing-masing gelas ke meja mereka berada.
Jeano tidak menjawab dengan kata apa pun dan meminum susu itu tanpa bicara, makan dengan tenang. Walaupun ia lumayan terganggu dengan suara berisik kembarannya dan adiknya itu.
Mereka berisik, teriak ke sana kemari dan tertawa dengan nada keras. Bukannya ia keberatan hanya saja ini jam makan, jam di mana semua seharusnya tenang dan makan dengan keadaan sunyi bukan berisik seperti ini. Dan Hana tidak melarang sama sekali.
Jika saja Johan berada di sana, dia pasti akan menghentikan kedua anaknya yang memang lumayan rusuh itu. Di jam makan tidak diperbolehkan bicara atau bahkan bergurau, membahayakan katanya.
"Kalian bisa diam atau tidak? Kau mau mati tersedak." Jack dan Oliver seketika terdiam, begitu juga dengan Hana yang melihat ke arah Jeano. Anaknya itu pasti terganggu dengan suasana yang kurang pas dengan momen kali ini.
"Jangan begitu Jeano. Lebih menyenangkan bukan? Tidak terlalu sunyi."
"Tapi mereka menganggu."
"Jika menganggu kenapa kau tidak pergi saja dan makan saja di tempat lain." Ucap Jack membuat suasana mendadak tegang. Hana hendak menghentikan tindakan buruk kedua anaknya karena itu akan membuat Oliver kebingungan.
Jeano awalnya memang terdiam dan menatap saudaranya dengan tatapan datar, tidak beberapa lama dia mulai berdiri. Beranjak dari tempat duduknya itu, mengambil piring dan gelasnya melangkah pergi menjauh dari meja makan. Jauh dari keramaian itu.
Hana tidak bisa membiarkan semua ini terus terjadi, wanita itu berjalan ke arah kemana Jeano pergi dan menahan anaknya itu agar tidak pergi makan di tempat lain. Ini adalah acara makan malam bersama bukan berpisah seperti ini.
"Tidak, kamu harus tetap di meja makan. Jangan ke mana-mana, kamu dengar?" Jeano menoleh ke arah Hana dengan raut wajah yang sangat tidak bisa di tebak sama sekali.
"Lalu? Aku harus menutup telinga ku dengan lilin? Anak kesayangan mu sendiri yang menyuruhku pergi, untuk akan aku makan bersamanya-"
__ADS_1
"Kakak, kak Jack hanya bercanda. Ayo makan bersama kami, jangan pergi ke mana-mana." Oliver menghampiri ke arah kakaknya itu dan menarik baju Jeano.
"Ayo kakak, jangan ke mana-mana..."